
Wanita itu segera bangun ketika Zhu'er melepas cubitan pada bibirnya. Dia mengelus elus bibirnya yang mulai merah akibat cubitan Zhu'er. 'Oh ya ampun~ bibir seksiku!? Siapa wanita ini? ' keluh wanita itu dalam hati. Wanita itu adalah putri ketiga dari Kaisar Yan.
Meskipun dia adalah putri dari seorang Kaisar, namun dia adalah anak seorang selir yang tidak begitu dipentingkan oleh Kaisar Yan. Karena dia adalah putri dari seorang wanita yang dulunya berstatus budak dan beberapa putri yang lain membulinya karena anak dari seorang budak. Bisa dibilang, dia adalah putri yang tidak begitu dipedulikan dan diabaikan. Namanya adalah Putri Yanshi.
Putri Yanshi adalah salah satu putri kaisar Yan yang paling cantik. Kecantikannya diibaratkan seperti batu giok yang mulus nan indah di pandang. Matanya sehijau giok dan rambutnya sehitam langit malam.
Dia mencoba melarikan diri dengan menunggangi pedang terbang. Kultivasinya sudah cukup tinggi untuk mengendalikan pedang terbang. Namun, beberapa pengawal memergokinya. Mereka mencoba menghentikan Yanshi dan akhirnya dia terjatuh lalu menimpa Yohan. "Siapa kau?" tanya Yanshi pada Zhu'er.
"………" seperti biasa Zhu'er hanya diam.
'Apa dia tuli? jelas jelas aku menanyainya.' pikir Yanshi, dia melihat Zhu'er dari atas sampai bawah. Dia ingat beberapa percakapan pelayan, bahwa Kaisar Yan baru baru ini kedatangan beberapa tamu dan salah satunya adalah gadis berambut putih yang mana bila diajak bicara dia akan tetap diam. Ada yang bilang kalau gadis itu sedikit rada rada, jadi tidak banyak yang bicara padanya. 'Sebaiknya orang gila jangan diajak bicara!?' pikir Yanli sekali lagi.
"Sudahlah jika kau tidak ingin bicara. Kalau begitu, sampaikan saja permintaan maafku pada pria itu!?" ujar Yanshi kemudian pergi begitu tanpa mengatakan apapun lagi sebelum para pengawal mengejarnya.
Zhu'er berjongkok disamping Yohan dan mengetuk ngetuk dahi Yohan dengan jari telunjuknya. Tidak lama Yohan bangun dari pingsannya karena benturan keras kepalanya dengan seorang wanita yang jatuh dari langit. Saat membuka matanya dia melihat sebuah tangan berada di atas kepalanya. Dia segera waspada sembari bangun dari posisinya dan menarik tangan itu.
Disaat yang bersamaan Zhu'er tertarik ke Yohan dan wajah mereka saling berhadapan. Tatapan Yohan yang tajam menatap mata Zhu'er yang sudah kaget dengan apa yang Yohan lakukan sekarang. Perlahan tatapan mata Yohan mulai melunak dan tersadar dengan siapa dia berhadapan. Dia membelalakkan matanya dan segera mendorong Zhu'er menjauh darinya.
"A apa yang kau lakukan disini?" tanya Yohan gugup.
"Kau tidur!?" ujar Zhu'er singkat dan sulit untuk dimengerti.
Yohan mengerutkan dahinya dan mencoba memahami perkataan Zhu'er. Jika di ingat ingat, ada seorang wanita cantik yang jatuh dari langit dan membentur kepalanya. "Dimana wanita yang menabrakku?" tanya Yohan.
"Pergi. Katanya, maaf!?" ujar Zhu'er.
Sebenarnya Yohan sendiri tidak begitu mengerti dengan apa yang dikatakan Zhu'er. Tapi dia sangat yakin bila wanita itu mengatakan maaf melalui Zhu'er. Dia melirik tangan Zhu'er yang tampak aneh. Sesaat setelah dia sadari jika ada keanehan, Yohan langsung menarik tangan Zhu'er dan melihatnya lebih dekat. 'Ini…' Yohan kemudian menatap Zhu'er lekat lekat. Meskipun dia tahu, dia tak bisa berbuat apa apa. Dia menggertakkan giginya keras, karena Yohan menganggap dirinya masih lemah hingga tak bisa melindungi sesuatu yang berharga baginya.
Zhu'er segera menarik tangannya kembali. Dia hanya diam untuk waktu yang lama. Karena mereka sama sama diam, akhirnya Yohan bangun dan mengulurkan tangannya pada Zhu'er. "Sampai kapan kau akan duduk disana?" tanya Yohan tanpa mengharapkan jawaban. Zhu'er hanya tersenyum kecil, lalu meraih tangan Yohan sembari bangun dari duduknya. Mereka berjalan bersama seperti biasa layaknya tidak terjadi apa apa.
***
Malam hari yang berbintang terlihat seekor burung terbang masuk ke kamar Yohan. Burung itu adalah Yue yang membawa surat dari Jingmi. Yue tampak kelelahan karena selalu bolak balik tanpa beristirahat sekalipun. Dia tergeletak diatas meja seperti burung mati. "Astaga… kenapa nasibku menjadi merpati pos? ini tidak adil!? Apa aku kembali lagi saja ke hutan hitam, ya?!" keluh Yue.
Tidak lama, Yohan datang dan mengambil kertas yang diikatkan di kaki Yue. "Jangan mengeluh terus!? jika tidak ingin aku jadikan burung panggang!?" ujar Yohan dingin. Dia duduk sambil membaca isi surat Jingmi.
...------------------...
...Aku berhasil menemukan makanan baru yang pasti sangat enak. Makanan baru ini sangat mirip dengan makanan yang ada di kedai sebelah. Hanya saja yang disini lebih enak untuk dinikmati. Oh, dan sepertinya makanan baru ini ingin dimakan oleh Yohan'ge. Setiap kali aku memesannya, dia selalu bilang "kapan dia kembali?" jadi aku sedikit bosan disini dan selalu mendengar pertanyaan itu terus menerus. Apalagi Yohan'ge sama sekali belum memberiku tugas baru seperti,…… meneror keluarga Yu atau membunuh mereka satu persatu!?...
...*Yaah, aku tidak bermaksud meminta yang macam macam, hanya saja aku sedikit tidak sabar....
...Ho Jingmi*...
"Dasar bocah!?" ujar Yohan dingin. Tapi sedetik kemudian dia menyeringai jahat. "Mirip, ya? Apa? Membunuh mereka semua? Sialan!? semua rencana jahat ini tidak ada hentinya mengalir ke kepalaku… Khi khi khi khi khi khi khi…" ujar Yohan yang mulai kambuh penyakit gilanya.
Yohan berdiri dan mengambil satu kertas dengan tinta dan pena untuk membalas surat Jingmi. Setelah selesai mengambil kertas dengan pena dan tinta, dia langsung duduk kembali di samping meja bundar tempat Yue berbaring. Dia menulis langkah selanjutnya dari rencana yang terpikirkan secara tiba tiba. Disertai senyuman jahat nan licik yang diperlihatkan. " Aku jadi tidak sabar untuk melihat kehancuran mereka?!" ujarnya sembari mengikatkan pesan yang ia tulis ke kaki Yue.
Namun Yue malah tidur disaat Yohan menulis surat. Itu membuat Yohan geram, dia membungkuk mendekatkan kepalanya ke kepala kecil Yue dan membisikkan sesuatu. "Jika kau tidak ingin bangun maka aku akan panggilkan Zhu'er untuk memakanmu hidup hidup!?" ujar Yohan sambil menegakkan kembali badannya.
Disaat itu juga Yue langsung bangun dan segera mengepakkan sayapnya menuju tempat Jingmi berada. Yue selalu merinding dan takut bila mendengar nama Zhu'er disebutkan. Karena dulu tanpa sengaja Yue memergoki Zhu'er yang tengah memakan monster yang kelasnya hampir lima puluh hidup hidup saking laparnya dengan wujud rubah merah. Sejak saat itu Yue selalu takut bila berdekatan dengan Zhu'er. Dia takut dimakan juga.
Yohan berjalan dan berhenti disamping jendela yang memperlihatkan langit malam yang berbintang. Malam ini adalah malam bulan pernama yang memperlihatkan bulan penuh. Dia mengulurkan tangan kanannya seakan akan menangkap bulan. Meskipun suasana hatinya sedang baik, namun ekspresi wajahnya tidak memperlihatkan raut senang. Yang dia perlihatkan adalah wajah datar tak berekspresi, "Aku akan hidup dan kalianlah yang akan mati!?" ujar Yohan penuh penekanan.
***
Di pagi hari beribu ribu prajurit berkumpul dan berbaris dengan barisan yang rapi. Mereka berkumpul karena perintah Kaisar Yan. Tidak ada yang tahu mengapa mereka dikumpulkan seperti ini. Hanya ada satu jawaban pasti yang mereka tahu jika semua prajutit berkumpul.
Perang
Benar, tidak ada alasan lain selain perang. Tapi mereka bingung, kekaisaran mana yang berani menantang kekaisaran Yan berperang. Semua kekaisaran pasti tahu jika kekaisaran Yan adalah kekaisaran dengan kekuatan tempur dan bertahan paling kuat. Sejak beberapa tahun tidak ada yang berani membuat pernyataan perang dengan kekaisaran Yan. Kecuali kalau kekaisaran Yan sendiri yang membuat pernyataan perang pada kekaisaran lain.
DUK DUK DUK DUK
Suara gendang besar telah dipukul menandakan kedatangan Kaisar. Seketika semua prajurit berlutut dengan kedatangan kaisar. Tentunya hanya beberapa orang yang memiliki pangkat atau bangsawan yang tidak berlut dan hanya membungkukkan badan saja.
"YANG MULIA PADUKA KAISAR TELAH TIBA!?" suara seseorang yang biasa mempersilahkan kedatangan seorang raja.
Tak lama, datang Kaisar Yan dengan pakaian seorang Kaisar. Dia datang dengan postur tubuh yang gagah, membusungkan dadanya, dan wajah yang tegas menambah kewibawaan. Dia berdiri di tempat yang paling tinggi diantara semuanya seakan menunjukkan kalau dialah sang kaisar.
Saat kaisar Yan telah berhenti dan berdiri menghadap semua prajurit, tak lama semua prajurit berseru bersamaan dalam posisi masih berlutut. "HORMAT KAMI PADA PADUKA YANG MULIA KAISAR!?" hormat para prajurit menggema ke seluruh tempat. Mereka terus menyuarakan itu sampai kaisar Yan mengangkat tangannya mengisyaratkan untuk berhenti. Dalam sekejap mereka berhenti memberi hormat dan kembali berdiri. Kaisar Yan melirik ke arah Yohan yang ada di samping kiri tak jauh darinya. Dia masih ragu untuk menyatakan perang tanpa alasan yang jelas.
Karena ditatap oleh kaisar Yan, Yohan mengambil sesuatu dari balik bajunya dan memperlihatkan botol kecil yang berisi belatung Yin. Dia memperlihatkan senyum licik pada kaisar Yan yang kini tengah resah. Setelah itu Yohan kembali menyimpannya dibalik bajunya dan bersikap seperti biasa.
Sedangkan kaisar Yan sendiri masih menatap Yohan tajam. Namun sedetik kemudian dia memulai pengumumannya yang ditunggu tunggu oleh semua orang. "HARI INI, AKU MENGUMPULKAN KALIAN SEMUA KARENA KITA AKAN BERPERANG MELAWAN…… KEKAISARAN QI!?" teriak kaisar Yan dengan lantang.
Sontak seluruh orang yang ada disana kaget bukan kepalang mendengar pernyataan perang besar.
...~~...
1410 kata
...SEMOGA SUKA!?...