RAGASA

RAGASA
Ep. 94. Menolong nenek



“Lusa kamu operasi, siapin diri kamu,” ucap Dokter Bagas.


Caca mengangguk mengangguk semangat “Doain gue ya, supaya gue bisa sembuh,”


Dokter Bagas tersenyum, sambil mengusap-usap kepala Caca, “Nah gini dong, saya suka liat semangat kamu mau sembuh,”


Caca tersenyum membalas senyuman Dokter Bagas “Makasih ya Pak Dokter,  udah sabar ngadepin sikap keras kepala gue.”


Dokter Bagas kembali mengangguk, “Ya sudah kalo begitu, saya pamit dulu keluar. Mau cek pasien yang lain.” 


“Okey,”


Setelah Dokter Bagas keluar, Caca membaringkan tubuhnya, dan menatap langit-langit bangsal kamarnya.


Menghela nafas pelan, lalu menutup matanya “Saya serahkan semuanya padamu tuhan. Saya tidak terlalu berharap untuk sembuh kembali, tetapi jikalau kau mengizinkannya, saya takan sia-siakan kesempatan itu,”


“Maaf, jikalau selama menjadi hamba mu, saya selalu melakukan kesalahan. Maafkan saya tuhan, saya ingin memperbaiki semuanya, jikalau kau mengizinkannya.”


Caca mengusap air mata yang tiba-tiba mengalir tanpa permisi dengan kasar. “Saya ingin pergi, saya merindukan keluarga saya. Tetapi di sisi lain, saya tidak mau melukai siapapun, jikalau saya pergi.”


|•••|


“Lo gak pake infusan?!” pekik Caca kaget. Pasalnya, Raga datang ke bangsalnya tanpa menggunakan infusan dan memakai baju rumah sakit.


Raga tersenyum lalu mengangguk bangga “Gue udah sembuh kali, emangnya lo kagak sembuh-sembuh!”


Caca tertawa, seraya menepuk-nepuk  dadanya “Gue juga bentar lagi sembuh kali. Lo gak tahu aja, kalo gue lusa operasi!”


“Iya kah?” tanya Raga antusias.


“Doain aja gue nya, supaya gue sembuh dan terus sama lo!”


Raga memegang tangan Caca “Gue selalu doain lo, pokonya lo harus sembuh dan jaga kesehatan juga, supaya operasinya lancar,”


Caca mengangguk “Raga,” panggil Caca, sambil mengusap-usap tangan Raga yang memegangnya.


“Kenapa, hm?” tanya lelaki itu, menatap manik Caca sepenuhnya.


“Berhubung lusa gue Operasi, temenin gue jalan-jalan yuk, mumpung di bolehin sama Dokter Bagas,”


“Mau jalan-jalan kemana?”


“Ke makan keluarga gue, boleh?”


“Boleh dong, yuk!” Raga membuka jaketnya, lalu memasangkan jaket nya itu pada Caca.


“Lo tambah cantik pakai jaket alverage ini, jangan di buka.” Raga menggendong Caca, untuk berpindah di brankar menuju kursi roda.


“hihihihi, seneng banget deh, mau ketemu mereka,” seru Caca semangat.


Raga yang mendorong kursi rodanya, ikut tersenyum ketika melihat Caca tersenyum seperti itu.


Raga memegang dadanya merasa tak enak hati. Entahlah, mungkin karena dirinya nerveus, karena Caca lusa akan di operasi.


“Gue sayang sama lo, jangan tinggalin gue ya?” ucap Raga.


“Tapi gue gak sayang sama, wlee!” Caca menjulurkan lidahnya mengejek.


“Lo bilang apa tadi? Coba ngomong sekali lagi?” Raga mendekat dan berlutut di depan Caca. Dengan satu alis yang mengangkat.


Caca menutup mulutnya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak berani menjawab.


“Ngomong apa tadi, hm?”


“Gue gak sayang sama Lo, wlee!” jawab Caca kembali menjulurkan lidahnya.


“Berani ngomong gitu? Berani?” Raga mengangkat tangannya lalu menggelitik tubuh Caca, membuat perempuan itu tertawa, dan secara spontan menular ke arah Raga.


“STOP HAHAHAHAA, STOPPP AHAHAHAHAHA, GAK KUAT AHHAHAHAAHA!” Caca masih saja tertawa, karena gelitikan Raga yang semakin merajalela.


“Bilang dulu lo sayang sama gue, baru gue berhenti,”


“Gak mau ahahahahahahah!”


“Oh gak mau?” tanya Raga, bersiap menambah kekuatan gelitikanya.


“Gue sayang sama lo!”


Raga tersenyum lalu berhenti menggelitik perut perempuan itu “Nah gitu dong, susah amat bilang sayang.”


“Tunggu disini, jangan kemana-mana dulu. Gue mau ambil sesuatu buat lo,” tambahnya, lalu berjalan ke arah bagasi mobilnya.


Caca tersenyum, sembari memainkan roda kursi rodanya, perempuan itu senang sekaligus tak sabar, akan mengunjungi makam keluarganya.


Wajah yang awalnya tersenyum dan berseri, tiba-tiba tergantikan dengan wajah panik dan cemas, ketika melihat seorang nenek tua yang sedang menyeberang, dengan truk besar yang melaju ke arah nenek itu.


Tanpa aba-aba, Caca dengan cepat menggerakkan roda kursi rodanya menuju nenek tua itu “Anjing, kok lama sih!” umpatnya panik.


“Nek! Awas!” teriak Caca.


“Nek! Awas! Minggir nek!” Caca terus saja berteriak, ketika nenek itu tak kunjung mendengar suaranya.


“Kursi roda sialan! Kenapa susah banget di gerakin sih bangsat?!” frustasi Caca, semakin mempercepat gerakan di rodanya.


Melihat jarak nenek dan truk yang semakin mendekat, Caca terus saja mempercepat gerakan kursi rodanya, tidak lupa mulutnya yang terus berteriak meneriaki kata nenek, supaya nenek itu mendengar.


Sedangkan di sisi lain, Raga membawa satu buket bunga besar di tangannya. Raga celangak-celinguk ke kanan dan ke kiri, ke mana Caca? Perasaan dirinya menyuruh Caca berdiam diri di sini.


Maju beberapa langkah untuk mencari, mata lelaki itu tiba-tiba melotot ketika melihat apa yang di lihatnya sekarang.


“CA AWASS!” Teriak lelaki itu


Brukkkk


|•••|


Bima, Bella, Alzam, Sasa, tidak lupa si benalu bernama Dodi itu Sedang berada di bangsal Caca sekarang.


“Ke mana sih tuh bocah?” kesal Dodi.


“Udah tahu sakit, masih aja keleyengan kemana-mana, aneh gue sama tuh bocah!”


“Khawatir ceritanya?” goda Bima, sambil mencolek dagu Dodi.


“Gue bukannya khawatir, gue kesel aja! Masa sakit aja masih gak bisa diem sih?!”


“Gengsi lo Dod, kagak perlu ngelak lah, udah jelas muka lo cemas gitu,”


Dodi menghela nafas lalu mendudukkan dirinya untuk meredam emosi. Lelaki itu cemas? Benar, sangat-sangat cemas. Entahlah, Dodi jadi merasa tak enak hati ketika Caca tak ada di bangsalnya.


“Dia keluar sendiri apa sama Raga ya? Raga udah ke sini kan tadi?” Dodi bertanya, sambil merogoh sakunya untuk mengambil handphone.


“Palingan dia di taman, mendingan kita ke sana aja yuk. Dia susah makan katanya akhir-akhir ini, makanya selalu cari mood buat keluar.”


Mereka semua mengangguk dan berjalan keluar. Semuanya tampak baik-baik saja awalnya, sebelum melihat Raga yang mendorong brankar dengan keadaan menangis.


“Itu bukan Caca kan? Yang Raga tangisin?” ucap Dodi, sambil melirik ke arah Bima dan Alzam.


Alzam, lelaki itu berlari mengejar, ketika semua temannya asik dalam diamnya. 


Alzam memperlambat jalannya, ketika melihat Raga menutup semua wajahnya di depan sebuah ruangan.


“Ga...” panggil Alzam pelan.


Raga berbalik, lelaki itu dengan cepat memeluk tubuh teman kecilnya ini “Caca Zam, dia... hiks hiks hiks,”


“Gue takut dia ninggalin gue. Dari tadi, gue udah gak enak hati, dan sekarang ternyata itu semua kejadian Zam,”


Alzam menutup matanya, lelaki itu berusaha menguatkan Raga dengan usapan di bahunya, meskipun Alzam merasakan sakit yang sama.


Bugh


Dari jarak kejauhan, Dodi berlari lalu memukul wajah Raga dengan tiba-tiba nya.


“Lo apain Caca anjing?!” teriak Dodi dengan nafas memburunya. Lelaki itu kaget, ketika melihat kondisi Caca sebelumnya.


Flashback


Raga celingukan ke kanan ke kiri, mencari keberadaan Caca. Kemana perempuan itu? Perasaan Raga menyuruh nya untuk diam di sini.


Betapa terkejutnya Raga, ketika melihat Caca dengan kursi rodanya sedang mendorong seorang nenek yang hampir tertabrak oleh truk.


“Ca awas!” Raga berteriak, sambil berlari berusaha menyelamatkan. Tetapi usahanya sia-sia, truk itu lebih cepat darinya.


Raga menjatuhkan tubuhnya, ketika melihat badan Caca terlempar beberapa meter di tempat kejadian.


Lelaki itu ingin berdiri, tetapi tak kuasa meNahan lemas di kakinya. 


“Ca... jangan tinggalin gue,” lirihnya.