
Yohan mendekati semak semak yang mencurigakan. Semakin lama dia mendekat semakin berisik suara tersebut. Saat Yohan ingin melihat siapa orangnya tiba tiba…
"TO TOLONG JANGAN BUNUH AKU!?" teriak orang tersebut sembari berdiri mengangkat kedua tangannya menyerah dan menutup matanya.
Awalnya Yohan sedikit terkejut jarena orang itu berteriak kencang. Tapi hal yang lebih membuatnya terkejut adalah orang itu adalah teman lama yang tidak dia sangka."Kau… bukankah kau salah satu ketua penjahat di kota yunlong? Kalau tidak salah namamu adalah…" Yohan memegang dagunya sendiri sembari mengingat siapa namanya. "Ah!? aku ingat!? namamu adalah Kuali!?" ujar Yohan senang tapi tidak dengan orang di depannya.
"Namaku Tuoli!? dan bukan Kuali!?" ujar Tuali kesal tapi masih dia tahan karena melihat Yohan yang sudah basah kuyup karena darah.
"Benar benar, Tuoli!?" ujar Yohan membenarkan kesalahannya. Dia melihat Tuoli dari atas sampai bawah. Tidak ada perubahan sedikitpun padanya meskipun berada di hutan hitam. "Sedang apa kau disini? bukankah kau sudah mengabdi pada Jun?" tanya Yohan.
Tuoli tampak kesulitan menjawab pertanyaan Yohan. Dia memang sudah memutuskan untuk mengikuti Jun, tapi rasanya sedikit menyeramkan jika berada di tengah orang orang kuat. Apalagi beberapa bulan yang lalu terjadi penyerangan dan Tuoli yang lemah kabur dari pertarungan karena tidak ingin mati. Ditambah lagi orang orang disana menyeramkan. Jadi dia kabur dan ingin kembali ke luar hutan."Aku… ingin kembali ke rumahku!?" ujar Tuoli.
Yohan tersenyum kecil mendengar jawaban Tuoli yang begitu polos."Kalau begitu ayo!?" ujar Yohan mengajak Tuoli bersamanya.
"Eh? kemana? kau tidak akan membunuhku seperti mereka, bukan?" ujar Tuoli ketakutan sembari melihat mayat mayat yang bergelimpangan dimana mana.
"Tentu saja tidak. Kau pikir aku akan membunuhmu begitu saja tanpa alasan?" ujar Yohan sedikit kesal. Dia tidak akan membunuh tanpa alasan yang jelas. Mana mungkin dia membunuh orang yang dia temui di jalan tanpa alasan. "Apa kau pikir aku itu seorang psikopat." guman Yohan diakhir kalimat. "Ikut saja!? lagi pula kau tidak memiliki tempat tinggal bukan? ikutlah bersamaku!?" ujar Yohan melanjutkan kata katanya.
Dalam hati Tuoli sedikit ada keraguan dan rasa bersalah. Dia dulu sudah membuat Yohan kerepotan dengan menunjukkan dirinya pada musuh. Sekarang dia merasa tidak enak jika harus menerima kebaikan kecil ini. "Ti tidak usah!? aku akan mencari jalan keluarnya sendiri." ujar Tuoli yang tidak ingin merepotkan Yohan.
Tapi Yohan malah tidak senang jika kebaikannya malah ditolak dengan sangat mudah. Jarang jarang dia melakukan kebaikan seperti ini.'Aku benci penolakan!?' pikir Yohan kesal. Lalu, Yohan menatap Tuoli tajam seperti menatap musuh,"Kau harus ikut!? jika tidak, kau akan kubunuh!?" ancam Yohan disertai hawa membunuh yang kuat.
"Ba baiklah baik!?" jawab Tuoli dengan cepat. Setelah itu Tuoli mengikuti Yohan.
Tes tes tes
Daras menetes dari baju dan kepala Yohan. Melihat itu Tuoli merasa ngeri melihatnya. Dia tidak pernah melihat seseorang dipenuhi darah seperti itu."A apa kau baik baik saja?" tanya Tuoli.
Yohan melihat Tuoli yang sepertinya mengkhawatirkannya,"Aku tidak apa apa!? ini adalah darah orang lain." jawab Yohan sembari tersenyum jahat.
Tapi sepertinya Tuoli sama sekali tidak mempercayai apa yang dikatakan Yohan, 'Darah orang lain? kalau itu darah orang lain, lalu kenapa keluarnya tidak kunjung berhenti juga?' pikir Tuoli. Dia pikir agak aneh jika darah yang keluar dari kepala Yohan sama sekali tidak berhenti mengalir. Di tambah lagi wajah Yohan kelihatan sangat pucat. Dia terlihat seperti akan tumbang kapan saja. "Apa kau benar tidak apa apa?" tanya Tuoli sekali lagi.
"Kau ini benar benar cerewet!? aku baik baik sa_ ukh uhuk!?" disaat menjawab pertanyaan Tuoli sepertinya dia terluka karena serangan salah satu dari mereka berlima yang memiliki jurus yang cukup hebat. Ditambah lagi salah satu dari mereka menyerang kepalanya dan Yohan sendiri baru saja menggunakan jurus untuk melihat ingatan seseorang secara paksa. Untuk melihat ingatan seseorang secara paksa memerlukan banyak sekali Qi.
"Kau benar tidak apa apa?" tanya Tuoli ulang.
Yohan melihat Tuoli dengan pandangan licik…
"A apa?" tanya Tuoli gugup. Dia merasakan firasat buruk.
Beberapa menit kemudian
"Kenapa saat aku bertemu denganmu aku selalu bernasib buruk?" keluh Tuoli kesusahan saat menggendong Yohan.
"Jangan mengeluh terus!? Kau tidak lihat aku sedang terluka?" ujar Yohan yang sedang enak digendong Tuoli. Sejujurnya luka dalamnya tidak terlalu parah, tapi tetap saja saat berjalan rasanya pusing. Mungkin dia kehilangan terlalu banyak darah. Tapi tidak apa, ini bukan luka yang serius. Hanya perlu istirahat sebentar dan luka luka ini akan sembuh dengan sendirinya. "Cepat sedikit jalannya!?" rengek Yohan.
"Kau pikir kau tidak berat? Astaga… seharusnya disaat seperti ini aku menggendong seorang wanita. Kenapa aku malah menggendong seorang pria gila?!" gerutu Tuoli. Dia sudah mengira akan seperti ini. Karena itu dia mencoba menolak ajakan Yohan sebisanya. Dia tahu jika Yohan pasti akan menyuruhnya ini dan itu lalu menakutinya ini dan itu juga."Hei? kemana lagi sekarang?" tanya Tuoli.
"Quack!? kiri?!" ujar Yue. Dia rasa dia harus menjawabnya untuk kebaikan bersama.
"Hm? HUAA!? ka kau bisa bicara?" tanya Tuoli kaget pada Yue yang tiba tiba saja bicara. Pasalnya dia tidak pernah melihat seekor burung bisa bicara seperti Yue. terkecuali burung kakaktua yang memang bisa bicara.
"Tentu saja bisa, bodoh!? Begini begini aku adalah monster tingkat delapan belas." ujar Yue kesal karena dia dikira hanya burung biasa.
"Begitu rupanya. Eh? tapi,… kenapa dari tadi si gi_ maksudku pria ini hanya diam dari tadi? bukankah tadi dia sangat berisik?" tanya Tuoli penasaran. Yohan tiba tiba saja menjadi sangat pendiam. Padahal baru saja dia sangat cerewet ingin cepat cepat ke sungai.
"Hah? lalu bagaimana menuju ke sungai jika dia pingsan?" tanya Tuoli panik. Dia takut tersesat lagi jika Yohan pingsan.
"Tenang saja!? kau tidak perlu khawatir Quack!? Ada aku yang bisa menunjukkan jalan padamu!? lagi pula, Yohan itu buta arah. Jadi kau tidak akan bisa bertanya arah padanya Quack!?" jelas Yue pada Tuoli.
Tuoli menjadi sedikit lega sekarang, "Jadi begitu. Tapi, bisakah kau berhenti menangatakan 'quack'?" ujar Tuoli merasa tidak enak. Setiap kali mendengarnya rasanya sangat tidak nyaman.
"Quack!? Aku tidak mengatakan quack!?" ujar Yue yang merasa tidak suka saat gaya bicaranya dipermasalahkan. Semua monster jenis burung memang memiliki kebiasaan bicara seperti ini. Jadi dia juga merasa tidak suka harus menghentikan gaya bicaranya yang menyebtkan kata 'quack' setiap kali bicara.
"Tidak tidak tidak… Kau baru saja mengatakan 'quack' barusan!?" ujar Tuoli lagi yang tidak ingin kalah. Dia juga memiliki ego yang cukup tinggi untuk tidak ingin kalah berdebat. Apalagi ketika seseorang yang jelas melakukan kesalahan tapi tidak mau mengatakan kesalahannya. Ini benar benar membuatnya jengkel.
"Aku tidak mengatakannya, Quack!?" ujar Yue semakin kesal.
"Kau benar benar burung yang keras kepala!?" ujar Tuoli yang juga kesal.
DI DALAM MIMPI
Saat ini Yohan sedang bermimpi tentang masa kecilnya bersama Jun. Waktu saat dia dan Jun sedang bermain. Di waktu itu adalah hari hari yang membahagiakan bagi Yohan yang sama sekali tidak mengerti apa itu kasih sayang. Jadi, Yohan yang waktu itu masih kecil hanya bisa berharap jika waktu yang sekarang tidak akan hilang. Dia berharap, dirinya dan Jun bisa selamanya seperti ini.
Tapi, tiba tiba saja tangannya berdarah. Darah yang sangat banyak. Yohan mencoba mengusap darah itu dibajunya, namun darah itu tidak kunjung berhenti dan terus mengeluarkan darah tanpa henti. Anehnya dia tidak merasakan sakit sama sekali. Tapi yang dia rasakan sakit adalah… hatinya.
"Z Zhen!?" panggil Jun dengan dada yang sudah berlumuran darah. Dia sekarang sudah menjadi Jun yang dewasa.
Begitu pula dengan Yohan yang sudah menjadi Yohan yang sekarang. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi dan kenapa Jun terluka parah seperti itu."Apa,… apa yang terjadi?" tanya Yohan tidak mengerti situasi sekarang. Melihat Jun yang terluka parah Yohan ingin mengobatinya. Dia mendekati Jun yang sedang terluka, "Kau terluka!? aku akan segera mengobati__"
"Jangan mendekat!?" ujar Jun yang menghentikan langkah Yohan."Untuk apa kau mendekat? jika pada akhirnya kau sendiri yang akan membunuhku?!" tanya Jun sembari menatap benci Yohan.
Yohan sendiri tidak mengerti apa yang dimaksud Jun. Dia tidak pernah berpikir untuk membunuh Jun sekalipun. Yang Yohan inginkan hanyalah hubungannya dengan Jun membaik dan bukannya memburuk. "Aku tidak akan membunuhmu!?" ujar Yohan.
"Bohong!? Jika kau tidak berniat membunuhku, lalu kenapa kau mengambil jantungku?!" ujar Jun membuat Yohan semakin kaget.
Yohan segera melihat tangannya dan benar saja saat ini dia sedang memegang jantung Jun yang sedang berdetak melambat."Sejak kapan aku…" saat Yohan mendongakkan kepalanya kearah Jun, tiba tiba saja Jun sudah ada didepannya.
Tangan Jun yang dipenuhi darah meraih pipi Yohan. Jun tersenyum meskipun sudah terluka dan dia mencoba mengatakan sesuatu pada Yohan. Tapi apa yang dikatakan Jun sama sekali tidak jelas. Suaranya terdengar samar samar, tapi sepertinya apa yang dia coba katakan sangat penting. Dan saat sudah selesai bicara Jun tersenyum lembut pada Yohan yang saat ini tidak bisa berkata apapun. Tanpa Uohan sadari dirinya sudah menangis dengan apa yang dikatakan Jun walaupun tidak terdengar apapun.
-
-
-
Yohan terbangun dari pingsannya yang cukup lama. Terlihat Tuoli yang sedang duduk disampingnya dan sedang membakar ikan. Setelah Pingsan ternyata luka lukanya sudah sembuh semua. Sekarang hanya tinggal mandi saja. Yohan bangun dari tidurnya setelah bermimpi menakutkan. Karena memikirkannya akan membutuhkan waktu yang lama Yohan lebih memilih membersihkan tubuhnya lebih dulu.
"Oh? kau sudah bangun? tunggu, kau ingin apa?" tanya Tuoli kemudian saat melihat Yohan melepas bajunya.
"Hm? tentu saja mandi. Aku menyuruhmu ke sungai karena ingin mandi. Kau tidak lihat ada begitu banyak darah di bajuku?" ujar Yohan kembali melanjutkan melepaskan bajunya yang sudah tercampur bau amis darah. Setelah melepas pakaian kecuali celana, Yohan berjalan ke arah sungai untuk berendam membersihkan dirinya.
...~~...
1570 kata
...SEMOGA SUKA!?...