Return To Being The Mad Antagonist

Return To Being The Mad Antagonist
125. Pembalasan



Kematian jianmian membuat tianzhi membenci anak yang dilahirkan jianmian. Dia mengira kalau anak itu adalah penyebab kematian jianmian. Saat tianzhi ingin membunuhnya fen mencegah hal itu terjadi. Dia tidak ingin hal yang sangat dilindungi jianmian sampai mempertaruhkan nyawanya sendiri mati dengan mudah. Setidaknya fen ingin membuat anak jianmian menderita sampai akhir hayatnya sebagai anak terkutuk.


"Yang mulia, biarkan aku yang mengurus anak ini dan menjadi ibunya. Ini adalah permintaanku!?" ujar fei sembari membungkuk memohon pada tianzhi.


Tianzhi menatap sengit bayi yang saat ini sedang tertidur pulas. Dia ingin sekali membunuh bayi itu dengan tangannya sendiri, tapi janjinya dengan fen tidak bisa dia langgar. "Humph!?" tianzhi pergi sembari membawa mayat jianmian.


Fen menatap kepergian tianzhi sembari menggertakkan giginya,'Kenapa? kenapa kau tidak melihatku sekali saja meskipun wanita itu telah mati? Aku yang selama ini mencintaimu setiap waktu, tapi kenapa dia yang bahkan tidak memperdulikan dirimu malah mendapatkan perhatianmu? Aku pikir, setelah aku membunuh wanita itu kau akan melihatku meskipun hany sebentar. Tapi yang kudapatkan hanyalah hatimu yang sudah mengeras.' pikir fen kesal.


Mau berapa kalipun dia memikirkannya, fen semakin kesal. Lalu dia menggendong bayi milik jianmian menatapnya sinis,"Kenapa wajahmu mirip dengan lacur itu? semakin aku melihatmu semakin muncul bayangan wajah wanita lacur itu. Jika bukan karena tujuanku yang ingin membuatmu menderita, aku sangat tidak sudi menggendong bayi yang bahkan tidak memiliki hubungan darah denganku. Anak yang malang!? kau harus membayar semua dosa dosa yang telah ibumu lakukan." ujar fen sembari tersenyum jahat.


Setelah beberapa tahun berlalu bayi itu tumbuh dengan rasa sakit dan penderitaan. Dia tidak mengenal yang namanya cinta atau sejenisnya. Yang dia tahu hanyalah rasa sakit dan kebencian semata. Meskipun setiap kali fen melampiaskan kemarahannya pada zhen, rasa takut melihat zhen tidak bisa dipungkiri olehnya. Benar, sebenarnya fen takut setiap kali melihat zhen.


Setiap kali fen melihat zhen yang dirantai berlumuran darah dan menatap matanya langsung, membuatnya melihat neraka. Entah itu nyata atau tidak, yang pasti setiap berdekatan dengan zhen dia selalu merasa ada yang mengawasinya dari segala arah untuk membunuhnya. Ditambah lagi wajah zhen yang mirip dengan wajah adiknya yang dia bunuh membuatnya melihat jianmian yang bangkit dari kematian untuk membunuhnya.


SEKARANG


Fen benar benar masih mengingat peristiwa itu dengan sangat jelas. Rasa sakitnya benar benar sulit untuk disembuhkan. "Dasar lacur!?" umpat fen geram.


"Siapa yang kau bilang lacur, yang mulia?!" ujar seseorang yang tak asing ditelinga fen.


Ketika fen ingin melihat siapa orang itu, tiba tiba saja orang itu sudah berada dibelakang fen sembari memegang pundaknya. Terasa tekanan yang begitu kuat dari orang tersebut. Fen mencoba melihat orang itu dari pecahan pecahan kaca yang hancur, ternyata dia adalah tianwen. Fen sedikit terkejut melihat tianwen yang tiba tiba saja menjadi begitu kuat. Bukankah dantiannya sudah hancur? sangat tidak mungkin jika seseorang dengan dantian yang hancur memiliki tekanan yang begitu kuat seperti ini. Kecuali…


"Apa kau mempelajari seni iblis?" tanya fen.


"Wah wah wah… ternyata kau cepat memahami situasi, ya!?" ujar tian dengan senyum iblisnya,"Klan guaiyu… kalian sangatlah istimewa. Bahkan darah kalian bisa mengembalikan dantianku yang sudah hancur. Hm~ seharusnya aku berterima kasih pada beberapa gadis cantik dari klan guaiyu yang telah memberikan darah mereka secara sukarela. Yah meskipun pada awalnya aku mematahkan leher mereka sih!?" ujar tianwen yang memperlihatkan ekspresi sedih. Tentunya itu hanya ekting.


"Lalu, untuk apa kau kesini? apa kau ingin menikmati darahku juga sebagai tungku(tumbal) barumu?" tanya fen sembari melirik kebelakang.


"Tungku baru? Wah~ itu benar benar ide yang bagus. Tapi… aku kesini bukan untuk itu. Aku kesini ingin membuatmu… menjadi istriku!?" ujar tianwen yang tidak disangka.


'Apa dia mencoba balas dendam padaku? istri? jangan bercanda denganku. Seumur hidup aku hanya mencintai dirinya… meskipun dia tidak pernah melirik diriku sama sekali. Sekarang seorang bocah manusia dengan lancang mengataka**n itu? apa kau pikir aku adalah seorang wanita rendahan seperti wanita itu?' pikir Fen geram.


PLAK… BRAAK!?


Mendadak Fen bangun dan menampar wajah Tianwen sampai menabrak dinding disampingnya. Dia benar benar merasa terhina oleh manusia sampah seperti Tianwen."Istri? apa kau pikir aku wanita lacur yang bisa kau temui di dunia manusiamu? Kau hanyalah seorang gigolo(pelacur pria) hidung belang, berani merendahkanku?!" Fen menatap Tianwen dingin.


Sedangkan Tianwen sendiri sudah menyangka jika ini jawaban Fen. Dia duduk bertongkat lutut sembari mengusap darah yang keluar dari mulutnya akibat tamparan Fen. "Heh… he he he he he he ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha gigolo? apa kau sedang membicarakan dirimu sendiri?" ujar Tianwen sembari tertawa terbahak bahak. Dia sudah berbeda dari yang sebelumnya.


Tianwen bangkit dari duduknya dan menyerang Fen dengan elemen angin yang berubah menjadi gravitasi. Dia mencoba menekan Fen dengan tekanan gravitasi yang luar biasa kuat. Ini adalah salah satu jurus yang dia pelajari dari sekte bulan biru, Jurus tekanan tangan dewa. Seketika terbentuk sebuah tangan besar diatas kepala fen dan mencoba menekannya seperti semut. Tapi tidak semudah itu untuk mencekik Fen.


Fen menyelimuti tubuhnya dengan aura gravitasi yang membentuk sebuah bunga mawar hitam yang melambangkan sebuah kematian. Ini adalah jurus yang dia pelajari bersama saudara kembarnya.'Pada akhirnya aku menggunakan jurus yang aku latih bersama lacur itu.' pikir Fen. Sesama pengguna elemen angin yang telah berubah menjadi gravitasi, Fen jauh lebih berpengalaman.


Sambil mempertahankan pertahanannya, Fen juga menyerang Tianwen dengan jurus duri mawar hitam. Terbentuk duri duri mawar yang sangat mematikan jika terkena serangan itu. Sekali terkena maka tidak akan ada harapan untuk hidup. Karena jika sudah tertancap satu duri, maka duri tersebut akan masuk lebih dalam dan menusuk jantung.


Tianwen menghindari setiap serangan yang datang. Dia sudah berlatih bersama anming mati matian demi balas dendam. Tianwen tahu kalau kultivasi Fen jauh lebih tinggi darinya. Tapi, dia menyerang Fen bukan berarti dia sudah sombong atau semacamnya. Itu karena…


JLEB


Sesuatu tertancap di dada Fen. Sebuah pedang es yang sulit mencair tertancap di dadanya. Ketika dia berbalik ke belakang terlihat seorang pria yang sedang menyenderkan tubuhnya diambang pintu. Yuan anming. Ya, Tianwen sudah menyusun rencana sematang matangnya dengan bantuan Anming. "Kau… kalian… dasar manusia hina!?" ujar Fen menahan rasa sakit yang amat luar biasa.


JLEB


Sekali lagi pedang dingin menusuk tubuhnya dari belakang. Tepat diperutnya yang ramping. Fen menengok kebelakang dan terlihat Tianwen sedang tersenyum puas setelah menusukkan pedangnya ke Fen. Sama sekali tidak terpikirkan oleh Fen mati dengan cara ditusuk dari belakang seperti ini. Apalagi ditangan manusia seperti Tianwen dan Anming.


Fen terduduk tidak kuat menahan sakitnya. Apalagi sepertinya pedang Tianwen sudah dilumuri dengan racun yang sangat mematikan. Meskipun dia sudah hidup ratusan tahun bukan berarti dia abadi. Ini adalah kematian yang memalukan bagi dirinya.


"Kalian… benar benar… pengecut!?" ujar Fen yang berusaha bicara meskipun tidak mampu.


"Mau pengecut atau tidak yang penting kau mati ratu jalang!?" ujar Tianwen licik disertai dengan seringaian jahat.


"Apa… tujuan… kalian yang… sebenarnya?" tanya Fen lagi. Dia khawatir jika mereka berdua juga akan mencelakakan anaknya. Meskipun dia jahat tapi hatinya masihlah seorang ibu yang baik.


Anming tersenyum mendengar pertanyaan Fen, "Jika ditanya apa tujuan kami, sebenarnya banyak. Salah satunya adalah… membunuh anakmu yang gila itu!?" jawab Anming dengan disertai emosi diakhir kalimat. Dendamnya tidak akan pernah dia lupakan sampai kapanpun. Putrinya adalah satu satunya harta berharga miliknya yang tidak tergantikan. Tapi dengan mudahnya yohan membunuh putrinya dengan meledakkan kediaman keluarga Yuan.


"Heh,… dia bukan… anakku!? Dia hanyalah…" ujar Fen yang terputus dan tidak pernah berniat untuk melanjutkannya.


"Hm? jadi orang gila itu bukan anakmu? yah, pantas saja jika dia bukan anakmu. Aku juga heran kenapa kau melakukan hal yang kejam dengan anakmu sendiri. Kalau begitu,… selamat menunggu kematianmu!?" ujar Anming lagi dan setelahnya berbalik pergi bersama Tianwen.


Fen tidak mengatakan apapun lagi selain menerima kematiannya. Dia tahu jika dia pantas mendapatkan semua ini. Mungkin ini adalah balasan untuknya yang telah membunuh adiknya sendiri dan menyiksa anak yang masih polos. Dia menutup matanya dan kembali merenungkan semua dosa dosa yang pernah dilakukannya, 'Sepertinya semua ini sepadan dengan dosa yang pernah kulakukan. Jianmian, kau pasti tidak akan pernah memaafkan aku bukan? Tentu saja, bagaimana bisa kau memaafkan orang yang paling tidak tahu terima kasih sepertiku' ujar Fen dalam hatinya.


Meskipun dia telah menyesal, tapi dia terlalu malu untuk meminta maaf pada Jianmian nanti. Sekilas dia mengingat bagaimana masa masa kecilnya bersama dengan adiknya. Ketika hari hari yang dipenuhi dengan suka dan duka bersama saudara kembarnya, hari dimana saudara kembarnya merelakan posisinya sebagai pengantin dan digantikan dengan dirinya yang egois. Tapi untuk apa menyesali itu sekarang? toh dia akan mati.


Diakhir hayatnya dia melihat sebuah bayangan putih yang mirip seseorang. Ketika dia mendongakkan kepalanya keatas seketika dia membelalakkan matanya terkejut, "Kau… kenapa kau kesini? Apa kau ingin menertawakan kematianku? Jika kau ingin tertawa maka tertawalah seperti biasa kau lakukan. Aku yang telah membuatmu menderita selama ratusan tahun dan telah menyiksamu. Tertawalah sesuka hatimu,… Zhen!?" ujar Fen.


Orang itu adalah Yohan yang sekilas Fen lihat adalah adiknya Jianmian. Mau dilihat seperti apapun Yohan sangat mirip dengan adiknya. Jadi wajar jika Fen selalu mengira kalau adiknya hidup lagi.


"Apa kau akan mati,…… Ibu?" tanya yohan.


"Aku…… bukan ibumu!?" ujar Fen.


………


"Aku tahu." ujar Yohan yang membuat Fen terkejut.


"…… Begitu…… Jadi kau sudah tahu sejak awal. Heh… berarti selama ini akulah yang dibodohi olehmu!? ha…ha ha ha…" Fen tertawa miris karena baru menyadari kebodohannya selama ini.


Yohan berjalan mendekati Fen yang tengah melihatnya saat ini.


"Apa? Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Fen bingung. Tapi sekejap dia mengerti dengan apa yang akan dilakukan Yohan. Mungkin Yohan akan menusuknya juga sama denga dua orang itu. Karena itu dia…


Seeeet!?


Yohan mencabut kedua pedang yang menancap di dada dan perutnya. Fen hanya menatap heran Yohan. Dia tidak mengerti, kenapa yohan melakukan itu, "Apa… maksudnya ini?" tanya Fen.


"Setidaknya kau harus terlihat sedikit terhormat saat kematianmu tiba." Kemudian Yohan mengangkat Fen dan membaringkannya ditempat tidur. Setelahnya dia duduk bersimpu di samping tempat tidur, "Sebelum meninggal, bisakah kau…… mengelus kepalaku sekali?" tanya Yohan sembari menundukkan kepalanya.


Fen hanya diam, lalu tangannya yang sudah berlumuran darah meraih kepala Yohan dan mengelusnya pelan. "Sudah kuduga, kau… mirip dengannya!?" ujar Fen sembari tersenyum kecil lalu akhirnya diakhir elusan tangannya terjatuh kebawah dan mengenai pipi Yohan. Dan darahpun ikut menempel dipipinya yang bersih.


...~~...


1673 kata


...SEMOGA SUKA!?...