
Setelah sekian lama tak berhubungan, Alverage dan Libra kembali bertemu di sebuah sirkuit, mereka akan kembali balapan, dan menentukan siapa yang paling kuat di antara kedua geng itu.
“Setelah sekian lama kita gak ketemu, gue ketemu sama Lo lagi, sama versi yang lebih kurus dan masih tetap bodoh. Bodoh, karena masih percayai orang-orang yang udah jelas-jelas bohongin Lo,” Ujar Kevin terhadap Caca, yang berada tepat di depan lelaki itu.
“Apa maksud Lo!” Sahut Raga tak terima, ketika Caca di sebut bodoh oleh musuhnya.
Kevin yang melihat itu memiringkan senyumnya “Lo gak usah ikut campur! Ini urusan gue sama dia, bukan sama Lo!”
“Urusan Caca urusan gue juga!” Tekan Raga, lelaki itu hendak maju, tetapi dadanya di tahan oleh tangan Caca kecil Caca.
Caca menggeleng pertanda tak mengizinkan Raga melakukan yang tidak-tidak, dan berakhir kedua geng ini akan berantem hebat malam ini.
“Lama juga gak ketemu Lo. Terakhir kali kita ketemu, nyawa gue gak jadi melayang, karena aksi super Hero lemes kayak Lo,” Ucap Caca sembari tersenyum.
Kevin dan Dodi akan klop jika di sambungkan pada saat berghibah, mulut kedua laki-laki itu sama pedasnya, atau mungkin, mulut Kevin lebih pedas daripada mulut lemes Dodi.
“Gue gak tahu harus tersanjung atau terejek disini, yang pasti.... gue mau balapan sama Lo hari ini,” Ajak Kevin.
Caca mengangguk menyetujui, lagian, ini yang di tunggu-tunggunya, “Ok—“
“Gak! Lo tetap balapan sama gue!” Sela Raga tak terima.
“Tapi gue mau nya sama Caca,” Balas Kevin tenang.
“Gak! Lo tetap balapan sama gue hari ini!”
“Ya udah, berati Lo harus akuin kekalahan Lo disini, dan akuin bahwa libra lah yang paling kuat di bandingkan alverage,”
“Gak bisa gitu lah anjir!” Sambar Dodi ikut tak terima.
“Udahlah Ga, izinin gue ya...” Mohon Caca, sembari memegang tangan Raga.
“Gak! Lo itu ceroboh! Terakhir kali aja jatuh, gue gak mau Lo kenapa-kenapa!” Tolak Raga.
“Tapi kali ini gak akan kenapa-kenapa kok,” Ucap Caca, masih berusaha membujuk.
“Lo tuhan? Bisa nentuin, kapan terjadi atau enggaknya kecelakaan?”
“Enggak gitu maksud gue, sekali ini aja Ga, please, daripada Alverage ngakuin kelelahannya tanpa bertanding kan?” Caca berucap, sembari terus memohon.
“Pokonya enggak!”
“Izinin aja, Caca gak akan berhenti ngomong sebelum Lo izinin dia,” Ucap Alzam, menengahi.
“Kalo ada apa-apa, gue gak mau tahu dan peduli!” Final Raga, lalu pergi meninggalkan Mereka.
|•••|
Dua kubu saling bersahut-sahutan, apalagi ketika melihat Caca ikut balapan, setelah sekian lama perempuan itu tak mengikuti balapan ini.
Memang, sebelum masuk anggota alverage, Caca pernah berbalapan dengan Raga, dan perempuan itu yang menang. Selain jago Bela diri, wanita itu juga jago dalam balapan liar, ini juga alasan Raga memasukkan Caca ke dalam geng nya dulu.
“Satu.... dua... Tiga,” Bendera di layangkan ke atas, membuat kedua orang yang bersahut-sahutan motor, melanjukan motornya dengan kencang.
Raga melirik jam tangannya, ketika sudah setengah jam satu motor pun belum terlihat di penglihatannya. Biasanya, dua puluh menit sudah ada pemenangnya, tetapi kini, sudah setengah jam, tak ada sama sekali satu motor terlihat di penglihatannya.
Raga berdiri dari duduknya, perasaannya tiba-tiba cemas, ketika teringat Caca adalah perempuan yang sangat ceroboh.
“Diam dan jangan kemana-mana!” Peringat Alzam.
“Lo gila? Ini sudah setengah jam, bahkan lebih. Lo tahu kalo Caca ceroboh kan? Gimana Lo bisa, adem-adem aja, ketika wajah Caca pun belum kelihatan di penglihatan kita!” Raga menjelaskan dengan nada naik turun.
“Lo juga tahu kan? Kalo di tembak aja Caca gak mati, apalagi kalo di gimana-gimanain sama Kevin? Tunggu aja, gue yakin, Caca gak akan kenapa-kenapa,” Kini Dodi yang berbicara.
“Bener tuh Ga, Caca gak akan kenapa-kenapa, palingan Kevin yang kenapa-kenapa,” Sahut Bima.
“Jadi... Lo duduk tenang dulu sini,” Tambah Bima, lalu menyuruh paksa Raga agar duduk tenang kembali.
Raga tak henti-hentinya melirik jam tangan, ketika rasanya jam bergerak sangat cepat, sudah hampir satu jam, tetapi Caca dan Kevin sama sekali belum muncul di penglihatan.
“Kemana sih anjir!” Resah Raga kesal.
“CACA! CACA! CACA! CACA!”
Suara riuh di tribunya, membuat Raga mendongkak dan menghela nafas lega. Akhirnya, manusia yang di tunggu-tunggunya datang juga.
Melihat Caca yang meminggirkan motornya, Raga cepat-cepat menghampiri dan membawa perempuan itu ke pinggir untuk di wawancarai.
“Kemana aja Lo?! Satu jam, kenapa lama, ngapain aja? Lomba siput?” Sinis Raga
“Bentar dulu wawancaranya, Kevin datang,” Caca menjauh dari Raga dan mendekati Kevin dengan menadah tangan.
Terlihat Kevin yang memberikan kunci motornya, lalu membisikan sesuatu ke arah Caca, dan perempuan itu sama sekali tak mengelak, malah mengangguk saja, seperti mengiyakan.
Setelah itu, Caca kembali ke arah Raga, yang menganggapnya bertanya. Paham akan mimik wajah Raga, Caca bersuara.
“Kevin cuman bisikin, dia bakalan ngalahin gue lain waktu,” Ucap Caca, memberitahu.
“Terus? Tadi ngapain Lo lama?” Tanya Raga, mulai menginterogasi.
“Main gunting kertas batu, yang menang bisa menang balapan hari ini,” Jawab Caca.
“Gue serius Ca...”
“Lo pikir gue bercanda? Gue emang beneran main gunting kertas batu tahu. Gue sama Kevin sama-sama jago, jadinya untuk sekedar main gunting kertas batu aja, susah banget ngalahin satu sama lain. Tetapi pada dasarnya gue jago dalam segala hal, gue yang menang, makanannya gue menang balapan hari ini, dan menang motor ini juga dari Kevin,”
Raga menajamkan tatapannya, “Gak bohong?”
“Ngapain bohong sih Ga? Gak ada untungnya kan? Gue bohong sama Lo?”
Raga mengangguk juga akhirnya, mengiyakan apa yang Caca ucapkan.
“Tuh motor buat gue lah, gue mau ganti motor Ca,” Pinta Dodi dengan cengiranya.
“Nih, ambil aja.” Caca memberikan kunci motornya dengan Cuma-Cuma, membuat wajah Dodi berseri bahagia.
“Sayang banget sama Lo,” Ucap Dodi, lalu menaiki motor barunya.
Caca berdecih “Lo mah sayangnya ke gue pas kasih apa-apa, kalo enggak di kasih Lo gak sayang sama gue!”
“Nah itu Lo tahu, kalo Lo mau di sayang sama gue, kasih apa-apa sama gue setiap harinya, biar gue sayang sama Lo,” Balas Dodi, tanpa tahu malunya.
“Dih, Lo Kira gue mau di sayang sama Lo? Gak kali! Sayangnya Raga aja udah cukup bagi gue!”
“Bodo! Yang penting gue punya motor baru,”
“Nyebelin banget sumpah!” Kesal Caca.
Caca tiba-tiba mengambil handphonenya di saku, ketika ada yang meneleponnya.
“Halo nona, ada yang harus saya bicarakan bersama anda, mau sekarang saja atau besok?” Kata Alex di sebrang telepon.
“Soal apa?”
“Soal siapa yang sudah mengirim teka-teki ke rumah anda.”
“Besok aja lah, ini udah malam banget Lo istirahat aja,”
“Tapi saya ingin berbicara berdua saja bersama Nona, tidak dengan teman-teman menyebalkan anda,”
Caca tertawa “Iya, kita akan berbicara berdua saja,”
“Ya sudah kalo begitu, saya matikan dulu teleponnya. Selamat malam dan selamat beristirahat Nona,”
“Ya Alex, Selamat malam juga,”
Tut
“Ngapain tuh si Alex telepon malam-malam?” Ucap Raga ketus.
“Ada aja,” Balas Caca.