
Didalam tenda semua orang sudah tertidur karena sudah malam. Terkecuali satu orang yang masih terjaga. Jingmi keluar tenda untuk menerbangkan merpati dan memberikan informasi yang dia dapat. Termasuk dengan strategi perang yang dibicarakan tadi siang. Setelah berjalan cukup jauh untuk menghindari saksi mata, Jingmi menerbangkan merpati putih untuk diberikan pada Yohan. Namun akan selalu ada kendala yang datang.
Dia melemparkan pisau ke belakang untuk melihat siapa yang mengikutinya. Terdengar suara orang terjatuh ke tanah, ketika Jingmi melihat siapa itu ternyata dia adalah Gu bai. Jingmi berjalan mendekati Gu bai yang ketakutan melihatnya.
"A ampuni aku tuan!? aku berjanji tidak akan menceritakan ini pada siapapun!? asalkan tuan membiarkanku hidup aku berjanji tidak akan menceritakannya ke orang lain!?" ujarnya sembari memohon ketakutan.
Tapi sepertinya Jingmi tidak memiliki niat untuk menerima janji yang dilontarkan Gu bai. Dia menarik belati yang ada belakang pinggangnya dan mengayunkannya ke leher Gu bai. Belati itu berhasil menggores leher Gu bai hingga menetes darah merah.
Gu bai yang sudah ketakutan hanya bisa menutup matanya. Dia hanya bisa menunggu malaikan maut datang menjemput arwahnya. 'Ibu… maaf. Aku tidak bisa pulang saat panen dan mengurus ladang denganmu lagi.' pikir Gu bai mengingat kembali janji yang dia ucapkan pada ibunya.
"Aku akan memberimu diskon!?" ujar Jingmi tiba tiba.
Gu bai membuka matanya sedikit, "Hah? apa yang…"
"Ssssttttt!?"
***
Tiga minggu kemudian…………………… Perang dimulai………………
Perang yang mereka tunggu tunggu akhirnya dimulai melalui persiapan yang panjang. Mereka mengerhkan semua prajurid mereka sesuai kesepakan. Dan hari ini sepertinya bukan hari yang menguntungkan. Karena hari ini kabut yang begitu tebal ada di mana mana dan menghalangi pandangan para prajurit.
"Apa hari ini kita akan tetap berperang?"
"Entahlah, tapi aku rasa para atasan tidak peduli kita mati atau tidak!?"
Para prajurit sudah mengetahui apa yang akan dipikirkan atasan mereka. Karena sesuatu yang penting bagi orang orang kuat berkuasa adalah kemenangan. Bagi mereka kemenangan lebih penting dari pada nyawa manusia yang rapuh dan lemah.
"Apa kita maju duluan?" tanya Huang chyou yang menumpaki kuda putih dan berzirah perak.
"Terlalu beresiko jika kita yang menyerang duluan. Kita tidak tahu apa yang mereka rencanakan nanti." ujar kaisar Qi. Dibarisan depan yang memimpin adalah Kaisar Qi, Huang chyou dan jendral utama Qiu. Barisan tengah adalah Jiang jierui, Mo kangjian dan Lei tianba. Di barisan belakang adalah Yu bingjie dan Wei dunrui. Mereka Masing masing memimpim dua puh ribu prajurit di barisan depan, sepuluh ribu di barisan tengah dan dua puluh ribu di barisan belakang sesuai strategi yang mereka rencanakan.
"Aku akan mengecek ke depan agar tidak ada hambatan yang terjadi." ujar Chyou sembari menarik tali kudanya. Dalan keadaan yang berkabut, Chyou semakin jauh tak terlihat ditelan kabut.
Sudah cukup lama akan kepergian Chyou, namun tidak ada tanda tanda akan kemunculannya. Kangjian mulai khawatir sekarang. Haruskah dia juga menyusul Chyou? Namun jika dia juga menusul Chyou maka musuh bisa saja tiba tiba menyerang tanpa sepengetahuannya. Para prajuritpun sepertinya sudah mulai kelelahan bahkan sebelum berperang. Mereka mulai meragukan pemimpin mereka sekarang.
Tak lama, datang seseorang dengan kuda hitam menghampiri Kangjian. Dia adalah Lei tianba. Sepertinya wanita bertubuh kekar itu sudah mulai tidak sabar dengan lama menunggu. "Kenapa kita belum menyerang juga?" tanya Tianba.
Kaisar Qi hanya diam, tak lama datang seorang berkuda muncul dari kabut. Orang itu adalah huang Chyou. Dia kembali setelah sekian lama mereka menunggu kedatangannya yang lama.
"Apa yang membuatmu begitu lama?" tanya Kaisar Qi dengan nada kesal didalamnya. Dia juga seseorang yang tidak begitu suka dengan menunggu.
"Maaf, yang mulia. Didalam sana begitu berkabut. Tapi hamba membawa berita bagus, di depan ada pasukan Kaisar yang yang lebih sedikit dari pasukan kita. Sepertinya mereka meremehkan kita karena keadaan kita saat ini sedang lemah. Ini kesempatan kita jika kita ingin menghabisi mereka sekaligus!?" lapor Chyou pada kaisar Qi sembari tersenyum samar.
Mendengar laporan dari Chyou kaisar Qi menjadi sangat senang. Mungkin inilah saatnya untuk merebut negara Yan menjadi miliknya dan menjadi lebih besar lagi. Sekarang, dia sudah tidak peduli lagi dengan yang namanya sahabat. Karena sekarang yang penting adalah kekuasaan dan kekuatan yang tidak terbatas untuk menguasai dunia. Mungkin setelah kekaisaran Yan selesai, dia akan menargetkan kekaisaran lainnya. 'Aku akan menjadi raja yang paling berkuasa dan tercatat dalam sejarah. Asalkan tidak ada pria gila itu yang menjadi penghalang!?' pikir kaisar Qi memikirkan seseorang yang menyebalkan.
Kaisar Qi mengangkat pedangnya dan berseru, "SERAAAANNNGGGG!?" teriakan perang terdengar setelah itu. Mereka menyerbu maju melawan pasukan Kekaisaran Yan dengan gagah berani. Terkecuali dua orang yang masih duduk diatas kuda mereka dan belum tergerak sama sekali.
"Apa pria culun sepertiku tidak boleh tersenyum?" tanya balik Chyou sembari tersenyum miring.
Tianba mengerutkan keningnya dan semakin curiga, "Kau, siapa kau?" tanya Tianba yang sudah menodongkan pedangnya ke leher Chyou.
Seketika senyum mengerikan diperlihatkan Chyou yang terlihat semakin menyeramkan, "Aku adalah -----------n!?" ujarnya.
Tianba membelalakkan matanya terkejut dengan apa yang dikatakan Chyou yang sama sekali tidak dia percaya, "Kalau begitu, mereka…" Dia melihat ke arah pasukan menyerbu. Namun dalam sekejap…
Slasshhh
Kepalanya terpenggal.
Kaisar Qi terus maju beserta dengan pasukan yang mengikuti dibelakang. Seperti yang dikatakan Chyou, yang terlihat hanya sedikit dari yang diperkirakan. Mereka kurang lebih hanya dua puluh ribu prajurit infanteri dan itupun bukan prajurit elit. 'Heh, jadi selama ini aku hanya gelisah sendiri.' pikir Kaisar Qi puas akan sesuatu yang dia lihat sekarang. Dengan begitu mereka akan jauh lebih mudah menang. Dan yang memimpin mereka hanya ada dua orang Jendral kebanggaan kaisar Yan saja.
Slash crat
Dalam pertempuran ada yang terpotong, tertusuk panah, tertombak, terpenggal, atau terbagi menjadi dua. Di dalam kabut yang tebal semuanya dipenuhi dengan banjir darah para manudia yang haus akan kekuasaan dan ketamakan. Ada pula manusia yang tidak tahu apapun namun harus mati hanya karena ambisi para penguasa. Mereka mati dengan mudah.
Mereka bertempur habis habisan melawan pasukan Kaisar yan. Tampak pasukan musuh bertahan meskipun tak ada Kaisar Yan disana. Karena terlalu mudah dan gampang kaisar Qi menjadi curiga akan situasi yang dia hadapi sekarang. Dia berhenti mengayunkan pedang dan kudanya. "Tunggu, apa ini tidak terlalu mudah? atau…… apa aku yang terlalu bodoh?" tanya kaisar Qi pada dirinya sendiri.
Tiba tiba terdengar suara priwitan seseorang entah dari mana asalnya. Pasukan musuhpun terbelah menjadi dua bagian setelah mendengar suara itu. "MUNDUR!? SEMUANYA MUNDUR!? MUSUH TERLALU KUAT!? BAGI MENJADI DUA BAGIAN!? SEMUANYA, CEPAT!?" Mereka terbagi ke dua arah, ke kanan dan ke kiri disertai dengan pemimpin mereka. Itu membuat mereka lengah dan bingung. Apa yang terjadi?
"Kenapa mereka tiba tiba berpencar seperti itu?" tanya Jiang jierui bingung. Siapapun akan bingung dengan situasi yang tiba tiba senyap seperti ini.
"Aku tidak tahu. Tapi, apa kau melihat Tianba? Dia tidak kelihatan dari tadi. Bukankah dia yang paling bersemangat dengan perang ini?" ujar Kangjian. Dari tadi dia perhatikan sekelilingnya, semua orang terlihat terkecuali Lei tianba dengan Guang Chyou.
"Chyou juga tidak kelihatan dari tadi. Hanya ada satu kemungkinan…" mereka saling melihat satu sama lain jika mereka sependapat tentang apa yang terjadi pada mereka.
Untuk barisan belakang yang tidak tahu bagaimana kondisi barisan depan hanya bisa menunggu aba aba atau musuh yang mulai menerobos barisan depan dan tengah. Tapi sebelum dia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Seseorang menyerang secara tiba tiba hingga membuatnya harus melesat dari kuda coklatnya. Dia adalah pria yang menutupi sebagian wajahnya. Pria itu memiliki mata yang cantik, lalu pergi begitu saja.
Karena penasaran dengan siapa orang itu sebenarnya, Bingjie mengejar orang tersebut tanpa memikirkannya ulang. Dia mengejar pria berpakaian hitam itu hingga tak terasa kalau dia sudah keluar dari barisan.
"BINGJIE, INGIN KEMANA KAU?" teriak Dunrui ketika melihat Bingjie yang tiba tiba lari dari pertempuran. Namun sepertinya dia tidak memiliki waktu untuk mengkhawatirkan orang lain. Karena saat inipun ada yang sedang mengincarnya.
Tak lama setelah pasukan kaisar Yan mundur, datang kabut lain yang berwarna ungu di barisan depan. "Apa ini? kenapa tiba tiba ada kabut lain?" Namun, segera mereka sadari kalau ini bukanlah kabut biasa. Tapi…
Racun.
...~~...
1360 kata
...SEMOGA SUKA!?...