RAGASA

RAGASA
Ep. 82. Toilet



Untuk kedua kalinya, Caca berjalan di koridor dengan menggunakan wajah dingin nan datarnya. bahkan, lebih datar dari ekspresi yang di tunjukkannya, pada saat kematian opahnya.


Kembali lagi terjadi, wajah itu membuat siapapun yang biasanya menyapa Caca, kini memilih diam, ketika melihat ekspresi wajah Caca seperti itu.


Caca masuk kelas dengan mengucapkan salam dalam hati, lalu berjalan menuju mejanya, dan menelungkupkan wajahnya disana.


Kalo Caca  bolos, pasti akan bertemu Raga dan yang lainnya, karena biasanya, hari ini jadwal bolos Raga. memang, lelaki itu tak suka membolos seperti Dodi dan Bima. makanya Caca  memilih untuk masuk kelas saja, daripada bertemu.


Untuk sekarang, Caca belum bisa menerima, atau lebih tepatnya kecewa dengan apa yang telah lelaki itu sembunyikan dan lakukan, itu membuat Caca malas, meskipun hanya bertemu.


"Eh anjir! tumben Lo gak teriak-teriak pas masuk kelas!" seru salah satu teman sekelas Caca, membuat Caca mendongak dan menatap orang itu datar.


Orang itu menggaruk tekuknya, lalu mengeluarkan cengiran canggungnya, "gu-gue salah ngomong ya? hehehe,"


Caca yang sadar dengan apa yang barusan ia lakukan, lalu tersenyum "Enggak kok, gue lagi akting jadi cewek dingin aja," ucap Caca. Caca tidak ingin membuat orang tidak nyaman dengan sikapnya, hanya karena Caca memiliki satu masalah dengan satu orang.


"Gue kira apaan, udah kaget gue," orang itu terkekeh, membuat Caca terkekeh juga.


Melihat keempat laki-laki yang Caca  sangat kenal baru saja masuk kelas, membuat Caca mengumpat dalam hati.


"Sial, kenapa harus ketemu sih?!"


"Yeh ca, udah kek murid rajin aja lo, udah duduk disini," ucap Dodi, berusaha mencairkan suasana.


Caca mendongak menatap Dodi "heem, tumben Lo masuk?" Caca bertanya.


Dodi menunjuk Raga, "Diajak sama si onoh, katanya absen gue nol bulan ini."


Caca mengangguk saja menjawab pertanyaan Dodi, melihat Raga yang akan duduk di bangkunya, Caca berseru "Gue mau duduk sendiri hari ini," kata Caca.


"Gak bisa, Lo harus duduk sama gue," tolak Raga sambil menyimpan tasnya di meja.


"Waktu itu kan Dodi nyaranin kita Main ke rumah Alzam, Alzam nya udah setuju, lo mau ikut Ca?" timbrung Bima kembali.


"Enggak dulu deh, gue ada urusan," balas Caca.


"So sibuk banget Lo! meskipun Lo udah keluar di alverage, lo masih tetap temen kita kan?" Dodi masih berusaha mengubah ekspresi datar Caca, entah kenapa? ekspresi riang Caca tiba-tiba tergantikan dengan ekspresi datar, yang belum pernah Caca tunjukan ke mereka.


"Gue harap sih enggak," ucap Caca lalu menelungkup wajahnya kembali di lipatan tangan.


Meskipun Caca tahu yang mempunyai masalah dengan dirinya hanyalah Raga. tetapi untuk saat ini, Caca tidak mau berhubungan dengan semua yang bersangkutan dengan alverage.


"Maksud Lo apa ngomong gitu?" ucap Bima tak suka, lelaki itu suka arah pembicaraan Caca saat ini.


Caca adalah salah satu teman terbaiknya, disaat Bima butuh sesuatu, Caca selalu ada disampingnya. meskipun otak Caca agak gesrek, tetapi itu yang membuat seru pertemanan di circle mereka.


"Gak ada maksud apa-apa. gue cuman berharap, setelah gue keluar di alverage, gue udah gak temenan lagi sama kalian," 


"Kalo Lo marah sama gue, please jangan bawa-bawa mereka juga, cukup sama gue aja," kata lelaki itu.


Caca tertawa, lalu menggelengkan kepalanya "Dih, ge'er banget Lo gue marah sama Lo, gue gak ada waktu buat marah sama manusia kek Lo!" Caca berdiri dari duduknya, lalu keluar dari kelas, tiba-tiba moodnya untuk belajar hangus seketika.


Baru sekitar dua langkah, Caca menghentikan langkahnya, lalu kembali berbalik "Dan asal kalian tahu, gue gak butuh teman, gue masuk ke sekolah ini, gue gak punya siapa-siapa, jadi gue gak butuh teman! gue udah terbiasa sendirian!" setelah mengatakan itu, Caca benar-benar keluar.


|•••|


Setelah pergi dari kelas tadi, Caca masih berdiam diri di dalam kamar mandi. wanita itu hanya berdiam, tanpa melakukan apapun.


Waktu sudah berlangsung lama, bahkan bel pulang sekolah pun sudah berbunyi. Caca keluar dari kamar mandi, bercermin sebentar, lalu keluar dari sana.


Baru saja keluar, Caca sudah dihadang oleh Bima dan Dodi yang sudah menunggunya dari luar sendari tadi.


"Ketiduran lo? sampai-sampai dari pagi ke pulang Lo diam terus di toilet?" cibir Dodi, berniat bercanda.


"Iya gue ketiduran," balas Caca.


"Bisa gak sih Ca? Lo jangan hindari kita, kita gak tahu apa-apa, soal siapa yang bunuh Kakak Lo dulu, kenapa Lo harus marah juga sama kita?" ucap Bima, tentunya di setujui oleh Dodi.


"Gue gak marah sama Lo berdua, bahkan sama Raga sekalipun gue gak marah. gue cuman lagi gak mau temenan sama siapa-siapa kok, bukan karena gue marah sama kalian," ucap Caca. memang, perempuan itu tak marah, hanya saja kecewa dan masih tidak terima dengan apa yang terjadi. 


Dodi tertawa, "Omong kosong Lo Ca!Lo emang lagi marah aja sama kita, makanya Lo sampai ngomong gini. gue tanya, lo itu udah gak punya siapa-siapa kan selain kita? Lo emang bisa hidup sendirian?" ucap Dodi, sembari mengangkat alisnya bertanya.


Dodi tidak bermaksud menyinggung Caca. lelaki itu hanya ingin, Caca tidak menjauhi dirinya. meskipun mereka berdua sering cekcok dan berselisih karena beda paham, tetapi Dodi sangat menyayangi perempuan di depannya ini.


"Gue emang gak bisa hidup sendirian Dod, tetapi gue coba untuk enggak ngelibatin siapapun di dalam hidup gue! gue gak mau kejadian ini terjadi lagi, gue gak mau terlalu percaya sama orang, yang endingnya bakal berimbas sama gue," ucap Caca, berharap Dodi mengerti.


"Sakit rasanya ketika kita di bohongin sama orang yang kita sayang sekaligus percaya. gue gak marah, gue cuman kecewa, dan gue juga belum bisa terima semuanya apa yang terjadi di hidup gue sekarang. jadi tolong, please jangan hakimin gue, gue butuh waktu buat nerima semuanya,"


"Gak mudah bagi gue buat kehilangan Kakak gue. Lo berdua juga tahu seberapa ambisius nya gue buat dapetin siapa orang yang ngebunuh kakak gue dulu, disaat gue tau bahwa Raga lah pembunuhnya, hati gue sebenernya gak terima, tetapi itu kenyataanya,"


"Hidup gue berantakan, gue cape. gue mencoba untuk baik-baik aja, tetapi kenyataannya gue gak bisa. maaf kalo misalnya masalah ini jadi berimbas ke kalian," Caca menunduk, rasa sakit yang sendari tadi ditahannya akhirnya membeludak begitu saja di dadanya.


"Gue tahu perasaan lo gimana Ca, tapi apa salahnya Lo maafin Raga? dia sayang banget sama lo, bahkan keadaanya kacau sekarang, ketika Lo diemin dia kayak gini sekarang," kata Bima.


"Dan Ca, bukan Lo doang yang di bohongin Raga, tapi gue sama Dodi juga. secara gak langsung, dia juga udah bohongin kita. tapi, kita berdua bisa maafin dia, tapi kenapa Lo enggak?"


Caca menghela nafas pelan, lalu kembali berucap "Gue udah maafin dia, tapi gue masih belum bisa terima sepenuhnya perlakuan dia terhadap Kakak gue dulu,"


Bima mengangguk mengerti "Lo harus pikirin baik-baik, dia yang selama ini temenin Lo kemana-mana, dia yang paling perhatian sama Lo, dia yang paling sayang sama Lo, gue harap Lo lapang dada atas kejadian ini," 


Kembali menghela nafas, apakah teman-temannya itu tak mengerti apa yang di rasakannya? memaafkan orang tak semudah yang di ucapkan.


"Apa ketika Lo ada di posisi gue, Lo bisa dengan mudahnya menerima kembali orang yang udah ngebunuh salah satu dari darah daging Lo?" Caca bertanya, setelah itu langsung pergi tanpa ingin mendengar jawaban mereka.