
Caca mengendarai motornya sedikit cepat, supaya dirinya tempat waktu datang ke markas. Memang salah dirinya menaktor waktu, jadi dirinya harus cepat-cepat.
Caca merilik spion, merasa delapan motor itu mengikuti dirinya. Ternyata benar, sendari keluar dari rumah sakit, motor itu sudah mengikuti dirinya.
Caca berbelok arah, benar saja, delapan motor itu juga mengikuti Caca untuk berbelok, "****, enam belas orang," umpat Caca.
Memang, karena motornya ada delapan, setiap satu motor bonceng dua orang. Jadinya ada enam belas orang yang mengintainya.
Caca menaikan kecepatan motornya, mengindari enam belas orang itu. Bisa-bisa dia meninggal ditempat, kalau tertangkap.
Setelah lama kejar-kejaran menggunakan motor, akhirnya Caca memilih berhenti. Percuma saja dia menghindar, toh tidak akan berhasil.
ia salah memilih jalan, harusnya lanjutkan saja supaya sampe di markas. Lah ini, malah belok ke tempat yang Caca tak tahu kemana. Bodoh, gadis itu memang tak tahu tempat.
Caca turun dari motor, lalu membuka helmnya menghadap ke arah kaca spion, setelah puas dengan wajahnya, gadis itu mengalungkannya helmnya ditangan, lalu menghadap ke arah enam belas orang itu sembari bersidekap dada.
"Anjir, berasa keren aja gue. Dah kayak pemain laga. Ahaha," batinnya sembari tertawa.
Caca berdecak, sembari menatap remeh mereka, "Ck, ck, ck, fans saya ternyata fanatik semua, sampai dikejar-kejar saya," ucap Caca geleng-geleng takjub, berusaha menormalkan raut was-wasnya.
"Mau minta tanda tangan? Mana bolpoinnya, saya sedang tidak membawa bolpoin," Caca mengadahkan tangan, meminta bolpoin dan bersiap menanda tangan.
"Gak usah bercanda lo!" Tukas salah satu orang disana.
"Siapa yang bercanda bego? Kalau kalian bukan fans gue? Terus siapa?" Tanyanya nada angkuh, padahal dari tadi jantungnya sudah ketar-ketir.
“JANGAN BANYAK BACOT LO ANJING!" Satu pria mendekat hendak melayangkan pukulan, tetapi sayangnya kalah cepat oleh Caca.
Bugh!
Caca memukul kepala itu menggunakan helm yang ada ditangannya, "Ups, sorry kelepasan," Caca menutup mulutnya sok kaget.
"Serang!” Ringisnya kesakitan, sembari memegang kepalanya semua orang maju melawan, tetapi Caca mengangkat satu tangannya.
"Eitss, tidak semudah itu," Caca mengambil pisau lipat yang ada disakunya dan..
Srettt! Srettt! Srettt!
Srettt!
Empat orang berhasil Caca tusuk perutnya, "Adu, adu-aduah. Wangi kedamaian," Caca menghirup pisau yang bersimbah darah itu, lalu kembali memakai helmnya, jaga-jaga takut ada yang memukul kepalanya.
Bugh!
Bugh!
Dua pukulan mengenai kepala serta perut Caca membuat gadis itu sedikit terhuyung kebelakang, "Untung nih pala pake helm, kalau enggak bonyok nih pasti,” ucap Caca, mengusap-usap helm membanggakannya.
"Sakit kan lo, pukul helm gue?" Caca mendekat untuk membalas, memegang bahu lelaki itu, lalu membenturkan kepala dirinya
dengan dia.
"Benjol, benjol kan lo. Hahahahaha!" Caca tertawa, ternyata sangat menyenangkan, tidak seperti yang dipikirkannya.
"Anjir, kagak bisa dibiarin tuh bocah," laki-laki yang masih dibelakang berucap, ia menatap lelaki yang sedang dipegang oleh Caca, supaya mengalihkan perhatiannya.
"Huh hah, huh hah, capek gue, udahan ya!" ucap Caca dengan posisi seperti ruku sembari mengantur nafasnya.
Ia hendak berbalik menuju motornya, tetapi segerombol pria yang masih baik-baik saja menahan tubuh dan tangannya, membuat dirinya tak bisa bergerak sama sekali.
Bugh!
Bugh!
Ia kembali membenturkan kepala dirinya dengan dua lelaki yang yang memegang tangannya, membuat dua lelaki itu spontan melepaskan cekalannya.
Caca menghela nafas lelah, masih ada tiga orang yang mengungkung tubuhnya, ia tidak yakin bisa lolos. Orang yang sendari tadi memandori pertarungan ini, melangkah ke arah Caca yang masih berusaha melepaskan Kungkungan itu.
"Percuma sayang lo coba lepasin Kungkunganya, gak akan bisa," dia Bara, wakil ketua Libra rival gengnya.
Bara membelai pipi Caca setelah membuka helmnya, lalu mengacak-acak rambut gadis itu, "Maen sama gue yuk! Entar gue lepasin."
Lelaki itu mengeringai licik, membuat Caca berdecih dan memutar bola matanya malas. Meskipun terkadang otaknya lemot, Caca sangat paham arti dari kata 'maen' yang disebutkan Bara.
Bugh!
Karena kaki Caca tak ditahan sama sekali, ia jadi masih bisa leluasa menendang apapun, termasuk aset berharga milik bara.
"Masih mau maen, hm?" Semua orang yang ada disana bergidik ngeri, seolah ikut merasakan apa yang dirasakan Bara.
Apalagi Bara sampe berguling-guling diaspal, mereka juga tahu, gadis didepannya itu tak akan menendang sesuatu dengan pelan.
"Anjing, awsss! Berani-beraninya lo!" Umpat Bara masih berguling-guling disana.
Perintah Bara membuat semua orang mengangguk mengiyakan.
"Ah, lo semua mah gak asik,maennya keroyokan," ucap Caca menahan gemetar dikakinya. Bohong saja, kalau wanita itu tidak takut.
Sekitar sepuluh orang mengerumuni Caca,kemana yang enam orang lagi? Mereka sudah terkapar lemas gara-gara tusukan yang diberikan Caca dibagian perut mereka.
"Gimana? Udah siap kita keyorok? Atau mau maen-maen dulu, hm?” Tanya lelaki itu, jangan lupakan smrik yang dia berikan.
"Siap-siap aja, kalau dikeyorok sama pengecut. By one kalau berani!" Tantang Caca dengan beraninya, membuat mereka semua langsung tersulut emosi.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Empat pukulan langsung diberikan didaerah pipinya. Bahkan, sudut bibirnya pun sudah robek dan berdarah, bukan hanya itu, hidungnya pun ikut berdarah.
"Gak ada apa-apanya inimah," ucap caca bohong. Yakali bener, ini mah sakit banget woy!!
Bugh!
Bugh!
Bagian perut dirinya yang menjadi sasaran, membuat darah langsung keluar dari mulutnya. Tampilan Caca sangat mengenaskan sekarang, darah dimana-mana, terutama diarea wajahnya.
"Masih bilang gak ada apa-apanya, hm?" Tantang orang itu.
"Gak kerasa, cemen lo!"
Caca memang cari mati, udah tahu nyawanya lagi diujung tanduk, tetep aja ngeles kagak apa-apa. Motto hidup Caca terhadap musuh adalah : Tetap gengsi meskipun mati.
Hendak lelaki itu kembali melakukan pukulannya, suara seseorang menginterupsikan mereka untuk berhenti.
"Berhenti!" Titah tajam dan dingin.
"Ke—Kevin?" Gagap mereka.
Masih ingat kan? Kevin adalah ketua geng Libra.
"Lepasin dia, bawa mereka ke rumah sakit, siapa suruh jadi pengecut lawan cewek keroyokan?"
Memang, setiap ada pertarungan, Kevin tak pernah sama sekali menyentuhnya apalagi memukul. Entah apa itu alasannya, lelaki itu hanya berbicara dingin padanya, tanpa sekalipun melukai. Bahkan Caca sempat berpikir, apakah Kevin tersesat masuk dalam geng sialan itu?
"Tapi bos, dia udah buat mereka sekarat!" Sanggah salah satu orang tak terima.
"berhenti atau lo gue depak!" Ancamannya, membuat mereka kicep.
Tidak ada yang membantah, mereka semua langsung berjalan ke arah motor, tidak lupa membopong teman mereka yang tertusuk.
Caca terduduk, "Ngapain? Lo gak pukulin gue juga?"
"Sama-sama," balasnya melantur dari pertanyaan Caca.
Caca memutar bola matanya malas, "Terimakasih tuan Kevin sudah membantu," Caca sedikit membungkukan kepalanya dalam posisi duduk.
"Gue mau minta balesan," ucap Kevin.
“Dih, pamrih banget lo bantuin orang," dengus Caca sembari mengusap hidupnya kasar, membuat darahnya meleber kemana-mana.
"Bacot lo, gak ada yang gratis di dunia ini," Kevin menggendong tubuh Caca ala bridal style, membuat gadis itu berjengkit kaget.
"Eh, turunin anjir! Lo kira gue kagak bisa jalan apa?" Caca berontak, sambil terus memukul punggung Kevin.
"Diem!" Titah tajam.
"Turunin gue bilang!"
"Diem!”
"Lo mau bawa gue kemana sih?Pakai gendong-gendong segala!" Kesal Caca.
"Obatin lo!" Balas Kevin.
Hendak Caca membalas perkataan Kevin, tetapi Kevin menatapnya tajam, "Gue gak minta persetujuan, inget, lo masih punya hutang karena gue udah bantuin lo!"
"Tapi gue gak merasa terbantu," tak tahu terimakasih memang, kalau saja Kevin tidak ada. Bisa-bisa Caca akan meninggal di mtempat tadi dan apa tadi ria bilang? Dia tidak sama sekali merasa terbantu Kevin mengabaikan ucapan Caca, ia langsung menyimpan wanita itu dijok penumpang. Ia sudah lama ingin berbicara empat mata dengan wanita ini.