
Di tengah jalan terlihat seorang wanita cantik berambut putih dengan merah dibawahnya. Mata merahnya menatap lurus kedapan tanpa mengalihkan pandangan ke yang lain. Kulitnya yang putih pucat semakin terlihat pucat di bawah sinar matahari pagi. Meskipun pagi ini matahari sudah terasa panas, namun tubuh wanita itu tetap dingin seperti mayat.
Wanita itu memakai jubah hitam menutupi tubuhnya yang indah. Yang dilakukan wanita itu hanyalah diam berdiri ditengah tengah jalan tanpa melakukan apapun dan tanpa ada niat untuk pergi. Pagi ini ada banyak yang melihatnya, mereka tidak tahu apa yang dilakukan wanita itu. Sebab dia hanya berdiri diam disana dan menatap lurus kedepan. Wanita itu tampak sedang menunggu seseorang yang tidak pasti kapan akan datang.
Pagi menjelang siang dan wanita itu tetap berdiri kokoh disana. Orang orang mulai bertanya, Siapa dia? Sedang apa? Apa yang dia lakukan disana? Apa yang dia tunggu? Kenapa dia tidak pergi saja? Semua pertanyaan itu pernah mereka tanyakan pada wanita yang tengah berdiri itu. Tapi yang mereka dapatkan hanyalah jawaban diam membisu. Pernah ada anak anak yang iseng mengganggunya. Namun wanita itu tetap tidak mempedulikan anak anak yang sedang bermain disekitarnya.
Siang menjelang sore dan mulai turun hujan. Semua orang pulang ke rumah mereka masing masing dan wanita itu masih berada dalam posisinya. Berdiri diam tanpa bicara sepatah katapun dari mulutnya yang pucat. Meskipun ada petir yang terdengar kencang dan menakutkan tapi tidak sekalipun wanita itu pergi dari tempatnya meskipun tubuhnya sudah basah kuyup.
Sore menjelang malam, hujan pun sudah berhenti turun. Tapi wanita itu masih berdiri ditempatnya. Air menetes dari pakaiannya yang basah karena diguyur hujan. Karena hari sudah malam, jalanan menjadi sepi. Malam semakin larut dan wanita itu masih berdiri menunggu seseorang. Entah siapa yang dia tunggu sampai tidak goyah sedikitpun.
Terlihat seseorang dari kejauhan menuju wanita yang tengah berdiri kokoh. Orang itu berjubah hitam dan memakai tudung, jadi sulit untuk mengenalinya. Orang itu berhenti dalam jarak lima meter. Sepertinya orang itu juga kehujanan karena saat dia melangkah air juga menetes bersamaan dengan darah. Ya, tubuhnya juga dipenuhi darah merah segar. Dia membuka tudung hitamnya dan memperlihatkan wajah yang tak asing.
Liu Yohan
Rambut hitam panjang yang diikat setengah dengan mata merah yang menyala. Wajahnya terlihat dipenuhi cipratan darah merah dan juga terlihat ada darah yang menetes dari kepalanya. Dengan senyum yang menghiasi wajahnya menambah kengerian saat melihatnya. Karena darah, pipinya yang sudah merah tidak terlihat. Yohan menatap wanita didepannya tanpa ekspresi senang. Wanita itu tak lain adalah…
Yueyin Zhu
"Apa kau tidak akan mengatakan 'Hallo' padaku?" ujar Yohan dengan nada yang menggoda.
Zhu'er mengangkat tangan kanannya dan, "Hallo!?" sapa Zhu'er disertai senyum di bibirnya yang pucat.
Setelahnya, Yohan melentangkan tangannya. Melihat Yohan yang melentangkan tangannya, Zhu'er langsung berlari menuju Yohan dan memeluknya. Dia tidak peduli dengan darah yang sudah menempel pada dirinya. Yang pasti dia sangat senang saat Yohan datang. Setelah itu mereka melepas pelukannya dan berjalan pulang sambil bergandengan tangan.
***
Di sebuah ruangan gelap yang hanya diterangi lilin, mereka berempat berdiskusi mengelilingi meja bundar. Mereka kembali mendiskusikan dan merencanakan sebuah rencana besar yang mungkin menyangkut nyawa. "Sekarang, apa rencananya?" tanya Shin yang masih berlumuran darah seseorang.
"Kenapa kau tidak berganti pakaian dulu?" tanya Yohan.
"Kau juga masih berlumuran darah." ujar Shin kembali setelah melihat Yohan yang juga masih berlumuran darah.
"Yaah, kalau aku beda cerita. Sudahlah, kita mulai saja pembahasannya. Apa kalian pernah mendengar nama,…… Jiefan?" tanya Yohan pada semuanya.
Terlihat mereka tidak mengerti kenapa Yohan menanyakan itu dan apa alasannya. "Ah!? aku pernah mendengar nama Jiefan!?" ujar Jingmi tiba tiba. Seketika semua perhatian mereka tertuju pada Jingmi. "Dia adalah ketua pemberontak yang baru baru ini menggemparkan kekaisaran. Tidak ada yang pernah melihat wajahnya karena dia selalu memakai topeng. Jadi apa hubungan rencana kita dengan ketua pemberontak itu?" jelas Jingmi dan diakhiri dengan pertanyaan.
" Kita akan mengajaknya bekerja sama." ujar Yohan pada semuanya. Merekabkelihatan tidak kaget sekalipun saat Yohan mengatakan kalau mereka akan bekerja sama dengan Jiefan. "Eh? kenapa kalian tidak kaget?" tanya Yohan heran.
"Bagaimana, ya… sebenarnya aku sudah menduga kalau kau akan melakukan itu. Jadi itu tidak mengejutkan sama sekali." ujar Shin yang menjawab semua pertanyaan Yohan. Sejak awal mereka sudah menduga akan hal itu. Jadi saat Yohan mengatakan mereka akan bekerja sama, mereka sama sekali tidak kaget.
"Begitu, ya?! Kalau begitu, apa kalian juga tahu kalau kita akan ke kekaisaran Yan?" tanya Yohan sembari memasang wajah licik. Seketika mereka terkejut dengan apa yang dikatakan Yohan.
Kekaisaran Yan adalah salah satu kekaisaran yang paling dekat dengan kekaisaran Qi. Dikarenakan putra mahkota, Qi tian juan menikah dengan putri pertama kekaisaran Yan, Yan Xiahe. Dari pernikahan politik tersebut menghasilkan hubungan yang erat antara Kaisar Qi dengan Kaisar Yan. "Untuk apa kita kesana?" tanya Shin.
"Maksudmu… kau akan mengadu domba mereka?" tanya Shin yang masih tidak mengerti. Tentu saja dia tidak mengerti. Untuk apa juga Mereka datang ke sarang buaya setelah dari sarang harimau. Kalau bukan untuk mati.
"Tidak, aku tidak ada niatan untuk mengadu domba kedua sahabat baik itu. Tapi apa yang akan aku lakukan nanti, akan jauh lebih menyakitkan nanti." jelas Yohan. "Tapi sebelum itu, Jingmi!? aku menugaskanmu untuk mencari dimana Jiefan bersembunyi secepat mungkin dalam jangka waktu satu minggu. Setelah kau bertemu dengannya, kau harus mengirimkan surat padaku melalui Yue. Jika kau tidak menemukan Jiefan setelah satu minggu, maka semua rencananya akan menjadi berantakan. Tapi aku yakin kau bisa melakukan itu." lanjut Yohan lagi.
Dipercaya Yohan seperti itu, Jingmi merasa percaya diri. Awalnya dia tidak yakin kalau dia bisa menemukan Jiefan secepatnya. Namun karena mendapatkan kepercayaan dari Yohan, dia tidak bisa mengkhianati kepercayaan itu. "Aku akan mencarinya secepat mungkin!?" ujar Jingmi.
Saat mereka bertiga masih dalam pembicaraan rencana, Zhu'er terus memperhatikan tangannya yang seperti ada jalan darah/garis garis merah darah seperti garis merah dalam peta. Kemudian dia menyanggah kepalanya dengan tangan kiri dan terus memperhatikan Yohan yang sedang sibuk membicarakan rencananya. Terkadang ada rasa sakit saat jalan darah itu mulai menyebar. Tapi dia tidak mempedulikan itu sama sekali. Karena yang dia pedulikan adalah seseorang yang sedang membicarakan rencananya sekarang.
***
Di sebuah penginapan besar terdapat sebuah ruang bawah tanah yang memuat puluhan orang. Di ruang bawah tanah tersebut juga ada satu orang yang sedang merencanakan sesuatu sendirian dengan beberapa kertas coretan dimejanya. Tidak lama datang seorang pria tua yang berpakaian kumuh seperti gelandangan atau pengemis.
Pengemis tua itu sedikit membungkukkan badannya seperti memberi hormat, "Lapor, ketua!? Aku menemukan sesuatu yang mencurigakan!?" ujar pengemis tua itu pada seorang pria muda yang selalu memakai topeng putih.
"Apa yang kau temukan?" tanya pria itu dan melihat si pengemis tua tajam. Dia adalah Jiefan, ketua dari seluruh pemberontak kekaisaran Qi.
"Hari ini aku melihat seorang pria berlumuran darah didalam hutan. Disampingnya ada beberapa mayat dari kalangan bangsawan. Ditambah lagi, mayat mayat itu tersayat sayat seperti ikan. Melihatnya saja sudah membuat mual. Saat pria itu akan pergi, sekilas kami saling pandang. Tapi entah kenapa dia hanya tersenyum dan pergi begitu saja. Aku menduga bila yang membunuh orang orang dari 6 keluarga dan kerajaan adalah pria itu." lapor pengemis tua, Jintao.
Mendengar laporan yang cukup masuk akal, Jiefan kembali berpikir keras tentang siapa pria itu. "Bagaimana dengan kejadian kejadian di keluarga Wei? apa kau tahu sesuatu tentang itu?" tanya Jiefan kembali.
"Maaf, ketua!? Aku tidak tahu sama sekali. Tapi yang pasti orang yang menculik para tuan muda dari keluarga Wei adalah orang yang sangat hebat. Ranah kultivasiya mungkin saja sudah mencapai ranah Yuzhou." ujar Jintao. Dia adalah kepala dari asosiasi pengemis atau gembel yang biasa mencari tahu informasi informasi penting. Dalam organisasi pemberontak yang diketuai oleh Jiefan ada tiga hal yang dia kendalikan.
Pertama, Asosiasi pengemis/gembel.
Kedua, para pemberontak.
Ketiga, Perdagangan.
Ketiganya cukup untuk menguasai sebagian dunia gelap. Di kertas yang masih kosong, dia menulis semua kejadian dan menuliskan kemungkinannya. "Kelompok gila!?" gumannya yang memasang wajah kaget. 'Kalau begitu, Dia?' pikir Jiefan. Hanya kemungkinan itu yang terpikirkan olehnya.
Jintao yang mendengar itu juga kaget. Dia pernah mendengar sebuah kelompok yang bernama kelompok gila. Awalnya dia tak percaya jika semua anggotanya gila. Tapi saat dia melihat sendiri dengan mata kepalanya ketika hari hukuman untuk ketua penjahatnya, dia baru percaya akan hal itu. "Apa ketua benar benar berpikir jika itu semua adalah perbuatan kelompok gila?" tanya Jintao. Sepertinya dia masih belum yakin.
"Aku sangat yakin jika dugaan ku itu benar. Mereka pasti sudah kembali!?" ujar Jiefan sembari tersenyum samar.
...~~...
1401 kata
...SEMOGA SUKA!?...