After The Breakup

After The Breakup
BAB 66 The Real Life



Dev membuka pintu kaca restaurant itu mendorongnya dan membiarkan Aza masuk lebih dahulu setelah itu dirinya. Mencari tempat duduk disana.


Tak ada pembicaraan diantara mereka setelah memesan. Dev benar-benar mendiamkan Aza bukan mendiamkannya lebih tepatnya Dev ingin memberi waktu Aza dengan berpikir tanpa memeperdulikan dirinya.


Aza lagi-lagi menghela napasnya mulutnya juga seperti terdiam tiba-tiba,biasanya di saat-saat seperti Aza selalu mendominasi pembicaraan.


Dev?? dia hanya akan berbicara jika perlu dan menjawab pertanyaan-pertanyaan Aza.


Makanan datang,mereka menyantap makanan siang dengan hening. Dev yang sudah selesai dengan makanannya tampak mengambil ponselnya dan memainkannya karena mendapar e-mail dari sekertarisnya yang masuk di ponselnya.


Aza terus memperhatikan Dev dengan ekor matanya dengan tangan yang mengaduk-ngaduk jus alpukat pesenannya sekaligus minuman favoritnya. Mengelilingi sekitar restaurant yang penuh karena di jam-jam makan siang penuh,dengan ekor matanya lagi.


Aza mendengus kesal saat melihat bagaimana para wanita-wanita disana menatap kagum dengan sosok pria yang duduk bersama Aza,siapa lagi kalau bukan Devano.


"Ngantor?"Tanya Aza tiba-tiba membuat Dev menatapnya sekilas lalu kembali mengalihkan pandangannya.


"Hm"


"Dimana jas sama dasi kamu?"Tanya Aza lagi karena Dev saat ini memakai kemeja putih dengan kancing atasnya terbuka dua dengan lengan yang sudah di gulunng keatas. Rambut yang sudah agak acak-acakkan membuatnya benar-benar sangat pas untuk mencuci mata.


"Di kursi belakang mobil"jawab Dev tanpa mengalihkan pandangannya membuat Aza tambah kesal.


"Ngak mencerminkan seorang CEO YP Compony"celetuk Aza membuat Dev mengadahkan pandangannya dan menaikkan alisnya menatap Aza.


Aza tampak acuh dengan tangan sambil mengaduk jusnya lalu meminumnya.


"Terlalu real life banget beda sama yang di berita-berita"celetuk Aza.


Dev kembali memfokuskan pandangannya lagi ke-ponselnya tapi dengan telinga yang selalu setia mendengar perkataan wanitanya.


"Cuma di kamu doang! aku apa adanya di depan kamu"ucapan Dev membuat pipi Aza langsung bersemu merah karenanya.


Aza memalingkan wajahnya kearah lain asal tidak bersitatap dengan Dev,tapi sayang Dev justru memandangnya bukankah tadi dia sibuk dengan ponselnya??


Aza tampak ragu-ragu untuk menoleh tapi sedikit-sedikit dia melirik Dev yang terus menatap dirinya. Membuat Aza salah tingkah dan menundukkan kepalanya mencoba mencari kesibukkan dengan minumannya. Seperti anak remaja yang jatuh cinta saja.


Dev tersenyum dengan tingkah Aza apalagi dengan semburat merah alami yang menghiasi kedua pipi Aza "Masih marah?"


Aza langsung mendongakkan kepalanya "Entah"satu kata keluar dari mulut Aza membuat Dev yang sedang bersedekap dada menghembuskan napasnya.


Lalu Dev mengarahkan tangannya keatas memanggil pelayan "Saya minta billnya"pelayan itu tampak terkagum-kagum menatap Dev bahkan sampai perkataan Dev tidak masuk ke-telinganya.


Membuat Aza mencibik kesal "Matanya di jaga mbk!"sindir Aza membuat pelayan itu tersentak dan menundukkan kepalanya.


"Saya minta maaf! tadi masnya bilang apa?"tanya pelayan itu tampak tak memperdulikan sindiran Aza dia bahkan suda menatap Dev lagi.


"Saya minta billnya"ucap Dev lagi sambil tersenyum kecil menatap Aza yang kesal di depannya.


Dev menerima itu dan mengambil uangnya di dompet lalu menyerahkan uang itu. Pelayan itu pergi kembali bekerja.


Dev berdiri dari duduknya dan berdiri di dekat Aza "Ayo"ucapnya sambil mengulurkan tangannya ke Aza.


Aza lantas berdiri menerima uluran tangan Dev. Saling menggegam satu sama lain dengan berjalan keluar restaurant.


"Seneng banget yah di puja-puja"celetuk Aza dengan reaksi wajah biasa saja sambil berjalan.


Dev menghentikan langkahnya membuat Aza tersentak kaget dan menoleh kebelakang karena posisi mereka saat ini Aza yang ada di dampingnya. Bukan lagi berdampingan.


"Ayooo! panasss"keluh Aza karena mereka sekarang berdiri di halaman restaurant itu dengan terik matahri yang sedang memuncak.


Dev mendekat mencoba menghalau sinar matahari mengenai Aza karena tinggi Dev yang mendominasi. Aza benar-benar tak percaya sekrang dirinya seperti pemeran utama di drakor-drakor yang sering ia tonton.


"Kenapa bilang begitu?"


Aza mendongak menatap manik mata yang terhalang oleh kaca mata hitam yang bertender di hidung Dev. Membuatnya menelan salivanya susah.


Benar-benar sempurna ciptaaan-Mu ini Ya Allah


Dev manautkan alisnya karena tak mendengar balasan Aza,wanita itu hanya menatap dirinya kagum "Ekhem"Dev berdehem mencoba membuat Aza sadar.


Dan benar saja Aza langsung terkejut dan memalingkan wajahnya kearah lain "Ayo ihhh"ucap Aza sambil menarik-narii tangan Dev,seperti anak kecil yang meminta di belikan mainan kepada Ayahnya.


Dev berjalan kearah tarikan Aza mengikuti wanita yang berjalan kearah mobilnya.


"Jasnya sama dasinya pakai!"titah Aza saat sudah di dalam mobil.


Dev hanya berdehem tanpa enggan mengambil jasnya yang berada di kursi penunpang belakang. Aza geram dan mengambil jas yang berwarna hitam senada dengan celana yang di pakai Dev.


Memalingkan paksa wajah Dev agar menatap dirinya "Dimana dasinya?"


Dev hanya menunjuk kearah dashboard mobil dengan dagunya. Aza mengikuti arah tunjukan dagu Dev lalu ia mengambil dasi berwarna hitam itu dan mulai mengalungkannya ke-leher Dev.


Dev memajukan dirinya untuk memepermudah Aza memasangkan dahi di lehernya. Menatap dalam-dalam wanita cantik yang selama ini mengisi hatinya hingga tak sadar dasi itu sudah terpasang di lehernya.


"Aku tahu aku cantik"ucap Aza bangga sambil memakaikan jas ke Dev.


"Udah kayak istri nyiapain baju aja!"celetuk Aza. Sambil menyisir sedikit rambut Dev dengan jarinya membenarkannya karena sudah acak-acakkan,padahal ini masih siang kenapa pria ini sudah berpenampilan lusuh tapi tidak membuatnya kekurangan ketampanannya.


"Belajar"Dev hanya tersenyum simpul lalu mengacak rambut Aza seperti biasa membuat wanita itu memberungut kesal. Menjauhkan dirinya dan duduk dengan benar lalu membenarkan jasnya.


Setelah dirasa cukup ia mulai menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran restaurant itu.