
Yohan kembali pulang dengan jurus rahasianya, yaitu menembus kegelapan. Jurus ini memungkinkannya untuk pergi menembus bayang bayang dan bertransportasi kemanapun dia inginkan. Namun, ada dua hal yang memungkinkan dia bisa menggunakan jurus ini. Pertama, waktu yang telat menggunakannya adalah saat malam hari tiba. Kedua, tempat tempat yang dia kunjungi mesti tempat yang pernah dikunjunginya atau memiliki kesan untuk Yohan.
Saat ini Yohan sudah keluar dari kamar Fen dan sedang jalan jalan di hutan saat malam hari. Tentunya setelah Yohan membantu Fen sedikit kegelapan selalu cerewet padanya.
"Tuan, kenapa kau membantu wanita jalang itu? bukankah dia sudah membuatmu menderita selama ini?" ujar kegelapan tanpa wujud. Dia hanya kelihatan seperti awan hitam yang mengelilingi Yohan.
"Dari dulu aku tidak bisa membunuhnya. Itu karena… " ujar yohan yang menggantung kalimatnya. Dia seperti enggan mengatakannya. Mungkin saja ini adalah kalimat yang sejak dulu ingin dia katakan namun tersangkut di tenggorokan.
"Dari awal…… aku sudah tahu jika wanita itu hanya berpura pura menjadi ibuku dan berniat membuatku membenci ibuku sendiri. Setiap kali dia menyentuhku, tidak pernah kurasakan sentuhan hangat seorang ibu darinya. Karena itu aku beranggapan kalau dia memang bukan ibuku yang sebenarnya. Hanya saja semua orang bilang jika wajah kami mirip, jadi aku berpikir 'Mungkin wajah ibu kandungku juga mirip dengan wanita jahat ini!?' seperti itulah." jelas Yohan.
Jadi bisa dibilang jika Yohan membantu Fen karena dia mirip dengan ibu kandungnya. Walaupun dia tidak tahu siapa ibunya, tapi dia pikir ibunya pastilah orang yang baik. Orang yang benar benar baik hingga dengan sangat mudah untuk dimanfaatkan. "Karena itulah aku tidak ingin menjadi orang baik." guman yohan.
Yohan benar benar kapok menjadi orang baik yang sering dimanfaatkan oleh orang orang munafik. Dia merasa seperti dijadikan sebuah boneka serba guna oleh para manusia yang haus akan kekuasaan. Mengingat masa masa kebodohan tiada akhir itu membuatnya tersipu malu sendiri. "Rasanya aku ingin hilang ingatan sekali lagi dan menghapus semua memori yang sangat memalukan itu!?" ujar Yohan pada dirinya sendiri.
"Memangnya dulu tuan seperti apa?" tanya kegelapan lagi.
"Dulu aku sangat bodoh, benar benar sangat bodoh hingga para orang tua bangka itu membodohiku bertahun tahun. Ketika mereka mengatakan, 'Yohan, bisakah kau membantuku menghabisi para pemberontak?' aku bahkan masih ingat bagaimana cara pria tua itu bicara. Tapi dengan sangat bodohnya lagi aku mengatakan 'iya, baiklah' sambil tersenyum bodoh tanpa mengetahui jika para pemberontak itu hanya ingin hak mereka kembali. Sampai akhirpun mereka tetap memanfaatkanku dan membunuhku jika sudah tidak terpakai lagi." Yohan menjelaskan itu semua tanpa adalahnya kemarahan sedikitpun.
Jika ditanya dia marah atau tidak, jawabannya tentu saja marah. Hanya saja dia mencoba menekan amarah itu menjadi kekuatannya kelak untuk pembalasan dendam yang terakhir.
Yohan masih mengingat apa kata kata terakhir seorang pemberontak yang sudah tua,
"Anak muda, aku tahu kau orang baik. Aku mohon!? tolong sadarlah jika mereka hanya memanfaatkan dirimu!?" itu adalah kata kata terakhir yang diucapkan seorang nenek tua yang mati dipelukan Yohan. Setelah kata kata nenek tua itu, Yohan mencoba mencari tahu apa yang dimaksud nenek itu. Dan ketika dia sudah mengetahuinya, dia dibunuh oleh kaisar dan delapan keluarga agung.
Tiba tiba yohan berhenti, "Hei!?" panggil Yohan pada kegelapan.
"Ya, tuan!?" ujar kegelapan yang sudah siap tanggap.
"Apa kau tahu kita kemana?" tanya Yohan sembari melihat kesekelilingnya. Dia sudah berjalan cukup lama dan masih belum sampai juga.
***
Berdiri seorang pria berambut putih disamping mayat Fen yang sudah kaku. Ada bekas bekas pertarungan di kamar Fen yang begitu luas. Tapi tidak terdengar sekalipun suara pertarungan dari luar, itu berarti musuh dengan sangat matang merencanakan pembunuhan Fen dan memasang penghalang supaya tidak terdengar.
Pria itu adalah Jun, anak yang paling disayangi Fen. Melihat jasad ibunya yang sudah terkujur kaku tidak berdaya, Jun mengepalkan tangannya erat. Pantas saja perasaannya sangat tidak enak malam ini, maka dari itu dia pagi oagi sekali dia pergi ke kamar Fen untuk melihat apa dia baik baik saja atau tidak.
Tapi ternyata Fen malah sudah tidak bernyawa. Meskipun dia tidak tahu siapa pelakunya, tapi aura sang pelaku tertinggal dikamar. Walaupun sepertinya pelaku menyamarkan baunya, tapi auranya tidak bisa disembunyikan. Dan terlihatlah ada aura hitam suram dengan penuh rasa kebencian didalamnya. Ini adalah elemen kegelapan, "Zhen…" ujar jun geram. 'Tidak salah lagi, ini adalah elemen kegelapan. Aku sangat kenal dengan aura hitam suram penuh dengan kebencian dan kedengkian ini. Ini pasti adalah ulahnya!?' pikir Jun.
"Tidak hanya membunuh ayah, dia juga membunuh ibu!?" guman Jun yang hampir tidak terdengar.Saat ini Jun sedang dilanda kesedihan, jadi secara otomatis dia berpikir jika Yohan adalah pelakunya. Karena yohan sudah pernah membunuh raja sebelumnya di depan Jun, jadi dia pikir Yohanlah yang membunuh Fen.
Yun, yang juga ada disana mengikuti Jun. Dia melihat Jun yang sangat terburu buru ke kamar Fen. Karena penasaran dia mengikuti Jun dan akhirnya melihat jika Fen sudah mati dibunuh. Dia memasuki kamar Fen dan mencoba melihat luka Fen yang ada didada dan juga diperut.'Dia dibunuh dari belakang, luka didadanya memiliki hawa dingin sepertinya yang membunuhnya adalah seorang yang berada diranah inti yuzhou atau sudah mencapai yuzou. Berarti elemen es abadi. Tusukan yang kedua adalah tusukan dari pedang yang sudah dilumuri racun. Itu bisa terlihat dari darahnya yang berubah warna menjadi merah keunguan. Ini berarti racun itu sangat kuat.' pikir yun secara teliti.
"Y yang mulia, aku yakin Yohan bukanlah pembunuhnya. Dia,…… dia tidak akan melakukan hal yang sepengecut ini meskipun dia orang jahat. Aku yakin dia__"
"Lebih baik kau diam saja. Ini bukan urusanmu, jadi jangan libatkan dirimu sendiri lebih jauh." ujar Jun memotong perkataan Yun. Kemudian dia pergi untuk mempersiapkan pemakaman Fen.
***
Yun tidak tahu apa dugaannya ini benar atau tidak. Tapi yang pasti ini ada hubungannya dengan diu orang itu. Dia tidak bisa membiarkan Yohan terus disalah pahami seperti ini. Saat ini dia sedang menuju kamar Anming, karena dia tahu yang mendalangi semuanya pasti adalah Anming.
Namun ketika Yun sampai didepan kamar Anming samar samar terasa aura iblis dari dalam. Dia agak ragu untuk masuk kedalam. Namun demi seseorang yang dicintainya Yun rela masuk meskipun akan berbahaya nanti.
BRAK
Ketika dia melihat ke dalam, terlihat Tianwen yang sedang duduk bersila dibawah lantai sembari menutup matanya menahan aura iblis yang begitu kuat. "Kau…" Yun tidak tahu harus berkata apa.
"Sebaiknya kau cepat tutup pintu itu atau kita akan mati bersama sama nanti." ujar Anming yang sedang bersantai minum teh.
Yun segera menutup pintunya sebelum ada orang lain yang melihatnya, "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Yun yang sudah duduk didepan Anming.
"Tidak usah pura pura tidak tahu, sekali lihat juga tahu." ujar Anming.
Yun hanya diam. Ya, dia tahu apa yang terjadi pada Tianwen. Tapi yang membuatnya bingung adalah bagaimana bisa dantian Tianwen kembati utuh? bukankah dantiannya seharusnya sudah hancur? Yun sama sekali tidak mengerti. "Seperti biasa, kau benar benar menyebalkan. Maksudku, bagaimana bisa dantian bocah itu kembali utuh? Bukankah dantiannya sudah hancur?" tanya Yun lagi.
"Jadi itu maksud pertanyaanmu, tapi maaf. Aku tidak bisa memberitahu mu apa yang sebenarnya terjadi. Lagi pula, ada urusan apa kau datang kemari?" tanya Anming balik.
Yun mengernyitkan kedua alisnya tidak mengerti. Mengapa Anming tidak mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Tianwen.'Apa dia mencurigaiku?' pikir Yun. Untuk sementara Yun berkesimpulan seperti ini. "Apa kau tahu kalau wanita itu sudah meninggal?" tanya Yun.
"Ya, aku tahu. Dan aku juga tahu kalau kau mencurigai kami karena pedang yang tertusuk ditubuh wanita itu adalah pedang kami. Dan mungkin si raja bodoh akan segera mengetauinya, karena itu aku sedang bersembunyi sekarang." jelas Anming.
Ada sedikit kejanggalan dalam ucapan Anming yang dibicarakan, "Tunggu dulu, bukankah kalian sudah menghapus semua barang bukti dan meninggalkan sedikit aura iblis untuk menuduh Yohan?" tanya Yun heran.
"Apa? tidak ada barang bukti?" ujar Anming yang juga heran. Dia jelas jelas meninggalkan barang bukti seperti pedang es abadi dan pedang yang sudah dilumuri racun milik Tianwen. Kalau masalah aura iblis itu tidak disengaja karena Tianwen sendiri masih kesusahan menyesuaikan kekuatan barunya.'Ini aneh, jelas jelas aku meninggalkan barang bukti. Tapi bisa tidak ada? Apa ada orang lain selain kami dikamar wanita itu dan melihat semua kejadiannya? gawat, kalau seperti ini bisa gawat. Jika aku benar benar berhadapan dengan raja bodoh itu, sudah pasti yang akan kalah telak adalah aku.' pikir Anming yang begitu khawatir.
Melihat Anming begitu khawatir, yun mulai berpendapat jika Anming tidak tahu mengenai barang buktinya. 'Kenapa dia terlihat begitu bingung mengenai barang bukti yang hilang? jika dia tidak mengambilnya, lalu siapa?' pikir Yun.
...~~...
1431 kata
...SEMOGA SUKA!?...