
Setelah kabut dihilangkan, keadaan sekitar mulai terlihat jelas. Para pasukan garus depan yang mati karena racun, Ribuan pasukan berkuda yang mati terbakar dan, keadaan mereka yang saat ini semakin menyedihkan. Mereka mulai mencerna semua apa yang sedang mereka alami saat ini. Terutama kaisar Qi yang sudah dalam emosi yang tidak stabil. Emosinya semakin memuncak ketika ledakan ditengah tengah pasukannya.
DUAAAARRRRRRR
Mereka terbelah menjadi dua kubu dan kaisar Qi melihat seseorang dari kejauhan. Matanya terbelalak kaget ketika melihat Yohan Keluar dari belakang kaisar Yan. Dia tersenyum licik ketika melihat semuanya seuai dengan rencananya. 'Dia!? orang gila itu, benar. Jadi dia yang merencanakan semua ini hingga membuat pasukanku menjadi seperti ini? tidak salah lagi, kaisar Yan pasti__' ketika melihat wajah kaisar Yan, yang terlihat begitu senang kaisar Qi masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. 'Orang itu, dia mengkhianatiku!? padahal aku sudah menganggapmu sebagai saudaraku sendiri.' pikir kaisar Yan.
Setelah ledakan pasukan kaisar Qi terbelah menjadi dua dan pergi ke arah yang berbeda pula untuk kembali menyatukan kekuatan. Tapi untuk kembali bersatu itu tidak mudah. Muncul banyak pasukan berkuda dan bersenjata ringan dari berbagai arah…
Mereka terkepung.
***
Setelah menjauh dari medan perang, Bing jie baru sadar jika ada yang salah. Tak lama pria yang dikejarnya berhenti berlari setelah jaraknya dari medan perang sudah sangat jauh. Bing jie pun ikut berhenti ketika melihat pria yang berpakaian serba hitam berhenti. "Apa mungkin, dia sengaja memancingku menjauh dari pasukan?" tanya Bing jie pada dirinya sendiri.
"Kau sudah mulai menyadarinya, ya?" ujar pria itu sembari membuka tudung dan memperlihatkan wajahnya. Pria itu adalah Jingmi. Dia sengaja menjauhkan Bing jie dari medan perang karena dia ingin melawan Bing jie tanpa gangguan sedikitpun.
Bing jie memperhatikan Jingmi dari atas sampai bawah. Dia merasa pernah melihat Jingmi sebelumnya. Wajahnya mengingatkannya pada seseorang. "Siapa kau?" tanya Bing jie. Karena dia jarang keluar rumah dia jadi tidak memperhatikan orang orang sekitarnya dan hanya sibuk mengurusi dirinya sendiri.
"Apa kau ingat dengan wanita yang bernama Ho peiyu?" ujar Jingmi. Dia melihat Bing jie dengan matanya yang terlihat penuh api amarah dan dendam. Semua perlakuan orang orang keluarga Yu masih terukir jelas di kepalanya. Perutnya pun masih terasa mual ketika mengingat perlakuan anak anak keluarga Yu memberinya makanan anjing. Makanan yang bahkan sudah basi.
"Aku tidak ingat dengan wanita yang bernama Peiyu, siapa dia?" ujar Bing jie dengan tampang tidak tahu.
Tanya Jingmi mengepal erat ketika Bing jie bertanya pertanyaan bodoh. Tapi kemudian dia sadar dengan apa yang voba Bing jie lakukan. Dia berusaha memancing amarah Jingmi sehingga bisa dengan mudah mengalahkannya. Padahal mungkin dia tahu betul siapa Peiyu sebenarnya.
"Jadi begitu. kau tidak ingat, ya?! Kalau begitu, aku akan menceritakan sebuah cerita pendek agar kau mengingatnya. Suatu hari, ada seorang gadis polos yang sudah dihamili oleh seorang pria brengsek. Si pria itu tidak ingin menikahi si gadis karena dia berasal dari rakyat biasa. Namun si pria membiarkan si gadis tinggal di kediamannya, lebih tepatnya di sebuah gubug kecil tepat di sudut paling jauh kediaman keluarga Yu.…
Disana si gadis hanya berjuang sendirian melhirkan anaknya. Setelah anaknya lahir, si pria sama sekali tidak menemui si gadis meskipun anaknya sudah lahir. Dan setelahnya, si gadis beserta anak laki lakinya hidup menderita meskipun ayah dari anak laki laki tersebut adalah seorang kepala keluarga. Apa kau… ingat sekarang?" tanya Jingmi. Setiap kata yang keluar mengeluarkan aura membunuh yang kuat. Ini menandakan kalau dia benar benar ingin membunuh Bing jie sekarang.
"Jadi…… apa kau adalah si anak laki laki itu?" tanya Bing jie.
"Ya!?" jawab Jingmi singkat.
Bing jie tak menyangka jika dia akan bertemu dengan anak haramnya dimedan perang. 'Aku pikir dia adalah perempuan. ternyata laki laki.' piir Bing jie. Awalnya dia kira Jingmi adalah perempuan yang sedang menyamar menjadi laki laki. Tapi siapa sangka jika dia memang beneran laki laki. "Lalu, apa kau berniat akan membunuhku sekarng? atau semacamnya?" Bing jie sudah mempersiapkan segalanya jika akan terjadi hal seperti ini. Meskipun dia tidak menyangka jika akan berhadapan dengan anak haramnya sendiri.
"Itu tergantung tentang bagaimana kau memikirkan ibuku!?" ujar Jingmi sembari menyerang Bing jie menggunakan belatinya.
Dia menyerang Bing jie sekuat yang dia bisa. Namun, satu hal yang dia sadari kalau…… ini jauh lebih mudah. Benar, melawan Bing jie jauh lebih mudah dari yang dia perkirakan. Ini bahkan. tidak sebanding saat ia latihan dengan Shin. Rasanya seperti melawan anak kecil.
'Bagaimana? bagaimana bisa bocah sepertinya memiliki kekuatan yang lebih besar dariku? Aku merasa sedang berhadapan dengan orang yang berada diranah yuzhou!?' pikir Bing jie kesulitan melawan Jingmi. Dia tak pernah melihat seorang bocah yang masih belasan tahun memiki kultivasi yang begitu tinggi. Ini akan sangat memalukan baginya jika kalah dari seorang bocah.
Seni pertama naga angin, Belaian sutra.
Tampaklah seperti gelombang hitam menerjang Bing jie. Gelombang itu adalah begitu berat karena itu adalah gravitasi yang bercampur dengan angin hitam. Angin yang bisa membelah apapun disekitarnya. Bing jie denga elemen besinya membuat perisai yang besar. Namun sayangnya dia berhadapan dengan jurus yang berasal dari ras naga. Karena biasanya jurus yang berasal dari ras naga adalah jurus jurus kuno yang jarang diketahui manusia. Perisai besar itu mulai retak menahan gelombang angin hitam.
PRANG
Besi itu pecah berkeping keping dan Bing jie sudah terkena serangan dari Jingmi. Serangan itu menyebabkan luka yang sangat parah bagi Bing jie. "Ukh uhuk!?" tubuhnya terkapar lemah di tanah dengan darah dimana mana. 'Aku tidak percaya, dia mengalahkanku hanya dengan satu jurus. Itu sangan memalukan!?' pikir Bing jie. Dia memandang langin biru berawan dan meratap kekalahannya yang memalukan.
Tidak lama Jingmi datang menghampirinya dan mengambil semacam lonceng hiasan pedang. "Aku akan mengambil ini sebagai kenang kenangan untuk A li. Karena dia sangat menyayangimu!?" ujarnya lalu pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi.
"Ibumu, dia orang yang baik." ujar Bing jie sambil menutup matanya.
"Karena itulah kau tidak pantas untuknya!?" balas Jingmi sembari berhenti sejenak. Kemudian melanjutkan langkahnya lagi.
Bing jie hanya bisa menunggu kematiannya tiba. Luka yang disebabkan Jingmi menyebabkan jantungnya berdarah. Jadi mungkin dia tak memiliki waktu banyak. Dia mengingat kembali beberapa bulan yang lalu. Saat dia mengunjungi sebuah rumah tua dengan anak kecil yang bermain didepannya.
FLASHBACK BEBERAPA BULAN LALU
Di sebuah rumah tua dengan bunga bunga yang indah tampak seorang anak kecil yang sedang bermain dengan bonekanya. Disana juga ada ibunya yang sedang menyiram bunga bunga putih. Tak lama ada seorang lelaki datang menghampiri mereka berdua.
"Peiyu…" panggilan itu terdengar sangat akrab di telinga Peiyu. Ketika Peiyu berbalik untuk melihat siapa dia, seketika dia menjatuhkan ember untuk menyiram bunga. Dia kaget ketika melihat Bing jie menghampirinya dirumah tua yang lusuh. A li yang melihat orang asing datang langsung bersembunyi dibalik kaki ibunya.
"Untuk apa kau kesini? Apa kau kesini ingin mengjancurkan hidupku lagi? setelah apa yang kau lakukan padaku dulu?" Peiyu sudah tidak ingin lagi bersikap seperti wanita bodoh. Dia hanya ingin membesarkan anaknya saja sekarang. Karena sekarang kehidupannya jauh lebih baik dari pada saat dia hidup dikediaman mewah namun menderita.
Bing jie melihat A li yang bersembunyi di belakang Peiyu. Sekarang dia tahu, kalau anak keduanya dari Peiyu adalah seorang anak perempuan yang lucu. Sejujurnya dia tak pernah mencintai Peiyu, dia menghamili Peiyu itu karena pengaruh saat dia minum. Karena itu tak pernah sekalipun dia menjenguk Peiyu. Namun karena rasa bersalahnya pada Peiyu cukup besar, dia menjenguk nya kali ini. "Aku hanya ingin mengatakan maaf, padamu!? Dan, ini!? Hanya ini yang bisa kuberikan padamu!?" dia meninggalkan sekantung uang kemudian pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Peiyu hanya bisa menatap punggung Bing jie dari belakang. Meskipun dia mencintainya namun itu hanya akan berakhir sia sia.
"Ibu, apa itu ayah?" tanya A li.
"Bukan. Dia bukan ayahmu!?" ujar Peiyu sembari mengambil kantung yang ada ditanah dan mengajak A li masuk ke dalam rumah.
...~~...
1344 kata
...SEMOGA SUKA!?...