
Caca menatap gedung di depannya dengan helaan nafas berat. Itu adalah markas alverage, wanita itu akan mengundurkan diri dari anggota inti geng ini.
Sudah waktunya bukan? Karena niat Caca masuk anggota alverage adalah untuk mencari siapa pembunuh kakak nya, dan sekarang? Pembunuh itu sudah di temukan, buat apa dirinya masih bertahan di dalam geng ini? Apalagi pelaku pembunuhan Kakaknya adalah ketua dari geng yang di tempatinya selama hampir tiga tahun ini.
Caca tersenyum miris, entahlah, rasanya begitu berat meninggalkan geng alverage ini. Banyak kenangan yang wanita itu alami selama hampir tiga taun ikut bergabung di dalam geng alverage, susah senangnya pun wanita itu sudah rasakan, tetapi keputusannya untuk mengundurkan diri sudah bulat, apa pun nantinya, Caca akan tetap mengundurkan diri.
Caca berjalan masuk, wanita itu menyiapkan senyum termanisnya hari ini, menghela nafas lalu menghembuskannya secara perlahan.
“Hello everybody! Caca cantik datang nih,” Seru wanita itu heboh.
“Bawa makanan gak?” Todong Sigit, menghalangi di depan pintu.
“Kagak, buru-buru soalnya hehe,” cengir Caca, lalu berjalan di membungkuk untuk melewati tangan Sigit yang menghalangi jalannya.
Raga yang awalnya menampilkan wajah senggol bacok pun, berseri ketika melihat siapa yang datang. Raga berpikir, apakah wanita yang baru saja datang, sudah tak marah lagi padanya.
“Ca sini!” ajak Raga dengan wajah berseri.
“Yeh, tadi aja mukanya asem banget, udah kayak manusia-manusia bucin yang galau. Pas datang aja pawangnya langsung berseri-seri tuh wajah!” cibir Dodi, yang sendari tadi kena amukan Raga.
Caca tersenyum, membuat Raga yakin Caca susah memaafkannya.
Caca mendekat, lalu membuka jaket alverage dan duduk di dekat Raga dan yang lainnya. “Gue mau ngundurin diri dari geng ini secara terhormat sekarang,” ucap Caca, menyodorkan jaketnya ke arah Raga.
Semua orang yang mendengar kata mengundurkan diri, tiba-tiba menghentikan aktivitasnya dan dengan spontan menatap Caca dengan pandangan bermacam-macam.
Semua orang mendekat, ke arah tempat duduk Caca, mendengarkan apa kelanjutan yang di ucapkan oleh perempuan itu.
“Gak usah bercanda soal beginian deh Ca,” ucap Dodi di angguki orang yang sedang berada di sana.
“Tau Lo! Gak usah bercanda soal beginian, gak lucu!”
“Lawakan Lo gak lucu Ca!”
Caca menghela nafas pelan, kenapa semua temannya malah mengganggap dirinya bercanda? “Gue lagi gak bercanda, gue emang mau ngundurin diri,”
“Kenapa?” tanya mereka serempak.
“Gue gak bisa jelasin semuanya disini,” balas Caca.
“Pokonya gue mau keluar dari geng ini baik-baik aja. Jadi, thanks buat kalian yang udah mau dengerin ocehan berisik gue setiap saat, gue pamit. Bye-bye!” Caca hendak keluar dari markas, tetapi Raga mencekal tangannya.
“Jangan kayak gini, gue mau ngomong berdua sama Lo,” lirih Raga, sambil menatap Caca sendu.
“Gue lagi ada urusan, lain kali aja.” Ucap Caca, berusaha melepaskan cekalan tangan Raga di tangannya.
“Ca, jangan kayak gini gue bilang! Apaansi? Pakai acara keluar-keluar segala! Ini masalah pribadi kita, kenapa lo sampai bawa-bawa kesini!” sentak Raga tak suka, sedangkan anggota yang lainnya hanya menyimak, ada apa diantara mereka berdua? Itulah pertanyaan di benak mereka yang mendengarkan.
“Jelas! Ini masalah lah buat gue! Bagus Lo tiba-tiba keluar kayak gitu?keren Lo? Ini masalah kita! Kenapa Lo sampai berani keluar dari alverage kek gini?”
“Gue tanya, buat apa gue masih disini? Gak ada tujuan lagi gue disini. Gue masuk ke geng ini, buat cari siapa pembunuh kakak gue! Dan gue udah temuin siapa orang itu, kenapa gue masih disini?” Caca menaikkan satu alisnya bertanya.
“Pokonya Lo gak boleh keluar!” tekan Raga.
“Dan satu lagi alasan gue kenapa mau keluar dari geng ini! Ketua alverage itu lo! Dan gue gak mau berurusan lagi sama Lo! Dan seharunya Lo paham akan hal itu!” Caca menaikkan satu sudut bibirnya, dengan kekehan kecil terus keluar di mulut kecil perempuan itu.
“Gue ketuanya disini! Dan gue berhak larang Lo buat keluar dari geng ini!” ucap Raga, dengan kata-kata yang penuh di tekanan
“Lo egois! Terserah Lo sih, pokonya gue tetap mau keluar disini! Dan asal Lo tau, gue juga berhak! Memilih keluar atau menetap di geng ini!” final Caca, setelah mengatakan itu, Caca keluar dari markas.
Raga mengusap wajahnya kasar, “BANGSAT!” umpat lelaki itu, menendang kursi di depannya, lalu terduduk dan menutup semua wajahnya.
|•••|
“Ada masalah apa sih Lo sama Caca Ga? Gue baru liat Caca semarah itu selama kita temenan,” ucap Bima, ketika berada di ruang pribadi, hanya berempat saja.
“Terus, dia bilang dia udah tahu siapa pembunuh kakaknya, kok gue gak tahu,” tambah Bima.
Raga menundukkan kepalanya di lipatan tangannya, perasaan lelaki itu kacau sekarang. Raga marah kepada dirinya sendiri, kenapa sampai bisa kelepasan membentak Caca tadi, apa Caca akan semakin membencinya?
“Ada masalah apa sih anjir? Kok Lo malah diam? Bikin penasaran aja sumpah!” kesal Dodi, pasalnya lelaki itu tak bisa menahan jiwa keingin tahuannya.
Raga mendongkak dengan gerakan lesu, laki-laki itu tiba-tiba menjadi tidak bersemangat, “Caca tahu kalo gue adalah pembunuh Kakaknya,”
“HAH?!” kaget Bima dan dodi. Apakah kedua lelaki itu tak salah mendengar? Raga adalah orang yang sudah membunuh Saka Kakaknya Caca.
“Apa maksud Lo? Lo orang yang udah bunuh kakak Caca?!” kaget Dodi, bahkan lelaki itu sampai hampir mengeluarkan semua bola matanya.
Raga lagi-lagi menghela nafas, lelaki itu akhirnya menceritakan semuanya kepada Dodi dan Bima yang tidak tahu menahu soal persoalan ini.
Bima tiba-tiba terkekeh, ketika selesai mendengar cerita dari Raga, “Bukan Caca doang yang ngerasa lo bohongin Ga. Tapi gue sama Dodi juga secara gak langsung udah Lo udah bohongin. Lo tau kan? Gimana uring-uringanya Caca, gimana ambisnya Caca, gimana bersemangat nya Caca, buat tau siapa pembunuh kakaknya, Lo tahu itu kan Ga? Kenapa dengan teganya lo bohongin dia selama ini,” Bima menutup wajahnya, merasa tak habis pikir, dengan apa yang di lakukan Raga.
“Gue aja yang bukan pihak Lo bohongin, kecewa dengan apa yang Lo lakuin Ga. Apalagi Caca, betapa kecewa dan marahnya dia, ketika dia tahu Lo bohongin, dengan waktu yang emang gak sebentar. Apalagi dia selalu ngandelin lo, gimana dia gak marah? Coba Lo yang jadi Caca Ga, di saat orang yang lo paling percaya, tenyata dia yang tahu semuanya, bahkan orang yang udah ngelakuin itu! Gimana perasaan Lo? Kalo Lo ada di posisi Caca sekarang? Kalo gue, terus terang, gue bakal habisin Lo!” tambah Bima.
Dodi yang dari tadi diam mendengar pun ikut terkekeh “Lawak Lo!” Seru lelaki itu.
Dodi melirik Alzam yang sendari tadi diam, tanpa sama sekali merespon, “Lo tahu semuanya?”
Alzam hanya mengangguk kecil, menjawab pertanyaan Dodi.
Dodi tertawa, lelaki itu merasa di bohongi, oleh kedua temannya “Lo berdua anggap gue sama Bima apa? Bagus Lo berdua sembuyiin ini dari kita, bahkan dari Caca sekalipun? Lo berdua anggap kita apa?!”
“Maaf, maafin gue. Awalnya, gue deketin Caca emang pyur buat bales dendam sama kakaknya, tapi lewat Caca. Lama kelamaan gue malah ada perasaan sama dia. Gue awalnya mau jujur soal pembunuhan ini, tapi gue takut dia marah. Dan sekarang, gue nyesel sembunyiin semuanya selama ini, bukan marah doang, tapi Caca juga udah benci sama gue,”