Return To Being The Mad Antagonist

Return To Being The Mad Antagonist
136. Mereka



Dalam beberapa hari ini keluarga wei sedang dipusingkan dengan hilangnya satu persatu tuan muda mereka. Mereka secara misterius menghilang tanpa sebab yang diketahui. Para tuan muda ini menghilang sesuai dari yang paling kecil ke yang terbesar. Lebih parahnya lagi, lima hari setelah mereka menghilang akan ada bungkusan besar didepan gerbang entah siapa pengirimnya. Bungkusan itu berisi potongan potongan tubuh tuan muda yang menghilang. Dan hari ini seharusnya adalah giliran tuan muda yang kelima.


Wei Yang


Kepala keluarga Wei, yaitu Wei dunrui menyuruh Weiyang untuk tetap didalam kamar dengan penjagaan yang ketat. Sekaligus dia ingin menangkap siapa cecunguk yang berani menargetkan para tuan muda keluarga Wei. Di sekeliling kamar ada banyak penjaga diluar maupun didalam. Sedangkan Weiyang sendiri sedang ketakutan sekarang. Dia takut jika dirinya akan menjadi tuan muda yang lain. Diculik dan jasadnya dikirim menjadi potongan potongan daging manusia.


Mereka berjaga hingga berhari hari, namun tidak ada satupun tanda tanda keanehan. Dunrui juga sekali kali mengunjungi penjagaan dan menanyakan apa ada keanehan, namun jawaban mereka tetap sama.


"Tidak, tuan!?" ujar salah kepala penjaga.


"Aneh, seharusnya cecunguk itu sudah mulai melakukan aksinya. Kenapa sampai sekarang masih belum ada tanda tandanya?" ujar Dunrui sembari berpikir, 'Apa yang terjadi?'. Tidak lama saat dia sedang memikirkan situasi sekarang, tiba tiba seorang penjaga datang dari dalam kamar Weiyang sambil panik.


"Tu tuan, tuan muda kelima…… menghilang!?" ujar penjaga itu.


"Apa?!" Dunrui segera memasuki kamar Weiyang dan terihat didalam ada tubuh kosong berisi genangan air dingin tergeletak dilantai. Dia segera melihat apa tubuh itu sebenarnya. Saat melihatnya dia langsung kaget, ternyata tubuh itu adalah cangkang yang mirip Weiyang dan bukanlah Weiyang yang asli. Bisa dibilang itu adalah boneka yang dikendalikan seseorang.


Dunrui mengepal erat tangannya. Dia merasa dibodohi oleh orang yang lebih rendah darinya. "CARI KE SELURUH KEDIAMAN, CEPAT!?" teriak Dunrui. Saat ini suasana hatinya sedang kacau dan penuh emosi.


DI LUAR KEDIAMAN


Terlihat seseorang yang sedang mengendarai kereta barang. Di dalam kereta barang ada karung besar yang bisa memuat seseorang. Si kusir kuda mengelus elus karung tersebut seakan itu adalah barang yang berharga. "Sss sss jangan khawatir, mama akan memberimu susu segar nanti!?" ujar si kusir kuda sembari tersenyum ramah.


***


Terlihat seorang gadis kecil sedang bermain sendiri didepan rumahnya. Seperti anak perempuan lain, gadis kecil itu sedang bermain boneka sendirian. Boneka yang dia mainkan tidak sebagus dan seindah bineka anak perempuan lain. Itu hanyalah boneka kayu biasa. Disana ada empat boneka, dua besar, satu sedang dan satu lagi kecil.


"Ini Ayah, Ibu, Kaka, dan yang ini A Li." ujarnya sembari memberikan peran pada masing masing boneka. Tiba tiba terlihat sebuah bayangan yang menutupi tubuh kecil A Li dan bonekanya. A Li mendongakkan kepalanya melihat siapa yang mendekatinya. Saat dia melihat siapa orangnya, seketika mulutnya menganga dan pipinya merona. 'Cantik!?' puji A Li dalam hati. Terlihat seorang berjubah hitam yang memperlihatkan wajahnya yang cantik.


Jingmi berlutut mensejajarkan tinggi mereka. Dengan senyum yang manis orang itu membelai rambut hitam tipis A Li, "Siapa namamu?" tanya Jingmi pada A Li.


"Ibu memanggil ku A Li. Siapa kaka?" tanya A Li balik.


"Aku? aku adalah kakak mu!?" ujar Jingmi.


Saat A Li mendengar jika orang yang ada didepannya adalah kakaknya, dia langsung mengambil boneka yang berukuran sedang dan menyamakannya dengan pria cantik didepannya. "Tida milip!? tapi, kaka sangat canti!?" ujar A Li sembari tersenyum manis.


"Benarkah?"


"Hm, benal!?"


Kemudian Jingmi melihat beberapa boneka kayu. Ekspresinya langsung berubah dari yang selalu tersenyum ke wajah yang suram. Dia mengambil boneka kayu yang memerankan Ayah, "Apa peran boneka ini?" tanya Jingmi masih dengan memasang senyum agar A Li tidak takut padanya.


"Dia Ayah!?" jawab A Li dengan sangat polos.


Mendengar itu A Li langsung mengambil bonekanya dari tangan Jingmi dan langsung memeluknya erat, "Tidak, A Li sangat suka Ayah!?" teriak A Li mempertahankan bonekanya.


Jingmi memutar matanya mual mendengar jika A Li menyukai Yu bingjie, kepala keluarga Yu. 'Dasar bocah!?' pikir Jingmi. Dari dulu sampai sekarang dendamnya pada Bingjie tidak pernah pudar. "Kalau begitu aku akan pergi!?" ujar Jingmi sembari akan bangun dari posisinya. Namun sebuah tangan kecil memegang kain jubahnya agar tidak pergi.


"Apa kaka malah?" tanya A Li yang sudah bangun dari duduknya dan memasang wajah sedih. Dia mengerucutkan ibirnya yang kecil dengan air mata yang sudah berlinangan. Tentunya dia mengira kalau Jingmi marah karena lebih mementingkan Ayah yang tidak pernah dia lihat dari pada Jingmi. Karena itu dia sedih saat Jingmi bilang dia akan pergi.


Jingmi kembali berlutut dan kembali mengelus kepala A Li, "Aku tidak marah. Ini memang sudah waktunya aku pergi. Jadi, jangan menangis!?" Tangannya beralih mengusap air mata A Li. Kemudian dia mengacungkan jari kelingkingnya seperti janji jari kelingking, "Bagaimana kalau kita membuat janji jari kelingking?" ujar Jingmi.


"Janji jali lingking?" tanya A Li yang sudah memiringkan kepalanya tidak mengerti.


"Eeh, y ya janji jali lingking." Jingmi ingin tertawa tapi takut menyakiti A Li. "Aku berjanji akan membuat Ibu, A Li, dan aku hidup bahagia bertiga selamanya. Aku akan mengabulkan semua yang A Li inginkan dari boneka bagus, pakaian dan makanan yang enak. Tapi, sekarang aku harus pergi. Aku berjanji akan kembali suatu hari nanti dan membuat kalian berdua tersenyum." janji Jingmi yang masih memasang jari kelingkingnya.


Dengan cepat A Li mengaitkan jari kelingkingnya pada jari Jingmi. "Mn janji, ya?" ujar A Li sembari tersenyum manis.


Tidak lama Jingmi melepas kaitan jarinya dari A Li dan mengambil sesuatu dari balik jubahnya. Dia mengambil sebuah kantung hitam berisi uang dan memberikannya pada A Li. "Sekarang berikan ini pada Ibu, jangan bilang ini dariku." ujar Jingmi sembari menyerahkan kantung tersebut.


"Ya!?" setelah itu A Li pergi memasuki rumah dengan membawa kantung yang diberikan Jingmi padanya.


Tidak menyianyiakan waktu Jingmi langsung pergi dari sana tanpa mengatakan apapun lagi. Setelah Jingmi pergi, A Li datang kembali dari dalam rumah sambil berlari senang. Tapi langkahnya semakin lambat saat melihat Jingmi sudah tidak ada. "Kaka?" tadinya A Li akan menangis. Tapi saat dia melihat jari kelingkingnya, dia tidak ingin menangis lagi. "Kaka sudah janji jali lingking. Jadi kaka pasti kembali!?" ujarnya sambil tersenyum.


***


KEKAISARAN WU (Rumah Guan san)


Saat ini seperti biasa Guan san selalu risih ketika Ling mei selalu menempel padanya. Dia seperti permen karet yang menempel dirambut dan susah untuk di singkirkan kecuali digunting. "Kenapa kau mengikutiku dan tidak mengikuti mereka?" tanya Guan san kesal.


"Aku akan mengikuti mereka nanti. Tapi aku rasa, aku ingin membuat banyak kenangan dulu denganmu!?" ujar Ling mei yang semakin menempel pada Guan san.


Sedangkan Guan san sendiri tidak terlalu suka dengan Ling mei. Tapi dia seketika mengingat dengan Guan nama seseorang yang selalu diucapkan Ling mei untuk memanggil dirinya, "Ngomong ngomong, kau selalu memanggilku Fei'ge. Siapa dia?" tanya Guan san. Selamabini dia tidak pernah berani menanyakan ini pada Ling mei karena takut menyakiti hatinya. Tapi karena rasa penasarannya yang besar akhirnya dia menanyakannya hari ini.


Seketika raut wajah Ling berubah menjadi sedih, "Hiks hiks hu hu hu hu hu hu hu dia, dia adalah kekasihku hu hu hu huaaa…" ujar Ling mei sembari menangis tersedu sedu. Emosinya memang selalu tidak stabil dan sering berhalusinasi tidak jelas.


Melihat Ling mei menangis Guan san jadi bingung harus berbuat apa. Dia tahu jika Ling mei gila, tapi dia baru kali ini membuat seoarang wanita menangis karenanya. "Em… itu… mn… kau… bagaimana ya? ja jangan menangis lagi!? aku mengerti." ujar Guan san masih bingung.


Ling mei masih menangis sambil menutupi wajahnya, namun sesekali dia mengintip ke Guan san, "Huaa hu hu hu hu hu……" tapi sebenarnya saat ini dia sedang tertawa karena Guan san sedang memeluknya untuk menenangkan dirinya yang menangis. 'Lebih baik aku tetap berekting menangis seperti ini.' pikir Ling mei.


...~~...


1277 kata


...SEMOGA SUKA!?...