
Caca Akhirnya bisa sedikit bernafas lega, ketika satu masalah bisa di selesaikan. dan setelah kejadian itu juga, Mona tidak pernah terlihat di penglihatannya, cewek itu seolah-olah menghilang, bahkan di sekolah sekalipun.
Tidak terasa juga, sudah satu bulan lebih Caca di tinggalkan oleh mendiang Opahnya dan sudah satu bulan lebih juga, Caca meninggalkan obat-obatan yang mendampinginya selama ini, entah karena lupa, bosan, atau malas, cewek itu selalu mempunyai alasan, untuk tidak meminum obat pahit itu.
Berati, sudah satu bulan juga Caca hidup sendirian dan kesepian. meskipun dirinya selalu di kelilingi banyak orang yang menyayanginya, tidak di pungkiri juga, wanita itu terkadang merasa kesepian.
Wanita itu menjadi teringat ketika dirinya dulu selalu di tinggalkan bekerja oleh Opahnya. Meskipun begitu, cucu dan seorang kakek itu tidak pernah terlewat untuk berkomunikasi, tapi sekarang? tidak ada yang bisa wanita lakukan, selain mengirimkan doa untuk Opahnya, cuman itu komunikasi mereka sekarang.
Caca menghela nafas, Wanita itu kini tidak meminta lebih untuk sembuh, ia akan menjalankan apapun dengan lapang dada apa yang di gariskan oleh tuhan, membiarkan semuanya terjadi, apapun endingnya, Caca terima dengan sepenuh hati.
Memegangi kepalanya yang semakin hari pening, bahkan nampak hampir setiap menit wanita itu merasa kesakitan di kepalanya. badannya pun sudah tak se segar dulu, selalu merasa kelelahan padahal tidak melakukan apapun.
"Woy, kenapa Lo!" Dodi berseru sambil menepuk bahu Caca cukup kencang, karena Wanita itu tengah memegang kepalanya.
Caca mendongkak sambil tersenyum "kemana aja Lo pada? liat nih jam, jam berapa?" Caca menadah tangan, menunjukkan jam tangannya kepada empat cowok yang baru datang di hadapannya.
Mereka semua duduk "Lo nya aja yang datang kepagian" Ujar Bima.
Raga mengusap-usap bahu Caca dengan lembut, "kenapa? sakit? " Raga menyimpan punggung tangannya di dahi cewek itu, mengecek apa wanita di depannya ini sakit atau tidak.
Caca mengambil tangan Raga, lalu mengusap-ngusapnya lembut "kagak apa-apa kali, kaga usah lebay!"
"Yakin Lo? Lo kenapa sih ca? akhir-akhir ini Lo kayak sering kelihatan kelelahan? megang pala terus, kadang juga Lo sering mimisan," Ucap Raga di angguki semuanya, mereka merasa ada banyak perubahan di tubuh Caca ketika opahnya meninggalkannya.
"Lo juga kurusan sekarang, kek orang cacingan." Timpal Dodi membuat Caca tertawa.
"Udah ah jangan bahas gue terus, gue gak apa-apa kali, kalian udah makan? gue traktir deh," Caca mengalihkan pembicaraan, ia tidak mau kalo teman-temannya selalu membahas tentang dirinya.
"Gak usah ngalihin pembicaraan Ca," Tegur Raga, karena sudah menjadi kebiasaan, kalo mereka membahas cewek itu, cewek itu selalu saja bisa mengalihkan pembicaraan.
"Apaansih Ga? gue gak kenapa-kenapa kali. cepetan pesen!"
(◕દ◕)
Raga dan Caca sedang berada di toko peralatan bayi. karena sore ini, niatnya mereka akan ke rumah Bima, menengok calon anak dari Bima dan Bella dan tentunya calon ponakan tersayangnya.
"Menurut Lo? bangusan yang mana?" Ucap Caca menyodorkan empat baju bayi yang berbeda warna.
"Semuanya bagus," Balas Raga.
Caca mengangguk, lalu memasukkan semua baju itu ke dalam troli belanjaan, lagian ia tipikal cewek sangat malas kalo terus-terusan memilih. kalo bisa beli semuanya, kenapa harus satu?
"Terus beli apa lagi ga? gue gak tau peralatan bayi itu apa aja,"
Raga berdecak "Peralatan bayi aja gak tau, gimana mau jadi ibu dari anak-anak gue nanti, kalo masalah gini aja gak tau,"
Caca tersenyum, lalu bergelayut manja di tangan cowok itu, "kan ada Lo yang serba tau, hihihi,"
Raga terkekeh, lalu merangkul bahu Caca, "ya udah, kita cari peralatan makan bayi dulu, udah itu kita cari mainan, gimana?"
"Oke, papah Raga, "jawab Caca, lalu tertawa geli.
"Mau ke tempat mana dulu? makanan bayi, atau mainan?" Tanya Raga.
Caca memegang dagunya berpikir, "Em.... Terserah Papa aja deh, Papa mau kemana dulu?"
"Ke tempat makanan aja dulu gimana?" Saran Raga.
"Oke Papa!"
"Kek simulasi jadi bapak gue," batin Raga, lalu tertawa.
Sampailah ke dua orang itu sampai di stand tempat makanan bayi. terpampanglah, dari etalase-etalase banyaknya dan berbagai jenis dan bentuk tempat makanan bayi itu.
"Lo nya aja yang baru tahu. ayo cepetan pilih,"
"Emm... Gue mau yang ini, terus yang ini, ini juga, eh kayaknya ini juga deh, terus mau yang beruang juga, kayaknya bagus, kucing juga masukin aja deh, siapa tau calon ponakan kita suka sama kucing nantinya, semua warna aja deh," Caca memilih sembari memasukkan satu persatu yang di sebutkannya ke dalam troli, membuat satu troli penuh munjung ke atas.
"Buat apaan beli tempat makanan banyak banget, toh yang di pakenya pasti satu nanti," Ucap Raga tak habis pikir.
"Kan calon ponakan gue calon sultan, kalo bosan langsung buang gak perlu cuci pake, cuci pake!" Balas Caca, memasukan kembali tempat makanan bayi itu.
Mereka berdua kembali berjalan untuk memilih-milih mainan. satu troli sudah penuh dengan tempat makan bersama baju-baju, dan sekarang, Caca pun ikut mendorong troli juga.
"Hey ca," Caca menengok ke arah seseorang yang memegang bahunya.
Matanya membulat, ketika melihat siapa orang menepuk bahunya "Hai kak Cak, apa kabar?" Tanya Caca, antusias.
Teruntuk kalian yang lupa siapa itu Cakra, Cakra ada bertender di club tempat dimana kakaknya Caca, Saka terbunuh, sekaligus, Cakra itu adalah teman Saka dulu.
"Baik-baik aja," Jawab Cakra, membuat Caca mengangguk.
"Itu siapa yang di gendong?" Penasaran Caca, melihat anak perempuan yang di gendong oleh Cakra.
"Ponakan gue," Balas Cakra.
"Namanya siapa?" Tanya Caca, pada ponakannya Topan.
"Nama aku, Caskia aunty," balas Saskia ponakannya Caca.
"Nama yang bagus, kia mau kesini mau ngapain? beli mainan?" Tanya Caca.
"Iya aunty, katanya Om Caka baru gajihan, makanya mau beliin Caskia mainan!" Balas Saskia antusias.
"Mau aunty beliin mainan juga gak?" Tawar Caca.
"Mau!"
"Okey, kita cari kesana!" Caca mengambil alih gendongan, lalu menyimpan Saskia di troli.
Raga mendengus merasa di cuek kan, lelaki itu mengikuti kemana pun Caca dan ponakannya Cakra pergi. apalagi melihat Caca yang asik mengobrol dengan Cakra, dan seketika melupakan dirinya, itu yang membuat dirinya muak.
"Gue mau ketempat lain, Lo bertiga aja," Kata Raga, mengajak bicara Caca yang sedang asik mengobrol itu.
"Oke," Balas Caca, tanpa sedikitpun melihat ke arah Raga.
"Oke?" Raga bertanya, seolah-olah lelaki itu mengatakan 'Yakin Lo ngomong gitu?'
"Iya oke, kalo Lo mau cari ke tempat lain," Balas Caca, seolah tak peduli.
Raga berdecak, hanya karena dua manusia yang baru datang di sini, berhasil mengalihkan atensi Caca terhadapnya. ini baru pertama kali mereka bertemu, apalagi kalo sering, Raga yakin, Caca akan melupakannya.
"Katanya mau ke tempat lain?" Caca bertanya, ketika melihat Raga masih berdiam di tempat.
"Oh... Lo ngusir?" Sinis Raga.
"Enggak, bukan gitu—"
"Terus apa? udah jelas-jelas Lo ngusir!"
"Enggak. gue bilang gitu karena katanya Lo mau ke tempat lain, tapi kok masih di sini, gitu.... bukan ngusir," Jelas Caca.
"Lagu lama!"