After The Breakup

After The Breakup
BAB 82 Ngak Tahan



...Happy Reading!!...


..._...


..._...


Dev menggegam tangan Aza erat sambil berjalan memasuki rumah Ayah dan Bundanya. Di depan pintu sudah di sambut wanita paruh baya yang masih awet muda dengan pancaran senyum yang manis.


"Sudah sampai,gimana?"Tanya Diana sambil memegangi kedua bahu menantunya.


Aza dan Dev menyalami tangan Diana setelah pertanyaan itu terlontar.


"Ngak usah kepo kali Bun!"ucap Dev sambil melirik Bundanya.


Diana mencibik menatap putranya "Apa?orang Bunda tanyanya menantu Bunda"balasnya sambil menatap Aza kembali.


Mengajak menantunya masuk ke dalam tanpa memperhatikan wajah anaknya yang selalu merasa di anak tirikan jika ada Aza "Perang anak tiri di mulai"gumamnya sambil berjalan masuk ke dalam.


"Aza mana Bun?"Tanya Dev saat Diana ingin berjalan kearah dapur.


Diana menoleh "Ke kamar kamu! Bunda suruh istirahat,kamu juga"


Dev mengangguk dan berjalan kearah Bundanya terlebih dahulu mengecup pipi wanita yang sudah melahirkannya sayang "Love You Bun"melangkahkan kakinya menaikki tangga menuju kamarnya.


Diana terkekeh menggelengkan kepalanya melihat tingkah putranya melanjutkan berjalan lagi kearah dapur sebelum di panggil putranya tadi.


Dev langsung membuka pintu kamarnya tanpa mengetuknya,pandangan pertama yang ia lihat adalah pemandangan wanita yang tengah menyusuri kamar dirinya atau lebih tepatnya kamar mereka.


Dev menutup pintu dan berjalan kearah istrinya duduk di tepi ranjang yang tak jauh di mana Aza berdiri "Kenapa?"


Aza menoleh dan menggelengkan kepalanya memandangi lagi kamar yang berdominasi berwarna putih dan hitam itu "Sedari dulu aku ngak pernah masuk kamar kamu eh- ternyata lebih besar dari kamar aku"katanya sambil menyatukan tangannya di balik punggung.


Dev menarik tangan wanitanya hingga Aza duduk di pangkuannya. Aza membulatkan matanya dengan secepat kilat ia sudah duduk di atas paha suaminya. Gugup sudah pasti apalagi dengan tatapan mata Dev.


Tangan Dev terulur mengusap pipi Aza lembut "Kamar kamu juga"


Aza tersenyum menelusupkan wajahnya ke ceruk leher suaminya menggoyang-goyangkan gemas.


Dev mengelus punggung Aza lembut "Bulan madu dimana?"Tanyanya di sela aktivitas tangannya yang sedang memainkan rambut gelombang berwarna green di bagian gelombang bawahnya.


Aza mendongak menatap Dev dengan tangan yang sudah mengalung di leher Dev "Kalau di tunda gimana?lagi ngak pengen kemana-mana"


"Serius?ngak kepikiran mau kemana?"


Aza mengangguk "Kalau kamu mau sih aku ikut aja"


"Di tunda aja sesuai keinginan kamu"


Aza tersenyum dan mengelus rahang tegas mendekatkan wajahnya lagi ke ceruk Dev,menggigit gemas leher Dev meninggalkan kebiruan di sana.


Sedangkan Dev memejamkan matanya meringis merasakan gigitan Aza "Shit!"


Aza menjauhkan wajahnya dari leher Dev melihat bagaimana ekspresi Dev menggesek-gesekkan hidungnya ke hidung Dev.


"Nakal banget! siapa yang ngajarin,hm?"ucap Dev dengan tangan mengelus-ngelus punggung Aza yang terhalang kemeja yang wanita itu gunakan.


"Biarin suami sendiri! ihhh tangannya"keluh Aza saat tangan Dev sudah merambat kemana-mana memasuki kemeja Aza.


"Biarin sama istri sendiri"ucap Dev menirukan kata Aza tadi dengan tangan sudah menyusup masuk ke dalam kemeja yang masih berbalut tank top hitam.


Memainkan tangannya di kedua aset Aza,meremasnya lembut membuat Aza menggigit bibir bawahnya dengan tangan yang masih setia mengalung di leher suaminya "Ayyy"purau Aza saat tubuhnya sudah merasakan gelenyar-gelenyar aneh.


Aza mendekatkan wajahnya ke wajah Dev mencium bibir suaminya ganas. Dev menerima ciuman istrinya dengan kedua tangan yang masih bekerja di porosnya.


"Ngak tahan"ucap Aza menatap manik Dev ia sendiri sudah di bakar api gairah oleh pancingan suaminya. Ia juga merasakan di bawahnya sudah bergerak-gerak mencari pawangnya.


Dev langsung mengangkat tubuh Aza ala bridal style ke kasur membaringkannya dengan bibir yang masih terpaut. Mengukung wanita yang sudah mengelus-ngelus punggung Dev,menuntut Dev lebih.


"Berapa ronde?"tanya Dev di sela-sela membuka kaos hitamnya melempar asal agar tubuhnya bisa di nikmati istrinya.


______


"Ngak enak tahu sama Bunda"greget Aza sambil menatap tajam Dev yang masih santai duduk di ranjang bersandar di heardboard.


"Ngak-papa Bunda ngerti,Sing!"jawab Dev santai.


Aza yang sudah selesai mengeringkan rambutnya berdiri dari duduknya berjalan kearah pintu "Kamu mandi gih,aku ke bawah bantuin Bunda"


Dev hanya mengangguk menatap kepergian istrinya. Ia masih mengumpulkan kesadarannya yang baru bangun akibat pergulatan siang tadi.


Bangun-bangun langsung kena semprot Aza yang kesal karena waktu makan siang sudah mepet waktunya. Dengan alesan seperti tadi "Malu ngak bantuin Bunda"


Dev berjalan kearah kamar mandi membersihkan dirnya.


Sedangkan Aza berjalan menuruni tangga menuju kearah dapur di mana mertuanya berada ia sangat yakin karena sekarang sudah waktunya jam makan siang. Pasti mertuanya sedang menyiapkan makan siang.


"Bun"cicit Aza sambil mendekat kearah Diana yang sedang membawa makanan untuk di taruh di meja makan.


Diana menoleh mendapati Aza berjalan kearahnya "Udah bangun"


Aza mengangguk membantu Diana mengambil makanan di dapur "Maaf ya Bun,Aza ngak bantuin"


"Eh-duduk aja! Bunda tahu kalian masih pengantin baru kok! Jadi no problem,sayang"terang Diana kepada menantunya.


"Ngak enak aja Bun"


Diana tersenyum menatap menantunya yang masih menata makanan di meja "Gimana Dev? ganas ngak di ranjang kayak penampilannya?"tanya Diana.


Aza langsung membulatkan matanya mertuanya ini benar-benar membuat Aza tak habis pikir.


Sangat Bun! sampai beberapa ronde batin Aza tersenyum penuh arti.


"Apa sih Bun"


Diana mendekat menaik-turunkan alisnya mencoba mengorek pertanyaan tadi "Kalau ganas kan Bunda cepet bakal punya cucu dong"


Wajah Aza memerah mendengar penuturan mertuanya.


"Dulu Ayahnya Dev juga gitu! sekarang juga masih sampai Bunda ngak tahu lagi harus gimana tambah umur tambah ganas"curhat Diana.


Aza menganga atas penuturan wanita yang sudah melahirkan suaminya. Anak sama Ibu sama saja terlalu gamblang membicarakan masalah vulgar seperti itu.


_


_


_


_