Return To Being The Mad Antagonist

Return To Being The Mad Antagonist
142. Raja jahat



Serelah pengumuman perang ada banyak sekali kontroversi yang terjadi. Mereka semua menganggap bila kaisar Yan sudah tidak waras karena menyerang sekutu tanpa alasan yang jelas. Apalagi itu adalah kekaisaran Qi yang sudah menjadi besannya sendiri. Namun mereka tak bisa berbuat apa apa selain menjalankan perintah kaisar. Segera setelah pengumuman itu diumumkan mereka melakukan persiapan perang besar.


Kaisar Yan juga telah memberikan surat peringatan perang pada kekaisaran Qi. Tentunya gerak gerik yang dia lakukan akan selalu diawasi oleh Yohan dan yang lainnya. Dirinya merasa menjadi boneka yang digunakan untuk pertunjukan anak anak. Boneka yang menari nari diatas telapak tangan orang gila. Dia tidak ingin dikendalikan seperti ini, tapi dia juga tak ingin mati. Kaisar Yan masih ingin menikmati hidupnya sebagai kaisar. 'Awas kau nanti, jika aku telah mendapatkan belatung menjijikan itu bersiap siaplah untuk menemui ajalmu!?' pikir kaisar Yan licik.


Dia diam diam memerintahkan bawahannya untuk secara diam diam mengambil belatung Yin dari Yohan. Namun anehnya para bawahan yang dia perintahkan tidak pernah kembali atau memberi kabar berita.


Dua hari kemudian…


Lima puluh ribu prajurit elit dan sepuluh ribu pasukan infanteri (Pasukan utama pejalan kaki) bersiap untuk berangkat ke wilayah Ganzao diqu untuk melaksanakan perang disana. Di Ganzao diqu berdiri benteng besar yaitu, benteng Ganzao. Seperti namanya, Ganzao diqu adalah wilayah yang sangat gersang dan cocok untuk dijadikan tempat pertumpahan darah. Itu adalah wilayah perbatasan antara kekaisaran Yan dan kekaisaran Qi.


Disana mereka mendirikan enam barak untuk para prajurit karena benteng hnya untuk raja. Mereka tak lupa untuk mempersiapan bahan pangan serta obat obatan dari wilayah lain yang subur dan dari pusat ibu kota.


Mereka juga tak lupa untuk mempertajam senjata senjata mereka untuk berperang. Enam puluh ribu pasukan itu dipimpin oleh kaisar Yan sendiri dengan seseorang yang sangat ingin membantai kekaisaran Qi, Liu Yohan dan juga mereka bertiga.


SEMENTARA ITU DI KEKAISARAN QI


Kaisar Qi sangat marah akan tindakan Kaisar Yan yang tiba tiba ingin berperang. Dia tak habis pikir, kenapa tiba tiba Kaisar Yan ingin berperang dengannya. Padahal dia tahu betul bila putrinya telah menjadi menantu dari kekaisaran Qi dan sebentar lagi akan menjadi ratu. Ini benar benar sebuah penghinaan besar baginya.


"Katakan padaku, berapa jumlah yang cukup untuk berperang dengan Yan?" tanya Kaisar Qi pada jendral Qiu.


"Saya memperkirakan mungkin Tiga puluh ribu prajurit elit sudah cukup yang mulia!?" jawab jendral Qiu.


"Tiga puluh? kau pikir julukan 'raja perang' mereka hanya abal abal? Tiga puluh ribu prajurit elit saja itu hanya sebagian dari kekuatan mereka. Kita harus mengerahkan lebih dari tiga puluh ribu, kerahkan lagi dua puluh ribu pasukan infanteri dan culik semua laki laki mau itu tua atau muda. Paksa mereka untuk berperang mau atau tidak mau mereka harus mau. PERGI DAN SIAPKAN SEMUANYA!?" titah kaisar Qi mutlak dengan teriakan diakhir. Dia sangat marah saat ini.


Saat ini bisa dibilang sekarang Kekaisaran Qi sedang terdesak dengan jumlah pasukan. Mereka hanya memiliki lima puluh ribu prajurit pajurit karena dua dari delapan keluarga agung telah hancur. Jadi pasukan dari dua keluarga yang hancur sama saja kehilangan sepuluh ribu prajurit elit.


Segera mereka persiapkan segalanya untuk berperang melawan kekaisaran Yan. Merekapun mempersiapkan tiga puluh ribu prajurit elit dan dua puluh ribu prajurit infanteri beserta rakyat biasa yang dipaksa untuk berperang. Pasukan besar itu juga dipimpin oleh kaisar Qi sendiri. Dengan waktu yang cuma berselang satu hari dari kaisar Yan, Mereka dengan sangat cepat sampai ke Ganzao diqu dengan menggunakan portal. Dan akan disusul dengan para rakyat biasa yang dipaksa untuk berperang.


Sesampainya di Ganzao diqu mereka menuju benteng besar mereka, benteng Diqu. Mereka mempersiapkan segalanya untuk berperang melawan musuh yang dulunya adalah sahabat.


Setelah melakukan persiapan, sebulan sebelum perang besar dimulai… kelompok Jiefan melakukan perencanaan penyerangan dengan para pemberontak. Sesuai dengan apa yang ditulis Yohan dikertas. Tapi, putra mahkota juga bukan berarti tidak melakukan tindakan apapun. Dia menjalankan tugas yang ditugaskan padanya, yaitu melindungi istana dari dalam.


***


Sesuai dengan perintah kaisar Qi, para prajurit yang hanya menjalankan perintah mengambil para anak anak muda, orang dewasa, dan orang tua untuk diikut sertakan berperang. Mereka mengambil para laki laki dari seluruh kekaisaran.


"TIDAK!? TOLONG JANGAN MENGAMBIL ANAKKU!? KAMI HANYALAH SEORANG PETANI, KAMI TIDAK BISA BERPERANG!?" teriak seorang nenek tua yang anaknya diambil secara paksa untuk berperang.


"IBU!?" teriak anak nenek tua itu. Dia dikawal dengan beberapa prajurit bersama para laki laki yang lain.


DUAK


seorang prajurit menendang nenek itu hingga jatuh tersungkur. "DASAR NENEK PEOT!? BIARKAN ANAKMU IKUT BERPERANG MEMBELA KEKAISARAN!? DIA AKAN MENJADI PAHLAWAN!?" teriak orang yang menendang nenek itu.


"Ayo bawa mereka pergi!?" ujar prajurit itu tanpa mempedulikan nenek tua yang kini tengah bersujud meminta anaknya dikembalikan.


Nenek tua itu segera bangun dan membungkuskan sesuatu karena anaknya tetap dibawa. Entah apa yang dia bungkus dengan kain lusuh. Setelah itu dia segera berlari dengan sisa sisa kekuatan tuanya."TUAN PRAJURIT, TUAN PRAJURIT!? TOLONG BERHENTI SEBENTAR!?" teriak wanita tua itu sembari meraih tangan anaknya yang juga meraih tangan ibunya. Prajurit itu tetap tidak mempedulikan teriakan nenek tua yang hanya membuatnya repot.


Namun nenek itu berhasil menyerahkan bungkusan itu pada anaknya, "JADIKAN ITU JIMAT PELINDUNGMU!? KEMBALILAH DENGAN SELAMAT!? KAU HARUS MAKAN DENGAN BENAR SAAT DISANA!? KEMBALILAH HIDUP HIDUP" teriak nenek tua itu sembari menangis.


"AKU… AKU BERJANJI AKAN KEMBALI SAAT PANEN NANTI!?" teriak anaknya yang kini juga berairan air mata.


Mereka terus menerus mengambil laki laki untuk berperang agar mereka meraih kemenangan. Tak ayal, mereka juga mengambil beberapa tabib untuk pengobatan saat perang terjadi. Hal itu terus berlanjut hingga dua hari ke depan. Dari kejauhan seseorang terus memperhatikan semua yang mereka lakukan tanpa mereka sadari. Orang itu memakai jubah hitam, jadi tidak terlihat begitu jelas siapa dia. Tanpa mengatakan apapun, dia hanya berdiri memperhatikan para rakyat jelata yang dipaksa untuk ikut berperang. Setelah itu dia pergi tanpa mengatakan apapun juga.


Dua hari setelah mereka mengumpulkan para rakyat jelata…


Rakyat jelata yang dipaksa ikut berperang sudah berpakaian seperti prajurit dan berbaris panjang mengikuti dua pemimpin yang menunggangi kuda. Mereka merasa resah dan gelisah akan keselamatan diri mereka sendiri. sepanjang perjalanan mereka hanya diam memikirkan hidup mereka akan seperti apa nanti.


Sedangkan dua pemimpin yang menunggangi kuda salah satunya melihat seseorang yang sedang berjongkok ditengah tengah jalan sambil memeluk bambu kuning dan menghalangi jalan mereka. Orang itu memakai pakaian gembel dengan wajah cemang cemong. Ketika para rombongan itu berhenti, gembel itu bangun dari jongkoknya.


"Apa kalian akan berperang?" tanya gembel itu.


Kedua pemimpin yang menunggangi kuda saling pandang mendengar pertanyaan yang sudah jelas itu, "Ya, jadi kenapa?" tanya salah seorang pemimpin.


"Apa kau akan menghentikan kami? gembel sepertimu?" tanya pemimpin yang lain menebak.


"Tidak. Hanya saja… boleh aku ikut?" tanya gembel itu kembali. Dan itu sukses membuat mereka semua keheranan. Untuk beberapa saat mereka diam melihat gembel yang ingin ikut berperang disaat mereka yang saat ini sedang takut berperang.


"Dia sudah gila!?" guman seorang pria yang yang berpisah dengan ibunya dua hari yang lalu. Dia berdiri disamping barisan.


" Baiklah…… masuklah ke dalam rombongan!?" ujar salah seorang pemimpin.


Gembel itu berjalan dengan hati senang karena diperbolehkan ikut berperang.


"Tunggu tunggu!? siapa namamu?" tanya pemimpin itu kembali.


Gembel itu langsung berhenti dan memperlihatkan senyumnya, "Jingmi, Ho jingmi!?" setelah itu dia kembali memasuki rombongan dengan hati riang.


...~~...


1225 kata


...SEMOGA SUKA!?...