Return To Being The Mad Antagonist

Return To Being The Mad Antagonist
154. Menunggu II



Di depan pintu masuk ada seorang pria berambut hitam sehitam langit malam, bermata merah semerah batu ruby, kulitnya putih semulus batu giok, rahangnya tegas, namun parasnya jauh lebih cantik dari wanita, rambutnya terbang terbawa angin yang semilir berhembus. Meskipun sudah tertutupi dengan tudung. Dia hanya berdiri saja didepan gerbang pintu rumahnya. Menunggu akan kedatangan seseorang yang entah kapan akan datang.


Siang ini dia telah menunggu lama kedatangan orang tersebut. Tidak pernah ada kata lelah dipikirannya yang terlintas. Meskipun kakinya mulai pegal akan posisi yang tidak pernah berubah. Namun dia ingin tetap menunggu meskipun itu harus memakan waktu lama. Orang orang mulai memperhatikannya. Mereka bingung, kenapa akhir akhir ini ada seseorang yang sering berdiribtanpa sebab seperti itu. Akhirnya salah satu dari mereka bertanya.


"Nak, apa yang kau lakukan berdiri disini dibawah matahari yang terik? apa kau tidak lelah?" tanya seorang kakek tua yang badannya bungkuk.


"Aku sedang menunggu seseorang?" ujar pria tersebut.


"Apakah dia begitu cantik hingga kau harus menunggunya seperti ini? Dia pasti adalah wanita yang sangat manis hingga kau rela menunggunya seperti ini." tanya kakek tua itu lagi.


Pria itu tersenyum tipis mendengar kata kata itu dari kakek tua didepannya. "Cantik. Dia sangat cantik dengan rambut putihnya yang bersinar dibawah sinar matahari. Mungkin… dia memang jarang tersenyum dan tidak pandai berekspresi, tapi aku yakin sebenarnya dia lebih banyak berekspresi dihatinya. Wanita yang kutunggu tidak begitu pandai dalam berkata kata manis, kata yang selalu keluar dari mulutnya memang berulang ulang dan terdengar membosankan. Akan tetapi itulah daya tariknya yang tidak bisa aku lupakan."


Sekejap kakek tua itu terkesan akan anak muda didepannya. Dia tidak pernah mendengar ada wanita seperti itu. Karena yang dia tahu tentang wanita adalah wanita yang suka tertawa manis dan berkata kata genit. Ada juga wanita yang dia tahu memiliki harga diri yang tinggi sampai yang sombong. "Kalau begitu, semoga dia cepat sampai disini." ujar kakek tua itu lalu pergi dengan jalan yang membungkuk.


Siang menjelang sore dan pria itu masih menunggu akan kedatangan wanita yang ditunggunya. Tanpa ada kata lelah dia terus berdiri disana dengan diperhatikan oleh semua orang yang berlalu lalang. Namun pemuda itu tidak pernah sekalipun memperhatikan mereka. Meskipun ada banyak yang mengejeknya ini dan itu.


Dari kejauhan terlihat satu orang berpakaian serba hitam sedang memperhatikan pemuda yang hanya berdiri saja. Mereka sudah ada disana sejak siang ketika pemuda itu mulai bersiri menunggu. Dia mulai lelah memperhatika pria yang seharian ini hanya berdiri entah menunggu siapa.


"Apa dia sudah mulai bergerak?" tanya seseorang yang juga berpakaian serba hitam mendekati pria yang sedari tadi mengawasi.


"Belum. Yang dia lakukan seharian ini hanya berdiri disana dan belum beranjak satu langkahpun. Apa kita tinggallan saja? dia hanyalah orang aneh!? Aku mulai lelah memperhatikan seorang pemuda yang seharian ini hanya berdiri." keluh pria itu. Dia ingin segera pulang dan bersantai sesekali lalu menikmati makanan enak. Tapi sayangnya, tugas yang diberikan padanya tidak bisa ditinggal sedikitpun.


"Jangan banyak mengeluh!? yang kau lakukan hanya duduk duduk saja dan mengawasi dia!?" ujar pria yang lain lalu duduk disamping pria yang mengeluh. Mereka kemudian lanjut mengawasi pria yang sedari siang hanya berdiri.


Sore menjelang malam, pria itu masih berdiri ditempatnya. Dia tidak bergeming sedikitpun dari posisinya yang masih tetap sama. Menunggu menunggu dan menunggu. Hanya itu yang dia lakukan. Tanpa berkata apapun, tanpa mengeluh sedikitpun, tanpa ada pikiran lelah sedikitpun, dia masih menunggu seseorang yang mungkin tidak akan pernah datang.


Bulan begitu indah malam ini, di taburi dengan bintang bintang yang bersinar menghiasi langit malam. Pria itu mendongak ke atas langit berbintang, "Dia terlambat!?" kemudian dia pergi dari posisinya berdiri. Berlawanan dengan arah rumahnya.


"St st, dia mulai bergerak!? kita laporkan ini pada yang mulia!?" ujar salah satu pria berbaju hitam yang masih berjaga. Sedangkan pria disampingnya sudah tidur karena bosan menjalankan tugas yang luar biasa membosankan. Mereka kemudian pergi ke arah yang lain dari arah pria yang berdiri tadi.


Tidak lama setelah pria itu pergi, terlihat seorang pria muda yang melihat kepergiannya dari arah pintu masuk. Dia adalah Wen hou. Sekarang Wen hou tinggal di rumah yang sama dengan Yohan. Dia juga sedari tadi hanya memperhatikan Yohan tanpa ada keberanian mengajaknya masuk. Karena dia tahu Yohan tidak akan ingin masuk tanpa memenuhi tujuannya. Dia khawatir dengan Yohan, karena itu dia ingin mengejarnya. Namun ketika dia ingin menyusul Yohan, dia melihat ada secarik kertas di tempat Yohan berdiri.


Wen hou mengambil surat itu dan membacanya. Disana tertulis… 'Jangan mengejarku!?' Hanya ada satu kalimat. Dia menggertakkan giginya kesal. Tapi kalaupun yohan menghalanginya dia akan tetap mengejar Yohan. Dia berlari mengejar kemana arah Yohan pergi. Namun sayangnya dia kehilangan jejaknya. Yue juga ikut bersama Yohan, jadi akan susah mengejarnya apalagi Wen hou tidak tahu daerah di kekaisaran Qi. Karena dia lebih tinggal lama di kekaisaran lain. Tapi walaupun behitu dia akan tetap mencari Yohan sampai ketemu meskioun harus tersesat.


Atas bantuan Yue, kini Yohan bisa lebih cepat sampai ditempat tujuan. Doa sampai ditempat terakhir kali dia berpisah dengan Zhu'er. Yaitu, lembah monster. Sesampainya disana terlihat jelas kalau tempat ini tadinya bekas pertaruangan antara dua kekuatan besar. Terlihat ada bekas darah yang tersisa. Yohan menempelkan tangannya ke bekas darah tersebut yang masih basah. Dia langsung berasumsi kalau darah ini adalah darah Zhu'er.


Yohan mengepalkan tangannya menahan amarah yang sudah memuncak. Rahangnya mengeras mengetahui jika Zhu'er telah dibawa oleh seseorang. Dia bangun dari posisinya dan berjalan ke arah lain. Namun tiba tiba saja ada lima orang yang berlakaian serba hitam mengelilingi dirinya. Sepertinya mereka datang diaaktu yang kurang pas. Karena saat ini Yohan sangat sangat marah.


"Minggir!?" ujar Yohan singkat namun penuh penekanan.


"Tidak akan!?" ujar salah satu orang dari mereka.


Yohan semakin mengepal erat tangannya. Seketika dia menghilang dalam sekejap mata. Mereka berlima melihat ke sekeliling mereka mencari keberadaan Yohan, namun sehelai rambutnyapun tidak kelihatan. "Sial, diamana dia?" ujar salah seorang yang kesal. Tiba tiba saja ada yang memegang kepalanya.


PRETEK


Tiba tiba saja leher orang itu patah hanya dalam sekali plintir. Pria itu ambruk ke bawah dan mati. Terihatlah dari belakang orang tersebut seorang pria yang berwajah kejam dan bermata merah menyala. Terlihat api amarah dan dendam dimata pria itu. Tatapan matanya membuat empat orang yang tersisa ragu untuk melawannya. "Kemarilah!? biarkan aku mematahkan leher kalian stu persatu!?" ujar Yohan dingin nan kejam.


Namun tak ada seorang pun dari mereka yang rela mendekat hanya untuk dipatahkan lehernya. Pastinya mereka semua ingin hidup. Namun karena ini adalah tugas, mereka akhirnya mendekat dengan niat untuk membunuh Yohan. Jika yang mereka serang adalah orang lain, tentu mereka akan menang. Sayangnya yang mereka serang adalah Yohan.


Seketika ada gumpalan gumpalan asap hitam disekeliling Yohan. Asap asap menghempaskan mereka merempat dengan sekali hempasan. Keempatnya terlantar karena hrmpasan tersebut. Ketika mereka sedang merintih kesakitan, Yohan mendekati mereka disertai dengan hawa yang mencekam. Atau lebih tepatnya mencekik mereka hingga tidak bisa bernafas. Berada dibawah tekanan Yohan adalah yang terburuk.


Aura hitam legam yang berada disekeliling mereka membuat mereka mual. Ditambah lagi sulit untuk bernafas jika berada dibawah aura hitam milik Yohan. Hawa disekeliling mereka juga berubah menjadi dingin, sedingin es pegunungan tibet. Tidak hanya itu, muncul perasaan takut dan gelisah akan hidup mereka yang mungkin tidak akan lama lagi.


Setelah itu dari asap asap hitam menggumpal disekeliling leher mereka dan mengangkat keempatnya hingga tidak menyentuh tanah. Merek seperti tercekik layaknya ada seseorang yang mengangkat tubuh mereka. Semakin lama cekikan itu semakin kuat sampai tulang leher mereka patah. "Ah, sudah mati!?" Yohan membuang mereka seperti membuang sampah. Kemudian pergi menuju tempat selanjutnya dia akan menemukan Zhu'er dan yang lainnya.


Entah apa yang akan terjadi pada Yohan selanjutnya. Mungkin, kejadian buruk akan menimpanya dengan menyakitkan. Atau mungkin sesuatu yang tidak dapat dihindari akan terjadi.


...~~...


Untuk kalian, terima kasih banyak telah membaca… jaga terus kesehatan, ya…


1280 kata


...SEMOGA SUKA!?...