RAGASA

RAGASA
Ep. 25. Bersamamu Rasanya Berbeda



Dua insan lelaki dan perempuan, sedang menikmati angin malam yang menurut mereka sangat menyejukkan.


Raga menepikan motornya, ketika ada yang menelpon dirinya. Tertera nama Alzam di sana.


"Kenapa Zam?" tanya Raga, ketika sambungan telepon mereka tersambung.


"Markas diserang lagi!" Raga berdecak, lalu kembali melajukan motornya menuju markas. Caca yang dibonceng hanya pasrah saja, mengikuti kemana Raga pergi.


Sesampainya di markas, mereka berdua memelototkan matanya kaget, ketika markas lebih hancur, dari pada kerusakan yang pertama.


"Emang gak ada yang jaga daritadi?" tanya Raga.


"Gak ada Ga, semuanya jaga di rumah Caca tadi."


Raga Menghela nafasnya, "Siapa yang ngelakuin ini? Lo semua ada yang tahu?"


Kompak mereka menggeleng. Kembali Menghela nafas, kenapa bisa kecolongan sampai kedua kalinya. Saking ikut bersedihnya, ia sampai lupa harus berwaspada belakang-belakangan ini.


"Ga. Katanya Alzam nungguin lo di ruang cctv," ucap Sigit, anggota Alverage.


Raga mengangguk, lalu berjalan ke arah ruang cctv, diikuti Caca di belakangnya.


Dilihatnya Alzam sedang mengotak-atik layar di depannya. membuat Caca dan Raga mendekat.


"Gue gak tahu siapa, yang pasti itu bukan anggota Libra." kata Alzam.


Caca mendekat ke arah layar monitor, lalu duduk di sana, sembari mencermati siapa orang yang ada di layar cctv itu.


"Sial, dia pake masker!" umpat Caca.


Caca menjadi teringat kejadian tadi dan kejadian pas acara kematian opahnya, apakah itu orang yang sama.


Caca mengambil handphonenya, lalu menyambungkannya dengan layar. Ia akan melihat kejadian pada saat penembakan dua kaca pecah di siang hari.


Keadaan cctv di dalam nampak tidak ada yang janggal, tetapi ketika melihat cctv luarnya, jelas-jelas ada dua orang misterius yang memantau.


"Liat, ada orang yang sama dengan pakaian yang sama, kayak mantau acara opah gue. Mungkin orang ini orang yang sama, sama yang rusak markas sekarang," kata Caca.


Mereka mengangguk membenarkan asumsi Caca.


"Wait. Ada orang yang datang lagi dengan pakaian yang sama dan orang itulah yang nembak kaca di rumah lo, gitu?" ucap Raga, kembali mengamati layar di depannya.


"Menurut lo semua, mereka kerja sama?" tanya Caca.


Alzam menggeleng, "Enggak, liat aja dari gerak-gerik mereka yang sama-sama kaget. Ketika liat, ada yang pake baju sama kayak mereka sendiri. Dan terus, sebelum orang itu menembakan pelurunya ke jendela rumah lo, orang itu menodongkan pistolnya ke dahi orang yang satu lagi kan? Udah gue pastiin, mereka gak kenal, ataupun kerja sama," jelas Alzam.


"Menurut lo, ada masalah apa mereka tiba-tiba menyerang markas?" tanya Dodi yang baru saja datang dengan Bima.


Alzam mengedikan bahunya acuh, dirinya pun tak tahu, ada masalah apa orang itu, sampai-sampai menyerang markas Alverage untuk kedua kalinya.


Caca menyandarkan tubuhnya di punggung kursi. Ia memijat-mijat pangkal hidung, karena kepala terasa pusing. Ia lupa, hari ini ia melupakan semua obatnya, karena kematian opahnya.


"Rasanya, masalah datang bertubi-tubi akhir-akhir ini. Kasus kakak gue aja belum terungkap, sekarang ada orang misterius yang menyerang markas Alverage, terus ada orang misterius juga yang teror rumah gue, belum lagi opah gue ninggalin sekarang. Rasanya gue pengen mati aja, biar masalah yang gue hadapi ini hilang," kata Caca putus asa.


"Sebatang kara, banyak masalah nih bos, senggol dong, hahaha.."


Caca tertawa sumbang, gadis itu mengusap wajahnya kasar.


"Jangan gitulah anjir candaannya. Bingung, mau ketawa tapi takut dosa," ceplos Dodi.


"Ketawa ya ketawa aja kali, gue juga lagi butuh hiburan nih," balas Caca.


Caca melirik ke arah Bima yang ada disini, "Ngapain kesini? Jagain Bella, dia lagi hamil, lo malah tinggal sendirian."


"Dia lagi di rumah orang tuanya," jawab Bima.


"Lo berdua gak berantem kan?" tanya Caca.


Bima menggeleng, "Nggak lah."


"Baguslah kalau gitu. Kalau sampai ada apa-apa sama Bella, gue penggal pala lo!"


Bima mendengus, "Yang temen lo itu, gue apa Bella sih? Belain si Bella mulu perasaan."


Caca tak menjawab ucapan Bima, ia berdiri hendak keluar dari ruangan sumpek itu, "Gue mau pulang dulu, udah malem."


Melihat Caca yang akan pulang, Raga menghadangnya, "Gak, lo gak boleh pulang, rumah lo gak aman sekarang. Lagian, semua jendela lo pecah kan? Jadi jangan pulang dulu," ucap Raga.


"Semua jendela pecah? Bukannya dua ya?" tanya Dodi.


"Iya, tadi siang emang dua. Pas tadi gue ke rumah Caca semuanya jendelanya udah gak ada," jawab Raga, membuat mata mereka membulat.


"Lo gapapa kan Ca?" tanya Bima.


Caca menggeleng, "Kalau gue kenapa-kenapa, gak mungkin gue ada disini."


"Kek gak ada semangat hidup banget lo ngomong!" cibir Dodi berniat menghibur.


"Lah? Emang siapa yang semangat hidup? Gue kan pengen mati!" jawab Caca.


Raga menggandeng Caca keluar dari ruangan ini. semakin kesini, omongan Caca semakin melantur.


"Gue takut Caca gila," kata Dodi.


"Bukan Caca yang gila, lo semua yang gila!" damprat Bima, lalu meninggalkan dua manusia itu.


**


"Lo kelihatan banget capeknya, mau tidur di sini atau di rumah gue?" tanya Raga.


Mereka berdua sedang berada di ruang tengah, bersama anggota yang lainnya.


"Di sini aja," jawab Caca.


Raga mengangguk, lalu mengusap-ngusap kepala gadis itu lembut, "Lain kali, omongannya dijaga. Gak usah ngaur kayak tadi!" peringat Raga, membuat Caca mengangguk saja, sembari memejamkan matanya.


Berhubung Caca sedang tidur di paha Raga, Caca memiringkan tubuhnya untuk memeluk tubuh lelaki itu. Hendak kembali memejamkan matanya, suara teleponnya berbunyi.


"Siapa?" tanya Raga.


Caca membalikan handphonenya, supaya Raga bisa melihat siapa sang penelpon.


"Cakra? Cowok yang kemarin jalan sama lo?" Raga kembali bertanya.


Caca mengangguk, "Gue angkat boleh?"


"Terserah," jawabannya sok tidak peduli. Padahal, hatinya sudah mengumpati Cakra, kenapa berani-beraninya menelpon Caca di malam hari seperti ini.


"Halo kak Cak, kenapa?" tanya Caca, ketika sambungan telepon tersambung.


"Katanya opah lo meninggal, itu bener?" tanya Cakra.


"he'em, bener."


"Aduh, gue gak tahu. Sorry ya, gak bisa dateng tadi."


Melihat nada Cakra yang seperti tak enak itu, Caca terkekeh, "Gak papa kali, santai aja."


"Maaf banget, gue ikut berduka cita."


"Iya, gak papa. Makasih kak Cak."


"Yaudah kalau gitu, gue mau lanjut kerja lagi, gue matiin ya."


"Okay, bye-bye!"


Sambungan telepon mereka sudah terputus, membuat Caca kembali memasukkan telponnya kedalam saku.


"Kenapa dia nelpon?" penasaran r


Raga.


"bilang maaf, karena gak dateng pas belasungkawa," jawab Caca.


"Dia sebenarnya siapa lo sih?" ucap Raga, lumayan ketus.


"Temen."


"Gak mungkin, kenapa sampai jalan juga kemarin?"


"Gue sama lo juga kan sering jalan berdua, tapi kita temenan kan? Sama kayak gue sama kak Cakra."


Entah kenapa, Raga tidak suka, ketika Caca hanya menganggap hubungan mereka berdua hanyalah teman. Tetapi memang kenyataannya seperti itu, kejebak friendzone.


"Tapi tetep beda aja Caca," tak terima Raga.


"Terus mau lo apa? Gue pacaran sama kak Cakra?" tanya Caca sembari menaik-turunkan alisnya.


Raga berdecak.


"Nggak lah tolol!"


"Ya terus? Gue harus pacaran sama lo?" Caca tersenyum menjahili Raga.


Menjahili Raga adalah salah satu cara membuat mood Caca naik sedikit demi sedikit.


Raga mendengus, "Dih, gue gak mau!"


Caca tertawa, "Gengsi mulu, gue diambil orang, entar lo marah," ejek Caca.


"Percaya diri lo itu terlalu tinggi!" balasnya.


"Emang, gue selalu percaya diri buat milikin lo!" kata Caca, terus menerus menggoda Raga.


"Gak usah gombal!" Ketus Raga.


Meskipun berbicara ketus, tetapi wajah Raga memerah sampai ke telinga-telinga. Entah menahan amarah karena kesal atau blushing? Kita semua tak tahu itu, hanya Raga dan tuhan yang tahu.


Caca tertawa, melihat wajah Raga dan telinga lelaki itu yang memerah. Sangat lucu sekali.


Caca kembali memeluk perut lelaki itu dan menyembunyikan wajahnya.


"Gue gak gombal Raga, gue emang selalu percaya diri buat milikin lo."