RAGASA

RAGASA
Ep. 10. Misteri Saka



Akhirnya, setelah melewati banyak drama, anggota Alverage sudah berada di club terkenal di kotanya. Mereka kesini, hanya untuk merayakan kemenangan, sekaligus menghabiskan uang dari motor Kevin yang baru saja mereka jual, di pasar gelap.


“SIAP BERSENANG-SENANG!”Seru Bima semangat, tidak lupa badannya yang berlenggak-lenggok seolah mengikuti irama lagu.


“SIAP DONG!” Balas semua anggota, mereka semua ikut berlenggak-lenggok mengikuti gerakan Bima.


Lagi-lagi Raga mengusap wajahnya kasar, lelah dengan tingkah absurd para anggotanya, bisa-bisanya mereka joget di parkiran. Sangat memalukan.


”Masuk!” Titah Raga.


Mendengar seruan itu, anggota Alverage langsung berlari berbondong-bondong masuk kedalam. Mereka semua sudah tak sabar bersenang-senang dengan harga gratisan.


Caca yang biasanya semangat, kini hanya mengekor, mengikuti langkah Raga.


“Ga…” Panggilnya dengan suara pelan.


“Hm,” dehem Raga sambil menaikkan satu alisnya.


“Gue ngantuk, lo malah bawa gue kesini!” Kesal Caca.


“Mau pulang aja?” Tanya Raga.


Caca mencebikan bibirnya lalu berdecak, ”Udah terlanjur kali, harusnya dari tadi lo ngajak gue balik!”


Raga tersenyum kecil lalu merangkul bahu gadis itu, ”Maaf deh maaf, lagian bukan permintaan gue, permintaan temen-temen lo yang minta kita buat kesini.”


Caca Menghela nafas, lalu membalas rangkulan Raga, tetapi bukan dibahunya melainkan dipinggangnya, karena Raga terlalu tinggi untuk wanita seperti Caca.


Caca duduk di kursi bar tanpa minat, ia hanya menonton teman-temannya yang berlenggak-lenggok di tengah-tengah lautan orang. Sedangkan dirinya, hanya duduk menikmati segelas soda. Raga memang tak memperbolehkannya, meminum minuman keras.


“Aish.. Nyebelin banget sih si Raga! Gue di biarkan disini sendirian, lama banget tuh orang di toilet,” monolog Caca kesal.


Raga memang tidak pernah sama sekali ikut, dirinya hanya diam dan mengawasi, takut-takut ada teman-temannya yang terlewat batas.


“Hai cantik, ikut om yuk!” Ucap om-om hidung belang sembari memegang pipi Caca. Nampaknya, om-om itu sedang mabuk berat.


“Singkirkan tangan kotor lo!” Ketus Caca sembari menghempaskan tangan om-om itu.


Om-om itu tersenyum miring, sembari memegang dagu Caca, hendak menciumnya, membuat mata Caca melotot dibuatnya.


Bugh!


Caca menonjok pipi tua bangka itu dengan keras, membuat tua bangka itu terhuyung ke belakang.


Gadis itu berdiri, lalu berjalan ke arah tua bangka yang sedang menahan amarahnya.


“Mulut lo bau tai, berani-beraninya lo mau cium gue!” Bentak Caca.


“Dasar tua, gak inget umur lo!” Ketusnya kembali menonjok pipi itu. Ia sangat tidak suka dilecehkan seperti itu, emangnya dirinya gadis apaan.


Ini salah satu alasan dirinya malas masuk ke tempat ini. Selain mengantuk, ia juga malas bertemu om-om cabul seperti ini.


“Cih, jangan sok suci kamu, mau dibayar berapa? Sampai sok jual mahal kayak gitu,” keukeuh si tua, membuat mata Caca melotot.


“Sekaya apa sih lo? Sampe berani-beraninya tawar gue?” Sinis Caca, melihat tua bangka itu dari atas sampe bawah.


Ia merogoh sakunya, untuk mengambil dompet. Lalu mengeluarkan kartu tanda pengenal itu dan menyimpannya di depan mata si hidung belang.


“Caca Queensa Libertà. Pengusaha murahan kayak lo gak mungkin, gak tahu siapa libertà kan? Dia kakek gue, satu nama itu aja udah bisa ngejelasin seberapa kayaknya gue. Dan lo dengan tololnya mau bayar gue? Sebelum lo bayar gue, perusahaan lo gue beli!” Kata Caca dengan bersedekap dada.


Drekk!


Ia menginjak dada pria hidung belang itu, lalu kembali ke tempat duduknya dengan wajah super datar. Rasa kantuknya hilang, gara-gara manusia pengganggu itu.


Satu orang bartender yang memperhatikan Caca sedari tadi, memilih bertanya pada gadis itu. Setelah gadis itu sudah duduk kembali di kursi bar, segera ia sambar dengan pertanyaan.


”Adiknya Saka?” Tanya bentender itu.


Caca mendongak dengan dada yang berdegup kencang, siapa orang yang tahu dan berani menyebutkan nama kakaknya.


Caca menjadi teringat, tempat ini adalah tempat dimana kakaknya yang bernama Saka, dibunuh disini.


Caca tak menyukai tempat seperti ini, tetapi itu juga yang mengharuskan Caca kesini. Menyelidiki, tetapi ketika sampai disini, Caca selalu tiba-tiba lupa akan tujuannya.


Bartender itu tersenyum dari dulu, ia sudah yakin bahwa gadis yang suka kesini bersama rombongan geng Alverage adalah adiknya saka. Ia baru berani menanyakannya sekarang, setelah gadis itu menyebutkan nama panjangnya didepan laki-laki berhidung belang.


“Gue Cakra, temen Saka dulu,” bartender itu mengulurkan tangannya, membuat Caca membalas uluran tangan itu sambil tersenyum.


“Aishh.. Kenapa baru ngomong sekarang coba? Kan gue sering kesini,” Omel Caca.


Cakra terkekeh lalu mengacak-acak rambut Caca, membuat sang empu melotot, ”Udah di rapihin lo kak!” Kesalnya sembari merapikan kembali rambutnya.


Mulai sekarang, Caca akan menyebut Cakra dengan menggunakan embel-embel ‘kak’ karena dulu Cakra adalah teman kakaknya.


“Ada apaan nih?” Tanya Raga. Lelaki itu baru saja kembali dari toilet.


“Kepo!” Balas Caca membuat Raga memutar bola matanya malas.


“Kak Cak, gue boleh minta nomor telepon Lo? Entar gue kontek, ada urusan yang mau gue omongin,” ucap Caca.


Cakra mengangguk, lalu menadah tangannya, ”Mana sini Handphone


lo,” dengan senang hati, Caca cepat-cepat memberikan handphonenya pada Cakra.


“Nih udah, gue mau lanjut kerja dulu,” Cakra memberikan kembali handphone Caca, lalu berlalu dari sana.


“MAKASI KAK CAK!” Teriak Caca, memasukan kembali handphonenya pada saku.


“Seneng banget dapet nomer dia? Suka lo?” Sinis Raga, membuat Caca tersenyum jahil.


“Emangnya kenapa kalau seneng? Lo cemburu?” Goda Caca sambil menaik-naikan alisnya.


“Gak,” balasnya


“Bohong!” Ucap Caca masih mencoba menggoda Raga.


“Kagak, emangnya ngapain gue cemburu.”


Caca berpikir sejenak, lalu kembali berbicara, ”Ia juga ya, kenapa lo harus cemburu? Kan kita cuman TEMAN!” Kata Caca, sembari menekan kata ‘teman’


sudah hampir dini hari, tetapi Caca baru saja sampai di pekarangan rumahnya.


Gadis itu mengerutkan dahinya, ketika ia kembali menemukan kotak berwarna hitam seperti waktu lalu. Waktu dimana, ada orang yang mengirimkannya teka-teki, berupa siapa pembunuh kakaknya.


Dengan segera, ia mengambil kotak itu dan berjalan cepat ke kamar.


Sesampainya di kamar. Gadis itu dengan cepat membuka kota itu. Ia sangat penasaran, apa yang akan didapatkan setelah ini. Tidak ada yang spesial, setelah ia membuka kotaknya, hanya ada sebuah secarik kertas, bertuliskan..


'Pecahkan kata-kata kemarin, kalau kamu memang menginginkan pembunuh kakakmu itu cepat ditemukan! Hanya beberapa kalimat saja, tetapi bisa membuat Caca menggeram tak suka.'


“Siapa sih yang ngirimin ini, udah tau gue lemot, disuruh main teka-teki,” seru Caca kesal.


Meskipun seperti itu, gadis itu tetap mencari kotak pertama yang manusia misterius itu kirim. Setelah menemukan kotak yang dimaksud, tanpa berlama-lama ia langsung membuka dan terdapat tulisan seperti ini disana.


Orang terdekat lo! 4 h\=alphabet


Caca manggut-manggut seperti paham, ”Berarti orang yang ngebunuh kakak gue adalah orang terdekat gue, yang berinisial 4h\=alfabet ini? Bener gak sih?” Tanyanya pada diri sendiri.


“4h\=alphabet...” Gumam Caca.


Caca menepuk pelan dahinya, siapa yang mengirimkan teka-teki kepadanya ini? Apakah orang itu tidak tahu? Otak kecilnya, tidak akan mungkin bisa mencerna.


Kenapa orang itu tidak menemuinya dan berbicara empat mata? Kenapa harus melalui teka-teki seperti ini? Caca kembali mengambil kuota gitu, lalu membolak-balikannya mencari sesuatu, ia berharap ada nama alamat atau nama orang yang mengirim, ternyata tidak ada.


Caca menghela nafas, ”Tolonglah manusia misterius, jangan kasih teka-teki susah seperti ini, kasian otak saya. Dan kasian juga ke anda nya, anda cape-cape mengirimkan, tetapi saya sama sekali tak paham dan menemukan jawaban.”