
Caca menemui Sasa Sekarang, ia akan mencoba berbicara empat mata dengan perempuan itu. Meskipun teman-temannya ikut mengintip. bahkan, Bima pun ada, karena tau soal kasus ini di grup angkatan, makanya ia mau mendengarkan alasan Sasa, dengan cara mengintip seperti ini.
“Hai Sa!” Kata caca, memulai pembicaraan.
“Lo gak benci gue?” Bukan balasan yang di dapatkan, tetapi sebuah ungkapan yang membuat Caca tersenyum mendengarnya.
“Buat apa gue benci Lo?” Tanya Caca.
“Padahal, Gue berharap Lo bakal benci gue,” Ucapnya, terkekeh pelan.
“Gimana kabar Lo? Baik?” Tanya Caca.
Sasa mengangguk “selalu baik,” Jawabnya.
“Hubungan Lo sama Alzam gimana?”
Caca sengaja mengambil topik seperti ini terlebih dahulu, supaya Sasa tidak merasa curiga, sedang di gali informasinya.
“Gak gimana-gimana,” Jawabnya.
“Lo beneran gak suka sama dia?”
“Enggak, Gue sama sekali gak suka dia!” Ucap Sasa penuh penekanan.
“Tapi kenapa Lo kejar-kejar dia, kalo Lo gak suka dia?”
Sasa terdiam, lalu menyenderkan tubuhnya di kursi, “Ada alasan yang gak bisa gue omongin di sini,”
Caca mengangguk, lalu menggaruk tekuknya ”Emm... maaf sebelumnya, gue mau nanya sekali lagi sama lo. kenapa Lo tempelin foto-foto Bima sama Bella? Pasti bukan karena gabut doang kan? Atau karna lo gak suka sama Alzam, alasannya gak masuk akal kalo gitu,”
“Emang itu alasannya,” Jawab Sasa.
Caca tersenyum, lalu ikut menyenderkan tubuhnya ”Mata Lo penuh dengan kebohongan,” Ucap Caca.
“Gak usah bohong Sa. gue tau ada alasan lain, makanya Lo lakuin itu, gue juga liat Lo di rumah sakit kemarin, apa ada sangkut pautnya?” Penasaran Caca.
“Kalo misalnya bohong emang kenapa? Itu juga bukan urusan lo kan ca?” Tanya Sasa, mulai tak nyaman di beri pertanyaan seperti itu.
“Kenapa harus bohong? Kenapa Lo gak ceritain cerita aslinya sama gue?”
“Kenapa gue harus ceritain semuanya ke Lo?” Tanya Sasa.
“Ya karena gue peduli sama Lo sa,” Balas caca.
“Peduli?” Sasa kenaikan satu alisnya, ”Yakin peduli, atau mau tau aja persoalan hidup gue?”
“Gue beneran peduli sama Lo sa,” caca mencoba meyakinkan.
“Kalo emang beneran Lo peduli, Lo gak mungkin bawa empat teman cowok Lo, buat nguping pembicaraan kita,” Kata Sasa, membuat lelaki yang sedang menguping tersentak kaget.
“Pada dasarnya, Lo emang mau tau, bukan peduli. Lo mau dengar cerita gue, supaya kasus ini selesai,” Sasa berdiri, hendak pergi. Tetapi di tahan oleh tangan Caca, yang menyuruhnya untuk kembali duduk.
Keempat cowok yang sudah kepergok menguping pun mendekat, sebelum Sasa benar-benar pergi. Semua lelaki itu mengerumuni, tubuh Caca dan Sasa yang sedang duduk di kursi.
“Awas, gue mau pergi!” Kata Sasa.
“Diam dulu, Gue mau dengar penjelasan Lo!” Balas Bima.
“Ngapain Lo lakuin ini? Ngapain Lo sebar video cctv pada saat Lo nempelin foto-foto gue sama Bella. Dan ngapain juga Lo bikin poster kayak gitu?” Tanya Bima.
“Gak ada kerjaan,” Balas Sasa enteng.
“Gak mungkin! Gue tahu, Lo sibuk jagain adik Lo yang sakit kan? Lo juga kerja paruh waktu di restoran, gak mungkin gak ada kerjaan, dan gak mungkin Lo gabut nempel-nempelin hal yang Lo udah tau itu privasi orang!” Sentak Bima.
Sasa diam tak menjawab, ia lupa menghapus Video cctv pada saat penempelan poster yang di buatnya, saking buru-buru. Pada akhirnya dirinya sendiri juga yang kena.
“Jadi... apa alasan Lo?” Tanya Bima kembali.
Sasa menghela nafas, susah sekali tampaknya mencari alasan, ketika orang itu sudah tau seluk-beluk kita sendiri.
“Tolol banget sih sa!” Runtuknya dalam hati.
Bima tertawa, lalu berdecih ”Cepet kasih alasan, sebelum gue apa-apain Lo, terutama adik Lo!”
“Bisa, jangan bawa-bawa adik gue?” Tanya Sasa, mengubah intonasinya dengan intonasi tak suka.
“Makanya, kasih alasannya, supaya gue gak apa-apain adik lo!”
Sasa kembali menghela nafas, mengelak pun tak bisa, bahkan untuk kembali berbohong pun, mereka nampaknya tak akan percaya. apalagi, ketika Bima membawa-bawa adiknya, dirinya sedikit takut terjadi apa-apa terhadap perempuan itu.
“Gue butuh duit,” Kata Sasa, akhirnya jujur.
“Adik gue mau operasi, dan gue butuh duit. Gue cuman kerja paruh waktu, gak mungkin bisa dapetin uang besar dalam jangka waktu pendek. Ketika ada yang nawarin buat sebarin foto itu, gue gak bisa nolak. karena tawarannya, dia bisa pinjemin gue duit yang nominalnya pas buat adik gue operasi,” Tambah Sasa.
“Jadi, Lo di bayar seseorang buat sebar foto itu?” Kini Raga lah yang bertanya.
“Iya, Gue di bayar,” Balas Sasa
Alzam tertawa ”Sebegitu rendahnya Lo, sampai-sampai dapetin duit, hasil dari bongkar privasi orang,”
Sasa melirik ke arah Alzam, ucapan lelaki itu, memang benar adanya, dan sangat menggambarkan dirinya, ”Lo emang benar, gue rendahan. Tetapi apapun gue lakuin supaya adik gue bisa operasi, meskipun dengan cara keji sekalipun.”
“Kalo Lo butuh duit, kenapa Lo gak bilang sama gue? Kenapa harus ngelakuin cara ini?” Tanya Caca.
“Lo orang baru, gue masih cukup tau diri, buat gak pinjem duit sama Lo,” Balas Sasa
“Siapa yang udah suruh Lo?” Tanya Raga.
Sasa menggeleng ”Gue gak bisa bilang, sorry....”
“Kenapa? Lo mau tetap jagain orang yang salah?” Kini, Dodi lah yang menyahut.
“Gue gak bisa bilang. Meskipun begitu, dia udah bantuin gue, dan itu konsekuensinya, ketika gue terima tawaran dia. biarin orang tau, kalo gue yang nyebar, jangan dia,”
Alzam terkekeh sinis,” Sok iya banget Lo, bagus Lo ngumpetin orang yang salah? Ngerasa udah jadi pahlawan?”
“Apaansih Lo! Lo gak akan pernah paham Zam, Lo terlahir dari keluarga harmonis, Lo terlahir dari keluarga pengertian, Lo gak akan pernah paham tentang gue. jadi stop, untuk sok tau tentang kehidupan gue!” Sasa berucap menggunakan intonasi bicara yang cukup tinggi.
“Cih, Lo nya aja yang lebay. papah Lo kaya, kenapa Lo gak minta aja? Kenapa Lo emang seolah-olah jadi manusia ter-menyedihkan pas ceritain semuanya!” Ucap alzam.
“Lo pihak salah disini, kenapa seolah-olah Lo pihak yang di salahkan?” Lanjutnya.
Sasa tertawa sumbang ”Udah gue bilang, Lo gak akan pernah paham sama apa yang gue rasain. ter-menyedihkan? Gue gak pernah merasa seperti itu! Dan satu lagi, Gue pihak yang salah disini, dan gue mengakui itu!” Tekan Sasa.
“hahaha, menyedihkan, merasa tersalahkan, gue di suruh cerita sejujurnya disini, tetapi salah satu anggotanya malah ngomong kayak gini, lucu ya?” Tambah Perempuan itu, sembari terkekeh sini.
“Dan asal Lo tau Alzam, hidup gue gak se-menyedihkan apa yang lo pikir. Hidup gue emang penuh kekurangan. Tetapi bisa jadi, hidup gue lebih menyenangkan, dari pada hidup monoton Lo itu!” Sasa tersenyum, ketika melihat Alzam hanyalah diam. Anak manja seperti Alzam, tidak akan pernah bisa melawannya.
Sasa berdiri, sembari melirik jam tangannya ”Gak ada yang di omongin lagi kan? Gue pergi dulu,”
“Gue pernah ada di posisi Lo Sa. mungkin Gue akan ngelakuin hal yang sama kayak Lo, kalo Caca gak bantuin gue. jadi... gue maafin Lo,” Perkataan yang keluar di mulut Bima, membuat langkah Sasa terhenti dan berbalik.
“Serius Lo maafin gue?” Tanya perempuan itu antusias.
Bima mengangguk lalu tersenyum. Dirinya tahu bagaimana perasaan Sasa sekarang. Mungkin ia pun akan melakukan hal yang sama, ketika akan bertanggung jawab dengan hidupnya Bella. tetapi untungnya, ada Caca yang membantu dirinya.
Bima tahu, waktu itu Sasa sedang di Landa bimbang. Cewek itu butuh uang, tetapi ia juga tidak mau mengusik hidup orang lain. Ketika Bima di posisi Sasa pun, Bima akan mengambil tawaran uang itu. Demi Bella, ia akan melakukan apapun, meskipun itu hal keji sekalipun. Demi Bella dan calon anaknya.
Sama persis, dengan yang Sasa lakukan terhadap adiknya.
Itu salah satu alasan ia memaafkan Sasa. Apalagi melihat Sasa yang datang malam-malam ke rumahnya hanya untuk minta maaf, mencoba membersihkan kembali nama baik istrinya, lalu membiarkan dirinya di bully, agar merasakan apa yang Bella rasakan. Itu cukup membuat Bima kagum, dan...tak ada alasan lagi, untuk tidak memaafkan cewek itu.
Bima dan Bella, adalah pasangan yang memiliki hati yang mulia
Tuan dan istrinya pun memaafkan, kenapa, dirinya tidak?