
Setelah pertanyaan Diana yang absurd tadi,Aza lebih memilih hanya mendengarkan lontaran-lontaran kata Diana hanya sesekali membalasnya. Bagaimana mau berbicara santai jika pembahasan mereka kelewat santuy.
Makan siang tampak tenang dengan hanya tiga orang di maja makan. Makanan buatan Diana di bantu pelayan karena Aza yang ketiduran akibat capek sama sekali tidak ikut andil dalam memasak.
Diana memaklumi Aza tapi tidak dengan Aza,dia merasa tidak enak hati. Hari pertama di rumah mertua bukannya membantu tapi ia malah ke-enakan tidur.
Surya yang sudah masuk ke kantor mengakibatkan hanya tiga orang di sana. Sedangkan Dev?dia masih cuti pernikahan hingga tiga hari kedepan.
"Kalian mau bulan madu kemana?"celetuk Diana setelah selesai makan.
"Di tunda dulu Bun"balas Dev sambil mengelap mulutnya dengan tisue.
Diana mengrenyitkan dahinya dengan balasan anaknya "Kenapa? apa ada masalah?"menatap menantu dan putranya bergantian.
Aza menggelengkan kepalanya menatap Diana "Ngak Bun! cuma di tunda dulu,soalnya belum ada pikiran mau kemana"terangnya.
Diana hanya mengangguk-angguk "Bunda terserah kalian aja"
"Bun"panggil Dev.
Diana langsung menoleh kearah putranya akibat panggilan itu "Kenapa?"
"Dev pindah ke rumah besok ya? mumpung masih cuti bisa siap-siappin dulu semuanya"kata Dev.
Sedangkan Aza hanya menatap ibu dan anak itu secara bergantian ia tak tahu apa arah pembicaraan keduanya. Lebih memilih diam selagi belum tahu!
"Kok besok?ngak ke-cepetan Dev?"
"Ngak Bun! lagian rumah udah ada Bi Asti sama Mang Ujang"balas Dev.
"Aza setuju?"tanya Diana sambil menatap Aza sedari tadi diam saja.
"Hah?"beo Aza.
"Dev,bicara dulu sama Aza Bun"terang Dev saat menyadari wajah bingung Aza.
Diana mengangguk menatap Aza dengan senyuman.
Dev menggegam tangan Aza menaikki tangga ke-kamar mereka.
"Ada apa sih?"tanya Aza di sela-sela mereka menaikki tangga. Dev hanya tersenyum dan mengacak-acak rambut Aza dengan terus berjalan kearah kamarnya.
"Besok pindah kerumah aku aja"ujar Dev saat mereka sudah ada di kamar mengamati lekat wajah cantik istrinya.
Aza mengerutkan dahinya bingung "Rumah? kamu punya?"tanyanya.
Dev mengangguk "Aku belum pernah nunjukin ke kamu,udah tiga tahun aku beli sesuai design yang kamu pengen dulu"terangnya.
"Di mana?"
Aza mengekor di belakang Dev sambil mangut-mangut mengamati setiap baju-baju dan aksesoris suaminya. Matanya menelisir ke meja kaca di tengah-tengah yang berisi beberapa jam tangan dan dasi "Gila jutaan ini mah!"celetuk Aza saat tangannya mengambil satu jam tangan,ia sudah hapal mana barang yang brended atau bukan.
Dev yang sedang mengambil koper miliknya hanya menatap sekilas lalu melanjutkan aktivitasnya menaruh koper itu di kursi yang ada di sana dan membuka resletingnya "Bantuin gih"titahnya.
Aza menoleh kearah Dev yang sedang menyusun bajunya,kaki jenjangnya berjalan kearah pria pewaris tunggal YP Compony itu.
Tangan Aza mulai menyusun baju-baju Dev mulai dari baju kerjanya hingga baju santai memasukkannya ke koper besar berwarna merah itu. Tak lupa aksesoris-aksesoris milik suamimya hingga sepatu-sepatunya "Sudah?"tanya Aza saat sudah menyusun baju-baju suaminya,menatap dua koper besar yang masih terbuka dengan susunan baju yang rapi.
Dev yang tadi sedang memilih barang aksesoris dirinya,mendekat kearah Aza menganggukkan kepalanya "Udah!"
"Aku tinggalin beberapa baju di sini aja ya?"tanya Aza sambil mengambil koper miliknya yang masih tetap di ujung pojok ruangan itu.
"Hm"
Dev mendekat kearah lemari yang khusu buat istrinya membukanya ia langsung menganga saat lemari itu sudah penuh oleh baju perempuan seperti beberapa dres dan kemeja tak lupa ada baju tidur tak ada akhlak juga terdapat disana "Kok udah ada baju aja,Sing?"
Aza bingung dengan perkataan Dev "Apanya?"
"Lemari kamu!"
Aza mendekat kearah Dev yang masih menatap lemari dengan baju-baju perempuan itu. Aza menyatukan alisnya bingung menatap Dev "Baju siapa?"
Dev mengedikkan bahunya tak tahu "Paling juga Bunda yang nyiapin"
Aza hanya mengangguk dan menelisir kan tangannyan kearah beberapa baju itu. Membuka lemari satunya yang sudah terdapat beberapa tas dan sepatu tersusun rapi meninggi keatas disana "Ini ada tas sama sepatu juga loh Ay"
Dev mendekat dan memeluk istrinya dari belakang "Bunda aja udah nyiapin lengkap buat kamu,apalagi baju-baju tidur kamu! aku suka. Bunda tahu aja apa yang bikin anaknya senang"ujarnya sambil terkekeh dan mencium pipi mulus Aza.
Aza mencibik "Otak kamu pasti pikirannya ngak jauh-jauh dari sana"
Dev tertawa "Namanya juga manusia normal,sayang. Lagian juga sama istri sendiri,halal"
Aza hanya tersenyum membalas perkataan suaminya. Ia sangat-sangat bersyukur di pertemukan lagi oleh pria yang selalu ia selipkan namanya di dalam doa. Entah itu doa untuk bersama dirinya atau doa meminta agar laki-laki yang sekarang menjadi suaminya itu agar berbahagia selalu.
Dan sekarang apa yang ia bahkan sendiri tidak pernah berpikir untuk bisa bersama dengan seorang Dev tapi sekarang? Tuhan telah menghadirkan Dev kembali untuk dirinya. Kita tidak akan tahu takdir membawa kita kemana.
Mungkin jalan cinta mereka di uji dengan perpisahan tujuh tahun untuk di ikat ke sebuah janji suci sebuah pernikahan. Rencana Tuhan memang indah.
Bukan sekarang,tapi di waktu yang akan datang. Kamu akan menikmati doa yang kamu ulang-ulang!!
_
_
_
_