
Yohan melepaskan wanita yang terikat rantai dan membawanya ke tendanya. Wanita itu adalah seorang ahli racun yang dibawa paksa dari desa terpencil dan disembunyikan oleh kaisar Yan untuk meracuni Yohan agar bisa merebut belatung Yin yang ada pada Yohan. Namun wanita itu tidak ingin membuatkan racun karena kaisar Yan telah membunuh pelayannya. Karena itu saat ini wanita itu selalu disiksa disana.
"Jadi, siapa namamu?" tanya Yohan.
"Untuk apa aku memberitahu namaku pada pria brengsek seperti mu?" Wanita itu sepertinya masih marah dengan perlakuan kasar Yohan padanya. Dia berjalan mendekati tempat tidur Yohan dan duduk disana dengan lancang. "Sekarang, ini menjadi tempat tidurku sebagai permintaan maaf mu!?" ujarnya sekali lagi dengan nada yang menyebalkan. Terlihat senyum meremehkan dari wajah wanita itu.
Yohan menatap wanita itu dingin. Dia tidak suka dengan sikap wanita itu yang menurutnya kurang ajar. "Dia benar benar wanita yang tidak berguna!?" guman Yohan hampir tidak terdengar. Dia bangun dari duduknya dan mendekati wanita itu dan menarik dagunya. Dia mendekatkan wajahnya pada wanita itu, "Dengar, jalang… aku telah menyelamatkanmu dari orang tua bodoh itu. Jadi menyamarlah agar kau tidak ketahuan oleh mereka. Sekarang, menyingkirlah dari sini!?" ujar Yohan sembari menarik wanita itu dari tempat tidurnya.
Bruk
"Akh!? kau, beraninya kau melakukan ini pada seorang wanita!?" ujar wanita itu kesal.
"Pergilah ke tenda para pelayan dan pakai baju yang sudah aku siapkan di meja!?" Yohan mengibas ngibaskan tangannya seakan mengusir ayam.
Wanita itu bangun dari duduknya dan mengibas ngibaskan pakaiannya yang kotor. Dengan terpaksa wanita itu mengambil pakaian yang ada diatas meja. "Hmph!?" kemudian dia melengos pergi dengan rasa kesal dihatinya. Saat wanita itu ingin keluar tiba tiba didepannya sudah ada seorang wanita berambut putih dengan wajah yang pucat. Wanita itu adalah Zhu'er…
"Emm, apa kau baik baik saja?" tanya wanita itu pada Zhu'er. Dia tidak pernah melihat seseorang sepucat wanita didepannya. Namun pertanyaannya sama sekali tidak dihiraukan oleh Zhu'er.
"Kau… siapa?" tanya Zhu'er tanpa mempedulikan pertanyaan wanita didepannya.
"A aku, aku hanya seorang pelayan!?" ujar wanita itu. Dia takut bila Zhu'er adalah salah satu dari orang orang kaisar Yan.
"Siapa?" tanya Zhu'er lagi.
"Ha hanya pelayan!?" sekarang wanita itu menjadi gugup karena Zhu'er menatap dan terus menanyakan dirinya. Itu membuatnya sedikit merinding.
"Siapa?" Zhu'er menatap tajam wanita didepannya. Dia tahu jika wanita itu sedang berbohong.
Wanita itu tidak tahu hatus menjawap apa. Lalu dia melirik Yohan yang kini sedang duduk diatas meja bersilang kaki dan tangan melihat kegugupannya. 'Apa pria brengsek itu tidak berniat menolongku sekalipun?' tanya wanita itu dalam hatinya yang mulai gelisah. Namun Yohan hanya tersenyum licik melihat drama kecil kecilan didepannya.
"Zhu'er, katakan 'hallo' padaku!?" ujar Yohan tiba tiba. Dia merasa ini terlalu malam untuk melihat drama.
Wanita itu tidak mengerti dengan apa yang Yohan katakan. 'Apa maksudnya hallo?' pikir wanita itu bingung. Namun sedetik kemudian dia mengerti apa maksud Yohan.
Tangan kanan Zhu'er mengangkat dan, "Hallo!?" sapanya dengan wajah datar.
"Sekarang,… peluk aku!?" ujar Yohan sembari melentangkan tangannya sebagai aba aba agar Zhu'er memeluknya.
Sekarang wanita itu tambah tidak mengerti. 'Tunggu sebentar, apa dia sedang bicara pada wanita aneh ini? dan mencoba menyelamatkanku?' pikir wanita itu. Dia sepertinya mulai salah faham.
Tanpa aba aba Zhu'er langsung berlari dan memeluk Yohan seerat mungkin. Dan muncul senyum lembut di wajah Yohan. Dia sangat senang saat Zhu'er memeluk dirinya. Rasanya semua beban yang ada dipundaknya menghilang seketika.
Wanita itu yang melihat senyuman lembut itu seketika memerah. Dia tak menyangka jika Yohan bisa membuat wajah sehangat itu. Menurutnya, itu jauh lebih baik dari pada Yohan yang beberapa waktu lalu. Namun, sesaat kemudian dia mendapatkan tatapan tajam dari Yohan. Dia melihat Yohan kembali mengibas ngibaskan tangannya sebagai tanda prngusiran. Ini pertama kalinya ia diusir oleh seorang pria. Dia kembali melengos pergi karena kesal, 'Kenapa malam ini rasanya panas, ya?' pikir wanita itu kesal.
***
"Yang mulia, apa yang mulai akan pergi malam ini?" tanya seorang wanita cantik istri putra mahkota, Yan qi shen.
"Ya, karena aku ingin segera memenggal kepala si penipu itu!? Untuk sementara waktu aku akan meninggalkanmu." ujar Tian juan yang sudah memakai baju seperti rakyat biasa.
"Kalau begitu, yang mulia harus membawa kepala si penipu itu ke hadapanku!? Aku ingin melihat sendiri bagaimana wajah menyedihkannya saat terpenggal." Ujar Qi shen sembari tersenyum jahat.
"Jika itu keinginan mu, maka akan kulakukan…… ratuku!?" ujar Tian juan sembari mencium bibir Qi shen mesra.
***
"Wah wah wah… kau cocok sekali berpakaian seperti itu? Benar benar mirip dengan si pangeran licik. Ngomong ngomong, apa kau akan pergi sendiri?" tanya An pada Jiefan. Ini adalah ciri ciri An jatuh cinta. Dia akan terus mendekati pria yang dia suka tanpa rasa lelah.
"Apa nona An ingin menemaniku?" tanya Jiefan balik sembari mendekat ke wajah An yang saat ini merona dibuatnya.
***
Benteng Diqu, barak kelima…
Dipagi hari yang cerah seluruh pasukan kekaisaran Qi sedang berlatih akan perang yang akan datang tiga minggu lagi. Mereka yang prajurit terlatih sudah biasa memegang senjata, nmun mereka yang rakyat biasa masih tidk biasa memegang senjata. Karena biasanya mereka hanya memegang cangkul di sawah. Beberapa dari mereka mulai membiasakan diri, tapi ada juga ada mereka yang sudah beberapa hari belum juga terbiasa.
Contohnya saja seorang petani yang memegang busur dan panah. Tangannya gemetar takut dengan kegagalannya menembak sasaran yang lumayan jauh.
"Dor!?" ujar seseorang mengagetkan pria yang memanah.
SSSUUUK
Pria itu tanpa sengaja melepas anak panahnya dan tepat sasaran. Dia tidak percaya alan keberhasilannya memanah. Ini adalah hal baru dan hal yang paling berpengalaman baginya yang memanah tepat sasaran. Beberapa dari para pengawal yang juga dari rakyat biasa berkumpul mendekti pria itu dan memujinya.
"Kau hebat sekali!? dari mana kau belajar memanah?" tanya salah satu dari mereka.
"Benar, yang tadi itu membuatku kagum!?"
Pria itu mulai panik, padahal dirinya hanya tidak sengaja kena sasaran. "K kalian tenanglah!? sebenarnya dia yang membuatku berhasil memanah!?" ujar pria itu sembari menunjuk orang yang mengagetkannya tiba tiba. Namun pria itu tiba tiba menghilang entah kemana. "Tunggu sebentar, dimana dia? Bukankah dia ada disini tadi?" ujar pria itu bingung.
"Hey, sepertinya aku mengenalmu,… kau dari desa mana?" ujar salah satu prajurit.
"Oh, aku dari desa Awan, Gu bai!? salam kenal" ujar Gu bai, pria yang memanah.
"Pantas aku seperti mengenalmu, aku dari desa sebelah, Majun!? salam kenal"
"Aku dari desa sebelah timur laut, salam kenal!?"
Dan… seperti itulah mereka akhirnya saling berkenalan satu sama lain. Namun momen momen perkenalan mereka harus berakhir karena ada prajurit yang membubarkan mereka untuk kembali berlatih. Sedangkan pria yang mengagetkan Gu bai sudah pergi jauh dari tempat latihan. Pria itu tak lain adalah Jingmi yang sedang melakukan penyamaran.
Dia saat ini sedang berkeliling mengamati keadaan sekitar. Karena dia memakai pakaian pengawal, jadi jarang ada yang curiga padanya saat ini. Namun, langkahnya berhenti ketika melihat seseorang yang tak asing dimatanya. tangannya mengepal erat melihat Bing jie dengan mata kepalanya langsung.
Kepala keluarga Yu, Yu bing jie.
Bing jie adalah salah satu jendral yang memimpin pasukan. Dia saat ini sedang berdiskusi masalah dengan kepala keluarga yang lain, yang juga salah seorang jendral. Mereka berdua berjalan bersama sambil mengobrol.
Jingmi bersembunyi dibalik tenda dan menguping pembicaraan mereka. Dia pikir akan ada hal yang bagus yang akan dibicarakan oleh dua orang kepala keluarga.
"Aku heran pada kaisar Yan, kenapa dia tiba tiba ingin berperang dengan kita? apa dia sudah mulai tidak waras hingga ingin merebut negeri yang sudah menjadi negeri putrinya? Aju benar benar tidak mengerti." ujar Wei dunrui.
"Apapun alasannya aku tidak peduli!?" ujar Bing jie.
"Seperti biasa, kau selalu tidak peduli." ujar Dunrui balik.
Ini bukanlah pembicaraan yang begitu penting. 'Benar benar percakapan yang tidak berguna!?' pikir Jingmi. Dia pikir akan ada percakapan yang penting. Tapi yang dia dengar hanya percakapan biasa. Namun, saat kakinya akan melangkah dia mendengar percakapan yang sedikit menarik perhatiannya.
"Ngomong ngomong, kita akan membahas strateginya hari ini bukan?" tanya Dunrui.
"Ya, hari ini." jawab Bing jie.
...~~...
1350 Kata
...SEMOGA SUKA!?...