
Dev tengah menatap lekat laptopnya sibuk. Beberapa dokumen yang harus ia tanda tanganni karena terbengkalai akibat empat hari pergi untuk menemui sang kekasih,belum ia sentuh sama sekali sedari pagi.
Hingga pintu di ketuk oleh asistennya,tanpa melihat ke arah pintu Dev sudah menyuruhnya masuk. Dimas masuk dan mendekati meja Dev "Tuan,ada Tuan Agus"
Dev mengadahkan kepalanya menatap Dimas "Ada masalah apa?"
"Tidak tahu Tuan dia kesini untuk menemui anda"
Dev mengerenyitkan dahinya bingung "Suruh masuk!" Dimas mengangguk dan membungkukkan dirinya undur diri.
Tak lama tampak pria yang sudah paruh baya datang dengan senyumnya "Halo Tuan Devano"
Dev membuang mukanya malas "Ada perlu apa anda kesini?" Tanyanya pada orang yang sedang berdiri di depan mejanya.
Agus menampilkan senyum smriknya "Hanya ingin berjumpa dengan anda"jawabnya lalu menyodorkan undangan ke meja Dev. Dev hanya menatap undangan itu bingung lalu mengambilnya.
"Itu saya bawa undangan khusus untuk anda. Saya mengundang anda untuk datang ke acara anniversary pernikahan saya"
Dev tak menghiraukan ucapan orang di depannya ia membolak-balikkan undangan itu lalu menatap pria yang sudah duduk di kursi depannya "Apa masih ada lagi Tuan Agus?"
"Tidak! kalau begitu saya permisi"ucapnya lalu berdiri dari duduknya dan melangkah ke arah pintu.
Dev menaruh undangan itu di mejanya lalu memutar kursinya menatap jendela yang menampilkan gedung-gedung yang menjulang tinggi.
Dia sangat mengenal pria yang seumuran dengan ayahnya itu. Agus Sanco yang terkenal licik dalam berbisnis walau perusahaannya jauh di bawah YP Compony. Tapi bagaimana carapun ia bisa lakukan agar menjatuhkan lawannya.
Menghembuskan napasnya panjang,lalu memutar kursinya lagi melanjutkan pekerjaan yang tadi terganggu karena Agus.
Waktu sudah berlalu selesai mengerjakan tugasnya Dev pergi meninggalkan kantornya. Dia berjalan keluar yang di ikuti Dimas di bilakangnya.
Dimas tampak gugup ingin mengutarakan sesuatu tapi dia takut jika merusak mood bosnya.
"Bicaralah jika ingin bicara Dim"ucap Dev saat menyadari tingkah Dimas karena gelagatnya.
"Tadi Tuan Agus ada keperluan apa,Tuan? maaf kalau saya lancang"Tanya Dimas.
Setelah menempuh beberapa menit akhirnya Dev sampai di rumahnya. Saat sudah menginjakkan diri di anak tangga langkah Dev kembali lagi turun untuk menyapa Ayah dan Bundanya yang sedang ada di meja makan.
"Yah,Bun"sapa Dev sambil menyalami kedua tangan orang tuanya.
"Baru pulang Dev"kata Diana sambil menuangkan air putih dan menyodorkannya ke depan Dev.
"Makasih Bun"ucap Dev lalu menegak minuman itu tanpa membalas kata Bundanya.
"Dasar"cibir Diana sambil duduk di sebelah suaminya-Surya.
Surya menatap putranya yang baru meneguk minum yang di berikan istrinya "Tuan Agus ngundang kamu ke pestanya?"Tanya Surya.
Dev menatap ke arahnya dan mengangguk "Hmm tadi dia ke kantor. Ayah?"jawab Dev dengan kata terakhir sebagai pertanyaan.
Surya mengangguk "Ayah juga"Dev mangguk-mangguk mengerti lalu berbicara "Yang Dev denger musuhnya gulung tikar lagi Yah?"Tanya Dev dengan raut wajah serius.
Surya menatap putranya dan mengangguk "Dia bukan pebisnis sembarangan walau perusahaannya tidak sebesar YP Compony. Berhati-hatilah! dia akan melakukan apapun itu bahkan dengan kekerasan pun bisa ia lakukan"terang Surya membuat Dev bergeming.
"Ngak pernah ketangkep pihak hukum dia?"
Surya menggeleng "Selalu memusnahkan bukti-bukti kejahatannya"
Diana hanya mendengarkan perbincangan ayah anak ini dengan diam dan melirik bergantian kedua pria yang berarti untuknya.
_
_
_
_