
Mengambil alih botol, Caca memejamkan matanya sambil berdoa, ia harap bukan dirinya lagi yang kena. Setelah selesai membaca doa dalam hati, ia membuka matanya lalu mulai memutarkan botolnya diantara mereka bertiga dengan raut wajah serius dan berujar dalam hati semoga bukan dirinya.
“Hahah gak ahli lo,” tertawa Dodi, ketika botolnya kembali berhenti di tubuh Caca. Padahal, gadis itu sendiri yang memutarkan botolnya.
“HAHAHAHAHA, SENJATA MAKAN TUAN KAN?”
“ANJIR SUMPAH, BODO BANGET SI LO!”
“Hahaha.”
Mendengar tertawaan mereka yang belum berhenti, membuat Caca tidak terima, ”Gak, gue gak mau, gue kan yang muterin, masa iya gue yang kena lagi sih?” Kesalnya. Padahal sebelum memutar botolnya dia sudah berdoa, tapi tetap saja dia yang kena.
“ITU NAMANYA KONSEKUENSI BODOH!" Serempak Dodi dan Bima.
“Tapi gue gak mau, gue kan udah tadi!” Tolak Caca masih tidak terima.
“POKOKNYA LO—“
“Diem,” ucapan bernada dingin nan tegas itu membuat mereka semua berhenti berceloteh. Yap, itu suara Raga, siapa juga yang berani kepada Raga kalau suaranya sudah seperti ini.
“Gara-gara lo!” Bisik Dodi sambil menyenggol badan Caca.
“Dih, lo berdua kali!” Jawab Caca tak kalah berbisik juga.
“Lo anjir, jangan nyalahin kita, ya gak Dod!” Celoteh Bima yang masih menyalahkan Caca, padahal Bima dan Dodi lah yang tertawa keras.
“LO BERTIGA BISA DIEM GAK!” Bentak Raga, membuat mereka langsung kicep.
“Malam ini kita ditantang balapan sama geng Libra.” Lanjut Raga dengan nada kesal.
“Jam berapa bos?” Tanya Caca kembali berbalik hadap ke arah Raga.
“Sekarang!” Balas Raga sambil beranjak dari tempat duduknya.
Mereka semua berjalan keluar, setelah sampai di parkiran, Caca mendekati Bima. ”Bim, gue nebeng ya? Bensin gue cuman pas buat balik doang.”
“Beli lah anjir,” kata Bima.
Caca menjentikkan jarinya, “Nah, itu masalahnya. Gue gak punya duit, buat beli bensin.”
Bima mendengus, ”Percuma motor Ducati Panigale, motor termahal di dunia, kalau buat beli bensin aja gak punya,” cibir Bima.
“Tahu tuh, jual aja jual,” kompor Dodi.
“Meninggan motor jelek kayak gue, dari pada motor bagus kayak lo, buat beli bensin aja gak kebeli,” lanjut Dodi.
“Syirik banget lo berdua, gue gak bisa beli bensin karena gue gak punya duit receh, sorry aje nih.”
Caca mengeluarkan dompetnya, lalu mengeluarkan uang berwarna merah, untuk dijadikan kipas.
”Panas banget ya?” Kata Caca terus mengipas-ngipasi wajahnya.
“Sombong banget lo!” cCbir Dodi dan Bima.
“Gue sombong, karena ada yang disombongkan. Lah kalian? Gak bisa sombong ya?” Sindir Caca.
Melihat kedua temannya, mengeluarkan ekspresi kesal, Caca terkekeh, ”Canda, nih buat lo berdua. Gue nebeng, karena gue males nyetir aja, udah nggak usah cemberut.”
Melihat duit yang sudah didepan mata, membuat ekspresi wajah mereka berubah secara seketika, “Nah gitu dong, jangan sombong doang, kali-kali berbagi kek,” ucap Dodi, mengambil uang di tangan Caca.
“Harusnya lo berdua yang ngasih duit ke anak yatim piatu, supaya masuk surga, apalagi anak yatim piatunya itu gue.”
Melihat anak buahnya yang terus-terusan mengobrol, membuat Raga kembali menghela nafas, kapan bisa seriusnya sih? Dia sebagai ketua capek sendiri.
“Lo bertiga kagak perlu ikut!” Putusnya, lalu menaiki motornya.
“Eh, kok gitu sih Ga?” tak terima Dodi.
“Tahu tuh, kenapa kita gak dibolehin ikut sih?” Timpal Bima.
Raga menggeram, dirinya sudah kesal, sangat kesal dengan tingkah mereka bertiga, ”Kalo lo semua mau ikut, serius! Bisa gak sih? Apa-apa jangan dibecandain, karena kalian, kita telat! Hanya karena nungguin obrolan unfaedah kalian bertiga, paham!” Semprot Raga marah marah.
Suara deruman motor saling bersahut-sahutan, membuat suasana malam sekarang sangatlah ramai. Di dua kubu berbeda, setiap orang sedang meneriaki jagoan masing-masing, membuat suasana sirkuit semakin ramai.
“RAGA, RAGA, RAGA, RAGA!” Teriak suporter Raga.
“KEVIN, KEVIN, KEVIN!” Balas suporter Kevin tak mau kalah.
Teriakan itu tak pernah berhenti, malahan semakin kesini semakin kencang, ketika dua pembalap sudah sangat terlihat ke arah garis finish dan..
Blush!
Motor yang dikendarai Raga terlebih dahulu mencapai garis finish, membuat suporter Raga berhamburan ke jalan. Lebih tepatnya, ke arah Raga yang menang dalam balapan sekarang.
Sedangkan Raga sendiri, ia turun dari motornya dan menghampiri Kevin.
”Kunci motor lo,” ucapnya sembari menadahkan tangan.
Karena memang, perjanjiannya dari awal memang seperti itu yang kalah harus mengorbankan motornya bagi yang menang. Kevin berdecih.
”Lagi beruntung aja lo,” jawabnya sambil melemparkan kunci motornya ke arah Raga.
Raga terkekeh, ”Ia beruntung, lebih tepatnya selalu beruntung,” Kevin yang merasa tak terima, mendekat lalu memukul rahang Raga.
”Cih, gue emang selalu ngalah, buat orang yang gila menang kayak lo!” Decih Kevin.
Raga tersenyum, lalu membalas pukulan itu, ”Bilang aja, lo emang gak bisa kalahkan gue!”
“SERANG!”
Seruan Kevin tersebut membuat anggota Kevin maju, siap menyerang anggota Raga. Caca yang melihat ada perkelahian lagi, memilih mundur dan diam memperhatikan. Punggungnya masih sakit, akibat pukulan yang terjadi tadi pagi.
“Ayok Ga, pukul kepalanya! Desh, desh, desh!”
Caca diam memperhatikan, ketika ia dapat melihat tontonan secara gratis. Tangannya sendari tadi tak bisa diam dan melakukan gerakan, seolah sedang menonjok seseorang.
“Ayok terus, desh, desh, desh!”
“Cemen lo Dod, gitu aja dapet tonjokan! Ayo lawan!”
Ia mengusap air matanya yang tiba-tiba mengalir, karena menguap. Ia menepuk-nepuk mulut itu, lalu menenggelamkan wajahnya, dibedulan ducatinya.
“Ngantuk banget anjir, lama banget mainnya mereka.”
Caca merogoh sakunya untuk mengambil handphone. Ia akan menghubungi seseorang, untuk menuntaskan perkelahian ini.
“Halo pak, saya Caca melaporkan, bahwa dijalan xxx terjadi keributan, cepetan kesini, sebelum menumpahkan banyak korban.”
Tut!
Setelah mematikan sambungannya, ia berjalan menuju Raga, sesekali ia menendang ************ seseorang yang baru saja dilewatinya.
“Idah Ga, bentar lagi ada polisi,” ucap Caca.
“Kok lo tahu?” tanya Bima yang mendengar suara Caca.
Fyi, Caca memang berbicara dengan suara dan intonasi yang keras dan jelas.
“Iyalah tahu, orang gue yang nelpon nya,” balas Caca.
Semua orang yang sedang berkelahi menepuk jidatnya, “Bego!” Umpat mereka semua.
“Lah, apa salah gue? Gue cuman berhentiin keributan,” ucap Caca membela diri tanpa rasa peka sedikitpun, sialan.
Mendengar saksi akan adanya polisi, mereka semua yang berkumpul akhirnya segera melarikan diri dan membantu kawan kawan gengnya untuk segera pergi.
Entah malaikat macam apa yang merekomendasikan bayi goblok seperti Caca saat ini. Ah sudahlah, mungkin Tuhan sengaja menciptakan nya untuk menjadi bahan pukulan.
“Kenapa si lo pada liatin gue? Bukannya bersyukur dunia ini sudah tentram,” gerutu Caca setelah melihat dirinya jadi bahan penglihatan orang orang.