RAGASA

RAGASA
Ep. 21. Duka Mendalam



Caca berjalan dikoridor dengan tatapan tajamnya, tatapan yang pertama kali orang liat dari wajah itu.


Wajah yang selalu ceria dan menatap teduh semua orang, kini berganti dengan tatapan tajam dan menakutkan. Bahkan, semua orang yang biasanya menyapa, kini hanya diam, melihat tatapan itu.


Sedangkan teman-temannya, mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan Caca. Setelah mendapatkan telpon, wanita itu menjadi seperti ini.


Brukk!


Caca menendang pintu ruang BK keras, menampilkan wajah kaget orang tua temannya dan Bu Shinta.


“Ca, lo apa-apaan sih!” Peringat Raga. Karena menurutnya, Caca tidak sopan melakukan itu.


Caca tak memperdulikan Daga. Wanita itu masuk kedalam dan berjalan ke arah Bu Shinta.


“ini semua gara-gara lo anjing!” Teriak Caca sembari menunjuk wajah Bu Shinta dengan kobaran amarah.


Renita yang kebetulan ada disana mendekat, ”Kenapa sayang? Kenapa marah-marah?” Tanya Renita lembut.


Caca berbalik menampilkan wajahnya yang sudah bersimbah air mata, ”Gara-gara dia bunda, gara-gara dia!” Caca mengadu ke arah Renita, tidak lupa tangannya yang masih menunjuk ke arah Bu Shinta.


Renita memeluk wanita yang sudah ia anggap anak kandungnya sendiri.ia baru pertama kali, melihat Caca menangis, membuat wanita baperan seperti Renita ikut menangis juga.


“Opah bunda, hiks hiks hiks,” adu Caca, menangis tersedu-sedu dipelukan Renita.


Renita mengusap-usap punggung Caca. ”Kenapa sama opah sayang? Kenapa?” Tanya Renita.


“Opah kecelakaan dan gak bisa diselamatin. Kalau aja Bu Shinta gak nelpon opah buat kesini, opah gak mungkin kayak gini dan tinggalin aku bunda, semuanya karena Bu shinta!”


Semua orang melorot kaget, bahkan orang tua disana pun tahu, opahnya Caca seperti apa, karena Caca adalah teman anak-anaknya mereka.


Bu Shinta mendekat, lalu mengusap-ngusap punggung Caca. ”Maaf, tapi ini takdir, bukan salah saya dan jika anda menyalahkan saya, saya juga akan menyalahkan anda, karena anda lah, penyebab opah anda sendiri dipanggil kesini,” ucap Bu Shinta.


Tanpa tahu perasaan Caca seperti apa, Caca kembali berbalik ke arah Bu Shinta. ”Lo tahu kan? Gue anak yatim piatu? Lo juga tahu kan? Kalau opah gue pemilik sekolah ini? Dan lo pasti juga tahu, kalau hak dari sekolah ini akan diturunin sama gue sebentar lagi. Tapi kenapa lo masih panggil opah gue? Gue pemilik sekolah ini! Gue bisa lakuin apapun yang gue mau, termasuk pecat lo!”


“lo panggil semua orang tua temen gue! Tapi kenapa lo panggil opah gue? Kenapa lo gak panggil orang tua gue di dalam kubur? Kenapa lo panggil opah gue dan nyebabin opah gue juga bakal dikubur sebentar lagi!”


Wajar saja Caca berbicara seperti itu, wanita itu masih dikuasai oleh amarah dan melupakan siapa orang yang sedang berbicara dengannya ini.


“Hust, kamu gak boleh gitu sayang, itu orang tua, gak baik kamu berbicara seperti itu,” usapan lembut yang mendarat dari punggung Caca. Ia Menyadarkan gadis itu, bahwa apa yang dilakukannya itu salah sekarang.


Caca memejamkan matanya sejenak, lalu kembali membukanya beberapa saat, lalu menatap kembali Bu Shinta.


“Maaf Bu, saya tidak bermaksud seperti itu tadi. Maaf, jikalau saya keterlaluan, saya hanya belum bisa menerima takdir dan berakhir menyalahkan orang disekitar saya.”


Caca menunduk, merasa bersalah. Kematian opahnya, menjadikan dirinya brutal seperti ini. Bu Shinta mendekat, lalu memeluk tubuh Caca. ”Tak apa, saya paham perasaan kamu.”


**


Mereka semua tengah mengadakan pengajian dirumah Caca. Banyak teman-teman bisnis Libertà datang untuk berbela sungkawa. Bukan hanya itu, teman-teman sekolah Caca pun ikut datang, tidak lupa anggota Alverage yang menjadi keamanan. Caca memandangi jasad opahnya yang sebentar lagi akan dimakamnya, tidak ada tangisan dimata cantik gadis itu, gadis itu hanya memandangi jasad opahnya dengan senyuman miris.


“Opah bangun, opah gak sayang sama Caca? Sampai biarin Caca sendirian di dunia ini? Opah gak sayang sama Caca? Caca gak punya siapa-siapa lagi selain opah, kenapa opah tinggalin Caca. Opah bangun!” Caca menggoyang-goyangkan badan opahnya, tetapi opahnya tidak bereaksi apapun, membuat Caca frustasi.


“Opah bangun! Opah gak denger omongan Caca? Opah bangun! Kalau opah masih gak bangun, Caca marah selamanya sama opah!” Histeris Caca.


Raga mendekat, lalu memeluk gadis itu, tak ada yang diucapkannya, ia hanya ingin memeluk tubuh ringkih gadis di depannya, seolah berbicara lewat pelukan, bahwa Caca masih punya dirinya. Raga tak akan pernah membuat Caca sendirian.


“Ga, bilang sama gue kalau ini prank, bilang Ga!” Caca menggoyang-goyangkan tubuh Raga, menyuruh lelaki itu berbicara.


”Kameranya disimpen dimana Ga? Kameranya disimpen dimana?” Caca celangak-celinguk, membuat teman-temannya itu menangis, meskipun lelaki mereka juga memiliki perasaan, seolah sedang merasakan apa yang sahabatnya itu rasakan.


“Ca jangan kayak gini, jangan buat gue khawatir, ikhlasin opah lo,” ucap Raga lembut, tidak lupa mengusap-usap punggung gadis itu menenangkan.


Caca melepaskan pelukannya kasar, ia menatap Raga tak suka, “Ikhlasin lo bilang? Ikhlasin? Lo gila! Gue gak punya siapa-siapa Raga, gue udah gak punya keluarga, gue sendirian dan dengan mudahnya lo bilang ikhlasin! Gak waras lo!”


Melihat Caca yang seperti itu, Raga menangis. Dadanya sesak, jikalau melihat Caca seperti ini. Caca yang selalu ceria, kini tergantinkan dengan wajah bersimbah air mata.


Raga tak suka melihat wajah ceria itu kini tergantinkan dengan wajah sendu, ia seolah sedang merasakan hal yang sama dengan gadis itu. Ia paham perasaan yang dirasakan sabatnya sekarang, tapi mau gimana lagi, yang bisa Caca lakukan hanya mengikhlaskan.


Raga merangkak untuk kembali memeluk Caca, awalnya Caca memberontak, tetapi akhirnya Caca membalas pelukan Raga juga.


“Ga. Opah ninggalin gue, gue gak punya siapa-siapa lagi, terus buat apa gue masih disini? Buat apa gue masih ada di dunia ini Ga?” Tanya Caca.


“Buat apa gue masih di dunia ini?Sedangkann tujuan hidup gue udah ninggalin gue selamanya. SEMUA TUJUAN HIDUP GUE, NINGGALIN GUE GA!”


“Mamah, papah, abang dan sekarang opah. Mereka semua ninggalin gue, mereka gak sayang sama gue, mereka jahat hikss, mereka jahat Ga! mereka jahat!”


Caca terus berteriak histeris dipelukan Raga, membuat lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya.


“Tuhan sayang mereka Ca. Makanya tuhan ambil mereka dari lo. Bukan berati mereka gak sayang sama lo,” ucap Raga, berusaha menenangkan.


“Kenapa tuhan gak ambil gue juga? Apa tuhan benci gue Ga?” Tanya Caca sendu.


Raga menggeleng, “Stttt, jangan ngomong gitu. Tuhan sayang sama lo, tuhan tahu lo kuat, makanya tuhan kasih penderitaan ini sama lo, jangan ngomong gitu!” Peringat Raga.


Caca mengangguk dalam pelukan Raga, perempuan itu masih terisak. Caca tidak bisa membayangkan jikalau dirinya hidup sendirian, apa yang akan terjadi selanjutnya?


“Ga?” Caca sambil mendongak.


“Kenapa, hm?” Balasnya, sambil mengusap air mata yang keluar dari mata Caca.


“Gue gak punya keluarga lagi Ga, gimana caranya gue hidup sendiri?gue gak bisa gak? Gue gak bisa hidup sendirian,” adunya dengan mata kembali berkaca-kaca.


“Hey, kata siapa lo sendirian? Ada gue, ada anggota Alverage, mereka semua keluarga lo. Jangan takut, kita ada buat lo,” kata Raga lembut sambil mengusap-usap surai rambut Caca.


Bima, Dodi dan Alzam mendekat ke arah Caca seraya tersenyum, “Bener kata Raga, jangan ngerasa sendiri, kita ada disini, buat lo,” ucap Bima terduduk, lalu ikut memeluk Caca.


“Tahu lo! lo anggep gue apa? Masih aja ngerasa sendiri, ada gue nih? Dodi ganteng,” timpal Dodi.


Itu membuat Caca terkekeh. Meskipun terkadang Caca menyebalkan, tetapi ia tidak bisa melihat gadis itu rapuh seperti ini. Dodi ikut duduk, lalu memeluk tubuh gadis itu.


Mereka berempat menatap Alzam yang hanya menatap mereka, tanpa berniat ikut nimbrung pelukan Teletubbies ini.


“Kenapa?” Tanya Alzam, merasa kalau dirinya ditatap terlalu lama.


“Sini anjir, kita lagi pelukan Teletubbies juga, gak asik lo ah!” Jawab Dodi membuat Alzam bergidik.


“Gak,gue liatin aja!” Balasnya ketus.


Caca melengkungkan bibir ke bawah, “Alzam! Lo gak kasih kata-kata semangat buat gue gitu?” Tanya Caca sedih.


Gadis itu sudah cemberut, berharap Alzam akan merasa lucu padanya dan memeluk Mereka.


“Gak usah sok imut lo!” Ketus Alzam.


Alzam kembali bergidik karena merasa jijik dengan mereka semua yang tengah berpelukan, ditambah muka Caca yang sok diimut-imutin membuat dirinya semakin jijik.


Ketiga lelaki itu menatap Alzam tajam, karena bukannya menyemangati, Alzam malah membuat mood Caca semakin buruk.


Alzam berdecak, ”Semangat!” Ketusnya.


Dengan terpaksa Alzam bergabung dengan pelukan itu meskipun ogah-ogahan.


“Thingki wingki!” Kata Bima.


“Dipsi!” Sahut Dodi.


“Lala.”


Raga yang biasanya ogah-ogahan pun, sekarang berucap sukarela, supaya orang yang dipelukannya ini bahagia dan ceria.


“Poo!” Timpal Caca semangat.


Mereka semua kembali menatap Alzam, karena lelaki itu tak kebagian nama. Alzam menghela nafas berusaha sabar, ia bingung harus mengucap nama siapa? Orang dirinya tak kebagian nama? Kenapa teman-temannya itu terus-menerus menatapnya?


“Asep!” Final Alzam mengucapkan nama yang terlintas di otaknya.


“Asep saha anying?” Seru Dodi.


“Anjing lah!” Alzam nampak depresot.


Lelaki itu melepaskan pelukannya, lalu berjalan keluar. Dirinya meningan jaga di


luar saja, dari pada dijadikan badut oleh teman-temannya. Mereka semua tertawa, termasuk Caca. Melihat Alzam menderita adalah humor bagi mereka.


“Nah gitu dong, jangan nangis. Gue gak suka,” ucap Raga membuat Caca mengangguk lalu tersenyum ke arah lelaki itu.