
Sebelumnya...
“Gak perlu! Udah gue obatin!”
|•••|
“ngikut aja dulu, apa susahnya sih?” Raga menarik tangan Caca keluar, menuju Uks.
“Gue gak mau ikut sama Lo! Dan jangan pegang tangan gue!” tekan Caca, berusaha melepaskan cekalan tangan Raga.
Raga sama sekali tak menggubris. Lelaki itu terus saja berjalan, dan ketika sampai di ruang UKS, Raga mendudukkan Caca, dengan perlahan.
“Diam disini, gue mau ambil salep dulu, bentar,” Peringat Raga.
Caca hanya memuat bola matanya malas, mendengar peringatan itu. Caca berdiri dari duduknya, lalu berjalan menuju keluar.
“Ngeyel banget perasaan, duduk dulu,” Raga kembali menggiring Caca duduk. Setelah berhasil mendudukkan Caca, Raga sedikit menahan kaki Caca dengan kakinya, supaya Caca tak bisa kemana-mana.
“Ututututu, mana yang benjolnya?” Raga hendak memegang jidat Caca, dengan cepat Caca menepisnya.
“Lebay banget sih Lo! Gue gak mau di obatin!”
“Diam dulu, katanya gak mau di sebut benjol lagi,” Ucap Raga sabar.
Caca akhirnya berdecak, dan membiarkan Raga melakukan apapun sesuka hatinya di jidat benjolnya.
“Ca...” Raga memanggil.
“Ca,” Panggil Raga kedua kalinya, karena Caca sama sekali tak menjawab.
Raga berhenti mengolesi salep pada jidat Caca, lelaki itu lalu menatap Caca sepenuhnya “Lo dengar gue ngomong gak sih?!”
“Dengar,” balas Caca.
“Ya kalo dengar, kenapa gak jawab omongan gue?” Tanya Raga, meskipun terdengar lelah, tetapi Raga berusaha mengucapkan kata itu dengan lembut.
“Ga stop deh, stop bertingkah seolah-olah emang gak terjadi apa-apa sama kita!” muak Caca.
“Lo deketin gue dulu buat balas dendam kan? Sekarang, terbalaskan atau belumnya dendam Lo sama kakak gue, itu terserah Lo! Jadi, stop bertingkah seolah-olah emang kita dekat kayak dulu!”
Raga seolah tak mendengar perkataan Caca, lelaki itu malah memain-mainkan rambut perempuan itu.
“Gak enak ya jadi Lo dulu. Lo dulu, kalo misalnya gue belum jawab pertanyaan Lo, Lo terus aja kasih pertanyaan sampai gue marah dan akhirnya jawab pertanyaan Lo. Dan gue baru tahu, sesabar apa Lo, ngadepin sikap dingin gue,”
“Ga—“
“Hust... jangan ngomong dulu, gue mau peluk Lo,” tanpa persetujuan Raga memeluk Caca, membuat Caca tentunya memberontak.
“Jangan berontak Ca, biasanya juga lo yang minta peluk,” Ucap Raga, semakin mengeratkan pelukannya.
Akhirnya, Caca diam membiarkan Raga memeluknya, tanpa sama sekali membalas pelukan itu.
“Ca, em.....Lo masih suka sama gue gak?” Tanya Raga.
“Gak, ngapain?” Balas Caca.
Raga tiba-tiba melepaskan pelukannya, lalu menatap Caca lekat “Gak usah bohong,” Goda Raga, sembari mencolek dagu Raga.
“Dari dulu, mungkin aja gue gak pernah suka Lo, karena gue aja gak tahu arti dari kata suka atau cinta itu apa. Gue perlakuin Lo lebih dari yang lainnya, itu karena Lo yang paling mengerti gue. Dan satu lagi, Lo punya bunda, yang emang gue sayang banget sama dia, itu kenapa gue perlakuin Lo lebih dari yang lainnya,” Jelas Caca.
“Dan mungkin, Lo juga gitu ke gue. Lo bukan cinta atau suka sama, Lo itu terbiasa, terbiasa akan adanya gue di hidup Lo, jadi bukan cinta, Lo terbiasa!”
Raga memalingkan wajahnya, lalu kembali memandang Caca setelah beberapa detik, “Gue bukan Lo. Kalo di tanya terbiasa, memang, gue terbiasa akan adanya Lo, tapi bukan hanya sekedar itu, perasaan gue ke Lo, bukan hanya sekedar terbiasa, tapi lebih dari itu!”
“Dan asal Lo tahu Ca, Lo gak perlu tahu arti cinta itu kayak gimana. Karena, cinta itu di rasakan, Lo ngerasain cinta itu gimana, jadi Lo gak perlu tahu arti cinta itu apa!”
“Dan satu lagi, gue gak mau dengar kata dari mulut Lo, bahwa Lo berhenti suka sama gue, karena gue gak akan pernah izinin itu!” Final Raga.
|•••|
Mengelilingi hampir seluruh kota di malam hari, adalah waktu terefektif, untuk menyegarkan otak.
Caca menyenderkan tubuhnya di pinggir jembatan, wanita itu memijat pangkal hidungnya merasa pusing. Entah lah, kondisinya semakin memburuk akhir-akhir ini.
Di tengah bisingnya mobil dan motor yang berlalu lalang, atau pun manusia yang memang sedang berlalu lalang juga, Caca menutup matanya sejenak, di tengah keramaian seperti ini pun, Caca selalu merasa sendirian.
Merasa sendirian, kesepian, dua kata itu semakin menghantui hidup Caca, setelah mengetahui Raga membohongi perempuan itu.
Raga, Lelaki itu sebagian dari hidupnya, tetapi itu dulu, untuk sekarang, Caca mencoba untuk melupakan kata itu di hidupnya.
Raga di matanya dulu, lelaki yang bisa menjadi Kakak dan teman secara sekaligus, pendengar yang baik, benteng dan perisai yang kuat, sempurna, dan Caca sangat-sangat menyayangi Lelaki itu. Tapi sekarang, Raga adalah pembohong besar di mata Caca, pembohong besar yang merusak kepercayaan dan hatinya.
Ingin melupakan saja apa yang terjadi di masa lalu, ketika melihat Raga yang seberapa baiknya terhadap Caca. Tetapi tak semudah menepuk tangan untuk melupakan itu, apalagi setelah mengingat bagaimana hidupnya, ketika Kakaknya Saka, meninggalkannya.
Manusia memang seperti itu, seribu kebaikan, akan hilang dan sirna begitu saja ketika kita melakukan kesalahan, meskipun satu kali.
Tetapi kita juga tak bisa menyalahkan Caca, wanita di bohongi hampir tiga tahun lamanya, wajar saja perempuan itu marah dan kecewa terhadap Raga, lelaki yang di percayai perempuan itu.
Caca menghela nafas panjang lalu tertawa kecil, “Gue jadi ingat kata-kata yang pernah gue dengar deh. Orang yang membencimu tidak akan pernah melukaimu, tetapi sebaliknya, orang yang mencintai kamulah yang akan melukaimu,”
“Gue ngalamin itu sekarang, dan rasanya gak gampang banget buat laluin itu. Gue sayang dan percaya sama Raga, tapi Raga juga yang bohongin dan lukain hati gue karena perbuatannya. Sedangkan, seberapa terlukanya fisik gue karena orang yang ngebenci gue, gue gak pernah merasa terluka sedikitpun, malahan, itu yang ngebuat ambisi di diri gue buat cari itu orang itu, dan balas perbuatannya,”
Kembali menghela nafas, ternyata tak semudah itu hidup sendirian di dunia ini, Raga yang awalnya Caca pikir adalah dunianya, sekarang tiba-tiba sirna, setelah mengetahui kebenaran yang selama ini di cari-carinya.
Terlalu mempercayai orang jelas salah di lakukan. Percaya menang harus di lakukan, tetapi jika terlalu mempercayai seseorang juga adalah kesalahan. Karena yakinlah, seberapa besar kamu mempercayai seseorang, kita tidak boleh berekspektasi lebih terhadap manusia itu, karena pada dasarnya, sifat manusia itu berubah-ubah. Jadi, don’t expect to much.
“Nona!” Kejut Alex yang tiba-tiba datang, membuat Caca memegangi dadanya karena kaget.
“Ngangetin aja lo!”
“Saya tidak mengagetkan anda, hanya saja anda yang melamun Nona, makanya anda kaget ketika saya datang tiba-tiba,” Ujar Alex.
“Oh iya Nona, ngapain anda disini?” Tanya Alex.
“Harusnya gue yang tanya, ngapain Lo disini?” Caca malah ikut bertanya.
“Tadinya saya habis pulang dari kantor, dan saya liat anda diam sendirian disini. Saya putar balik dan beli ini!” Alex berseru heboh, sambil menampilkan beberapa kantong keresek berisi banyak makanan.
“MAKANAN PEMBANGKIT MOOD!” Seru Alex kembali, lelaki itu sibuk mengeluarkan satu mika di kantung kresek.
“Ribet banget kayaknya jadi Lo, siniin satu kantong kresek nya gue pegang, biar Lo gak ribet,” Caca merebut kantong satu kantong kresek, membuat Alex tersenyum.
“Nah gitu dong Nona, anda pengertian sekali,”