
Dari kejauhan terlihat dua orang yang sedang bertarung. Salah satunya adalah kepala kelurga Wei dan yang satunya lagi adalah seseorang yang sedang menyamar menjadi kepala keluarga Huang. Mereka bertarung tanpa mempedulikan medan perang yang ada di belakng jauh dari mereka.
"Siapa kau? kenapa kau menyamar menjadi Chyou?" tanya Dunrui. Dia awalnya berpikir kalau yang bertarung dengannya adalah Chyou, kepala keluarga Huang. Namun jurus jurus yang dikeluarkannya bukanlah jurus jurus Yang dimiiki Chyou. Dia menyimpulkan kalau pria yang sedang bertarung dengannya ini sama sekali bukan Chyou, melainkan orang lain yang sedang benyamar.
Orang itu melepas kulit palsu yang ada diwajahnya dan memperlihatkan seorang pemuda yang rupawan. Wei Su Shin. Atau bisa juga dipanggil Shin. Dia sebenarnya sudah membunuh Chyou dan mengelupas kulit wajahnya untuk menyamar menjadi Chyou.
Dunrui membalalakkan matanya kaget ketika melihat salah satu orangvyang paling merepotkan dirinya. "Ternyata itu kau. Jika kau ada disini, itu berarti orang gila itu jugaada disini!? baguslah, aku tidak perlu repot repot untuk datang ke hutan terkutuk itu jika kalian datang sendiri kesini. Aku bisa membunuh kalian dengan mudah." ujar Dunrui sombong.
"Kau masih sama seperti dulu. Masih saja sombong!?" ujar Shin. Meskipun dia mengatakan itu, tapi mimik wajahnya mengatakan kalau dia senang. Kenapa? karena itu memberinya sebuah alasan kuat untuk membuat siksaan yang sangat kejam dan sadis untuk Dunrui. Dia, mengeluarkan sebuah pisau besar nan tumpul untuk bertarung.
"Wa ha ha ha ha ha ha… apa kau akan bertarung denganku menggunakan itu? haruskah aku berikan senjataku agar pertarungan ini adil?" ujar Dunrui. Sepertinya dia meremehkan senjata yang Shin bawa. Karena mana ada seseorang yang bertarung menggunakan senjata buruk seperti itu.
Shin tersenyum mendengar perkataan Dunrui, "Tidak, ini saja sudah cukup untuk membunuhmu!?" ujarnya tak kalah meremehkan. Perkataannya berhasil membuat Dunrui naik pitam. Itu terlihat jelas.dari wajah Dunrui yang mulai mengeraskan rahangnya.
Dunrui menyerang Shin dengan ganas bagaikan binatang buas. Karena mereka berdua sama sama pengguna elemen es, maka sekeliling mereka membeku dipenuhi es disertai hawa dingin. Dalam pertarungan Shin sebisa mungkin untuk tidak memberikan serangan fatal. Karena akan sulit baginya untuk menyiksa Dunrui nanti kalau dia sudah mati.
'Apa yang terjadi? gerakannya lambat, tapi kenapa aku selalu meleset?' pikir Dunrui. Itu karena Shin sebenarnya bergerak cepat hanya saja itu terlihat lambat. Dia mengayunkan pedangnya ke atas tepat di kepala Shin, tapi tepat setelah diayunkan yang terlihat hanya bayangan Shin yang tertebas.
JLEB
Tidak lama setelah bayangan Shin hilang, tangan yang berlumuran darah keluar dari dada Dunrui. Setelah tangan itu menembus dadanya terdengah sebuah suara di telinganya. "Bagaimana? sakit? hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi teruslah kesakitan dan membuat ekspresi seperti itu. Aku suka melihat wajah kesakitanmu!?" ujar Shin tepat disebelah kiri Dunrui. Dia kemudian menarik kembali tangannya yang sudah berlumuran darah.
Dunrui jatuh ke bawah dengan darah yang menetes dari dadanya.
Duak
Shin menendang Dunrui tept di luka yang dia buat. Ini lebih mudah dari yang dia kira. Namun sepertinya luka yang dibuatnya terlalu fatal sehingga bisa membuat Dunrui mati. "Kau itu kepala keluarga, bukan? kenapa kau begitu lemah? dasar merepotkan!?" ujar Shin sembari memberikan penyembuhan pada Dunrui. Penyembuhan yangvdia lakukan sedikit berbeda dari biasanya. Ini adalah salah satu jurus yang diberikan oleh raja naga.
Seni pertama naga air, ketenangan penyembuh.
Jurus itu dengan sangat mudah menyembuhkan luka yang bahkan sudah merusak paru paru dan jantung. Jurus itu bahkan bisa menyatukan kembali dantian yang rusak.
"K kenapa kau menyembuhkanku?" tanya Dunrui tidak mengerti.
"Kau akan mengerti kenapa aku melakukan ini." ujar Shin setelah selesai menyembuhkan Dunrui.
'Ini kesempatan!?' pikir Dunrui yang ingin menyerang Shin. Namun tubuhnya tidak bisa dia kendalikan sesuka hati. Bisa dibilang tubuhnya lemas tak bisa digerakkan. 'Ini, apa yang terjadi?' pikir Dunrui yang tidak mengerti situasinya sekarang. Semua lukanya sudah sembuh, namun tubuhnya tak bisa digerakkan.
"Apa kau sudah mengerti sekarang?" ujar Shin dengan senyum ramahnya. Lalu…
"Ukh!?"
Dia kembali menusuk Dunrui dengan pisau tumpul yang dia pegang. Diputarnya pisau itu hingga keluar darah dari perut Dunrui. Darah yang sangat banyak. Shin kembali menarik pisaunya. "Bagaimana kalau kita mulai dari tanganmu? Setelah itu kaki, usus besar, usus kecil, paru paru, hati, ginjal, tenggorokan, lalu kemudian otakmu!? Jangan khawatir, aku akan memotongnya dengan rapi seperti seorang tukang daging yang memotong daging." ujar Shin disertai senyuman senang.
Saat ini Dunrui tak percaya kalau dia saat ini akan merasakan ketakutan yang amat sangat besar. Ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dia hanya bisa berharap agar seseorang datang menolongnya segera. Namun tak lama dia melihat Shin mengeluarkan kapak besar yang biasa memotong kayu.
"Hm? apa kau takut? tenang saja, jangan takut. Ini hanya akan terasa sakit sedikit. Setelah itu kau pasti akan terbiasa dengan rasa sakitnya." ujar Shin sntai. Dia mengayunkan kapak besar ke tangan Dunrui, lalu…
Jrat!? Jrat!?
"AAAGGGHHHHH!?" teriakan itu sungguh memilukan. Karena saat ini tangannya sedang dicoba untuk dipotong. Dunrui hanya bisa menahan sakit yang tak tertahankan. Bagaimana bisa Shin mengatakan hanya sakit sebentar padahal rasa sakitnya sungguh luar biasa sakit.
"Ha ha ha ha ha ini bagian yang paling menyenangkan!? Ah, tunggu sebentar!? sepertinya kapaknya menyangkut ditulang!?" ujar Shin yang kesulitan mengangkat kapak yang menancap di lengan bagian atas. Akhirnya dengan sekuat yang dia biasa kapak itu terangkan dengan tangan Dunrui yang sudah putus. "Oh? tanganmu sudah putus ternyata. Sekarang, tinggal beralih ke tangan yang lainnya… hm~ hm~ hm~ " Shin besenandung dengan hati yang sangat senang, akhirnya dia bisa menangkap ikan besar hari ini.
"Nah, apa kau siap? aku mulai ya?!" Shin melihat ekspresi apa lagi yang akan diperlihatkan Dinrui padanya. Terlihat wajah keputus asaan dan ketakutan. Shin mengalus wajah Dunrui, ini adalah wajah yang paling bagus menurutnya. "Aku suka ekspresimu!? Itu sama persis ketika aku dan ibu tidak dianggap sebagai keluarga oleh mu. Kalian semua pada akhirnya membuat ekspresi yang sama. Apa mungkin karena kalian memiliki darah yang sama? Yah, tapi aku sama sekali tidak peduli." setelah itu dia melanjutkan kembali aktivitasnya yang menyenangkan dan penuh darah.
***
"Heh, apa aku harus berhadapan dengan wanita gila ini?" tanya Jiang jierui yang saat ini sedang berhadapan dengan Ling mei. Dia kesal karena lawannya adalah wanita gila yang saat ini sedang berbicara sendiri lalu ketakutan sendiri tanpa ada yang menakut nakutinya.
Ling mei senang karena pekerjaannya akan selesai sebentar lagi. Tapi dia tetap saja takut. Bagaimana jika dia kalah? lalu mati ditangan Jierui? Ling mei selalu terbayang bayang akan kematian yang menghantuinya. "Bagaimana ini? dia terlihat sangat kuat. Bagaimana jika aku kalah melawannya dan mati? bagaimana jika aku melakukan kesalahan lalu mati? Atau bagaimana jika aku membunuh diriku sendiri terus mati? Bagaimana jika nanti ada meteor jatuh lalu menimpaku dan aku mati? bagaimana jika… hu hu hu hu hu hu aku tidak ingin mati!?" pada akhirnya dia menangis karena pikirannya yang malakukan perjalanan begitu jauh.
Tanpa aba aba lagi, Jierui menyerang Ling mei tidak peduli dia siap atau tidak. Karena baginya Ling mei tidak lain hanyalah wanita gila yang sudah seharusnya dibasmi. Karena itu dia menyerang Ling mei tanpa pandang bulu. Namun sepertinya tidak semudah itu untuk membunuh gadis didepannya.
Dengan sangat cepat Ling mei pun mengayunkan pedang untuk menebas Jierui agar bukan dirinya yang mati. Dia mungkin akan kewalahan jika itu Dua tiga tahun yang lalu. Tapi sekarang berbeda, setidaknya dia bisa melihat pergerakan lawan dengan mudah.
Jierui menggunakan kekuatannya, yaitu elemen tumbuhan. Tapi sayangnya, di tanah yang gersang ini tak ada satupun tumbuhan yang hidup. Hanya ada akar yang kering, itupun sedikit. Jierui membentuk sebuah munster berbentuk ular besar dengan menggunakan akar akar kering yang ada didalam tanah.
Tidak ingin kalah, Ling mei juga membuat sebuah monster besar berbentuk burung elang besar menggunakan elemen besi miliknya. Pertarungan itu berlangsung cukup singkat. Karena pertarungan ini lebih mirip dengan pertarungan antar hewan karnivora. Tanpa mengulur ulur waktu Ling mei menebas kepala Jierui tepat setelah pertarungan kedua kekuatan besar itu selesai.
"Huff, akhirnya selesai." ujar Ling mei. Dia sudah lega, akhirnya pekerjaannya sudah selesai sekarang.
...~~...
1303 kata
...SEMOGA SUKA!?...