
Dor!
Mereka semua yang tengah berbela sungkawa, kaget ketika mendengar satu tembakan. Banyak orang yang awalnya di luar, langsung cepat-cepat masuk ke dalam, karena takut mereka akan menjadi sasarannya.
Tidak lama dari itu, mereka kembali mendengar satu tembakan, disamping tempat yang sama, pada awal penembakan.
Semua anggota Alverage yang berada di dalam langsung keluar, untuk mencari siapa yang melakukan itu.
Caca menggeram marah, ketika dua jendela berhasil pecah, akibat sipenembak, bukan itu alasan Caca marah, alasan gadis itu marah adalah ada orang yang berani-beraninya, merusak acara seperti ini, apalagi ini acara terakhir penghormatan kakeknya.
Caca merogoh sakunya untuk mengambil pistol dan..
Dor!
Dor!
Dua tembakan berhasil dilayangankan pertanda ia akan membalasnya ketika mengetahui siapa orang yang berani merusak acara berbela sungkawa opahnya.
Caca sudah mengira ini akan terjadi. Liberta adalah seorang konglomerat berpengaruh besar. Pada saat semasa hidupnya saja beliau, banyak orang yang menginginkan opahnya cepat mati. Apalagi sekarang benar-benar tidak ada, pasti akan banyak yang mengincar harta opahnya dan tentunya melalui dirinya, karena Caca lah pewaris terakhir Libertà.
Makanya, Caca bersiap sedia membawa pistol. Tidak, Caca tidak akan membiarkan harta opahnya jatuh pada orang yang tidak tepat. Maka dari itu, ia mati-matian akan menjaganya.
"Lo semua pada masuk deh, gue yakin gak bakal ada serangan lagi kayak tadi," suruh Caca.
Berhubung hanya anggota Alverage lah yang berada di luar, mereka semua mengangguk lalu masuk ke dalam. Tetapi tidak dengan anggota intinya, mereka semua akan menemani caca di sini.
"Disaat pemakaman, gue mau ada beberapa orang yang jaga di sini, gak boleh semuanya ikut!" ucap Caca.
"Lo tahu siapa orang yang nembak tadi?" tanya Raga.
"Gue gak tahu dia siapa, yang pastinya orang itu udah pasti ngincer harta opah gue dan yang perlu kalian ketahui, mereka pasti berbahaya," jawab Caca.
"Kasih aja lah Ca, orang harta opah lo banyak," enteng Dodi.
Caca melirik Dodi dengan tajam, apakah temannya ini sangat bodoh? Bisa-bisanya, Dodi berbicara seenteng itu.
"Gue gak sudi ngasih ataupun ngerelain harta opah gue buat mereka. Gue mau sebagian harta ini, dikasih sama orang membutuhkan, yang pastinya pahalanya pasti ngalir sama opah gue yang gak ada. Lo jangan jadi manusia tolol yang asal ceplos Dod!" sungut Caca.
Dodi nyengir lalu menggaruk-garuk kepalanya tidak enak, "Niat gue bercanda kali Ca, ngehibur eh lo malah nganggapnya serius, lo baperan sekarang!"
Caca mendengus, "Bukan waktunya buat bercanda!"
Mereka semua terdiam beberapa saat, rasanya untuk menghibur Caca pun percuma, gadis itu gampang sekali tersulut emosinya. Renita datang dari dalam, lalu mendekat ke arah Caca dan duduk disamping gadis itu.
"Sayang, waktunya opah kamu dimakamkan," kata Renita.
Caca berbalik ke arah Renita, lalu memeluk wanita tua tersebut, "Bisa besok aja gak bunda? Caca masih belum mau kehilangan opah," kata Caca.
"Gak boleh gitu sayang, kasian opah kamu, kamu emang gak sayang sama opah kamu? Kalau kamu masih aja belom bisa ngikhlasinnya. Pasti opah sedih, liat kamu kayak sekarang, ikhlasin ya?"
Caca terpaksa mengangguk dalam pelukan Renita. Ucapan Renita adalah perintah, ia tak boleh melanggar ucapan wanita itu. Wanita yang dipelukannya ini, seperti ibu kandungnya.
Caca mendongak, lalu menatap Renita sembari tersenyum, "Makasih bunda, aku sayang bunda."
Renita membalas senyuman itu, "Sama-sama sayang, bunda juga sayang sama kamu."
Renita melonggarkan pelukannya, "Yaudah, bunda mau kedalam dulu, kamu mau ikut?" tanya Renita, setelah pelukannya mereka berdua terlepas.
Caca menggeleng, membuat Renita beranjak masuk ke dalam. Caca kembali menatap anggota Alverage.
"Jasad opah gue bisa diawetin gak sih? Biar opah sama-sama terus sama gue," kata Caca.
"Gila lo!" umpat Alzam. Menurutnya Caca sudah terlalu jauh, memikirkan itu.
"Tahu lo Ca, gak usah jadi gila kenapa? Opah lo gak pernah ninggalin lo! Semua keluarga lo gak pernah ninggalin lo, mereka semua liat kelakuan lo dari atas. Ga usah gila makanya," bentak Bima.
Bima yang sendari tadi diam, akhirnya berbicara, ketika menurutnya Caca gila, kalau saja berani memutuskan hal seperti tadi.
Kenapa temannya, menjadi gila seperti ini? Hanya karena opahnya meninggal? Raga menggenggam erat tangan Caca.
"Benar kata Bima, opah atau keluarga lo gak pernah ninggalin lo, jangan pernah berpikiran seperti tadi. Kita semua ada buat lo, selalu ada buat lo!" tegas Raga.
***
Pemakaman sudah selesai diselenggarakan, tetapi Caca masih betah di sana, hanya sekedar memandangi makam opahnya.
Caca tersenyum, ketika opahnya dimakamkan di makam dekat omah, istri opah itu sendiri. Rasanya Caca sedang berkumpul saja, bersama semua keluarga. Karena di dekat makam omah dan opahnya, terdapat makam ayah, ibu dan kakaknya.
"Kalau semisal gue dipanggil Tuhan juga, gue mau dimakamin pinggir kakak gue," ucap Caca.
Melirik ke arah anggota Alverage yang sedang menemaninya.
"Kapan ya, gue dipanggil Tuhan juga, kayak keluarga gue," lanjutnya, sembari menatap makam keluarganya satu persatu.
"Semua orang pasti dipanggil Tuhan, termasuk gue, jadi gak usah ngomong-ngomong kayak gitu lagi, gue ngeri dengernya," kata Raga, lalu mendekat ke arah Caca.
"Kenapa omongan lo harus ngeri si? Jodoh terdekat kita adalah kematian, gak ada yang ditunggu-tunggu lagi selain kematian," jawab Caca.
Semua orang di sana menatap ngeri pada Caca. Setelah kematian opahnya, Caca lebih sering membahas tentang kematian, membuat semua orang dibuat was-was oleh gadis itu.
"Jangan sampai bunuh diri lo! Bahas kematian mulu," kesal Dodi.
Caca tertawa, "Gue pernah berpikiran kayak gitu, supaya cepet ketemu mereka. Tapi gue mikir lagi, kalau misalnya gue mati karena bunuh diri, gue juga gak bakal ketemu mereka, karena mereka semua pasti di surga, sedangkan gue di neraka, gara-gara bunuh diri ini.”
"Lo semua pulang gih, gue butuh waktu sendirian buat kumpul sama keluarga gue," lanjut Caca.
"Gak, gue temenin lo sampai selesai di sini," kata Raga.
"Gak perlu, lo semua pulang aja, lagian semuanya udah selesai kan?"
"Gue bakal tetep temenin lo, lagian bunda suruh gue, supaya lo nginep di rumah, rumah opah lo gak aman sekarang!" tegas Raga.
Caca menghela nafas, Raga sangat keras kepala sekali.
"Gue gak akan kenapa-kenapa Ga. Lagian, gue kan kuat, jadinya gak akan kenapa-kenapa kok kalau misalnya kenapa-kenapa juga kan udah takdir," balas Caca.
Perkataan seperti itu, malah membuat Raga semakin cemas dan tidak ingin meninggalkan manusia keras kepala ini.
"Ayolah, biarin gue sendiri. Gue juga butuh sendirian, gue gak akan ngelakuin hal-hal di luar nalar kok, serius."
Alzam memegang bahu Raga lalu menganggukan kepalanya memberi kode. Alzam juga berpikiran seperti itu, Caca pasti butuh waktu sendirian untuk mengikhlaskan semuanya.
"Janji kalau ada apa-apa harus langsung telpon, jangan apa-apa ambil keputusan sendiri," imbuh Raga menasihati, memberikan jari kelingkingnya.
Melihat wajah Raga yang amat kentara cemasnya membuat Caca terkekeh. Apalagi, ketika mengatakan itu, Raga seperti tak rela mengeluarkan ucapan seperti itu.
Caca menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Raga.
"Janji, ENtar kalau ada apa-apa langsung bilang sama lo."
"Meningan nginep aja yuk!" ajak Raga, masih enggan melepas tautan itu.
Alzam menarik kerah berlakang Raga, lalu memaksanya untuk berdiri.
"Pulang!" ajak Alzam dengan kata tegasnya.
Raga berdecak, lalu mengangguk terpaksa. Mengusap puncuk kepala gadis tercintanya, lalu pergi dengan langkah kecil, seperti enggan meninggalkan.
Melihat Raga yang sudah keluar dari area pamakaman, Caca tersenyum lalu kembali menatap ke arah makam.
"Tunggu Caca buat nyusul kalian, masih banyak kasus yang berdatangan, setelah semuanya selesai, Caca pasti nyusul kalian semua. Caca janji!" gigihnya sendu.