
Kelima pentolan sekolah itu, kembali nongkrong di parkiran, hanya untuk mengikuti keinginan Dodi, yang katanya ingin melihat cewek dingin incarannya.
Bukan wanita dingin itu yang terlihat, tetapi Sasa yang hanya melihat Sasa yang melewati mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Lah Zam? dia marah sama Lo?" Tanya Bima, tentunya di angguki semuanya.
"Bukannya kemarin Lo berdua udah baik-baik aja ya?" Tambah Caca.
Alzam menatap kepergian Sasa, Apakah wanita itu benar-benar marah padanya? tiba-tiba hatinya sedikit resah, jikalau Sasa benar-benar marah padanya.
"Cie yang mukanya tiba-tiba panik, ngeliat Sasa marah kayak gitu, cie...." Goda Dodi.
"Apaan si Lo!" Alzam menatap Dodi tajam, lalu meninggalkan parkiran.
"Cie yang mau nyamperin Sasa, cie..."
"Cie yang udah mulai suka, cie..."
"Cie yang langsung nyamperin Sasa, karena takut marah berkepanjangan, cie..."
"Cie cie cie..."
Setelah puas menggoda Alzam, mereka tertawa ketika melihat wajah menahan amarah Alzam.
Mereka semua tau, Alzam mungkin sudah menyukai Sasa. karena mereka juga jelas melihat, sifat Alzam yang sedikit melunak terhadap cewek itu. meskipun tetap ketus seperti biasanya.
Caca menyenderkan tubuhnya di tubuh Raga, perempuan itu mendongak untuk menatap laki-laki di sampingnya.
"Ga, gue cape berdiri," Keluh Caca, sembari melengkungkan bibirnya kebawah.
"Mulai nih mulai, kita ke kelas duluan aja Bim, malas gue liat mereka jadi bucin kayak gitu!" Ketus Dodi, sembari menyeret Bima secara paksa.
"Lah, bukannya Lo lagi nunggu cewek dingin itu ya dod?!" Teriak Caca, tak di pedulikan Dodi yang sudah di telan pintu masuk sekolah.
"Dodi kayaknya cemburu deh, gue Dekat sama Lo Ga," Ucap Caca, kembali menatap ke arah Raga.
"Gak usah terlalu percaya diri. dan kalo sampai Dodi suka sama Lo, gue bunuh dia!"
Caca tersenyum, lalu menatap Raga sepenuhnya. "Cocwit banget si Aga..." Lebay Wanita itu, terus bergelayut manja.
"Jijik gue denger suara Lo di imut-imutin gitu," Ucap Raga, sembari menepuk pelan kepala Caca, sembari terkekeh.
"Lo mah..." Caca cemberut, sembari melepaskan cekalan di pinggang Raga.
"Apa?" Tanya Raga, seolah-olah tak paham.
Caca berdecak "Tau ah!" Ketus Caca, lalu meninggalkan Raga sendirian.
"Gitu aja ngambek!"
|•••|
Lelaki dengan seragam sekolah tak di masukan itu, sedang menggenggam beberapa coklat di tangannya.
Lelaki itu hendak mendekat ke arah perempuan yang di maksud dirinya, Tetapi kembali ke tempat semula.
"Sasa beneran ngambek gak ya?" Monolog Alzam. lelaki itu sudah membeli beberapa coklat untuk menyogok Sasa, supaya tidak marah kepadanya.
Alzam memantapkan hatinya, lalu mendekat ke arah Sasa yang tengah di duduk, di kursi kantin.
Menyodorkan coklat itu tanpa suara, membuat Sasa yang merasa ada orang yang menyodorkan sesuatu, wanita itu mendongkak.
Merasa Sasa Hanya melihatnya tanpa mengeluarkan suara, lelaki itu duduk di kursi depan perempuan itu " Titipan dari Caca," Ucap Alzam.
Sasa mengangguk sekali "Oh... thanks," Kata perempuan itu, lalu kembali menyibukkan diri dengan makanannya.
Alzam menggaruk kepalanya, di batin cowok itu berkata, Sasa benar-benar marah padanya?
"Marah?" Ucap Alzam, mencoba mengajak Sasa berbicara.
"Siapa?" Sahut perempuan itu.
"Lo,"
Sasa menggeleng "Enggak,"
"Gak papa," Balas Sasa, kembali menyantap makanannya.
Alzam menghela nafas pelan, Lelaki itu tampaknya mulai geram, dengan perempuan yang merepotkan. bilang gak papa, tetapi seolah-olah apa-apaan, membuat bingung bukan?
"Gak usah sok perhatian, atau apapun itu sama gue lagi, kalo cuman karena Lo mau nebus hutang ke gue, atau karena suruhan gue! gak perlu di lakuin, Lo bikin gue bingung!" Ucap Alzam, lelaki itu tampaknya, memang tidak bisa sedikit sabar terhadap perempuan.
"Dari tadi semenjak gue duduk disini, Lo diam aja, kayak gak nganggap gue ada! terus gue tanya, marah? Lo malah bilang enggak, atau apalah itu. kalo enggak, kenapa Lo diemin gue?
"Lo itu manusia yang membingungkan sedunia! tau gak?!"
Alzam berdiri dari duduknya, "Mulai sekarang, kita urusin hidup kita masing-masing. sekarang gue tarik kata-kata gue, yang Katanya gue mau sifat Lo yang kayak dulu, anggap aja itu gak ada. gak ada! pokonya apapun yang gue omongin itu gak ada, gue gak mau kenal sama Lo lagi!" Ucap Alzam, lalu pergi dari sana.
Sasa cemberut, dirinya sedang marah, Alzam malah ikut marah padanya. niat hati ingin di bujuk, malah harus membujuk.
Sasa berdiri, lalu mencekal pergelangan tangan Alzam, menyuruh lelaki itu untuk kembali duduk.
"Lepasin tangan gue!"
"Duduk dulu Zam, sebentar aja," Bujuk Sasa, sembari membawa pergelangan tangan Alzam untuk kembali ke tempatnya.
"Lo mah.... gue marah, Lo malah ikut marah, gue pingin di bujuk tau," Ucap Sasa ketika mereka berdua, sudah kembali duduk.
"Lo bilang, Lo gak marah!" Ketus Alzam.
"Lo jadi cowok gak peka banget sih?! gak, gak papa, itu artinya gue ada apa-apa, gak paham banget jadi cowok!" Ucap Sasa, mulai kesal juga.
"Makanya, kalo marah ya marah, jangan pake bilang enggak, tapi marah!" Sentak Alzam.
"Gue minta maaf!" Ketus Sasa, lalu membuka pembungkus coklat. semoga saja, coklat bisa membangkitkan moodnya.
"Minta maaf kok gak ikhlas." Ucap Alzam.
"Gue itu marah, pingin di bujuk Alzam... Lo mah malah kek gitu, buat gue kesel!"
Alzam kembali menghela nafas, mereka berdua sama-sama egois, kalo tidak ada yang mengalah, bisa saja hubungan mereka yang mulai baik, kini bisa jadi seperti sebelumnya.
"Sini," Kata Alzam, menurunkan intonasi ucapannya, menjadi sedikit lembut. ingat, sedikit lembut, tidak banyak.
"Gak!" Balas Sasa.
"Jangan bikin gue marah, sini."
Sasa cemberut, tetapi tetap menuruti permintaan lelaki itu, untuk duduk di sampingnya.
Alzam memutar kursinya, supaya Sasa beralih menatapnya. "Gue minta maaf,"
Sasa hampir kaget, mendengar suara lembut yang berasal dari mulut Alzam. wanita itu tersenyum, lalu memeluk Alzam, suara lembut Alzam membuat dirinya luluh seketika.
"Gak papa, gue maafin Lo," Kata Sasa.
Alzam cengo, semudah itu membujuk Sasa, hanya mengeluarkan kata maaf, perempuan itu Langsung memeluknya. kenapa harus banyak drama? permintaan maaf darinya, sudah bisa membuat Sasa tidak marah dan memaafkannya.
"Ngapain peluk? lepas!" Alzam tetap lah Alzam, manusia gengsi tak terkalahkan.
Sasa melepaskan pelukannya, "Ya maaf, repleks."
"Gue mau ke kelas. pulang bareng gue," Kata lelaki itu, lalu pergi meninggalkan kantin.
Sasa tersenyum, lalu mengangguk, dirinya melambai-lambaikan tangannya ke arah Alzam " Kenapa hati gue jadi kayak jedag-jedug gitu yak, Alzam bersikap baik sama gue,"
Tak lama dari itu, Ari datang dengan membawa koper uang "Gue tau, hutang Lo ke Mona di bayar sama Alzam kan?"
"Kenapa gak bilang dulu Sa? Kila itu pacar gue, gue yang harusnya tanggung jawab,"
Ari menyodorkan koper itu ke arah Sasa "Bayar ke Alzam, dan bilang, gue yang harusnya tanggung jawab, bukan dia!"
"Tapi Ri...."
"Apa? Lo gak enak sama gue? Lo gak enak terus-terusan ngandelin gue? gue gak papa kok, toh gue sayang sama Kila, jangan larang terus-terusan gue, buat ngeluarin uang buat Kila. lagian, apa yang gak enaknya di Lo, gue gak pernah mengeluarin uang, karena Lo larang gue. apa yang gak enaknya Sa?"
"Waktu. gue gak enak, Lo setiap hari harus ngeluangin waktu buat jaga adik gue di rumah sakit, masa iya pasal uang pun gue harus ngadelin Lo."
"Dia pacar gue! wajar gue ngelakuin itu! pokonya Lo harus bayar nih uang sama Alzam, atau gak! gue marah sama Lo!"