
Dev baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya,handuk yang mengusap rambut basahnya.
Ponselnya bergetar tertera nama Dimas disana,Dev langsung memencet tombol hijau
"Halo Tuan"ucap Dimas dari sebrang sana
"Hmm..ada apa Dim?"jawab Dev dengan tangan kanan yang masih seti mengusap rambut basahnya
"Tuan ada masalah disini!"
Dev menghentikan tangannya yang mengusap dengan dahi yang mengrenyit "Masalah apa?"Tanya Dev
"Maaf Tuan,ada yang bermain-main dengan Tuan"
Dev meletakkan handuknya yang tadi di buat mengusap kepalanya ke ranjang "Siapa?sejak kapan?apa Ayah tahu soal ini?"
"Tuan Besar belum mengetahuinya Tuan! tapi sepertinya ini dibicarakan secara langsung karena ini sudah benar-benar fatal Tuan"terang Dimas dari sebrang
Dev tampak menghela napasnya pelan "Kau urus penerbanganku,besok aku kembali!"Tegas Dev
"Baik Tuan"
Dev mengakhiri penggilan itu dan memakai bajunya,dia merebahkan tubuhnya di ranjang menelantangkan tubuhnya menatap langit-langit kamar hotel itu.
"Bahkan masalahku dengan Aza belum selesai! dan sekarang ada yang ingin bermain-main denganku"keluh Dev sambil mengusap wajahnya kasar.
Dia mengambil ponselnya dan memencet nomer seseorang
"Halo"ucap seseorang dari sebrang dengan suara khas tidurnya
"Sudah tidur?"Tanya Dev sambil menarik sudut bibirnya ke atas
"Menurutmu?...ada apa?"
"Si-ng"ucap Dev agak ragu kepada Aza. Yah Dev menghubungi Aza
Aza menghela napasnya dan berdiri menundukkan tubuhnya "Kenapa?bicaralah"ujarnya lembut
Dev tersenyum,inilah yang selalu membuatnya mencintai Aza,sikap dewasanya selalau mengerti akan perasaan jika ada sesuatu yang membuatnya membutuhkan seseorang,maka Aza dengan tangan terbuka merentangkan tangannya memberi dukungan.
Walau Dev akui bahwa Aza selalu merasa cemburu jika berdekatan dengan wanita,hingga berpisahlah mereka karena kesalahpahama. Aza yang benar-benar merasa sakit hati lebih memeilih meninggalkan Dev dengan rasa bersalahnya
"Aku besok kembali! ada masalah di perusahaan"ucap Dev mengakhiri dengan menghela napasnya pelan
"Masalah apa?"Sungguh Aza benar-benar bersorak di dalam hatinya kala memgetahui bahwa Dev masih mengingatnya,untuk meminta persetujuan dirinya kembali.
"Aku ngak tahu Sing! Dimas bilang kesalahannya fatal hingga menyuruhku berbicara langsung"Dev sambil mengusap wajahnya kasar
"Pergilah! perusahaan membutuhkanmu! semua orang pasti memiliki masalah Dev,hidup mulus-mulus aja kurasa tidak menyenangkan"ucap Aza sambil terkekeh
"Apa?menurutku juga begitu! hidup terasa hambar bagai taman tanpa bunga...aku ngak nyanyi yah"kekeh Aza
Dev lagi-lagi memgembangkan senyumnya "Kan jadi rindu!"gombal Dev
"Ngak usah rindu berat! biar Dilan aja,kamu ngak bakal kuat"
Dev tertawa "Kata siapa?makin ngawur kamu"
"Cih! ini nih yang tadi aku omongin. Hidup kamu terlalu di buat kerja,kerja dan kerja"cibir Aza
"Apa?udah malam tidur sana! besok aku jemput,antar aku sampai bandara"
Aza langsung merubah wajahnya masam "Jadi pulang?"tanyanya sedih. Bukankah tadi kau yang menyuruhnya untuk pulang mengurus pekerjaannya tapi sekarang kau bahkan jadi tak bersemangat
"Kenapa?tante pulang kapan?kamu masih marah sama tante?"Tanya Dev balik mendengar perubahan suara Aza
"Ngak!"jawabnya ketus dan singkat
"So siapa sekarang yang ngelarang aku pergi?"Dev sengaja menggoda Aza
"Aku kenapa?enggak boleh?bukankah kamu masih barus ngedengerin aku,kenapa bisa aku marah?"kesal Aza sambil membaringkan tubuhnya
Dev lagi-lagi tersenyum "Ciee ngambek nih ceritanya?"
"Apaan sih!..Dev kayaknya jadi penulis enak! tadi iseng-iseng lihat hp ada tenaga kerja di sebuah aplikasi"ucap Aza mengalihkan pembicaraan
"Memang kamu bisa?"Tanya Dev
"Belum dicoba,kenapa ngak?"terang Aza
"Terserah kamu aja! sana tidur! mimpi indah,sayang"
"Hmm"balas Aza sambil mematikan panggilan itu
Aza menarik selimutnya sampai ke leher matanya menatap kelangit-langit kamarnya "Aku bahagia bersamamu Dev,tapi aku juga belum siap menerima semuanya"gumamnya lirih
_
_
_
_
#Malam-malam readersā¤