
Zhu'er menyerang pasukan yang tersisa hingga tak tersisa sedikitpun. Dia mengubah dirinya menjadi bentuk naga dan menyerang secara membabi buta. Namun itu berhasil mengurangi banyak pasukan. Saat kaisar Qi sedang kewalahan melawan musuh, kaisar Yan tertawa keras karena sebentar lagi kekaisaran Qi berada ditangannya.
Yohan melihat itu dengan mata kepalanya sendiri. Sudah dia duga, kalau harga pertemanan mereka hanya sebatas satu kekaisaran. Yohan menutupi mulutnya menahan tawa yang akan pecah 'Pertemanan mereka benar benar murahan, sungguh manusia yang serakah!?' pikir Yohan. Kemudian dia berjalan mendekati kaisar Yan dari belakang dan berbisik ditelinganya. "Yang mulia, bukankah sekarang saatnya kau bertarung melawan kaisar Qi dan mendeklarasikan kemenanganmu?" ujar Yohan dengan mata yang licik.
Sebenarnya kaisar Yan sedikit curiga dengan Yohan, tapi apa yang dikatakan Yohan ada benarnya juga. Apa gunanya menjadi seorang raja jika hanya berpangku tangan. "Kau tidak perlu menyuruhku, aku sendiri sudah tahu!?" Kaisara Yan melesat pergi menuju pertempuran. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya di masa depan.
"Kau 'sudah tahu' ya?" ujar Yohan mengulangi apa yang dikatakan kaisar Yan. Dia kembali berjalan dan duduk di kursi yang ada. "Mungkin dua puluh detik cukup untuk berakhirnya perang ini. Meskipun aku benci menghitung seperti dia tapi untuk kali ini aku akan berhitung sendiri." Yohan mulai menghitung mundur dari angka dua puluh. Dia memperkirakan akan berakhirnya perang ini. "20… 19…18… 17… 16… 15… 14…13… 12…11…10…" selagi dia berhitung mundur perang mulai surut dan berakhir.
Dan pertarungan antara kaisar Qi dan kaisa Yan sudah pasti dimenangkan oleh kaisar Yan. Hanya dalam beberapa detik saja dia mampu mengalahkan kaisar Qi dan memenggal kepalanya. "BWA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA KEMENANGAN MENJADI MILIK KITA!?" teriak kaisar Yan senang.
"… 3… 2… 1… " Yohan tersenyum senang setelah selesai menghitung. Kemudian, dia mengeluarkan belatung Yin dari balik bajunya. Lalu mengeluarkan belatung itu dari dalam botol dan melihatnya dari dekat. Dia melihat belatung itu menggeliat saat dipegang dengan kedua jarinya. "Maaf, ya belatung kecil. Aku harus mengorbankanmu demi tujuanku. Padahal kau terlihat sangat imut!?" lalu… CRAT!?
Dipitesnya belatung itu hingga hancur sehancur hancurnya. Yohan sangat sedih ketika melihat belatung kecilnya mati. Padahal dia sangat menyukai belatung Yin. Tapi tidak sampai mengalahkan kesukaannya terhadap kucing. Baginya kucing adalah nomor satu.
Tepat setelah Yohan membunuh belatung Yin, kaisar Yan juga sudah…… mati. Tubuh kaisar Yan hancur sehancur hancurnya sama seperti belatung Yin. Lebih tepatnya seperti mati ditabrak kereta api. Semua orang tidak tahu kenapa tiba tiba saja terjadi seperti itu. Tidak lama Yihan datang menghampiri tubuh kaisar Yan yang telah hancur. "Terima kasih karena telah berjuang, yang mulia!?" ujarnya sembati memberi hormat pada kaisar Yan.
Diikuti dengan yang lain, mereka semua bersujud memberi penghormatan terakhir dan mengikuti apa yang dikatakan oleh Yohan, "TERIMA KASIH KARENA TELAH BERJUANG, YANG MILIA!? TERIMA KASIH KARENA TELAH BERJUANG, YANG MULIA!? TERIMA KASIH KARENA TELAH BERJUANG, YANG MULIA!?" mereka semua mengucapkannya sebanyak tiga kali sebagai penghormatan mereka. Tanpa mengetahui apapun dan dengan bodohnya mereka semua mengikuti Yohan yang adalah pembunuh raja mereka.
Yohan tersenyum miring melihat kebodohan mereka. "Sekarang, kalian pergilah dan bawa mayat kaisar Yan. Aku hanya tamu, jadi aku akan kembali ke asalku!?" ujar Yohan yang masih berekting sedih.
"Baik, tuan!?" ujar para prajurit.
Sekarang, musuh Yohan hanya Mo kangjian seorang. Tapi Yohan rasa dia tak akan membunuh Mo kangjian. Kenapa? karena dulu Mo kangjian adalah orang yang paling baik padanya. Tidak seperti kepala keluarga yang lain, Langjian memperlakukan dirinya layaknya manusia. "Kau bisa pergi ke negaramu sendiri, bukan?" tanya Yohan pada Kangjian yang sudah luka sana sini.
"Kenapa kau melepaskanku?" tanya Kangjian tak mengerti.
"Entahlah, aku tidak tahu. Aku hanya ingin melepaskanmu!?" ujar Yohan kemudian pergi dengan membawa Zhu'er bersamanya. Mereka pergi mencari teman teman mereka yang lain.
***
Shin telah selesai memotong tangan dan kaki Dunrui. Setelah itu dia menyatukannya menjadi sebuah gunung dengan menggunakan tangan dan kaki Dunrui. "Hm~ hm~ hm~ hm~ "sambil bersenandung dia menata rapi kaki dan tanga itu dan mengikatnya dengan sebuah pita cantik. "Sudah selesai!?" kemudia dia melihat Dunrui yang masih hidup dengan sisa sia nafas yang tersisa. "Waah, kau masih hidup?" tanya Shin mendekati Dunrui.
"To… long… bu…nuh… a aku…" mohon Dunrui pada Shin. Dia sudah tidak kuat dengan penyiksaan yang dilakukan oleh Shin padanya.
"Iya iya, aku akan membunuhmu. Tahan, ya……… Ayah!?" ujar Shin dengan senyuman ramahnya pada Ayah tercintanya. Kemudian dia memasukkan tangannya kedalam dada Dunrui dan keluar dengan janyung ditangannya. Tepat setelah itu Dunrui menghembuskan nafas terakhir. Shin bangun sambil berjalan mendekati gunung buatannya lalu meletakkan jantung itu ditangan yang berposisi pas untuk memegang sesuatu. "Nah~ ini baru sempurna!?" ujarnya sembari tersenyum sambil meneteskan air mata.
Dia mengusap air mata itu, "Sepertinya aku harus berbuat baik lebih banyak lagi!?" ujar Shin lalu pergi meninggalkan mayat Dunrui yang sudah tak bernyawa. Setelah itu dia berkumpul bersama dengan yang lainnya.
Di sana sudah ada Yohan, Zhu'er, Jingmi dan Ling mei. Dia berkumpul bersama mereka. Bila dulu dia selalu sendiri, sekarang ada teman temannya yang sama sama gilanya.
"Apa yang kau lakukan hingga lama sekali?" tanya Yohan yang mulai kesal karena menunggu lama.
"Maaf maaf, sepertinya ikan besar yang kudapat memiliki banyak nyawa." ujar Shin yang masih berlumuran darah.
"Kalian pasti tahu, kenapa aku mengumpulkan kalian kesini? Tujuanku sudah selesai dan kalian juga sudah selesai dengan balas dendam kalian. Sekarang, terserah kalian ingin terus mengikutiku atau tidak. Aku akan kembali ke kekaisaran Qi." ujar Yohan, kemudian berjalan pulang ke arah tujuannya. Tidak lama mereka juga mengikutinya mengekor dibelakang. Yohan berbalik ke belakang dan melihat mereka bertiga, "Kalian mengikutiku?" tanya Yohan heran.
"Mn, benar kata guru. Arah rumah ibu adalah ke sini!?" timpal Shin.
"Ya ya, arah rumah San'ge adalah ke arah sini!?" ujar Ling mei ikut ikutan. Tapi kebohongannya dapat dengan mudah diketahui karena arah kekaisaran Wu bukan ke arah yang sama. Tapi kearah yang sebaliknya.
Mereka melihat Ling mei dengan tatapan yang sulit ditebak. Ini jelas adalah kebohongan. "Ling mei, arah kekaisara Wu ke arah sana. Bukan ke sini. Apa mungkin kau buta arah?" tanya Yohan. Meskipun yang mengatakan itu adalah si buta arah yang asli.
"Ah, emm itu…" sekarang Ling tidak tahu harus memberikan alasan apa. Dia senang berasa bersama mereka, namun disisi lain dia menyukai Guan san yang berada di kekaisaran Wu.
"Tidak apa apa. Pergilah padanya. Aku tahu kau sangat menyukai alkemis itu." ujar Yohan dingin. Meskipun dia berkata dingin, namun sebenarnya dia sangat peduli dengan Ling mei. Sedangkan Ling mei sendiri sudah bercucuran air mata.
"Pergilah!?" Shin juga ikut ikutan bersama Yohan.
"Ya, jika kau ingin bersama pria itu, pergilah!?" timpal Jingmi.
"Pergi!?" ujar Zhu'er singkat.
"Kalian……" Ling mei masih menangis. Tapi kemudian dia mengusap air matanya. "Terima kasih!? aku, tidak akan melupakan kalian!?" ujarnya sembaripergi dengan hati yang sudah siap berpisah.
Hari ini, mereka berlima berpisah dengan satu teman mereka yang gila. Entah kapan mereka akan bertemu kembali, ataukah mereka akan bertemu lagi tak lama setelah berpisah? atau mungkin mereka akan berpisah kembali, tapi untuk selamanya?
Setelah Ling mei pergi jauh dari mereka berempat, ada tiga orang berpakaian serba hitam yang menutupi sebagian wajah mereka dengan kain hitam. Dari auranya, mereka sepertinya di ranah Yuzhou.
"Siapa kalian?" tanya Ling mei waspada.
"Siapa kami, itu tidak penting. Sekarang yang terpenting kami harus membawamu bersama kami!?" ujar seseorang yang berada ditengah. Setelah itu mereka bertarung. Namun sayangnya pertarungan itu dimenangkan oleh mereka bertiga dan membawa Ling mei bersama mereka. Pergi entah kemana.
***
KEKAISARAN WU
Guan san yang sedang berada di ruang pembuatan obat tiba toba saja merasa gelisah. Gara gara hatinya gelisah dia jadi tidak bisa berkonsentrasi dengan pembuatan pil yang sedang dikerjakannya. "Sial!? kenapa aku selalu kepikiran gadis itu?" ujarnya kesal.
Dia kemudian berjalan menuju jendela dan berdiri dipinggiran jendela sembari menatap jauh arah kepergian Ling mei. "Kapan dia datang?" ujarnya yang sudah sangt merindukan gadis gila yang biasa berada didekatnya.
"Semoga tidak terjadi apapun dengannya!?"
...~~...
1317 kata
...SEMOGA SUKA!?...