
Caca menunduk, sambil memegang nisan Kakaknya. perempuan itu terisak, sambil sesekali mengusap nisan Saka dengan perlahan dan lembut, seperti sedang mengusap-usap pipi seseorang.
"Kak, gue udah tahu siapa pembunuh Lo Sekarang. usaha gue selama tiga tahun gak sia-sia ternyata,"
Caca tersenyum, sambil melepaskan tangannya di nisan Saka, perempuan itu beralih memegang gundukan tanah yang sudah di tembok dengan rapi itu.
"Apa yang harus gue lakuin Kak? bahkan, untuk ngebenci orang yang ngebunuh Lo aja gue gak bisa, gue udah terlanjur sayang sama dia," ucap Caca.
Perempuan itu menangis, kenapa rasanya sesakit ini, ketika mengetahui semuanya kebenarannya?
Dari dulu Caca selalu menampik, bahwa bukan Raga lah pembunuhnya. tetapi ketika mendengar lelaki itu sendiri yang mengucapkan dan mengaku, hatinya terasa sakit dan kecewa.
Perempuan itu masih belum bisa menerima semuanya.
"Kenapa Lo harus ninggalin gue sih Kak? kenapa? mungkin kalo Lo masih ada disini, ini gak akan serumit ini," Keluh Caca, masih dengan tangisan yang mengalir di matanya.
"Gue sakit kak, gue sakit! tapi kenapa kalian semuanya ninggalin gue!" Caca sedikit berteriak, dengan mata yang terus melihat ke arah lima makam yang berisi keluarganya.
"Kenapa kalian semua ninggalin gue? gue sendirian disini, gue gak punya siapa-siapa, gue ngerasain sakit ini sendirian, kenapa kalian tega ninggalin gue! hiks hiks hiks, kenapa kalian tega ninggalin gue!"
"Kenapa kalian ninggalin gue sendirian disini? kenapa?! gue juga mau ikut kalian, gue gak mau sendirian terus disini, gue kesepian, gue butuh kalian!"
"Setiap malam gue gak bisa tidur. gue sakit, kepala gue pusing, gue sering mimisan. bahkan, terkadang untuk jalan aja gue udah susah, kenapa kalian semua biarin gue ngelaluin semuanya sendirian? kenapa? kalian gak sayang sama gue? balik, buat gue, gue kangen kalian,"
"Kenapa kalian betah banget sih diam di tanah? apa enaknya disana? apa enaknya? sampai-sampai, buat kembali ke gue dan terus ada di sisi gue, kayak susah buat kalian lakuin!"
"Kesalahan apa yang gue perbuat?kenapa gue yang harus laluin ini?kenapa harus gue?"
Caca tiba-tiba memegang kepalanya, lalu menjambak-jambak rambutnya, guna menetralisir rasa sakit di kepalanya itu. bukannya mereda, sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi, sampai-sampai, jambakan kuat di kepalanya tak terasa sama sekali.
"Sakit, sakit tuhan! bukan hanya hati saya saja yang sakit, tetapi raga saya pun ikut sakit, kapan penderitaan saya berakhir tuhan? kapan?" Caca menatap langit, berharap Tuhan mendengar keluh kisahnya sekarang, lalu mengangkat penyakitnya secara tiba-tiba.
"Kapan?!"
Caca membentur-benturkan kepalanya keras pada batu nisan di depannya. Caca melakukan itu untuk menetralisir rasa sakit, bukannya ampuh, cara itu semakin membuat kepala perempuan itu semakin menjadi sakitnya.
Menghela nafas lelah, Caca menyenderkan kepalanya di batu nisan Saka, lalu mengusap-usap darah yang mulai turun ke arah matanya, akibat benturan yang terlalu keras, dan menyebabkan dahi Caca berdarah dan sedikit sobek.
Caca tertawa, "Gini rasanya sakitnya, kalian bisa liat kan? betapa kesakitannya gue? kenapa kalian tega ninggalin gue? kenapa kalian tega?"
"Apa yang harus gue lakuin, supaya gue bisa kumpul lagi sama kalian? apa yang harus gue lakuin? supaya dapat kehangatan lagi dari kalian? apa kalian tega, bahagia disana tanpa adanya gue?"
Caca menggeleng-gelengkan kepalanya, menyadarkan. perlakuan yang baru saja di lakukannya, bisa saja membuat keluarganya sendiri tidak tenang disana.
Caca tidak boleh egois, ini sudah jalan takdirnya. Caca tidak boleh menyalahkan takdir, karena Caca sendiri jelas tahu, takdir tuhan adalah yang terbaik.
Yang hanya bisa Caca lakukan sekarang adalah menerima takdir dan menjalankan semuanya. percaya pada Tuhan, dan yakinlah semua akan baik-baik saja pada akhirnya.
"Caca ikhlas kalian pergi, maafin Caca udah buat keributan Disini," Ucap Caca, terlihat menyesal sembari mengusap-usap nisan Saka, nisan yang paling dekat dengan jangkauannya.
"Mamah, Papah, Omah, Opah dan Abang. maafin Caca ya? yang tenang juga disana. Caca baik-baik aja kok disini, jangan pikirin Caca, dan berakhir kalian gak tenang disana. do'ain Caca buat selalu berlapang dada nerima semuanya ya? Caca bakalan nyusul, kalo tuhan udah ngizinin semuanya,"
Caca tiba-tiba mengerutkan keningnya bingung sendiri, kenapa wanita itu meminta doa kepada orang yang sudah meninggal? seharusnya, Caca yang mendoakan disini, bukan keluarganya yang sudah tiada.
"Caca pergi dulu ya, Caca bakal sering-sering kesini sekarang," setelah mengatakan itu, Caca berjalan untuk menjauhi pemakaman.
|•••|
Caca menatap dirinya di cermin. wanita itu sudah mengobati luka di jidatnya tadi malam, tetapi kenapa masih berbekas dan malahan sedikit benjol? mana di tengah-tengah lagi.
Apa mungkin mengobati lukanya terlambat? karena, sebelum pulang dan mengobati lukanya, perempuan itu mengelilingi kota Jakarta, sampai larut malam, yang menyebabkan Caca mengobati luka itu larut malam juga.
Caca mengambil kapas dan alkohol, perempuan itu berniat kembali mengobati luka di jidatnya.
"Aish! kok jadi sakit gini sih? perasan pas kemarin bentur-bentur kagak sakit sama sekali," Ringis Caca, mengusap-usap pelan jidatnya.
"Oke! semangat sekolah nya, gak perlu punya teman, yang terpenting sekarang adalah belajar buat sekolah yang benar."
"Satu lagi, belajar untuk cuekin Raga. ketika Lo sendiri gak bisa lukain Raga, kayak rencana Lo ketika nemuin pembunuh kakak Lo, seenggaknya belajar buat cuekin dia," Ucap Caca, terus menyemangati dirinya sendiri.
|•••|
Caca sampai di sekolah pagi Sekarang. bukan sampai lebih pagi lima menit kayak kemarin-kemarin. memang betul, Caca sampai di sekolahnya pagi-pagi dan benar pagi-pagi.
Caca memasuki kelasnya, dan ternyata Raga juga sudah duduk anteng di tempat duduknya.
Caca hendak bertanya 'Kok tumben, berangkat pagi-pagi,' tetapi perempuan itu urungkan, karena teringat niat awalnya. yang akhirnya, Caca terus berjalan dan duduk di kursi, berbeda dengan Raga.
"Kita mau pindah tempat duduk? gak apa-apa deh, gue di mana pun, nyaman-nyaman aja," Ucap Raga, lalu duduk di tempat yang sama dengan Caca.
"Gue mau duduk sendiri," Kata Caca, tanpa sama sekali melirik Raga.
"Gak bisa, Lo harus duduk bareng gue," Raga berbalik menatap Caca, matanya melotot kaget, dan repleks memegang bekas luka di jidat Caca.
"Sakit bego! main tekan-tekan aja!"
Raga tersenyum, umpatan sudah keluar dari mulut Caca, yang menunjukkan Caca memang tak bisa benar-benar marah kepadanya.
Raga yang awalnya tidak sengaja menekan luka Caca, kini beralih mengusap-usap luka itu secara pelan dan lembut.
"Kenapa sampai bisa kayak gini?" Tanya Raga.
"Gak usah pegang!" sentak Caca tak suka.
"Gue tanya, kenapa bisa kayak gini? bukan gak usah pegang," Kata Raga.
Caca tak menjawab, wanita itu hanya diam membiarkan lukanya terus di mainkan oleh Raga, dengan wajah cemberut.
"Udah di obatin? kok bisa sampai benjol gini sih?"
"Gak usah bilang benjol!" kesal Caca, kenapa Raga terlihat berkali-kali lipat menyebalkan?
Raga tertawa, lalu mencekal tangan Caca, untuk ikut pergi, "Kita obatin lagi jidatnya, biar gak benjol," Ucap Raga sedikit menekan kata benjol.
"Gak perlu! udah gue obatin!"