
Malam ini Ling mei sedang membaca surat yang dibawakan Yue padanya. Yue tidak ikut dalam pembicaraan rencana karena dia terbang menuju ke kekaisaran Wu untuk menyampaikan surat ke Ling mei. Saat membaca isi surat tersebut hatinya sedikit enggan untuk pergi. Walaupun dendamnya pada keluarga Yuan sudah terbalaskan, tapi dendamnya pada kekaisaran Qi belum terbalaskan.
Dia tahu jika Guan san tidak mencintainya, dia juga tahu jika Guan san bukanlah seseorang yang pernah ia kenal. Tapi tetap saja dari rupa sampai perilaku, semuanya hampir mirip dengan kekasihnya dulu. "Apa mereka sudah smpai ke kekaisaran Yan?" tanya Ling mei.
"Sepertinya hari ini mereka akan berangkat." jawab Yue. "Apa ada masalah, quakc?" tanya Yue yang mulai penasaran.
"…… Tidak. Aku akan mulai bersiap siap!?" ujar Ling mei sembari memperlihatkan senyum manis diwajahnya. "Tunggu disini!? aku akan menuliskan balasannya!?" Ling mei pergi dan mencari alat tulis serta kertas untuk membalas surat. Tidak lama kemudian dia kembali dan mengikatkan kertas kecil pada kaki Yue. "Pergilah!? dan sampaikan suratku padanya!?" ujar Ling mei sembari menerbangkan Yue ke langit. Dia menatap Yue terbang menjauh darinya.
Dia kembali memikirkan Guan san. Dia mencintai seseorang yang mirip dengan kekasihnya dulu. Apa itu salah? Mungkin sudah saatnya dia meninggalkan seseorang yang bahkan tidak menganggapnya wanita. Lingvmei tersenyum kecil saat kembali mengingat bagaimana wajah konyol Guan san ketika Ling mei memanggilnya 'gege' dulu. "He he he he saat itu wajahnya lucu sekali." ujar Ling mei.
"Apa kau akan pergi?" tanya seseorang dari belakang Ling mei.
Mendengar suara yang tak asing ditelinganya, Ling mei membalikkan badannya dan melihat siapa orang yang telah memanggilnya. Dia adalah Guan san. Sepertinya Guan san telah selesai dari ruang pembuatan pil. "Oh? kau telah selesai?" tanya Ling mei mengalihkan pembicaraan.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!? Apa kau akan pergi?" tanya Guan san ulang.
"……" Untuk beberapa saat Ling mei hanya diam. Tapi setelahnya dia tersenyum kecil untuk mencairkan suasana, "Ya, aku akan pergi besok pagi. Sekarang kau sudah bisa lega karena aku akan pergi." Ling mei hanya mengatakan seperlunya saja. Setelah itu dia berjalan melewati Guan san.
Saat ling mei berjalan melewati Guan san, sebenarnya dia ingin menahannya untuk sesaat. Tapi egonya tetap menahan dirinya agar tidak melakukan hal itu. Dia akan merasa malu jika tiba tiba menahan Ling mei yang selalu mengikutinya. Dia masih memikirkan harga dirinya yang tinggi.
Setelah membereskan barang barangnya yang akan dibawa besok dia langsung ingat bila ada sesuatu yang harus dilakukan di waktu ini. Biasanya, disaat saat seperti ini Ling mei akan segera menyiapkan makanan untuk Guan san.
"Kau pasti lelah, aku akan segera menyiapkan makanan untukmu!? tunggu sebentar!?" ujar Ling mei sambil berlari menuju dapur. Dalam menyiapkan makanan untuk Guan san, dia menyiapkannya dengan sangat istimewa karena ini adalah hari terakhirnya. Dia ingin melakukan yang terbaik malam ini.
Setelah selesai membuat makanan untuk Guan san, segera Ling mei mengantarkannya pada Guan san. Dia menaruhnya di meja tepat didepan Guan san. Sedangkan dirinya hanya duduk didepan Guan san.
"Apa kau tidak makan?" tanya Guan san. Diasanya dia akan melihat Ling mei juga ikut makan didepannya dan membicarakan banyak hal.
"Aku sudah makan, sekarang aku akan melihatmu makan saja!?" ujar Ling mei yang sudah menyanggah kepanya dengan kedua tangannya. Hari ini dia hanya ingin menatap Guan san lekat lekat. Karena mulai besok dia tidak akan melihat wajahnya lagi. Jadi dia ingin mengingat 'Guan san' didalam kepanya, dan bukan 'Fei'ge' yang selalu dia sebutkan.
Karena tidak biasa diperhatikan saat makan, Guan san jadi sedikit canggung sekarang. "Ba bagaimana jika kau makan bersaku?" tanya Guan san gugup.
Ling mei sedikit terkejut mendengar Guan san menawarkan makan bersamanya. Lalu dia tersenyum kecil, "Apa ini artinya kau sudah membuka hatimu untukku?" tanya Ling mei dengan sedikit kejahilan disana.
"A aku tidak membukanya, aku masih… menutupnya." ujar Guan san yang masih dalam kegugupannya.
"Heeh, jadi ada kesempatan untuk dibuka ya?" ujar Ling mei senang.
Setelah Ling mei bicara seperti itu, Guan san menjadi tambah canggung dan memerah. Melihat Reaksi Guan san yang tidak terduga, Ling mei senang akhirnya dia bisa membuat wajah Guan san memerah juga.
"Apa?" tanya Guan san yang tidak begitu mendengar uvapan Ling mei karena kecanggungan tadi.
Ling mei membenarkan posisinya menjadi tegap dan menatap Guan san penuh makna. Dimatanya terlihat jelas kalau saat ini dia ingin menangis. Namun karena beberapa alasan dia menahannya agar tidak keluar. "Maafkan aku karena selama ini aku hanya menganggapmu sebagai orang lain. Aku juga telah seenaknya mencampuri privasimu dan sudah sangat cerewet. Kau pasti sangat tidak menyukaiku yang seperti itu. Tapi kau tenang saja, aku akan pergi dari hidupmu mulai besok!? kau sudah boleh lega sekarang.
Aku,…… tidak akan kembali lagi. Tapi, aku ingin mengatakan padamu supaya kau tidak salah paham. Dari dulu hingga sekarang, aku sudah mengapmu sebagai Guan san dan aku mencintaimu meskipun kau tidak mencintaimu. Selamat tinggal, semoga kau bisa menemukan seorang wanita yang baik suatu hari nanti!?" Ling mei berdiri dari duduknya dan pergi ke kamarnya.
Saat Ling mei sudah pergi menjauh, tangan Guan san seperti ingin menghentikannya. Namun apadaya, Egonya lebih besar dari pada keinginannya untuk menggapai Ling mei.
***
Pagi pagi buta sekali, Ling mei sudah dalam perjalanan ke kekaisaran Yan seperti yang di katakan dalan surat. Dia pergi saat Guan san masih tertidur pulas. Dia tidak ingin mengucapkan perpisahan untuk yang kedua kalinya. Karena itu terlalu berat untuknya mengatakan selamat tinggal.
"TUNGGU!?" teriak seseorang dari belakang.
Ling mei langsung berbalik dan melihat Guan san yang sudah berdiri tidak jauh darinya dengan nafas yang memburu. Terlihat Guan san yang masih berantakan dengan baju pendek dan celana putih polos, rambutnya yang acak acakan semakin mendominasi kalau dia habis bangun tidur, kakinya yang telanjang tidak memakai alas kaki terlihat jelas kalau dia sedang buru buru. "Kau, apa kau akan pergi sekarang?" tanya Guan san.
"Ya, aku harus segera pergi sekarang." ujar Ling mei sembari tersenyum tipis pada Guan san. Dia tidak tahu apa yang ingin Guan san lakukan. Tapi yang pasti itu sangat penting.
"Apa kau akan kembali?" tanya Guan san yang sekali lagi membuat Ling mei terkejut. Ling mei kira hal penting apa yang ingin dibicarakan hingga Guan san terburu buru seperti itu. Tapi ternyata hanya menanyakan kembali atau tidaknya Ling mei.
"Tidak. Mungkin,…… aku akan mati!?" ujar Ling mei yang juga mengejutkan. Dia sudah mengira kalau mungkin dalam rencana kali ini nyawanya tidak akan selamat. Tapi meskipun begitu dia ingin memberikan yang terbaik.
Sejujurnya Guan san sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Ling mei. 'Kenapa kau mangatakan mati semudah itu?' pikir Guan san sedikit kesal. Dia menjadi semakin gelisah saat Ling mei mengatakan itu. "Kalau begitu, kau tidak usah pergi jika kau tidak mau." ujar Guan san yang sebenarnya tidak ingin Ling mei pergi.
"Kalaupun aku tidak ingin pergi, aku akan tetap pergi. Karena ini adalah sudut pandangku melihat dunia." ujar Ling mei.
Apa yang dikatakan Ling mei sama sekali tidak Guan san mengerti. Namun satu hal yang ingin dia katakan, "Berjanjilah padaku, bila kau tidak akan mati!?" ujar Guan san.
"…… Ya, aku berjanji!?" Saat ini Ling mei sembari tersenyum menyembunyikan air matanya yang sebentar lagi akan menagis. Setelah itu dia berbalik dan meninggalkan Guan san yang masih terpatung ditempatnya. Ketika sudah semakin jauh dari Guan san, dia menghapus air matanya yang sudah banyak menetes.
...~~...
1214 kata
...SEMOGA SUKA!?...