RAGASA

RAGASA
Ep. 68. Siapa Orangnya?



Caca mengeret tas nya, rasanya sangat lelah sekarang, kakinya pun terasa seperti mati rasa, setelah kesemutan tadi.


Caca hendak membuka pintu rumahnya, tetapi ia urungkan, ketika kembali melihat kotak hitam yang selalu di kirim oleh orang teka-teki itu. Caca mengambilnya, lalu membawanya masuk, tumben sekali, belum seminggu lebih, orang itu sudah kembali mengiriminya teka-teki.


Setelah masuk kamar, Caca  segera membuka kotak itu dan seperti biasa, mengambil secarik kertas di sana.


Matanya membulat sempurna, ketika nama si pembunuh tertera di sana. Caca terkekeh, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Nama yang sama, dengan nama yang di sebutkan Kevin pada saat mereka balapan.


Flashback


Motor mereka berdua berjalan beriringan, dengan motor Kevin yang terus mepet-mepet ke arah motor Caca.


Caca melajukan motornya, semakin kencang, tetapi Kevin juga dengan mudahnya menyusul.


“Berhenti atau gue tabrak?!” Teriak Kevin.


“Gue gak mau berhenti!”


“Ada yang mesti gue omongin sama Lo, jadi Lo minggir dulu sebentar!”


“Gak! Tar Lo kalahin gue, Lo mau tipu gue kan?!”


“Berhenti dulu, ini soal Saka, kakak Lo!”


Mendengar nama Kakaknya, Caca langsung menepikan motornya, diikuti oleh Kevin.


“Ada apa sih? Abang Kevin yang lemes dan ganteng ini,”  Ucap Caca lalu turun dari motornya.


Kevin ikut turun, lalu bersedekap dada menatap adik temannya dulu.


“Perasaan Saka dulu pintar deh, sopan santun juga, tapi kenapa adiknya malah sebaliknya, udah bodoh, sopan santunnya pun gak ada,” Cibir Kevin.


Caca tersenyum lalu mengangguk, Saka memang sesempurna itu, Caca pun mengakuinya “Langsung ke intinya saja Abang Kevin, kita lagi balapan ya, bukan ngerumpi,”


“Dan jangan ejek-ejek gue bodoh juga, tar suka, gak tanggung jawab loh,” Tambah Caca.


“Lo pasti adik pungutnya Saka, Lo jelas jauh berbeda sama dia. Oke, gue gak mau bertele-tele lagi, gue sebenarnya gue gatel pengen hajar tuh orang yang bunuh Kakak lo itu, tetapi Lo sendiri adiknya aja belum tahu siapa yang bunuh Kakak Lo, jadi mendingan gue kasih tahu aja deh, Lo terlalu bodoh, kalo sekedar hanya di kasih kata-kata lewat ucapan, bukannya mikir, Lo malah mikir ucapan gue cuman angin lalu,”


Kevin mendekatkan wajahnya, lalu membisikan sesuatu ke arah telinga Caca, yang membuat wanita itu mematung dan Tertawa tak percaya.


“Gak usah Bercanda Lo!” Sentak Caca tak suka, sembari mendorong bahu Kevin, supaya menjauh dari dirinya.


“Terserah mau apa Lo nanggepinnya kayak gimana, tetapi emang itu kenyataanya,”


Flashback off


“Gak mungkin hahahah, gak mungkin dia,” Caca masih tertawa sumbang, wanita itu tidak percaya bahwa nama yang tertera disana adalah pembunuh kakaknya.


“Gak mungkin dia, gue percaya dia seratus persen, jadi gak mungkin dia!”


Caca mengambil handphonenya, lalu menghubungi Kevin, orang yang mengaku teman kakaknya dan orang yang mengatakan orang yang tertera di kotak itu adalah pembunuh Kakaknya.


“Halo,” Ucap Caca ketika sambungan teleponnya terhubung.


“Hm?”


“Ada waktu luang? Ada yang mau gue bicarain,”


“Kapan?”


“Sebisanya Lo,”


“Oke, malam sekarang di cafe ***, gue bakal ajak Cakra,”


Caca mengerutkan keningnya “Cakra?Cakra yang kerja di club itu?”


“Iya, Lo kenal dia kan?”


“Kenal, tapi kenapa Lo bisa kenal dia juga?” Bingung Caca.


“Gue teman kakak Lo, Cakra juga teman kakak lo. Gimana kita gak kenal coba,”


Tut


Caca membaringkan badannya, wanita itu semakin tak percaya bahwa orang itulah yang membunuh kakaknya. Bisa saja kan? Kevin mengadu domba dirinya, supaya tidak percaya dengan alverage. Dan soal Cakra, mungkin mereka berdua berkerja sama, karena bisa jadi, Cakra juga adalah anggota libra.


Tetapi kali ini, Caca hanya ingin tau apa yang di bicarakan mereka, dan bertanya, apakah orang itu pembunuhannya? Dan apa reaksi mereka, Caca hanya ingin tau itu.


Lagian tak masuk akal juga, kenapa Kevin bisa mengetahui dirinya kenal Cakra? Memang, mungkin bisa saja Cakra sendiri yang memberi tahu. Tapi entah kenapa, Caca merasa tak terima dengan apa yang ia terima barusan, sampai-sampai dirinya berprasangka buruk terhadap Kevin dan Cakra.


Caca menghela nafas, meminum air yang berada di nakas, menyambar jaket dan tak lupa kunci motornya. Ia akan berangkat menemui Kevin sekarang.


|•••|


Raga berlari di koridor rumah sakit dengan nafas tersengal, keringatnya terus bercucuran membanjiri pelipis.


“Caca, keadaan Caca gimana?” Ucap Raga cemas, Dengan suara bergetar.


“Dia lagi operasi,” Balas Bima menunduk lesu.


Raga menutup matanya, lelaki itu berjalan ke arah pintu operasi, lalu duduk disana sambil berdoa, berharap tidak terjadi apa-apa.


Raga mengacak rambutnya frustrasi, otaknya tidak bisa berpositif thinking, lelaki itu selalu saja memikirkan hal yang tidak-tidak akan terjadi pada Caca.


Raga berdiri dari duduknya, lalu berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang operasi. Kenapa pintunya tidak terbuka, kenapa lama sekali, apa yang terjadi pada Caca, pertanyaan itulah yang selalu berputar di otaknya.


Bunda Renita mendekat, lalu memeluk anaknya yang terlihat khawatir dan cemas, tidak lupa menguatkan, supaya anaknya selalu berpikir positif “Caca gak akan kenapa-kenapa, dia kan kuat, Caca gak akan kenapa-kenapa,” Renita berucap sembari mengusap-ngusap pundak anaknya.


Raga membalas pelukan itu dengan erat “bunda.. Caca gak akan kenapa-kenapa kan? Kenapa operasi nya lama? Caca gak akan kenapa-kenapa kan?” Ucap Raga dengan suara Bergetar seperti hendak menangis.


“Caca gak akan kenapa-kenapa kok, tenang aja,”


“Bunda gak bohong kan? Caca gak akan ninggalin Raga kan bund? Bunda jawab! Caca gak akan ninggalin Raga kan bund? Hiks, hiks, hiks, Caca gak akan ninggalin Raga kan bund?” Raga menangis, menumpahkan semuanya di pelukan hangat Bundanya.


“Sttttt... Caca gak akan ninggalin kamu sayang, dia gak akan ninggalin kamu,percaya sama bunda,”


Raga melonggarkan pelukannya, lelaki itu menatap “bunda gak bohong kan?”


Renita mengangguk, mengusap air mata yang keluar dari mata anaknya. Raga juga ikut mengangguk, tetapi tidak dengan hatinya, lelaki itu merasa apa yang di katakan bundanya adalah sebaliknya.


Tak lama setelah itu, Dokter yang mengoperasi Caca keluar, membuat semua orang cepat-cepat menghampiri dokter itu.


“Dengan keluarga korban?” Tanya dokter itu.


Semuanya mengangguk.


“Iya dok, saya bundanya,” Ucap Renita.


“Gimana kondisi Caca dok? Dia baik-baik aja kan?” Serobot Raga tak sabaran.


“Emm....” Dokter itu menunduk “maaf, kita sudah berusaha sekeras mungkin, tetapi nyawa beliau tidak bisa di selamat kan.”


Deg


Semua yang ada disana mematung, tetapi berbeda dengan Raga yang malah tertawa “Gak usah bercanda! gak lucu bangsat!” Teriak lelaki itu.


“Saya tidak bercanda, memang kenyataannya seperti itu,”


Nafas Raga tercekat, menggeleng-gelengkan kepalanya, masih berharap apa yang di bicarakan Dokter itu adalah kebohongan.


“GAK, GAK MUNGKIN! LO PERIKSA YANG BENAR LAH ANJING, CACA GAK MUNGKIN TINGGALIN GUE!” Raga berteriak, dengan air mata yang terus merembes dari kelopak matanya.


Tanpa persetujuan, Raga langsung berlari ke ruangan operasi, matanya semakin mengeluarkan air mata, ketika seseorang itu telah di tutupi oleh kain putih.


Raga mendekat, membuka penutup kain itu, menampakkan wajah cantik Caca yang kini terlihat seperti mayat. Lah, emang udah jadi mayat kan?


Raga tertawa, ini tak mungkin, apa yang dilihatnya hanya halusinasi, ini tidak mungkin Caca.


“GAK, GAK MUNGKIN! GAK MUNGKIN!” Raga terus menggelengkan kepalanya menyangkal, tetapi jelas, di pelinghatannya, itu adalah Caca.


“CA, CACA!”