
...Happy Reading!!...
..._...
..._...
..._...
"Hah? apa? model?"Tanya Dev datar dengan alis yang menyatu.
Aza tampak gugup salah bicarakah dirinya? mendengar balasan Dev "Ini ada yang nawarin,katanya Mbak Aza cantik! ngak pengen jadi model? buat produk kecantikan klinik kami? gitu"balas Aza bicara sesuai chat yang di kirim oleh salah satu klinik yang menawarkan Aza untuk menjadi model di produk kecantikannya.
Dev menggeleng "Ngak! kalau kayak mama gimana?"
"Hanya iseng tanya kamu doang! tapi ini produknya terkenal yang jadi model kebanyakan artis terkenal deh"
"Ya yang kayak gitu brand ambasadornya yang banyak biasanya kebanyakan pengen jatuhin satu sama lain"kata Dev.
Aza menatap lurua ke depan pikirannya menerawang kejadian mamanya dulu. Entah dia hanya iseng bertanya kira-kira apa jawaban Dev,eh tau-tau malah kepikiran tentang pekerjaan mamanya.
"Mama kenapa ngak berhenti jadi model sih?"gumamnya.
Dev menatap Aza sekilas kembali fokus ke depan karena dirinya mengemudi,tangannya terulur memgusap puncak kepala istrinya lembut "Mama suka pekerjaan itu,bayangin aja kalau kamu di suruh berhenti gambar bagimana perasaan kamu?"
Aza menoleh menatap lekat Dev "Gambar aja stamina aku"
"Begitulah mama,lagian nanti kalau udah waktunya pasti akan berhenti entah itu kapan walau nanti mama masih terikat dengan yang namanya dunia permodelan"jelas Dev membuat senyum Aza mengembang "Jadi ngak usah di pikirin lagi!"
"Pantes mama dari dulu suka banget sama kamu! aku jadi tahu alasannya"Dev hanya tersenyum simpul mendengar penuturan istrinya.
...***...
Aza tampak fokus dengan desagn yang sedang ia gambar,tak menghiraukan jam yang sudah menunjukkan waktunya makan siang. Ia sedang mengejar target untuk produksi baju dress yang sudah ia teggat 4 bulan harus sudah di pasarkan.
Mempasarkan baju hasil desagn sendiri adalah kebanggaan tersendiri untuknya,apalagi jika baju itu laris di pasaran. Semenjak Aza mengelola perusahaan ini ia lebih memilih menggunakan desagn dirinya walau terkadang rancangan dari bagian desagn ia sering gunakan juga.
Ponselnya terus berdering mengganggu aktivitas yang ia lakukan,sudah ia abaikan sedari tadi tapi sayang,ponsel itu terus berdering mungkin jika di hitung-hitung mungkin ini sudah ke empat kalinya.
Aza berdecak kesal ia pikir jika panggilan itu di abaikan akan berhenti tapi na'as ponselnya tak mau berhenti berdering,lebih tepatnya orang di sebrang sana yang tak berhenti memencet nomornya.
Tangannya meraih ponsel berlogo apple bermoto tiga,menghela napasnya yang memburu saat menatap siapa nama yang tertera di sana. Jantungnya tiba-tiba berdetak sangat kencang,mati dirinya. Suaminya yang menghubungi Suaminya!!
Aza mengatur napasnya memencet tombol hijau memejamkam matanya setelah menempelkan ponsel itu di telinga. Dan....
"Kemana aja sih? kenapa ngak di angkat-angkat hah? bikin orang khawatir tau ngak!! ponselnya berdering tapi ngak di angkat"
Aza menjauhkan ponsel itu dari telinganya,mengusap sebentar telinga yang panas akibat omelan pedas orang di sebrang sana.
"Sing! kenapa diem aja,hm?"
"Iya,iya sorry tadi lagi gambar"cicitnya pelan takut jika kena semprot lagi. Lebih baik nyari aman dulu buat jantungnya.
"Kan bisa di angkat dulu! memangnya apa susahnya,hah?"
"Iya lain kali ngak begini"
"Mau makan apa? aku lagi otw ke kantor kamu"
"Hah?"
"Terserah kamu aja,tapi bawaan burger juga"ucapnya pelan,ia menghela napasnya untung Dev tak mempermasalahkan tadi dengan panjang.
Memang salahnya juga sih,kenapa ngak di lihat dulu namanya orang yang menghubungi. Kalau tahu suaminya sudah pasti ia akan angkat,kalau sudah begini bisa-bisa akan ada acara ngambek-ngambek kan ngak seru!!
"Ada lagi ngak?"
Aza menggeleng walau Dev tak melihatnya "Ngak!"
"Ya sudah,tunggu"
Sambungan langsung di putus oleh Dev setelah berbicara tadi sebelum Aza membalas omongan pria di sebrang sana.
Hatinya benar-benar merutuk pria yang berstatus suaminya itu,sangat-sangat menyebalkan!
Aza melanjutkan aktivitasnya menggambar yang tadi ia campakkan untuk mengangkat panggilan dari Dev.
...***...
Dev memencet lantai 10 di mana Aza berada,tak lama pintu lift terbuka melangkahkan kakinya keruangan istrinya. Tangannya menenteng paper bag berwarna coklat berisi makanan yang ia beli tadi sebelum kesini.
Ia tak melihat Riski di depan ruangan Aza mungkin asisten istrinya itu sedang makan siang pikirnya.
"Kok Riski ngak ada?"Tanya Dev mendekat kearah Aza yang masih berkutat dengan kertas dan pensil.
Aza mendongak tak merasa kaget,karena ia sudah tahu jika Dev akan kesini walah datangnya tiba-tiba tanpa mengetuk pintu "Makan siang"
Dev hanya mengangguk menatap Aza dengan perasaan masih kesal.
Aza jadi salah tingkah dengan tatapan Dev,sudah pasti karena masalah tadi "Maaf ngak akan ngulangin lagi deh"lirihnya paham dengan situasi sekarang.
Melangkahkan kakinya mendekat kearah laki-laki yang sekarang hanya menggunakan kemeja dan celana berwarna navy,entah jas dan dasinya hilang entah kemana. Kebiasaan padahal masih siang!!
"Jas kamu kemana?"
Dev duduk di sofa ruangan Aza meletakkan paper bag itu di meja "Ngak tahu lupa"jawabnya enteng.
Aza duduk di samping Dev,mendengus kesal "Kebiasaan banget"desisnya.
Dev tak menghiraukan perkataan Aza mendekat kearah istrinya yang sudah sibuk membuka papaer bag bawaannya. Menarik pinggang Aza posesiv agar lebih dekat dengannya menenggelamkan wajahnya di ceruk leher mulus Aza,bagian di mana yang sangat di larang keras oleh istrinya saat ingin di tandai.
Aza membiarkan apa yang di lakukan suaminya mengambil burger pesanannya,mengigitnya dengan senyum mengembang "Mau ngak?"
Dev menggeleng di ceruk leher Aza,membuat Aza gemas sendiri "Kesini bukannya makan siang? kenapa malah manja begini sih?"gemas sendiri kan jadinya.
"Bodo! kangen tahu ngak!"
_
_
_
_
...Like,komennya...