
!!Aza tak tahu harus apa. Benar-benar kecewa sangat kecewa dengan apa yang dilakukan Dev. Jika berita itu tidak benar setidaknya Dev cerita dengannya bahkan seminggu sudah masalah itu tapi Dev?? dia bahkan seolah menutupi masalah ini darinya.
Jika Dev mencintai orang lain kenapa harus mengawali hubungan baru dengan Aza. Jika memang berita itu benar setidaknya hargai perasaan Aza.
Aza duduk di bawah sofa dengan menenggelamkan wajahnya di kedua lutut. Ia mengambil ponselnya yang tadi ia lempar setelah berbicara dengan papanya.
Menempelkan ponsel itu ke-telinga untuk mendengar suara seseorang di sebrang. Tak menunggu lama panggilan itu terjawab.
"Hallo"ucap seseorang mengawali panggilan ponsel.
Aza mengangkat wajahnya dari kedua lutut,mata yang sembab,muka yang merah karena menangis membuatnya enggan mengeluarkan suaranya saat tenggorokkannya seolah kering tiba-tiba.
"Sing???"ucapnya lagi karena tidak mendengar balasan.
Aza menghembuskan napasnya pelan "Apa kabar?"ucapnya lirih dengan suara serak khas habis nangis.
Dev tercekat mendengar suara Aza,ia benar-benar tahu seperti apa Aza. Begitupun sekarang dia sangat yakin kalau wanita di sebrang sana habis menangis "Ada apa? habis nangis?"ucap Dev tanpa memperdulikan pertanyaan Aza.
Aza tersenyum getir lalu merapatkan bibirnya ke dalam lalu mengalihkan pandangannya kearah balkon apartemen "A-ku ta-hu semuanya...Dev"
Dev mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang di bicarakan Aza"Bicaralah"
"Berita soal kamu bahkan sampai aku jadi orang ketiga"
Dev terkejut mendengarnya ia berusaha mencoba mengubah raut wajahnya dan menatap datar ke depan "Kapan??"
"Di hari di mana hari ulang tahunku. Ucapan banyak mengalir..."balas Aza sambil menunduk memainkan tangan kirinya dengan pikiran menerawang kembali saat ia membaca DM-man di akun sosmednya.
"Aku ngak pernah lakuin itu! jika tidak percaya aku akan panggil Raini,Sing!"ucap Dev dengan gusar ia tahu sekarang bagaimana dengan perasaan Aza setelah mendengar suara Aza saat ini.
"Ehm...gimana reaksi papa tentang ini??"
Dev menyandarkan punggungnya ke kursi meja kerjanya menatap lurus ke depan "Om Wahyu...akan ambil keputusan sesuai dengan kamu! jangan mengambil keputusan di saat-saat emosi menguasai,Sing! aku akan mencoba membenarkan kalau berita itu salah"terang Dev.
Dev tercengang mendengar balasan Aza "Pulang!"satu kata membuat Aza menghembuskan napasnya kasar mengumpat pria itu berkali-kali.
"Apa yang harus aku lakukan jika pulang?"
"Pulang! aku akan menunggu di sini!"
Aza tertawa sumbang mendengarnya "25...angka di mana pertambahan umur yang harus di syukuri atau tidak. Bersyukur karena masih di beri umur dan kesehatan,tapi di sisi lain..."
Dev diam tak bergeming dia tahu kalau kejadian ini akan terjadi jika Aza mengetahuinya. Makanya dia berusaha untuk menutupi ini semua dari Aza sebelum semuanya terbukti bukan hanya dengan lisan.
Hening
Tak ada pembicaraan dalam panggilan itu,masih terhubung dengan ponsel itu,yah jawabannya iya. Tapi sayang keduanya sama-sama diam tak ingin memperumit masalah ini dengan kata-kata yang akan membuat keduanya berselisih.
Menyelami pikiran masing-masing untuk mencoba memperbaikki hubungan yang baru mereka jalani dengan hal yang baru juga.
Hingga keheningan mereka terhenti tak kala suara Aza.
"Aku akan pulang besok! butuh waktu untuk memesan tiket dan mengemasi barang"ucap Aza sambil menghapus sisa-sisa air mata di pipinya.
Dev mengangkat kedua ujung sudut bibirnya hingga membuat sebuah senyuman terukir di wajah itu "Jaga diri baik-baik!"Aza menganggukkan kepalanya walau Dev tidak tahu,lalu mengakhirri panggilan itu.
Ada rasa lega dalam diri Aza saat mendengar bagaimana cara Dev mebuatnya mempercayai kalau berita itu tidak benar. Bahkan ia sampai memyuruh Raini untuk menjelaskan semuanya.
_
_
_
_