
Baru saja sehari Caca benar-benar tiada. Rasanya hidup mereka sudah berubah 180°, entah lah, mereka rasa, hidupnya terasa membosankan setelah Caca tiada.
Dodi sedang mengscroll akun Instagram nya. Banyak foto dirinya dan Caca di sana. Setiap melihat foto itu, pasti akan terlintas kenangannya secara tiba-tiba di kepala Dodi.
Dodi tersenyum, ketika melihat sebuah gambar, di mana gambar itu menunjukkan, semua anggota inti Alverage sedang memakai masker wajah. Dan Dodi sangat ingat sekali, ini semua terjadi, akibat paksaan dari Caca.
“Lo semua ingat foto ini kan?” katanya, sembari menyodorkan handphonenya ke arah Alzam dan Bima.
Mereka berdua mengangguk sambil tersenyum tipis. Tentu, mereka sangat ingat, momen apa saja yang terjadi pada saat itu.
Flashback on.
Hari ini mereka semua tengah berada di rumah Caca. Caca sendiri yang mengusulkan, karena merasa bosan, dengan suasana markas.
Caca memutar bola matanya malas, ketika semua temannya sibuk dengan dunianya masing-masing. Alzam dan Dodi sibuk dengan PlayStation nya, Raga sibuk dengan handphonenya, dan Bima, lelaki itu sedang berada di dapur, pasti sedang memasak makanan, karena lapar.
Memang itu kebiasaan Bima ketika berada di rumahnya, isi kulkasnya pasti akan di kubek habis oleh Bima, untuk di jadikan eksperimennya membuat masakan.
Caca berjalan ke arah kamarnya yang berada di lantai atas. Matanya tiba-tiba berbinar, ketika mendapatkan ide, untuk mengerjai teman dan sekaligus menguntungkan mereka itu.
Caca mengambil beberapa masker wajah di lacinya, setelah itu turun ke bawah untuk kembali ke arah mereka.
“Mau Bim,” pinta Caca, ketika Bima sudah berada di ruang tamu dengan memakan sesuatu.
“Masih ada di dapur, ambil aja sendiri!” suruh Bima acuh tak acuh, lelaki itu malah kembali memasukkan sendok kembali ke mulutnya, tanpa memedulikan Caca.
“Maskeran kuy! Biar wajah kalian glowing dan gak buluk,” kata Caca.
Dodi yang mendengar itu langsung meninggalkan PlayStation nya, dan berlari menuju Caca, “Yuk, biar gue tambah ganteng,” antusias Dodi.
Alzam yang di tinggalkan saat pertandingan pun memutar bola matanya malas. Padahal, dirinya sebentar lagi akan menang, tetapi Dodi dengan tidak sopan nya tiba-tiba melemparkan Stick itu, dan pergi meninggalkannya begitu saja.
“Tungguin gue selesai makan dulu elah, masih laper nih,” keluh Bima.
“Lo makan dulu aja, gue mau racik maskernya dulu, sesuai jenis kulit kalian,”
“Gak usah ribet-ribet elah, samain aja, yang buat glowing. Biar warnanya sama, gue mau buat foto-foto,” saran Dodi. Membuat Caca mengangguk antusias.
Dodi membersihkan wajahnya, mereka berdua di tambah Bima, memang sering melakukan maskeran bersama. Dengan Dodi yang mengajak, supaya wajahnya glowing, itu yang selalu di katakan lelaki itu.
Dodi dan Bima sudah siap, dengan menggunakan Bandu kucing di kepalanya. Kedua laki-laki itu tiba-tiba tenang dan teratur, ketika Caca akan memaskeri mereka.
“Yang rapi,” peringat Dodi, dengan wajah kakunya. Sebagian dari wajah lelaki itu sudah terkontaminasi oleh masker.
“Awas aja kalo enggak!”
“Gue mau bentuk maskernya pas di wajah gue!”
“Iya elah, ribet banget lo kaku!”
Setelah memaskeri Dodi, Caca beralih ke Bima. Lelaki itu tak banyak protes seperti apa yang Dodi lakukan, Bima hanya diam sembari menutup matanya.
“Selesai,” ucap Caca.
“Kan enak kalo maskerin si Bima, diem aja gak banyak protes. Gak kayak orang pertama yang gue maskerin. Udah maskernya dari gue, yang maskerin gue, tapi tetep aja protes!”
Melihat Dodi yang akan menghujaninya dengan bacotan, Caca berjalan ke arah Raga, dengan batu dan mangkuk maskernya “Gak usah banyak bacot! Masker lo retak, gue yang di salahin nanti!” maki Caca pada Dodi, membuat lelaki itu memutar bola matanya malas tanpa menjawab.
Caca dengan paksa, menggunakan bandu kepada kepala Raga “Apaan sih Ca?” protes Raga.
“Diem, biar lo makin ganteng!”
Raga menghela nafas pelan, lalu dengan pasrah lelaki itu mengangguk, mengiyakan apa yang Caca akan lakukan.
“Alzam lo sini, Raga bentar lagi selesai!” Suruh Caca.
“Gak!” tolak Alzam.
“Ayo lah, kita mau foto-foto ini, masa lo gak mau pakai masker, Raga aja pake,”
“Gue gak mau!”
“Gak!”
Caca melirik ke arah Bima dan Dodi, lelaki itu mengangguk. Membuat Caca mendekati Alzam berserta ke dua lelaki itu.
“Mau ngapain lo pada?” tanya Raga ngeri.
“Please..” ucap Caca, Dodi dan Bima. Mereka bertiga mengeluarkan puppy eyes nya, sambil menopang dagunya.
“Apaansi! Gak!”
“Alzam, please..” mereka kembali mengeluarkan jurus itu, membuat Alzam memutar bola matanya malas.
“Iya-iya!”
Mereka bertiga ber-tos ria, lalu mulai memaskeri Alzam.
“Gak usah banyak-banyak!” serunya tak suka.
“Apa nya yang banyak sih Zam?” timpal Dodi.
“Gue gak suka, sedikit aja. Lo semua kayak setan, kalo full masker gitu wajahnya,”
“Gak usah bacot Alzam, diem aja!” ucap Bima, ikut menimpali juga.
Setelah semua wajah termaskeri, Caca menahan tawanya, ketika menatap teman-temannya. Entahlah, tak ada yang lucu, tetapi hanya melihat wajah temannya, ia selalu ingin tertawa.
“Gak usah ngajak ketawa lo! Gue gak mau masker gue retak!”
Caca mengambil handphonenya, lalu membuka aplikasi kamera. Menyuruh teman-temannya mendekat, lalu mulai memfoto.
Mereka semua berfoto dengan bermacam-macam gaya, kecuali Raga dan Alzam yang hanya berdiam kaku, tanpa melakukan ekspresi.
“Senyum atau apa kek, kek tertekan lo berdua!” ucap Dodi.
“Emang,” balas Raga dan Alzam serempak.
Tanpa memedulikan mereka berdua, mereka semua kembali berfoto. Setelah itu, memposting di Instagram masing-masing dengan paksaan Caca, tidak boleh ada yang menolak.
“Tag gue Ca, biar followers gue makin banyak,” ucap Dodi.
“Pansos mulu perasaan,”
“Gak papa kali, masa lo gak mau sih? Temen lo terkenal,”
“Iya-iya!”
Flashback of.
“Gue inget banget tuh, muka si Alzam tertekan banget. Apalagi pas di paksa masukin fotonya di Instagram, sampai-sampai malemnya di hapus kan sama lo. Eh kebesokannya, Caca ngamuk-ngamuk, terus koar-koar sampai ke seluruh penjuru sekolah, akhirnya lo masukin lagi kan tuh foto,”
Alzam terkekeh mengingat kejadian itu, “Dia nyebelin sumpah, tapi demi apapun, gue kangen masa-masa itu,”
“Gue juga sama, gue kangen muka glowing gue abis maskeran,”
“Kita ke rumah Caca kuy, siapa tahu kita dapet apa gitu? Peninggalan dua gitu, apa kek,” ajak Dodi.
“Tapi kita ke rumah Raga dulu, kata bunda dia sakit,” balas Alzam.
“Gak! Gue gak mau!” tolak Dodi.
Bima mengusap-usap bahu Dodi “Lo gak boleh kayak gitu Dodi, ini bukan salah Raga. Raga juga ngerasa kehilangan di sini, bukan cuman lo sama kita doang,”
“Tapi dia salah!”
“Gue tahu, tapi kita gak boleh salahin Raga gitu aja. Dia nyembuyiin ini semua gara-gara takut Caca marah, kita pernah denger alasannya kan? Jadi lo gak boleh kayak gini, kota harus laluin ini bareng-bareng.”
“Jadi lo belain dia daripada gue?!” tanya Dodi kesal.
“Bukan gitu... gue gak belain siapun. Masa, dengan kepergian Caca, itu membuat hubungan lo sama Raga renggang sih? Ini bukan kemauan dia juga, dia sampai sakit kan? Bahkan, dia kemarin gak ikut ke pemakaman, gara-gara dia masih gak nyangka Caca meninggal. Jadi lo jangan kayak gini, kita itu temen, kita harus laluinya bareng-bareng!”