
Waktu terus bergulir dua bulan sudah terlewati untuk Aza dan Dev melakukan LDR. Jarak memang memisahkan tapi hati selalau bersama,mereka menikmati waktu-waktu berjauhan satu sama lain. Dev lebih suka melihat Aza yang selalu merengek merindukannya. Begitupun Aza yang selalu kesal saat-saat Dev mennjahilinya dengan perkataan dan gomballan khas dirinya.
Hari ini adalah hari penting bagi seorang Viona Nataniel dan Bryan Fredick. Dimana mereka akan mengikat janji suci pernikahan,mengganti status yang lajang menjadi seorang suami dan istri.
Tak hanya mereka yang merasakan itu tapi para teman-teman juga menantikan pergantian status keduanya. Seperti saat ini Dev,Fredo dan juga Bagas sedang mengejek laki-laki yang sebentar lagi mengucapkan ijab qobul.
"Gagah banget lo"puji Fredo kepada temannya yang sedang berdiri di depannya.
Bryan yang menggunakan baju khas Jawa Jangkep dipadukan dengan jarik sebagai bawahan membuatnya terlihat tampan dan gagah.
"Deg-degan ngak lo?"kali ini pertanyaan datang dari Bagas.
Bryan menatapnya terlihat nervous "Sialan! cuma bayar tunai senervous gini gue"
Bagas mendekat dan menepuk pundak sahabatnya itu "No problem,gue juga dulu sama kayak lo tapi setelah lo bayar tunai semua yang ada di pundak lo hilang seketika"tutur Bagas mencoba meredakan kegugupan sahabatnya itu.
"Gue juga ngrasain itu dulu,yang dikatakan Bagas benar"Fredo menimpali ucapan sahabatnya itu.
"Setelah gue nter lo yang akan bayar tunai Dev"ucap Bryan sambil menarik kedua sudut bibirnya.
Dev yang sedang bersedekap tangan di dada menoleh kearah orang yang sebentar lagi menjadi suami itu "Doain aja! ceweknya masih di negara orang"kata Dev sambil tersenyum.
"Yang lagi bunga-bunga"celetuk Bagas.
"CLBK sama mantan"celetukan lagi datang dari Fredo membuat ruangan berisi ke-empat pria itu mendadak menjadi gelak tawa.
"Belum mantan dan masih cinta bukan CLBK"terang Dev membuat tawa mereka bertambah.
Suara ketukan pintu terdengar membuat mereka bertiga memberhentikan tertawanya. Mereka menoleh kearah pintu melihat siapa yang datang.
"Sudah waktunya ijab qobul,ayo turun!"ucap papa Bryan,dia mendekat kearah anaknya dan menepuk pundak Bryan.
"Kamu sudah akan menjadi suami Bry,ubahlah kebiasaan burukmu! ingat kamu sudah ada seseorang yang harus kamu bimbing"
Bryan menatap papanya dan mengangguk "Bryan berjanji pa"papa Bryan tersenyum dan mengajak mereka turun ke ballroom hotel.
Yah pernikahan mereka diadakan di salah satu hotel berbintang lima di Jakarta.
Sedangkan di salah satu kamar hotel lainnya ketiga wanita yang sedang asik berbicara kepada seseorang di sebrang telfon terlihat asik saling menggoda.
Sang mempelai wanita yang menggunakan kebaya putih dengan sanggul sebagai hiasan dikepalanya membuatnya seperti kata-kata orang dia akan menjadi ratu dalam sehari.
"Gue pengen pulang"ucap Aza dengan wajah sedihnya.
"Ya udah sih salah siapa ngak pulang! kan bisa sehari"Je sambil menatap layar ponsel didepannya.
"Weekend yang menyedihkan"
Mereka bertiga tertawa membuat ubun-ubun Aza memanas. Tertawa mereka terhenti dan menoleh kearah pintu yang terbuka.
Tampak wanita cantik yang juga dibalut dengan kebaya berwarna putih mendekat kearh mereka "Sudah waktunya ijab qabul kita turun yah,sayang"tutur Hana sambil memegang kedua pundak anaknya.
Vio langsung memeluk mamanya "Vio ngak mau pisah sama mama"
Hana mengelus punggung anaknya lembut "Jangan menangis nanti riasannya rusak,kamu sebentar lagi jadi seorang istri nak turuti apa mau suami kamu! ridho suami kamu ridho Allah juga. Jangan membantahnya jika dia menyuruhmu,sayang"
Vio mengulas senyumnya "Vio akan belajar menjadi istri seperti mama yang selalu menemani papa dan menjalankan tugas sebagai seorang istri"balas Vio menitihkan air matanya.
Hana melepaskan pelukannya dan mengusap air mata yang menetes di pipi putrinya "Tersenyum sekarang kamu menjadi seorang ratu jadi jangan menangis"
Suasana terharu tampak dalam ruangan itu begitupun Tania dan Je yang ikut terharu mendengar nasehat ibu untuk anaknya,Aza yang masih terhubung dengan panggilan itu ikut menitihkan air matanya membayangkan apa dirinya akan seperti itu jika menikah nanti tapi mengingat jika hubungan mamanya dengan ibu tirinya membuat senyum getir terukir di bibirnya.
apa aku akan sesedih itu nanti?apa mama juga akan datang?kalaupun iya bagaimana nantinya,aku juga ngak mau kalau ada keributan antara mama dan mama Tari,yang akan melukai hati mama dengan perkataan mama Tari batin Aza
_
_
_
_