Return To Being The Mad Antagonist

Return To Being The Mad Antagonist
131. Cerita



Saat ini mereka berdua hanya duduk diam tanpa suara di atas batu basar yang permukaannya rata. Tanpa suara dan tanpa ada yang ingin memulai pembicaraan. Hanya suara latihan mereka berempat yang terdengar jelas meskipun jauh. Guan san masih ragu untuk membicarakan apa yang ingin dibicarakan. Sedangkan Yohan masih menunggu apa yang ingin dibicarakan Guan san.


Waktu semakin berjalan dan Guan san masih belum bicara sama sekali. Ini benar benar membuang waktu, 'Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan alkemis ini? sudah lama duduk disini tapi dia masih belum bicara apapun selain mengatakan ingin membicarakan sesuatu denganku.' pikir Yohan sedikit kesal. Tapi meskipun kesal Yohan masih menunggu Guan san mengatakannya. "Sebenarnya kau ingin bicara apa? kau pikir aku tidak sibuk?" ujar Yohan yang memutuskan untuk memulai pembicaraan terlebih dulu.


Tampak Guan san yang sedikit tersentak dengan suara Yohan. Sepertinya dia masih memikirkan apa yang ingin dia bicarakan, "Emm… itu… bi bisalah aku mempercayaimu?" tanya Guan san lagi. Guan san adalah tipe orang yang sangat tidak mempercayai orang lain. Dia berpikir jika dia mempercayai seseorang maka orang itu pasti nanti akan mengkhianatinya. Karena sudah pernah dikhianati sulit untuknya mempercayai seseorang kembali. Setiap kali dia bertemu orang baru otomatis dia berpikir 'Ah, mungkin pada akhirnya orang itu pasti akan mengkhianatiku' seperti itu.


Jadi, Guan selalu waspada pada setiap orang yang ditemuinya. Bahkan guru dan seseorang yang berstatus tinggi. Karena bisa saja dari mereka yang akan mengkhianatinya kelak. Dia hanya mempercayai dirinya sendiri dan menggantungkan hidupnya pada dirinya sendiri juga.


"Tidak." ujar Yohan yang sangat tidak terduga.


"Apa maksudmu?" tanya Guan san heran. Dia mengernyitkan dahinya tidak mengerti mengapa jawaban yang diberikan yohan adalah 'tidak'. Ini membuatnya penasaran.


Sebelum menjalaskan Yohan berdiri dan menghadap Guan san. Dia sedikit membungkukkan tubuhnya mendekatkan kepalanya pada Guan san yang tengah bingung apa yang dilakukan Yohan,"Aku akan jujur padamu. Sebenarnya, aku adalah keyua dari…… kelompok gila!?" ujar Yohan tepat di telinga Guan san.


Sontak Guan san langsung melesat ke belakang mendengar pernyataan Yohan yang begitu tiba tiba dan membuatnya sangat terkejut. Sangat tidak dipercaya jika orang yang selama ini didekatnya adalah ketua penjahat yang membunuh para peserta. Tapi, meskipun Yohan mengatakan jika dia adalah ketua dari kelompok gila tapi suaranya jelas sangat berbeda dengan yang menyerangnya di hutan. "Apa kau benar benar ketua penjahat kelompok gila?" tanya Guan San memastikan.


"Tanya saja pada mereka!?" ujar Yohan santai.


Melihat Yohan yang begitu santai, Guan san kembali duduk tapi masih meningkatkan kewaspadaannya. Ada begitu banyak pertanyaan di kepalanya hingga dia bingung harus bertanya mulai dari mana. 'Bukankah orang orang yang menyerang kami juga mengatakan kalau mereka adalah kelompok gila? lalu, apa dia dan mereka berempat adalah kelompok yang menyerang kami waktu itu? tapi dia memiliki burung aneh yang bisa bicara. Sedangkan kelompok yang waktu itu menyerang tidak memiliki burung. Namun bisa saja waktu itu burung anehnya sedang tidak bersamanya bukan? atau mungkin...... agkh, jadi mana yang benar?' pikir Guan san yang bingung sendiri.


Yohan memperhatikan Guan san begitu pusing memikirkan apa yang baru saja dia katakan. Didalam hati dia tertawa keras karena bisa membuat seorang alkemis jenius pusing memikirkan pelaku yang menyerang mereka. "Pfft ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha……" Yohan tertawa tidak jelas dan membuat Guan san memperhatikannya dirinya.


"Kau… kenapa?" tanya Guan san heran.


"Tidak, aku tidak apa apa. Hanya beberapa kata saja yang 'mungkin', Kau benar benar memikirkannya hingga bingung sendiri!? Akan ku jelaskan padamu sapersatu. Pertama, kelompok yang menyerangmu bukan kelompok gila, itu adalah suruhan orang lain. Kedua, seperti yang aku katakan aku adalah ketua dari kelompon gila. Ketiga, kami adalah yang asli dan kami benar - benar - gila!? Apa kau mengerti sekarang?" jelas Yohan mengklarifikasi masalah agar tidak ada perselisihan antar sekutu di masa depan. Pastinya dia tidak ingin ada permusuhan dengan Guan san nanti, karena sebisanya dia ingin mencari sekutu yang kuat sebanyak mungkin.


"Kalau begitu, siapa orang yang menyuruh mereka untuk menghabisi peserta pertandingan?" Guan san ingin mengetahui kebenaran dari semua peristiwa saat itu. Karena dia adalah orang yang cukup penasaran akan suatu misteri.


Yohan melirik Guan san yang kini tengah menunggunya memberikan jawaban. Dia sebenarnya tidak ingin memberitahu siapa pelaku yang sebenarnya meskipun dia sudah tahu. "Aku tidak tahu!?" ujar Yohan sedikit menekan. Dia takut jika kebenaran terungkap, maka hubungan dengan orang itu akan memburuk dan semakin buruk. Dan itu adalah sesuatu yang paling ditakutinya.


Seumur umur baru pertama kali ini Yohan bertemu dengan seseorang yang pikirannya sehat. Dia sedikit terharu dengan omongan Guan san. Tapi itu tidak berguna untuk sekarang, "Tidak ada masalah apapun. Kau sendiri, apa ada masalah dengan kata 'teman'?" tanya Yohan balik.


Sangat tidak terduga Yohan menanyakan hal itu. 'Apa mungkin aku bisa mempercayai dirinya?' tanya Guan san dalam hati. Sebenarnya dia enggan untuk menceritakan masa lalu yang kelam. Tapi karena orang ini ada kemungkinan musuh, untuk kali ini saja dia akan menceritakan masa lalunya meskipun tidak ingin. "Dulu…… saat aku masih kecil, semua orang bilang kalau aku akan memiliki masa depan cerah karena aku seorang jenius muda yang berbakat!? Mereka satu persatu mendekat dan terus menyanjung diriku layaknya seorang dewa. Seiring berjalannya waktu aku menjadi sombong, angkuh, dan selalu menganggap diriku yang terhebat.


Lalu,… tiba tiba saja salah satu teman terbaikku mengkhianatiku. Dia mencuri hasil basis kultivasiku dengan menggunakan teknik rahasia aliran hitam. Entah sejak kapan dia memasangnya padaku, perlahan kultivasi ku mulai habis diserap olehnya. Aku waktu itu berpikir, tidak ingin jatuh dan tidak diperhatikan. Jadi aku bertarung mati matian dengannya dan berhasil membunuhnya. Semua kultivasiku kembali, namun aku dituduh sebagai pembunuh!?


Setelahnya aku diadili, aku menjelaskan semuanya pada mereka. Walaupun aku berhasil dikatakan tidak bersalah, tapi mereka semua tidak mendekatiku seperti dulu lagi. Mereka menjauh satu persatu dan meluhatku seperti penjahat. Akhirnya aku memiliki masalah dengan kata 'teman' setelahnya." cerita Guan san berlangsung sedikit lama. Tapi itu menjelaskan semuanya. "Bagaimana dengamu? pastinya kau tidak pernah dikhianati bukan? Kau memiliki teman yang setia padamu setiap saat." ujar Guan san lagi. Yah, dia tidak tahu apapun soal Yohan.


Tampak ekspresi dingin terpampang jelas diwajah Yohan. Pengkhianatan yang dia alami akan dia ingat seumur hidup dan tidak akan pernah di lupakan. "Pernah. Dulu…… dulu sekali aku memiliki seorang kekasih dan sahabat. Lalu keduanya diam diam menjalin hubungan asmara dan……"


'Mereka membunuhku!?' ujar Yohan dalam hati.


"Aku rasa aku tidak perlu menjelaskannya lebih lanjut padamu." ujar Yohan yang tidak ingin melanjutkannya lagi. Tidak ada alasan baginya untuk mengingat masa lalu. Karena sekarang yang terpenting adalah terus maju ke depan dan membuat kemajuan.


Sekilas, Guan san melihat sesuatu yang membuatnya tertarik untuk mempercayai Yohan. Dia merasa kalau dia bisa mempercayai orang gila disampingnya ini. "Aku akan mempercayaimu!? jangan sia siakan kepercayaanku!?" ujar Guan san pada akhirnya.


Yohan memperlihatkan senyum jahatnya, "Aku bersumpah demi bulu Yue yang akan rontok, aku akan menjaga kepercayaan mu!?" ujar Yohan mantap. Tapi…


"Kenapa kau bersumpah dengan namaku, gunakan namamu sendiri!?" protes Yue yang tidak terima jika namanya yang digunakan untuk bersumpah.


...~~...


1200 kata


...SEMOGA SUKA!?...