
Dari balik bayangan yang gelap, Yohan hanya duduk memperhatikan bagaimana mangsanya sedang bertahan hidup. Dia ingin membalas sedikit kematian Fen pada mereka berdua. Sebagai balasan karena Fen tidak membiarkannya mati saat bayi, jadi ini bisa dibilang balas budi. Meskipun terlambat. Lagi pula dia juga ingin membuat kedua orang itu mati kedepannya. Karena menurutnya, manusia lebih merepotkan dari pada monster atau naga.
Yohan sengaja keluar tidak jauh dari wilayah klan huaiwu. Dia tahu melalui pedang yang dia bawa jika mereka berdua akan keluar untuk menambah pengalaman bertarung. Karena kegelapan bisa melihat pergerakan seseorang melalui benda milik mereka. Karena itu yohan menunggu begitu lama meskipun sempat tersesat sebentar.Dan saat ini Yohan sedang menikmati penderitaan anming didalam labirin kematian yang dia ciptakan didalam dimensinya sendiri.
Senyum licik terlintas di wajah Yohan, "Sekarang… kau pasti akan menderita!?" ujar Yohan. Dia tidak peduli yang dia lakukan ini jahat atau baik. Yang pasti, dia hanya mengingat seperti apa kejahatan yang dilakukan Anming dan Tianwen dulu padanya. Dia hanya ingin membalaskan dendamnya saja. Tidak lebih dari itu.
Semua kejahatan, pasti ada balasannya. Dan mungkin suatu hari nanti yohan akan menerima balasannya juga. Tapi sekarang belum saatnya untuk dirinya menerima pembalasan itu. Namun, pembalasan seperti apapun itu Yohan siap menerimanya.
DI DALAM LABIRIN
Anming telah menemukan pintu pertama yang berwarna coklat. Kalau dingat ingat, warna rambut putrinya adalah coklat. Dia jadi sedikit curiga dengan pertanyaan seperti apa yang akan muncul. Anming mengambil gulungan kertas kecil. Disana tertulis, "Apa kau punya anak?" Anming membaca pertanyaan dikertas itu dengan sedikit jeda. Tapi pada akhirnya dia menjawab pertanyaan dikertas."Ya." jawabnya dingin.
Pintupun terbuka dengan sendirinya, Anming memasuki pintu dan kembali mencari pintubselanjutnya. Pertanyaan pertama sudah bisa dia duga. 'Apa maksudnya dengan melakukan ini semua?' pikir Anming. Dia tahu kalau Yohan bisa saja membunuhnya pakanpun. Semakin lama dia melewati beberapa pintu, semakin terlihat ilusi yang semakin nyata. Dia melihat kembali kejadian saat kediamannya meledak bersama putrinya.
Disaat itulah dia mulai mengerti mengapa Yohan melakukan semua ini. Yohan ingin membuat Anming menderita dengan memperlihatkan ilusi kematian anaknya."Apa kau puas?" tanya Anming pada Yohan.
"Hm? Apa maksudmu?" tanya Yohan balik.
"Apa kau puas membuatku menderita dengan memperlihatkan semua ilusi ini?" tanya Anming, terlihat dendam begitu besar dimatanya.
"Yah, sedikit." Jawab Yohan.
"Dasar pembunuh!? Tidak hanya membunuh putriku, kau juga ingin membuatku kembali mengingat kejadian itu!? Kau benar benar seorang iblis!?" ujar Anming dengan penuh dendam disetiap kata yang keluar.
Yohan hanya diam mendengar kata kata penuh dendam yang ditujukan padanya. Dia tahu apa yang dirasakan Anming saat ini. Karena itu dia hanya diam sambil menyanggah kepalanya dengan tangan kirinya. "Aku tidak membunuh anakmu!?" ujar Yohan yang pasti tidak dipercaya oleh Anming. Tapi itu tidak masalah untuknya, karena yang terpenting dia sudah mengatakan kebenarannya.
"Kata kata dari seorang penjahat sepertimu mana mungkin bisa aku percaya." ujar Anming.
"Itu terserah dirimu ingin percaya atau tidak. Tapi yang pasti, anakmu mati karena dirimu sendiri yang tidak bisa mendidiknya dengan benar. Jadi jangan salahkan orang lain, salahkanlah dirimu sendiri yang bodoh mendidik anak." ujar Yohan.
Kata kata Yohan membuat Anming tidak bisa berkata kata lagi. Selama dia memdidik anaknya, dia hanya memanjakan anaknya dan selalu menuruti permintaannya. Hingga tidak tahu apa itu baik dan buruk perbuatannya. Tapi apa daya semua itu sudah terjadi dan waktu tidak bisa diulang kembali. Terkecuali Yohan yang memiliki keberuntungan besar melakukan time travel.
Setelah melewati semua pintu Anming sampai ditengah tengah labirin. Terdapat sebuah meja bundar kecil dan diatasnya terdapat sebuah kotak persegi panjang. Saat Anming membuka kotak tersebut ternyata didalamnya adalah sebuah pedang es miliknya untuk menusuk Fen dari belakang. "Ini… jadi kau yang mengambilnya!? Itu berarti kau sudah__"
JLEB
Tiba tiba saja pedang es milik Anming menusuk dirinya sendiri hingga tembus ke belakang. Tepat setelah itu muncul Yohan tepat didepan Anming sembari memegang gagang pedang tersebut. Terlihat senyum senang disertai tatapan licik Yohan ke Anming. "Bukankah seperti ini saat kau menusuk wanita itu? Atau seperti ini?" ujar yohan sembari memutar pedang menambah kesakitan Anming.
Pelan pelan Yohan menarik pedang yang menusuk dada Anming. Pedang itu sudah berlumuran darah dan darahpun menetes. "Kurasa ini tidak cukup untuk membuatmu lebih kesakitan." ujar Yohan sembari melihat lihat pedang yang penuh darah.
"Kau…" Anming berusaha menyerang Yohan dengan kekuatannya yang tersisa. Namun dengan sangat mudah Yohan menghindari serangan kecil itu. Kemudian diangkatnya Anming ke atas dengan dua tangan hitam besar. Ini adalah jurus yang baru saja dia ciptakan, jurus tangan iblis besar.
Kedua tangan itu mengangkat Anming tinggi tinggibkemudian berusaha meremasnya. Tapi Anming juga tidak mau diremas oleh tangan tangan besar ini. Dia berusaha melindungi dirinya sendiri dengan mengelilingi tubuhnya dengan Qi gravitasi. Sayang seribu sayang, ternyata tangan tangan itu jauh lebih kuat dari perkiraannya.
Kemudian, kedua tangan Yohan seperti ingin meremas sesuatu dihadapannya. Perlahan dia menggerakkan tangannya meremas sesuatu.
CRAT
"Yue, tunjukan arah sungai!?" ujar Yohan pada Yue.
"Quack quack!?" ujar Yue mengiyakan.
Setelah itu mereka pergi ke arah sungai untuk membersihkan diri. Namun tiba tiba saja ada serangan yang datang dari arah belakang Yohan. Untungnya Yohan segera menghindari serangan panah dari belakangnya dan hanya tertancap di pohon sebelah Yohan.
Yohan segera waspada dengan si penyerang. Terlihat lima orang berpakaian serba hitam dan penutup wajah. Ciri ciri itu terlihat seperti yang dikatakan oleh Guan san. Yohan tersenyum melihat mereka sendiri yang mendatanginya. "Siapa kalian?" tanya Yohan.
"Kau tidak perlu tahu siapa kami yang pasti kau tidak akan hidup lebih lama lagi!?" ujar seseorang didepan mereka.
"Hidupku tidak lama lagi? kematian? kalian ini lucu sekali. Akan kuajari seperti apa saat seseorang akan mati!?" ujar yohan sembari bersiap untuk bertarung kembali. Sedangkan Yue sudah terbang ke atas pohon. Karena dia tahu kalau dirinya hanya akan mengganggu Yohan semata.
Yohan mengeluarkan senjatanya 'tidak ada' untuk nelawan mereka dengan cepat. Gerakan Yohan jadi jauh lebih cepat karena kultivasinya sudah hampir sama dengan Jun. Hanya dalam sekejap dia bisa menusuk mereka satu persatu dan menyebarkan racun darah yang juga semakin kuat dan ganas.
"Uhuk uhuk!? tidak!? apa yang terjadi dengan tubuhku? kenapa tubuhku menjadi merah dan ada gelembungnya?" ujar salh satu dari mereka uang terkena racun darah. Gejala yang disebabkan racun darah tidak lain adalah, beberapa bagian kulit akan memerah seperti terbakar disertai beruntusan besar di kulit yang memerah. Tak hanya itu, tubuh akan terasa seperti terbakar dan sakit hingga merambat ke otak. Tidak ada yang berhasil selamat dari racun darah ini kecuali jika orang itu menjadi gila.
"Aaggkkhhh!?" terdengar teriakan teriakan kesakitan mereka berlima.
Melihat racun darah sudah bereaksi pada mereka, Yohan kembali menyimpan senjatanya ke cincin penyimpanan yang dia ambil kembali dari kamar Fen. Dia ke tempat Fen untuk mengambil kembali cincin penyimpanannya dan juga melihat kematian Fen.
Yohan mendekati salah satu dari mereka yang masih selamat,"Aku akan menyelamatkanmu, tapi dengan satu syarat!? siapa yang menyuruh kalian melakukan ini semua?" tanya Yohan sembari duduk diatas punggung pria itu.
"A ku ti tidak a kan mem beritahu mu!?" ujar pria itu terbata bata.
"Sudah kuduga!?" Yohan mengangat jari telunjuknya ke atas dan bersamaan dengan itu muncul rantai hitam disertai ujung yang runcing dari dalam tubuh pria tersebut.
"AGKH!?" teriak pria itu kesakitan.
Setelahnya Yohan menutup matanyauntuk melihat siapa pemimpinnya. Dia yakin sekali jika orang yang memimpin mereka adalah dalang yang dia cari selama ini. 'Siapa? cepat tunjukan siapa dirimu?' pikir Yohan sembari menjelajah ingatan pria itu melalui jurus rantai jiwa. Dari ingatannya Yohan melihat tempat yang tak asing baginya. Disana ada mereka berlima yang dia bunuh dan seorang pria berjubah hitam dan berambut putih. Tidak lama mereka berlima berlutut dihadapan pria itu dan mengatakan,"Baik!? ---------------------------" ujar mereka bersamaan.
Dan disaat itu juga Yohan membuka matanya dan tanpa sadar dia melepaskan kekuatannya pada pria yang kini tengah didudukinya. Pria itu mati dengan beberapa rantai yang keluar dari tubuhnya dan mencabik cabik tubuhnya hingga tidak berbentuk."Tidak mungkin. Apa dia sebenci itu padaku?" ujar Yohan sedih. Ya, dia sedih setelah melihat kenyataan yang begitu menyakitkan dan menyedihkan."Kenapa harus kau? tapi…" guman Yohan disertai dengan seringaian senang.
"Jika kau benar benar melakukan itu, maka akan jauh lebih mudah bagiku untuk membunuhmu!? Khi khi khi khi khi khi khi…" Meskipun Yohan sangat menyayangi Jun, namun di sisi lain dia juga membencinya. Dan ketika kebenaran yang membuatnya bingung terkuak, dia sangat senang. Walau harus ada sedikit perasaan yang tertinggal.
Karena sekarang, mereka adalah Musuh.
Kresek kresek
Terdengar sesuatu dari semak semak yang membuat Yohan semakin waspada. "Siapa itu?"
...~~...
1460 kata
...SEMOGA SUKA!?...