After The Breakup

After The Breakup
BAB 69 Kartu Identitas




Duduk berdua berhadapan di meja bundar. Diana yang bertujuan datang kesini diantar Dev,ingin menemui temannya. Sedangkan Bryan?? dia sudah pulang 10 menit yang lalu.


Aza hanya merundukkan kepalanya dengan tangan memainkan kopinya dengan memutar-mutar gelas berisi kopi itu.


Dev menatap wanita di depannya dalam-dalam tanpa mengalihkan pandangannya "Kenapa diem?"


"Ha?"balas Aza sambil mendongakkan kepalanya menatap pria yang sedang melihat dirinya dalam.


"Kenapa diem?"Tanya Dev lagi sambil bersedekap tangan di dada.


Aza mengalihkan mukanya ke-gelasnya lagi menguncang-guncangkan kopi itu sehingga membuat kopi itu berombat lembut. Seperti anak kecil sekali.


"Ngak-papa"


"Kalau orang bicara di tatap matanya!"secara reflek Aza langsung mendongakkan kepalanya ia menatap pria di depannya yang sedang menampilkan wajah datarnya.


tuh muka serem banget batin Aza sambil meneguk ludahnya susah.


"Kenapa?"


"Kenapa apanya?"Tanya Aza balik sambil menaikkan alisnya.


Dev mencondongkan badannya kedepan "Kenapa menghindar?ngak lagi ngerecanain sesuatu kan?"


"Ha?apa?"jawab Aza cengo yang membuat wajah Aza terasa menggemaskan buat Dev.


Dev mengulurkan tangannya ke-puncak kepala Aza menepuk-nepuknya lembut dengan senyum hangat.


Aza hanya memandang tangan itu lalu menatap Dev "Tadi aja datar,tapi sekarang?"cibir Aza.


Dev terkekeh menepuk pelan pipi Aza sekali dan kembali duduk menyandarkan punggungnya ke kursi "Masih marah-marah?"


"Kenapa juga marah?"


"Jangan hindari aku lagi! awas aja kalau di telfon atau di chat ngak dibales"ancam Dev dengan tatapan mematikan.


Aza benar-benar meneguk salivanya susah payah untuk masuk ke-tenggorokan saat melihat wajah garang Dev. Dev yang menyadari hal itu menggulum senyumnya mengamati wajah Aza bukannya dia mau menakut-nakuti tapi mungkin ini caranya tersendiri agar membuat Aza mengerti situasinya.


Situasi seperti masalah dalam sebuah hubungan selalu ada. Ada cara tersendiri dua orang menyelesaikannya tersendiri. Menghindar tidak akan menjauhkan dirimu dari masalah itu.


Aza di bilang egois?kekanak-kanakan?tidak deweasa?Orang mengira kalau itu kepribadiannya tapi menurut Dev. Aza adalah sosok paling dewasa dan mengerti antara keduanya.


Bayangkan saja bagaimana perasaan Aza,disaat mereka memulai bubungan baru datang masalah yang tidak biasa,yang membuatnya bahkan di serang balik oleh orang-orang yang dulu menyuprotnya dengan ketikan jari pedas.


**


"DEVANO"


"DEV"


"Iya deh iya aku minta maaf"ucap Aza saat berada di samping cowok itu sambil mengapit lengan Dev.


Dev tak menghiraukannya karena perlakuan Aza tadi,sungguh dia paling benci di-diammi atau di kacangin. Apalagi orang itu adalah Aza,wanitanya. Dia lebih memilih di marahin habis-habissan dari pada di diamkan seperti tadi.


"Ayyyy aku salah aku minta maaf"ujar Aza saat mereka sudah sampai di parkiran perusahaan dimana Aza bekerja saat ini.


Dev mengarahkan kuncinya memencet tombol membuat mobil itu berkedip dan berbunyi,memegangi pintu mobil untuk masuk. Namun tangannya terhenti tak kala di tarik paksa oleh wanita ber-blazer hitam dengan kemeja putih.


"Maaf"Aza dengan muka memelas membuat Dev memalingkan wajahnya.


"Janji deh ngak akan diemmin kamu kayak tadi!"


"Yaa?yaa?yalah masak enggak!"


Dev tak menghiraukannya ingin berbalik badan tapi lagi-lagi tubuhnya di paksa berputar kebelakang.


Aza mengalungkan tangannya ke leher Dev membuat Dev melotot tak percaya dengan apa yang dilakukan Aza. Masa bodo sekarang mereka ada di mana,yang terpenting disini sepi ngak ada orang,itulah pikiran Aza.


Aza mengeratkan tangannya di leher Dev dan menyandarkan dagunya di bahu Dev,membuat kedua pipi mereka berdekatan hingga tanpa jarak. Bergerak sedikit saja mungkin akan menempel.


"Jangan nakal"peringat Dev.


Aza terkekeh lalu membisikkan "Maaf ya! aku ngak bermaksud buat kamu marah!"


Dev meremang saat mendengar bisikan di telinganya dari wanita ini. Benar-benar hanya Aza-lah yang mampu menjungkir-balikkan mood dalam diri seorang Devano Yoga Pranata.


Tak habis sampai di situ kecupan di pipinya membuatnya cengo menatap wanita yang sudah menjauhkan badannya namun tangannya masih di lehernya "Dasar gadis nakal!"


Aza tertawa menatap Dev "Cuma sekali nakalnya"


"Kemarikan KTP kamu?"Tanya Dev sambil merengkuh pinggang wanitanya.


Aza mengerutkan keningnya bingung "Buat apa?"


"Berikan aja!"


Aza hanya menurutinya,menurunkan tangannya dari leher Dev memgambil KTPnya dari dompet di saku blazernya dan menyerahkannya ke Dev "Buat apa sih?"tanya Aza sambil mengangkat tangannya sebelum Dev mengambilnya.


Tapi dengan sekali tarik KTP itu ada di tangan Dev "Pinjem bentar ntar di balikin!"balas Dev sambil mengusap rambut Aza lembut.


_


_


_


_