
"Saaaayaaanggggg!" Teriakan menggelegar itu membuat atensi mereka teralihkan, apalagi saat gadis itu langsung bergelayut manja pada tangan Alzam, membuat mereka semua semakin bingung.
"Siapa lo Zam?" Tanya Dodi sambil memasukkan makanan nya kembali.
Hendak Alzam menjawab, tetapi gadis itu menyela sambil mengulurkan tangannya.
"Hai, nama gue Raisa panggil aja Sasa, gue tunangan Alzam." Dodi membalas uluran tangan itu.
"Gue Dod—"
Gadis itu langsung menyuruh Dodi diam menggunakan isyarat tangannya, lalu berucap, "Lo Dodi kan? Dan yang disebelah lo itu Bima, sebelah Bima Caca, sebelah Caca itu Raga dan sebelah Raga tunangan gue, siapa juga yang gak tahu kalian?" Cerocosnya lalu duduk dikursi sisi Alzam yang kosong, masih dengan tangan yang bergelayut manja disana.
Sedangkan Caca dan Raga masih syok atas fakta yang terimanya hari ini, sangat bertubi-tubi.
"ANJIR-ANJIR-ANJIR! TIGA KABAR BAIK, KABAR BAIK KAKEK GUE, KABAR BAIK BIMA DAN KABAR BAIK SI MANUSIA BATU ALZAM TUNANGAN, GAK BISA DIBIARIN INI, GUE HARUS NGAPAIN SUPAYA NYALURIN RASA SENENG GUE LAGI, APA GUE HARUS TERJUN DARI ROOFTOP KE LAPANGAN, SUMPAH DEMI APAPUN GUE SENENG BANGET COK!" Teriak Caca lebay, membuat seisi kantin juga kaget dengan pekikan itu, apalagi mendengar perkataan Caca bahwa Alzam tunangan.
"Untung Caca gak sebutin kabar tentang gue," batin Bima masih dengan menelungkupkan wajahnya.
"Manusia sialan!" Umpat Alzam dalam hati.
Awalnya ia akan menyembunyikan pertunangannya ini, tapi ketika Caca berteriak seperti itu, harapannya sirna. Lebih tepatnya harapan hidup tenangnya kembali sirna.
"Hai gue Caca, temennya si manusia batu ini, semoga kita bisa berteman dengan baik," riang Caca mengulurkan tangannya pada Sasa dan dibalas uluran tangan baik juga oleh gadis itu.
"Oke, sekarang kita temenan, deal?"
"Deal dong!" Jawab Sasa semangat juga.
Mereka berdua tampak asik mengobrol, sampai pada akhirnya ada seseorang yang datang.
“Dilapang lagi riuh banget neriakin nama lo,” ucap orang itu.
Raga mengerutkan dahinya, “Ngapain?” Tanya Raga.
“Lo liat sendiri aja Ga.”
Setelah mengatakan itu, orang tersebut lalu pergi begitu saja. Raga melirik Caca sekilas, lalu bangkit dari duduknya. Apa yang terjadi dilapangan? Sampai-sampai meneriaki namanya.
Dan benar saja, lapangan penuh dengan kerumunan orang dan suara bising yang meneriaki namanya.
Ia menerobos masuk, bersama teman-temannya dibelakang. Matanya mendelik, ketika melihat satu orang perempuan memegang spanduk bertuliskan ‘I love you Raga’ tidak lupa satu buah bucket bunga di tangannya.
“Ngapain lo kayak gitu?” Tanya Raga tajam.
Mona tersenyum, ”Kamu mau jadi pacar aku gak? Kalau mau, ambil bunga ini ditangan aku.”
“TERIMA! TERIMA! TERIMA! TERIMA! TERIMA!”
Suara semua orang yang berada di lapangan mengatakan itu. Bahkan Caca sudah menjadi suporter paling depan dan paling keras meneriaki kata itu.
Raga menghela nafas, mengambil bunga itu, membuat senyum Mona mengembang.namun naas, tidak berlangsung lama, senyuman itu hilang seketika, ketika Raga menginjak-injak bunga tersebut setelahnya.
“Gue udah bilang sama lo! Stop ganggu kehidupan gue!” Bentak Raga.
Mona tetap tersenyum kecil, “Kamu masih gak mau nerima ya?Yaudah, gak papa, aku bakalan berusaha buat dapetin hati kamu lagi.”
Raga menggeram, “Stop lakukan ini, gak usah buang-buang waktu berharga lo, buat kejar gue! Semuanya percuma, gue gak akan pernah suka sama lo!”
o pikir, gue bakal suka setelah lo lakuin ini? Jawabannya salah, gue makin muak sama kelakuan lo, lo makin keliatan murahan di mata gue!”
Setelah mengatakan semua unek unek terpendamnya selama ini, Raga berjalan meninggalkan lapangan.
Caca melirik Mona yang tampak malu dengan wajah merah, sedangkan teman-temannya yang lainnya sudah mengikuti Raga.
Caca mendekat, lalu memegang pundak gadis itu, “Semangat, omongan Raga jangan sampai dimasukin ke hati,” ucap Caca memberi semangat.
Caca melirik Raga yang sudah badmood karena kejadian tadi. Caca mendekat, lalu menepuk-nepuk punggung Raga.
“Lo udah keterlaluan Ga, gak semestinya lo bilang gitu tadi,” ucap Caca.
Raga melirik Caca, ia tak suka ada yang mengaturnya, meskipun itu Caca sendiri.
“Lo udah bikin anak orang malu dan itu gak pantes lo lakuin. Kalau misalnya lo gak suka, omongin baik-baik kan bisa? Jangan sampe kayak tadi.”
“Dia yang permalukan dirinya sendiri!” Balas Raga. “Tapi tetep aja Ga, lo gak boleh gitu.”
“Lo nyalahin gue? Terus gue harus gimana? Pura-pura baik? Gue kayak gini, supaya dia gak berharap lebih sama gue, itu alasannya.”
“Gue gak nyalahin lo, gue sama sekali gak menghakimi lo. Gue bicara kayak gini, karena ada ucapan lo yang menurut gue udah keterlaluan. Bukan berarti ada niat apapun. Lo temen gue dan gue gak mau, lo jadi monster cuman gara-gara nyakitin hati orang Ga.”
Raga berbalik lalu menatap manik Caca. ”Lagian dianya, gue udah bilang enggak, tapi tetap saja nerobos, jadinya kan kesel!”
Caca terkekeh saat melihat gelagat anak anak pada Raga sekarang, menggemaskan. Ia mencubit pipi itu dan tersenyum.
**
Caca sudah berada didalam rumah, setelah mengurusi urusan resto dan apartemennya kepada Bima.
Badannya terasa sangat lelah, kepalanya pun kembali terserang pusing. Mungkin karena badannya selalu diforsir untuk menjadi wanita ceria.padahal dulu, seberat apapun dirinya, sekeras apapun dirinya bekerja. Badannya sama sekali tidak pernah merasa lelah, malahan sebaliknya. Tapi sekarang, rasanya terasa berbeda.
'Angkat telponnya, angkat telponnya, angkat telponnya'
Suara dering di handphone Caca berbunyi mengalihkan atensinya, membuat gadis itu terpaksa mengangkat telepon.
“Opah lo udah dateng?” Tanya Raga si penelpon.
“Belum, masih dijalan mungkin. Kenapa?”
“Enggak, kata bunda, dia kangen sama lo, kapan kesini? Katanya.”
Caca terkekeh, ”Lo apa bunda yang kangen gue?”
“Bunda!”
“Biasa aja kali Ga, gue kesana besok kok, gak usah khawatir. Sekarang harus nunggu opah.”
“Bodo! Lo mau kesini atau enggak juga, gue gak peduli.”
“Iya dah iya, paling gak peduli, padahal sayang banget,” cibir Caca.
“Gue matiin telponnya.”
Caca tertawa terpingkal-pingkal, ketika Raga mematikan sambungan telponnya. Sangat-sangat lucu.
Caca bosan, lalu mengscroll kontaknya ke atas dan kebawah, tiba-tiba ia menepuk jidatnya ketika mendapati nomer kak Cakra.
bisa-bisanya ia lupa, padahal kan ia akan menanyakan hal tentang pembunuhan kakaknya. Dirinya pikir, Cakra pasti tahu sesuatu, karena lelaki itu kerja disana. Meskipun kemungkinannya sangat kecil, Caca akan mencobanya.
Caca hendak menghubungi nomer Cakra sekarang, mumpung belum terlalu malam, tapi pada saat ingin menelpon, suara opahnya menggelegar sampai penjuru rumah, membuatnya lupa akan tujuannya.
“Sayang, opah datang!”
Mendengar teriak opahnya, Caca langsung berlari dan melempar handphonenya ke sembarang arah, ia sudah tak sabar ingin bertemu sosok laki-laki itu.
Grep!
Setelah melihat keberadaan kakeknya, tanpa aba-aba Caca langsung berlari dan memeluk laki-laki paruh baya itu, membuat kakeknya sedikit terhuyung.
“Opah, Caca kangen tahu,” rengeknya, semakin mengeratkan pelukannya.
“Cucu opah dah gede, tapi manjanya masih sama,” cibir Libertà sambil menarik gemas hidung kecil gadis itu.
“Lagian opah udah jarang kesini, udah kayak gak punya cucu aja. Di Luar negri terus kerjaannya, gak sayang sama negri Sendiri? Terus gak sayang sama cucunya sendiri? Kesel deh lama-lama.”
Memang, libertà tidak tinggal disini, tetapi di London, mengurusi perusahaan yang ada disana.
“Yaudah, maafin opah deh. Kamu gak mau nyuruh opah duduk gitu?Cape loh dari bandara langsung kesini.”
Caca nyengir, lalu membawa opahnya untuk duduk dan kembali memeluk pria paruh baya itu, menyimpan kepalanya di dada dan mengandung sel-dungsel disana.
“Pokoknya aku mau tidur sama opah sambil meluk gini!” Celetuk Caca sambil memejamkan mata, sedangkan opahnya yang sudah kepalang gemas, mencubit keras pipi gadis itu dan menciumi puncak kepalanya.
“Cepet nikah gih, biar kamu setiap hari bisa gini sama suami kamu kalo opah udah gak ada,” ucap opah sambil mengusap Surai rambut Caca.
Mendengar ucapan opahnya, Caca merasa ada kalimat tersirat didalamnya. Tetapi Caca cepat menggeleng, opahnya memang selalu tak ada dan meninggalkannya, bukan tak ada dalam arti lain.
“Iya opah, Caca juga pengen cepet nikah, soalnya temen-temen Caca mau pada nikah semua. Apalagi Bima, dia besok nikah dan mau jadi papah.”
Caca menjelaskan sembari mendongak, membuatnya semakin terlihat menggemaskan.
“Oh ya? Opah ikut seneng deh dengernya. Semoga opah juga bisa ikut nyaksiin kamu kalau nikah nanti,” ucap Liberta.
“Aishhh.. Opah ngomong apa sih?Opah pasti nyaksiin Caca nikah lah!”
“Iya-iya,” final opah, masih mengusap-usap Surai rambut Caca.