
Melakukan ritual yang sering mereka lakukan, ketika malas memasuki pelajaran. yaitu membolos, kali ini mereka berada di rooftoop untuk menikmati semilir angin sepoi-sepoi si siang hari.
Caca sedang tertidur di salah satu kursi usang, mungkin karena cewek itu sangat kelelahan karena tak tidur semalaman.
Sedangkan yang lainnya sedang bergibah ria, lebih tepatnya Dodi dan Bima saja, Raga dan Alzam hanya menjadi pendengar.
"Lo tau gak sih? kenapa geng libra gak pernah ngusik alverage lagi? gue kangen keributan," Ucap Dodi.
"Bener anjir, pas gue papasan di jalan aja udah biasa aja. kek, kayak emang kita tuh udah baik-baik aja. gue kan kayak udah bersiap siaga, tapi ternyata mereka gak kejar gue," Balas Bima.
Dodi mengetuk-ngetuk dahinya berpikir "apa kita yang cari keributan aja? sekali-kali yakan?" Dodi menaikkan alisnya, meminta persetujuan.
Bima memberikan jempolnya setuju, tidak lupa dengan senyuman yang tercetak di bibirnya "Fiks, gue setuju, kalo gak tarung-tarung, bisa-bisa gue lupa caranya,"
"Jadi.... Rencana apa yang bakal kita buat, buat cari keributan maksudnya," Tanya Dodi, menopang tangannya di dagu.
"Gimana kalo kita rusakin markasnya, kita gebukin anggotanya, terus bakar bendera sama jaketnya, gimana? Lo setuju?" Saran Bima.
"Setuju dong, kita lakuin itu pulang sekolah,"
"Jangan pada Macem-macem Lo berdua!" Sambar Raga. takut-takut jikalau anak buah gesreknya itu mencari keributan.
Karena salah satu motto alverage adalah, tidak akan menyerang, jikalau tidak di serang duluan.
Mereka berdua melorotkan bahunya lesu, kalo sudah ketuanya berbicara, mereka tak bisa berbuat apa-apa.
Mendengar suara lenguhan perempuan di dekatnya, mereka semua memusatkan perhatian kepada perempuan yang sudah terbangun dan mengagruk-garuk kepalanya.
"Udah kek mayat Lo! muka pias, kantung mata Lo gede banget, mana makin hari Lo makin kurus, kayak Manusia gak ke urus Lo sekarang." Ceplos Dodi, berniat bercanda.
Caca memegangi kepalanya, wanita itu merasa kepalaku pusing sekarang, sampai-sampai, wanita itu tak sanggup hanya sekedar membalas ucapan Dodi.
Caca memijit-mijit pelipisnya, setelah peningnya berkurang, perempuan itu menatap semua temannya.
"Emang gak ke urus. gue tanya sama Lo, emang ada yang urus gue? gue gak punya keluarga, mereka semua udah mati ninggalin gue! gimana gue bisa ke urus coba!" Entah Kenapa, Rasanya ia sangat sensitif sekarang, jika berbicara yang bersangkutan dengan keluarganya.
Caca berdiri, lalu pergi dari dari sana meninggalkan teman-temannya. Wanita itu sedang malas berbicara, termasuk dengan mereka semua.
"Jangan omongan Lo anjir!" Kesal Bima, menampol kepala Dodi.
"Lah? gue ngomong kenyataan kali, dianya aja yang sekarang jadi baperan," Kata Dodi, mengusap-usap kepala bekas tampolan dari Bima.
"Bukan baperan tolol! dia baru bangun tidur, udah di kata-katain yang enggak-enggak! gila kali, nyawanya aja belum ke kumpul sepenuhnya, Lo udah asal aja ngebacot! gue aja kesel yang dengernya!"
|••••|
Raga and the gang berakhir di lapangan dengan Hormat bendera, niat hati ingin mencari Caca, mereka malah kepergok sedang membolos lagi.
Caca, wanita itu tetap diam dan tak berbicara di tengah-tengah empat teman lelakinya. terus menunduk, menghalau sinar matahari langsung ke daerah wajahnya.
Sedangkan Dodi, lelaki itu melirik ke arah Caca yang tampaknya beneran marah terhadapnya. kalo terus di diamkan seperti ini, bisa-bisa istirahat dirinya akan mengeluarkan uang, lelaki itu tak ingin uangnya berhamburan hanya untuk jajan di kantin hari ini dan selamanya, selama ia bersekolah di sekolah ini.
"Maafin gue Ca, kalo omongan gue tadi ada yang salah, jangan marah sama gue," Dodi terlihat menyesal saat berbicara seperti itu. entah memang menyesal, atau takut, takut karena uang jajannya akan habis sekarang, jikalau Caca masih marah kepadanya.
"Gak! gue gak mau maafin Lo!" Balas Caca.
"Ya karena, Lo minta maaf bukan karena Lo mau minta maaf beneran kan? Lo minta maaf, karena Lo gak mau duit Lo keluar buat jajan, kalo misalnya gue masih marah, bentar lagi kan istirahat," Ucap Caca, tetap sasaran.
Dodi menggeleng tak terima, meskipun yang ucapakan Caca ada benarnya, atau mungkin benar semua?
"Enggak, gue minta maaf karena gue ngerasa salah, makanya minta maaf, bukan karena gak mau duit keluar hari ini," Kata Dodi, melakukan pembelaan.
"Ya udah kalo masalahnya bukan duit, berati traktir gue hari ini,"
Duit? Atau mengeluarkan uang, itu adalah hal yang sensitif bagi telinga dan dompetnya Dodi. Dodi tak bisa membiarkan hal itu terjadi.
"Lo mau maafin gue gak sih?! kalo enggak ya udah! jangan pakai basa-basi segala!" Dodi memalingkan wajahnya kembali ke arah tiang bendera.
"Dih, kalo soal duit aja Lo ngalihin pembicaraan. jujur aja kali Dod, kalo Lo minta maaf emang karena gak mau ngeluarin duit, gak perlu pakai embel-embel kayak gitu. lagian gue gak papa kok, kalo Lo terus manfaatin gue, lagian juga gue bingung, duit gue kebanyakan, gue gak tahu harus di kemanain lagi nih duit,"
Dodi kembali melirik ke arah Caca, kini dengan mimik wajah yang berbeda, yaitu mimik wajah ceria yang selalu di tunjukkannya, ketika uangnya akan selalu di tabung dan tidak mengeluarkan uang.
Dodi memang seperti itu, pelit adalah cara terbaiknya untuk menjadi kaya.
"Lo emang teman yang paling mengerti gue," Seru Dodi.
"Gue minta maaf, kali ini beneran minta maaf, tanpa embel-embel," Tambah Dodi, Sembari mengulurkan tangannya.
Caca tersenyum lalu membalas uluran tangan Dodi "Maafin gue juga, nyawa gue belom kekumpul semua tadi, tapi Lo udah mgebacot aja, jadi bikin kepala gue pusing," Ucap Caca, membuat Dodi mengangguk mengerti.
"Oh iya Ca, gue boleh datang ke resto Lo kan? gue mau aja cewek dingin itu ke resto Lo,"
Dodi memang senang memanfaatkan.
"Lo udah dekat sama cewek itu?" Tanya Caca.
Dodi menggeleng "Belum, tapi gue mau modus-modus dikit, pura-pura mau beli makanan di dia, eh tahunya ngajak makan,"
"Dih, gak punya modal banget lo! masa, mau kasih makan cewek aja, harus pakai restoran Caca," Sambar Bima mencibir.
"Terserah gue lah! lagian gue sama dia belum jadian, kalo misalnya udah, gue pasti boking tuh resto Caca, pake duit gue sendiri!"
"Aminin dulu aja lah, biar si Caca kagak rugi terus," Kata Bima, mengakhiri obrolan semuanya
Mereka semua akhirnya melakukan hukuman dengan berdiam diri tanpa sama sekali mengobrol, yang mengakibatkan perkelahian.
Menikmati panasnya langit yang secara langsung menghantam kepala mereka. sebelum tiba-tiba—
Bruk
Mereka semua menoleh ke sumber suara, mata mereka tiba-tiba melotot kaget, ketika menemukan Caca yang sudah tergeletak karena pingsan disana.
Raga mendekat, lalu menepuk-nepuk pipi Caca berharap perempuan itu terbangun, mimpinya yang kemarin malam seolah menjadi nyata sekarang. mimpi itu terputar kembali di otaknya, yang membuat lelaki itu dilanda ketakutan.
"Ca bangun Ca, bangun!" Raga masih saja menepuk-nepuk pipi Caca. membuat Alzam yang melihatnya memutar bola matanya malas, kenapa Raga jadi bodoh seperti ini?
"Bawa ke UKS goblok!" Hardik Alzam, membuat Dodi dan Bima melotot dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Alzam jarang sekali berbicara, tetapi sekalinya berbicara, pasti ada saja umpatan yang keluar dari mulut lelaki itu.