
Dev yang sedang duduk di salah satu kursi kafe,menatap lembaran kertas yang ia pegang dengan senyum mengembangnya. Hingga suara seseorang menyentak lamunan dirinya.
"Dev"panggil pria paruh baya mendekati meja Dev.
Dev beranjak berdiri dan menyalami tangan calon mertuanya saat sudah di depannya.
"Udah nunggu lama?"Tanya Wahyu.
"Enggak Om! Dev baru dateng"balas Dev dengan senyum hangatnya.
Hening keduanya masih terdiam setelah Wahyu memesan kopi. Dev yang masih terdiam memikirkan cara bagaiman menyampaikan niatnya,sedangkan Wahyu masih menunggu apa yang akan di katakan Dev hingga menyuruhnya kesini.
"Om Dev ingin melamar Aza secara resmi"ucap Dev tegas membuat Wahyu menatapnya.
Dev menyodorkan kertas di dalam map,di mana surat-surat kelengkapan pernikahan sudah selesai semuanya "Ini surat-suratnya sudah siap! Dev mau meminta restu dari Om sendiri,apa Om merestui Dev dengan Aza?"
Wahyu mengangkat kedua sudut bibirnya keatas. Pria yang sudah memiliki dua anak ini tampak bangga menatap Dev di depannya,tangannya terulur menepuk pundak Dev "Om selalu merestui kamu Dev! bahakn dimana saat kamu menyakiti Aza dulu. Tapi om yakin kalau kamu pria baik,dengan membuktikan kalau kamu selalu menghargai keluarga om walau tanpa Aza"ucap Wahyu.
"Om percaya kalau kamu bisa membahagiakan Aza! mungkin kesalahhan perpisahan kalian karena sikap kekanak-kanakan Aza yang lebih mementingkan egonya"imbuhnya.
Dev menatap pria yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya dengan senyumman.
"Om restuin kamu Dev"
"Ayah sama Bunda akan kerumah Om besok malam,apa Om setuju?"Tanya Dev.
"Boleh,datang saja rumah om akan menyambut kalian dengan pintu terbuka"balas Wahyu sambil terkekeh.
"Hanya lamaran keluarga om! sebulan setelahnya akan langsung pernikahan! apa om keberatan?"
Wahyu langsung menggeleng cepat "Kalau itu sudah keputusanmu kenapa harus menolak! lagian itu yang terbaik,lebih cepat lebih baik"ujar Wahyu.
"Aza sudah tahu?"
"Belum untuk pernikahan sudah Dev rencanakan bahkan sebelum Aza pulang dari Paris. Tapi karena masalah Tuan Agus,membuat keraguan di hati Aza tentang Dev sangat kuat karena desas-desus rumor itu. Setelah kemarin sepertinya ke-legaan di hati Aza sangat tercipta suda mampu membuktikan kesiapan hatinya"terang Dev
Wahyu terkejut mendengar penuturan Dev "Serius sebelum Aza kembali?"
Dev menganggukkan kepalanya menyetujui pertanyaan itu.
Mereka kembali mengobrol tentang bisnis dan tentang keduannya nanti setalah menikah. Hubungan keduanya tampak harmonis sedari dulu sampai sekarang,tanpa ada embel-embel hubungan yang tidak dapat restu sedari mereka duduk di bangku SMA.
Deb bahkan masih tak menyangka kalau hubungan dirinya dan juga Singa Betinanya sangat-sangat di dukung oleh orang-orang terdekat. Membayangkan itu membuatnya tersenyum bahagia.
**
Dev yang berjalan di lobi perusahaan Nata Fashion dimana sang wanitanya bekerja,di tatap kagum oleh karyawan yang melintas melihat dirinya.
Dev tampak acuh dan terus berjalan kearah ruangan sang calon istrinya,kekuasaan dirinya membuatnya mudah masuk kelaur perusahaan ini.
Tak mengetuk pintu ruangan Aza,ia langsung menerobos masuk kedalam. Pemandangan pertama yang ia lihat dimana Aza tampak berkutat dengan laptopnya dan berkas-berkas di meja kerjanya.
"Ekhem"Dev berdehem agar menyadarkan Aza atad kehadirannya.
"Ngagetin tau ngak!"sungut Aza kesal menatap tajam pria yang bersender di pintu ruang kerjanya.
"Serius banget"kekeh Dev saat menyadari wajah keterkejutan Aza,ia berjalan mendekat kearah Aza.
Mengusap lembut wajah bergelombang Aza lalu ia menundukkan kepalanya mengecup singkat puncak kepala Aza. Lalu menegakkan kembali tubuhnya dan bersender di meja Aza dengan tangan yang masih setia mengelus puncak wajah wanitanya.
Aza menerima perlakuan Dev dengan memejamkan matanya sejenak lalu mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan yang memakai jas biru tua itu "Kenapa?"
"Keluar yuk!"ajak Dev.
Aza mengerutkan dahinya bingung "Kemana?"
"Ke butik"dua kata keluar dari mulut Dev membuat Aza menautkan alisnya makin bingung.
"Ihh yang jelas dong!"gerutu Aza kesal dengan jawaban setengah-setengah Dev.
"Fitting baju!"
"Hah?apa?fitting baju?buat apa?"tanya Aza beruntun.
"Baju pernikahan,sayang!"
"Pernikahan siapa Ayy?"tanya Aza masih belum pahan arah pembicaraan Dev.
Dev menunduk mencubit gemas pipi Aza membuat sang empuh mengaduh kesakitan "Sakit tahu!"
Dev terkekeh lalu menarik tangan Az aagar berdiri,Aza hanya pasrah saat tangannya di tarik paksa agar berdiri "Baju pernikahan kita,sayang. Nanti malam Ayah sama Bunda akan kerumah buat nglamar kamu secara resmi,dan juga sebulan lagi kita menikah,hm?"terang Dev.
Jangan di tanya lagi gimana sekarang wajah Aza benar-benar terkejut menatap tak percaya kearah Dev "Nanti malam? sebulan? kenapa ngak beri tahu aku?"
"Panjang ceritanya,persiapan pernikahannya sudah 55% selesai,kita hanya fitting baju aja! untuk masalah lamaran cuma keluarga doang kecil-kecillan. Ngak-papa kan?"Tanya Dev.
Aza masih bergeming menatap tak percaya,dia hanya menggelengkan kepalanya saja "Aku nurut sama kamu"
Dev tampak menggelengkan kepalanya tak menyetujui perkataan Dev "Nanti kita lihat persiapaannya! sekarang kita ke butik dulu! udah di tungguin sama Bunda! ini ktp kamu"ucap Dev sambil menyodorkan kartu identitas Aza.
Aza menerimanya dan memasukkannya ke dalam dompet lalu mengambil tas slempang berwarna putih dan mendekat kearah Dev "Ayo calon suami"bisik Aza tepat di telinga Dev.
Dev terkekeh lalu menggegam tangan Aza erat "Bary nyadar! tadi-tadi apa?"goda Dev.
Aza langsung memukul lengan Dev yang ia apit "Tadi kan masih terkejut ngak percaya!"suara tawa Dev memggelegar membayangkan wajah Aza tadi lagi.
_
_
_
_
...*Double Up....
...Like,Komen*....