RAGASA

RAGASA
Ep. 16. Cemburu



Renita mamahnya Raga menepuk tangannya bangga, ketika makanan yang dibuatnya sudah tersaji di meja makan.


“Sayang, aku pulang!” Teriak sang suami diambang pintu, membuat Renita dengan semangat berlari ke arahnya.


“Jangan lari-lari! Inget umur,” peringat sang suami membuat Renita nyengir lalu mencium tangan Wijaya.


“Loh, ada Caca disini?” Tanya Wijaya karena melihat tas Caca yang tergeletak di kursi. 


“He’em, lagi dikamar sama Raga.” Jawabnya lalu bergelayut manja ditangan Wijaya.


Wijaya mengusap surai Renita lembut, lalu mencium puncak kepalanya, ”Panggilin mereka dulu gih, suruh makan malem,” Renita mengangguk, lalu melepaskan pelukannya dan berjalan menuju kearah kamar anaknya.


“ASTAGHFIRULLAH!” Pekik Renita kaget, setelah perempuan setengah baya itu membuka pintu kamar sang anak.


Bagaimana tidak, kondisi kamar Raga yang biasanya terlihat rapi jadi sangat berantakan dan kacau. Selimut, bantal dan guling sudah berhamburan di atas lantai. Bahkan, sprei pun hampir tercabut dari tempatnya. Tapi bukan itu yang menjadi pusat ke terkagetkan Renita, melainkan posisi tidur Caca yang jauh dari kata anak gadis.


Tidur terlentang dengan posisi kepala Caca berada disamping kaki Raga. Satu kakinya yang berada diwajah tampan Raga dan satu lagi, mulut yang sedikit terbuka membuat Renita geleng-geleng tak percaya. Renita tertawa, setelah menyadari muka anaknya yang juga sama lucunya.


“Aduh, punya calon mantu gini amat,” dumelnya sambil terkekeh lucu.


“Kenapa sayang?” Tanya Wijaya.


Sebab mendengar pekikan Renita, membuat dirinya mau tak mau harus melihat apa yang terjadi pada istri tercintanya.


“Tuh liat calon mantu kita!” Renita menunjuk dengan dagunya, membuat Wijaya pun mengalihkan atensi pada apa yang ditunjukan istrinya.


Tak lama Wijaya ikut terkekeh, “Kamu juga gitu dulu, kalau tidurnya gak dipeluk erat-erat. Kalau kata bahasa sunda sih motah.”


Renita mendengus, ”Mana ada? Aku gak gitu ya, enak aja,” ucapnya tak terima sambil mengerucutkan bibir.


“Kamu mau dicium disini, monyong-monyong gitu?” Goda Wijaya membuat Renita menghentak-hentakan kakinya kesal menuju sang anak.


Sedangkan Wijaya sudah tertawa terbahak- bahak, karena berhasil menggoda istrinya itu.


“Sayang bangun!” 


Renita mengusap-usap pipi Caca, tetapi gadis itu sama sekali tak bergeming membuat Renita berpindah menuju Raga dan menyingkirkan pelan kaki Caca yang berada dimuka anaknya.


“Sayang bangun!” 


Raga melenguh, lalu membuka perlahan-lahan matanya dan mendapati sosok cantik ibunya.


“Jam berapa emangnya bund?” Tanya Raga dengan suara serak, sambil mengucek-ngucek matanya.


“Delapan malam. Makan dulu, entar lanjut tidur. Kamu sama Caca dari pulang sekolah belum makan kan?” 


Raga mengangguk, lalu terduduk. Tiba-tiba matanya melotot melihat kondisi Caca tertidur.


“Anjir, bisa-bisanya dia tidur muter 180 derajat, padahalkan sebelum tidur gue peluk dia. Mana bantal sama guling gue udah terhempaskan ke lantai lagi,” batin Raga seraya menggelengkan kepalanya.


“Air Bund,” pinta Raga membuat Renita mengambil air di atas nakas dan menyerahkannya pada dia.


Renita kira, air minumnya untuk anaknya minum. Tapi nyatanya tidak, Raga malah mendekat ke arah Caca dan memasukan air itu ke dalam mulut Caca yang sedikit terbuka. Kalau kalian pikir Caca akan terganggu, jawabnya salah, Caca terus saja tertidur dengan mulut penuh air yang seperti mendidih karena dengkurannya.


“Kebluk banget sih? Padahalkan udah dimasukin air, ekspektasi Aga tuh dia keselek loh Bund, Pah. Tapi kok malah anteng aja tidur,” gerutu Raga kesal, ekspektasinya tak sesuai realita.


Renita dan Wijaya terkekeh, “Yaudah, kamu bangunin yang sabar. Itu juga kan calon istri kamu nanti, meskipun tidurnya udah kayak latihan jadi mayat,” ucap Wijaya masih terkekeh, sambil merangkul bahu istrinya untuk keluar, membiarkan Raga seorang diri untuk membangunkan calon menantunya.


Memang, Wijaya dan Renita sudah merancang dari awal-awal dengan Liberta kakeknya Caca. Mereka akan menikahi anak dan cucu mereka berdua kelak.


Kembali lagi pada Raga yang masih menatap Caca dengan tatapan kesal, ia kembali mendekat dan menekan hidung gadis itu supaya terbangun karena kehabisan nafas.


Dan Yap, caranya benar. Caca terbatuk-batuk sambil mengeluarkan air yang ada dimulutnya ke mana- mana, untung saja Raga cepat menghindar, kalau tidak wajah tampannya bisa menjadi sasarannya.


“Raga lo mau bunuh gue!” Sungut Caca kesal, sambil mengusap mulutnya yang penuh air. 


“Jorok lo, iler lo kemana-mana dih.”


“Bukan iler itu, air sakaratul maut,” ucap Caca polos, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Lagian, ucapan dia tidak salah kan? Raga hampir membunuhnya tadi, jadi bisa Caca pastikan, itu adalah air sakaratul maut, masa iya iler sebanyak itu.


**


Setelah drama tidur Caca dan makan malam selesai, mereka semua sedang berada diruang keluarga untuk sekedar menonton tv dan mengobrol.


“Opah kamu di Indonesia kan Ca?”Tanya Wijaya tanpa mengalihkan atensinya dari layar tv.


Caca mengangguk, “Iya, tapi sekarang lagi di Bogor mengurus perusahaan, bukannya ngurus aku,” ucap Caca kesal.


”Lagian, opah kesini nengokin aku cuman sehari, udah itu pergi lagi ngurusin kerjaannya.”


“Seenggaknya opah kamu di Indonesia. Jadi kalau mau ketemu gak kejauhan,” kata Wijaya.


Caca hanya mengangguk kembali untuk membenarkan, meskipun dirinya tak tahu kapan kakeknya akan kembali ke London yang pastinya akan lebih sulit untuk bertemu.


Setelah Caca mengangguk, terjadi keheningan beberapa menit, karena asik dengan acara tv yang ditontonnya, tetapi kembali buyar ketika Renita mengatakan sesuatu.


“Ca, kalau kamu nikah sama Raga gimana?”


Pertanyaan yang keluar dari mulut Renita sontak membuat semuanya menatap Caca untuk meminta jawaban.


“Ya gak papa, malahan bagus. Jadi aku gak perlu nyari, terus kenalan lagi, adaptasi lagi. Kalau sama Raga kan enak, udah hampir tahu juga sikapnya kayak gimana,” jawab Caca membuat kedua orang tua Raga tersenyum bahagia, ternyata tak sesulit itu untuk menikahkan keduanya, ternyata mereka semua sama-sama mau.


“Apalagi Pah, Bund. Raga tuh kayaknya suka sama aku deh. Gimana nggak? Sama cewek lain tuh dia dingin, cuek terus galak, tapi sama aku enggak gitu, semuanya seakan berubah 180 derajat,” jelas Caca dengan percaya dirinya.


“Dih! Ge’er lo!” Hardik Raga tak terima.


“Bukan ge’er Raga, tapi kenyataan. Contohnya tadi aja deh, gue jalan sama kak Cakra, lo tiba-tiba marah kayak cemburu gitu, disebut apa kalau bukan lo suka sama gue?” Pembelaan Caca membuat Wijaya dan Renita terbahak tawa.


Mendengar tertawaan Bunda dan Papahnya membuat Raga menggeram sebal, “Gue gak cemburu, gue cuman khawatir sama lo, lagian tuh cowok baru lo kenal juga kan? Gue cuman menjalankan misi buat jagain lo!” Tekan Raga sambil menatap Caca tajam.


“Kalau beneran gak suka, gak perlu gitu juga kali jelasinnya, santai aja, ya gak Bund, Pah?” Ucap Caca meminta dukungan dari Wijaya dan Renita.


Sepasang suami istri itu mengangguk, lalu tertawa. Nampaknya lucu, membuat anak tunggalnya marah.


“Tahu tuh, kalau suka bilang. Gengsi gede banget,” timpal Wijaya ikut mengompori anaknya.


“Bener tuh kata papah, kalau suka tuh bilang aja, jangan sampai diembat dulu sama orang baru nyatain perasaan,” sahut Renita tak mau kalah juga.


“Tahu tuh, ngaku aja kali!”


Melihat orang tuanya mendukung Caca daripada dirinya, membuat lelaki itu mencabik kesal.


“Gue gak suka sama lo ya!” Serunya tajam.


“Sekarang bagian gue yang nanya!” Lanjut Raga sambil menampilkan seringainya.


”Lo suka sama gue?” Tanpa ragu Caca mengangguk.


”Suka, emang ada alasan buat gue biar gak suka sama lo?”


“Cinta?” Tanyanya lagi.


“Tentu,” jawab Caca tak mau kalah, meskipun ia tak tahu arti cinta itu seperti apa.


Raga berdecih, ”Emang lo tahu apa arti cinta itu apa? Rasain aja belum pernah kan? Sok-sokan bilang cinta sama orang.”


Setelah mengatakan itu, Raga berdiri dan meninggalkan tempat tersebut.


“Meskipun gue gak pernah rasain apa itu cinta, seenggaknya gue bakal rasain itu sama lo!” Caca berteriak, berharap Raga mendengarnya.


Renita dan Wijaya hanya bisa menatap keduanya, tak tahu harus menanggapi apa. Jujur, mereka speechless.