RAGASA

RAGASA
Ep. 96. Pemakaman



Renita masuk ke kamar putranya dengan hati-hati. Pasalnya, banyak barang yang berceceran di bawah. Entah bantal, guling, atau semua barang-barang yang sudah pecah, mungkin akibat lemparan yang Raga buat.


Setelah kejadian di rumah sakit tadi, Raga pulang meninggalkan tempat itu. Lelaki itu menyangkal bahwa yang di lihatnya itu adalah Caca, padahal sudah jelas, memang perempuan itu yang di lihatnya.


“Sayang... ayok, pemakaman Caca, sebentar lagi akan di mulai,” Renita duduk di pinggir ranjang, sembari mengusap-usap rambut putranya.


Raga berbalik memunggungi, lalu menaikkan selimutnya sampai ke wajah. “Aku gak mau, Caca gak meninggal bunda! Aku gak mau ke sana!” 


Renita menghela nafas pelan, seraya mengusap-usap bahu belakang putranya itu “Jangan kayak gitu sayang, ikhlasin Caca,”


“Apa yang harus di ikhlasin sih Bun? Caca masih hidup! Apa yang harus aku ikhlasin?”


Kembali menghela nafas, Renita terus menguatkan putranya itu dengan usapan tangannya.


“Caca gak di bawa ke rumah dulu, langsung di makamin sama pihak rumah sakitnya. Awalnya bunda nolak, tapi pihak rumah sakit lebih nyaranin langsung si makamkan, karena kondisi  Caca yang gak memungkinkan untuk di bawa ke rumah,”


“Kalo emang kamu gak ikut, baik-baik di sini, jangan ngelakuin yang enggak-enggak, bunda pergi dulu.” Ucap Renita. Menepuk bahu puteranya, lalu pergi meninggalkan kamar itu.


Raga membuka selimutnya, lalu menatap langit-langit. Caca sudah berjanji tak akan meninggalkannya, jadi tidak mungkin Caca meninggal sekarang.


Menutup matanya, berharap setelah lelaki itu terbangun, semuanya akan kembali baik-baik saja.


|•••|


Di area pemakaman tampak sangat ramai. Semua anggota Alverage, teman-teman sekolah SMA Caca sendiri, rekan bisnis tuan Libertà, semua tampak hadir di tempat peristirahatan terakhir itu, kecuali Raga, hanya lelaki itu yang tak datang ke sini.


Semua tampak kehilangan dan bersedih. Ketika perempuan yang di kenal sangat ceria itu, tiba-tiba meninggalkan dunia dengan cepatnya.


Banyak yang tidak menyangka, atas kepergian Caca ini. Caca selalu terlihat baik-baik saja, dan tiba-tiba di kabarkan mempunyai penyakit kanker otak dan meninggal di usia yang masih terbilang dini. Itu tentu saja sangat mengejutkan.


Perlahan-lahan, area pemakaman mulai sepi, ketika orang-orang mulai meninggalkan tempat itu, hanya tersisa papah Wijaya, bunda Renita dan anggota inti Alverage.


“Bunda duluan ya? Raga sendirian di rumah, bunda lagi gak tenang tinggalin dia lama-lama,” ucap bunda Renita di angguki semuanya.


Bunda Renita berjongkok, lalu mengusap-usap batu nisan Caca, perempuan yang di anggap sebagai anak kandungnya sendiri.


“Bunda pergi dulu ya sayang, secepatnya bunda pasti ke sini lagi,” ucap Renita terus mengusap-usap nisan itu.


Perempuan itu berdiri, membuat dengan gesit, Wijaya merangkul pinggang wanita itu. “Bunda sama papah pergi dulu,” 


Mereka semua kembali mengangguk, membuat bunda Renita dan papah Wijaya meninggalkan pemakaman itu.


Tidak, tidak ada pergerakan dari mereka, setelah bunda Renita meninggalkan pemakaman. Mereka semua hanya diam menatap makam di depannya dengan tatapan kosong.


Alzam, lelaki itu terkekeh dengan tiba-tibanya, membuat Bima dan Dodi dengan spontan, menatap Alzam dengan wajah ngeri.


“Ini pemakaman kan? Kenapa tuh si batu tiba-tiba ketawa?” tanya Dodi pelan, sembari menyenggol tangan Bima.


“Kesurupan mungkin. Gue lagi gak bisa mikir, menurut lo Alzam kenapa?” Bima menggandeng tangan Dodi, dan malah balik bertanya.


“Gue juga mikir kayak gitu,” balas Dodi, membalas gandengan tangan Bima yang menggandengnya.


Terlihat Alzam yang berjongkok dan memegang nisan bernama Caca Queensa Libertà itu. Alzam kembali terkekeh, sembari memukul tanah yang menggunung itu dengan pelan.


“Lawak lo Ca! Lo dengan teganya tinggalin gue sama yang lainnya tanpa aba-aba, bagus lo kayak gitu?”


“Lo tempat cerita kita, terus kalau lo gak ada? Kita cerita sama siapa?”


“Bukan kesurupan bego, lagi sedih tuh si batu!” Dodi berbisik, sambil mengeluarkan handphonenya.


“Sana gih lo samperin, gue mau videoin si batu nangis. Kapan lagi kan? Kita dapet momen ini,” 


Bima mengangguk, lalu mendekati Alzam seolah-olah mengalihkan perhatian. Melihat itu, Dodi terkekeh kecil lalu memulai aksinya.


Aksinya baru saja di mulai, tetapi Dodi langsung saja mengakhiri itu. Semuanya tampak hambar dan tidak seru, ketika Caca tak ada di sini.


Memvideo Alzam yang sedang menangis adalah bentuk untuk menghibur diri. Tetapi ketika tak ada Caca, rasanya menjadi biasa aja. 


Menghela nafas panjang, lalu berjalan ke arah dua temannya yang sedang berjongkok dan ikut berjongkok.


“Katanya mau videoin si batu,” bisik Bima.


“Enggak jadi, tiba-tiba gak mood kalau gak ada Caca.” Balas Dodi, sembari menatap gundukan tanah di depannya.


“Baru beberapa jam gue di tinggalin lo, gue udah kangen berantem sama lo Ca,” ucap Dodi, sambil menepuk-nepuk tanah di depannya.


“Huh, cepet banget lo mati, pendek banget umur lo.” Tambahnya, mendapat geplakan di kepala oleh Bima.


“Sungut lo jaga Dodi!” sentak Bima.


Dodi memutar bola matanya malas, seraya mengusap-usap kepalanya  “Lo kan tahu kan Bim? Mulut gue gatel kalo sehari aja gak nyibir orang,”


“Emang Caca orang sekarang?” Bima menaikkan satu alisnya, sambil tersenyum.


Dodi terdiam mendengar ucapan itu. Benar juga kata Bima, Caca sudah berganti profesi dari manusia menjadi setan. “Oke, berhubung Caca beralih profesi jadi setan. Gue juga tambah profesi aja, yang awalnya nyibir manusia aja, sekarang gue nyibir setan juga, gampang kan?”


“Hati-hati lo Dod, ini pemakaman, kalo misalnya ada setan yang baperan dan gak terima lo cibirin. Terus setan itu tiba-tiba ngusik lo sampai entar-entar gimana coba?” 


“Lo berdua bisa diem gak sih? Ini pemakaman, lo berdua kagak bisa sopan? Kalo misalnya mau ribut terus di sini, mendingan pergi deh, biarin gue sendirian!” Intrupsi Alzam, membuat kedua lelaki itu diam.


“Maaf, di semasa hidup lo, gue gak bisa jadi teman yang baik buat lo. Kalo misalnya waktu bisa di putar, gue pasti akan coba itu meskipun susah. Gue gak akan bilang gak, kalo misalnya lo bilang ‘Zam, gue cantik kan?’ gue pasti bakalan bilang lo cantik, meskipun lo gak cantik-cantik amat.”


“Kalo Alzam bakalan bilang cantik, kalo gue sih enggak. Gue akan selalu bilang lo jelek, karena lo emang jelek wle,” sambar Dodi sembari menjulurkan lidahnya.


Dodi sedikit kecewa, ketika tak ada sama sekali pergerakan di dalam tanah kuburan, “Gak asik lo sekarang, tumben banget lo gak marah gue bilang jelek. Biasanya lo pasti bilang gini ‘Eh Dodi! Gak papa gue jelek, yang penting Raga bilang gue cantik!’,”


“Gak usah dengerin celotehan mereka Ca, dengerin gue aja.” Sahut Bima.


“Bella bentar lagi mau melahirkan. Dan tentunya, ponakan lo bentar lagi mau lahir. Lo kan, yang paling antusias sama kelahiran Bella? Sampai-sampai lo beli mainan sama baju banyak banget, buat anak gue. Bukan itu aja, lo juga yang paling posesif, sampai-sampai waktu itu gue kena marah sama lo, cuman gara-gara Bella lagi masak. Tapi sekarang, pas ponakan lo mau lahir, lo nya malah gak ada.”


“Tapi tenang aja, gue pasti ceritain semua tentang lo ke anak gue nantinya. Biar anak gue tahu, siapa lo nantinya,”