
Dengan memakai pakaian hitam berkancing lengan panjang bertransparan di padukan dengan celana jeans hitam panjang. Rambut panjang yang bergelombang sepinggang dengan warna green samar-samar setengah dari rambutnya membuat seorang wanita yang baru turun dari pesawat dengan high heels berwarna hitam berpadu dengan bajunya tampak sangat-sangat sempurna di pandang.
Azalea berjalan sambil menyeret satu koper di tangan kirinya. Wanita yang memakai kaca mata hitam ini mengambil ponselnya dari tas slempangnya dengan langkah terus berjalan keluar ruangan bandara.
Aza berhenti di dekat pintu ke luar bandara menunduk memencet nomor seseorang dan menempelkannnya ke telinga.
Sedangkan Dev yang sedari berdiri di dalam dekat pintu ke luar bandara tampak memfokuskan pandangannya yang tadi ke-hp menjadi ke seseorang yang tengah berkutat dengan ponselnya untuk menghubungi seseorang karena perempuan itu menempelkan ponselnya ke-telinga.
Dev tersenyum dan berjalan ke arah perempuan itu,dengan gerakan cepat ia mengambil ponsel yang tengah menempel di telinga.
Membuat Aza mendongakkan kepalanya,terkejut melihat siapa pria di depannya hingga tangannya di tarik paksa ke-pelukan pria di depannya.
Dev memeluk Aza dan menenggelamkan wajah Aza ke dada pelukable dirinya "Aku yang jemput"ucap Dev lirih berbisik di telingan Aza sambil memencet ponsel Aza dengan tombol berwarna merah untuk mengakhiri panggilan itu.
Membuat sekujur tubuh Aza menegang seketika tak menolak atau merespon pelukan itu. Aza menenggelamkan dirinya di dada Dev. Rasa rindu karena berpisah sangat mendominasi perasaan Aza untuk saat ini.
Dev menopangkan dagunya ke-kepala Aza dengan tangan mengusap rambut bergelombang Aza.
Hingga beberapa detik hening tanpa pembicaraan dengan keadaan saling peluk.
Aza yang sangat-sangat merindukan pria yang memeluknya itu,membuat tangan Aza membalas pelukan itu dengan pelan di pinggang Dev. Memegang baju erat kemeja putih yang saat ini di pakai Dev.
Dev tersenyum singkat melihat balasan pelukan itu lalu ia mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar hingga suara dirinya memecah keheningan keduanya "Kapan ganti warna rambut??"tanya Dev basa-basi dengan posisi masih berpelukan satu sama lain.
"Semingguan"jawab Aza singkat dengan wajah yang masih tenggelam di dada Dev enggan rasanya ia melepas pelukan ini.
Hingga Dev mengedarkan pelukan itu membuat Aza sedikit mendongak karena tinggi cewek itu hanya sebatas dagu Dev.
Dev memegang pinggang Aza dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang pipi Aza,mengelusnya lembut membuat Aza terkejut.
Aza masih menatap manik milik Dev lalu melirik tangan Dev yanga ada di pipinya.
"Kita pulang!"ucap Dev sambil menautkan tangan keduanya dan membawa alih koper Aza berjalan keluar bandara. Aza pasrah mengikuti kemana arah tangan yang di genggam Dev.
Hingga keduanya sudah di dalam mobil dengan keadaan hening. Aza yang lebih memandang keluar jendela pun enggan berbicara. Sedangkan Dev dia tampak fokus dengan kemudinya hanya sesekali melirik kearah Aza.
Tring
Suara ponsel Aza membuat wanita itu tersentak lalu melihat ponselnya. Terdapat pesan dari sang mama,Aza membukanya dan membaca pesan itu. Dev melirik kearah Aza lalu kearah ponsel Aza dan melihat siapa yang mengirim pesan kepada Aza lalu dia kembali fokus ke depan.
Mamay:Udah sampai,sayang?
Aza mengetikkan jarinya di ponsel membalas pesan mamanya.
**Mamay:Ouhhh ya udah hati-hati yah! mama soalnya lagi pemotretan jadi ngak bisa lama-lama. Jaga diri baik-baik!
^^^Aza:Mama juga**^^^
Balas Aza lalu memasukkan ponselnya ke-tas slempangnya.
Hingga mobil Dev berhenti di sebuah restaurant membuat Aza mengerutkan dahinya bingung,ia menatap Dev yang sedang melepas *sealbeat*nya "Kenapa kesini?"
Dev menoleh lalu melepas sealbeatnya Aza dengan posisi badan yang mencondong mendekat kearah Aza. Membuat Aza bisa merasakan deru napas Dev menerpa wajahnya membuat detak Aza berdetak tak beraturan.
Ya Tuhan
Dev tersenyum simpul dengan posisi itu persis di depan Aza lalu mengulurkan tangannya ke puncak kepala Aza,mengusap lembut disana.
Menjauhkan dirinya lagi dari Aza membuka pintu mobil tanpa membalas pertanyaan Aza tadi. Jika kalian mengira Dev akan mencium Aza itu salah besar!! karena Dev bukan tipe orang yang akan memaksa seseorang apalagi keduanya masih ada masalah dalam keraguan diri seorang Aza.
Dev membukakan pintu untuk Aza menyelipkan tangannya di atas kepala Aza agar tidak kepentok dengan mobil. Aza keluar dengan rasa kesal karena pertanyaan dirinya tampak tak dihiraukan Dev.
Dev tampak acuh dan berjalan lebih dulu memasuki restaurant tersebut. Sedangkan Aza mendengus kesal menatap pria yang pergi lebih dulu tanpa menghiraukan dirinya. Ia yang masih di dekat mobil Dev mengumpat dalam hati pria tersebut.
Ya Allah tuh laki di diemmin bukannya ngrayu atau apa kek! malah ikut diemmin balik. Dasar kulkas!!!!! lagian tuh orang pinter sampai masuk sebagai pengusaha muda nomor satu tapi hati??? bener-bener belakang sungut Aza kesal dalam hati dengan ekor mata yang menatap tajam kearah Dev.
Dev yang menyadari kalau Aza tidak mengikuti dirinya berbalik kebelakang. Disana ia melihat Aza yang hanya menatap dirinya di dekat mobil miliknya tanpa melangkahkan kakinya.
"Ayo!"seru Dev dengan tangan yang di masukkan di saku celananya.
Aza mendengus kesal memalingkan wajah menghindari kontak keduanya. Dengan rasa kesal ia melangkahkan kakinya mendekat kearah Dev sambil mengumpat pria itu.
"Kenapa?"tanya Dev saat Aza sudah ada di dekatnya lalu mengeluarkan tangannya dari saku dan menggegam jari jemari Aza kuat.
Aza menatap genggaman itu lalu menatap pria si pemilik tangan "Ngak-papa"
_
_
_
_