RAGASA

RAGASA
Ep. 64. Memberitahu



Caca mengeret tas nya, wanita itu lelah hanya karena seharian membolos. Entah lah, rasanya sangat melelahkan.


Caca tiba-tiba tersenyum, ketika melihat kotak hitam yang selalu  terimanya. Entah dari orang yang merusak rumahnya, atau orang yang mengirim teka-teki tentang kakaknya.


Wanita itu mendekat, lalu mengambil kotak itu, tanpa berlama-lama, Caca langsung cepat-cepat membukanya.


Cepat cari tahu siapa pembunuh Kakak mu! Sebelum kamu menyesal nantinya!


Seperti itulah kira-kira tulisan yang berada dalam kotak hitam itu. Satu nama yang terlintas di kepala Caca, wanita itu akan meminta bantuan kepada Raga.


“Halo Ga? Udah sampai rumah?” Tanya Caca, setelah berhasil menelepon Raga.


“Baru aja, kenapa?”


“Bisa ke rumah gue gak sekarang?”


“Mandi dulu,”


Tut


Caca mematikan teleponnya, lalu berjalan menuju lantai atas, ia pun akan mengganti baju dulu, sebelum Raga datang kesini.


Baru saja caca turun ke bawah, Raga sudah berada disana. Caca menghampiri, lalu duduk si samping Raga.


“Loh, katanya mau mandi dulu, kok baru lima menit udah sampai, masih pakai baju sekolah lagi,” Ucap Caca.


“Gimana mau mandi dulu, lo aja langsung matiin teleponnya,” Jawab Raga.


Caca terkekeh, perempuan itu menjadi tersipu, Raga rela tak mandi, hanya karena ia langsung mematikan teleponnya.


“Mandi ya mandi dulu aja Ga, lucu banget si Lo,”


“Males, lo kalo marah lama!” Dengus Raga.


Caca semakin melebarkan senyumnya, wanita itu langsung saja bergelayut manja di tangan Raga.


“Sayang banget sama Aga,” Kata Caca.


“Mau apa Lo suruh gue kesini?” Tanya Raga.


“Jadi gini.... sebenarnya, gue tuh sering banget si kirimin teka-teki sama orang yang gak di kenal, teka-teki tentang siapa yang bunuh Kakak gue,”


“Beneran? Mulai dari kapan, kok baru bilang?”


“Udah lumayan lama, tapi baru kepikiran buat ngomong sekarang.”


“Jadi... Lo udah tahu siapa yang bunuh Kakak Lo?”


Caca menggeleng “Belum, tapi di teka-teki itu di sebutin, bahwa salah satu anggota alverage lah yang bunuh kalak gue,”


Mata Raga melotot kaget, Salah satu anggota alvarage? Apakah benar? Kenapa mereka berdua tak menyadari itu.


“Lo tahu siapa yang ngirim teka-teki itu? Kita harus cari dia, kalo kita mau tahu siapa pembunuh Kakak Lo. Kalo misalnya kita suruh semua orang buat ngaku, itu gak akan mungkin terjadi. Mana ada orang yang ngaku sama kesalahannya, benar gak sih?”


Caca mengangguk menyetujui, “Iya benar, makanya gue minta bantuan Lo,”


“Mau ke markas dulu sekarang?” 


Caca menggeleng, lalu memeluk tubuh Raga, “Malas, pingin tiduran aja, cape,”


“Ya udah sana tidur, gue mau balik,”


Caca menggeleng lagi, “Gak mau, gue maunya sama Lo disini,”


“Katanya mau tidur,”


“Gak jadi, mau nya peluk,” 


Raga terkekeh, Caca memang bisa saja dalam hal merayu nya, mencubit hidung Caca pelan lalu memainkannya.


“Gak bau asem? Gue kan sama sekali belum ganti baju,” Kata Raga.


“Enggak, masih wangi....” Balas Caca, sembari mengendus-endus tubuh Raga.


“Oh iya, katanya bunda kangen, mau kasih oleh-oleh juga sama Lo, mau ketemu sekarang?” Raga mengajak Caca, sembari terus memainkan hidung kecil perempuan itu.


“Mau-mau!” Seru Caca antusias.


“Ya udah, lepas dulu pelukannya, gue susah berdiri ini,”


“Gendong,” Pinta Caca, mengalungkan tangan dan kakinya.


Raga Tertawa, lelaki itu berdiri dengan membawa tubuh Caca di gendongannya, “Dasar manja,” Cibir Raga, sembari menopang tubuh Caca dengan satu tangannya.


Caca melepaskan pelukannya, ketika melihat bunda Renita menghampiri, beralih memeluk wanita setengah baya itu, dan bergelayut manja disana.


Raga yang melihat itu tersenyum kecut, dirinya selalu di lupakan ketika ada orang baru. Cukup menyebalkan, tapi mau bagaimana lagi.


“Bunda kangen....” Rengek Caca.


“Sama sayang, bunda juga kangen sama kamu. Nginap ya sekarang,” 


“Aku sih mau nya gitu bunda, tapi aku takut Raga marah lagi. Terakhir aku nginap disini, Raga marah lama sama aku,” Adu Caca, seperti mengadu pada orang tua kandungnya.


“Lagian itu salah Lo, bangunin orang secara masal pake teriak-teriak, siapa yang gak kesal coba!” Sahut Raga, tak terima namanya di bawa-bawa.


Renita tertawa, Raga dan Caca sudah seperti saudara kandung, setiap ada dirinya, mereka berdua selalu berdebat. Membawa Caca duduk, Renita ikut duduk di sebelah Caca.


“Ada kabar bagus bunda,” Beritahu Caca.


“Kabar apa?” Balas Renita.


“Raga ngungkapin perasaannya ke aku, katanya Raga emang suka sama aku,”


“Wah beneran?” Kaget Renita sembari menutup mulutnya.


“Bener—“


“Gak usah ngarang!” Sela Raga ketus.


“Siapa yang ngarang sih? Orang beneran juga, Lo ngungkapin perasaan pas gue marah di rumah sakit,” Ungkap Caca.


“Mana ada!” Elak Raga.


“Ada.... kan Lo yang ngomong,”


“Cie, anak bunda udah gede, udah gak gengsi ngungkapin perasaannya, cie,” Goda Renita, sembari mencubit-cubit pipi Raga.


“Apaansih bunda! Aku gak pernah ngungkapin perasaan aku sama Caca kok!” Bela Raga.


“Emang perasaan kamu sama Caca gimana? Kok bilangnya gak pernah ngungkapin, berati mau ya?” Ucap Renita masih menggoda.


“Apaan sih ah! Kalian nyebelin!” Raga bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke lantai atas menuju kamarnya sendiri.


“Mau kemana sayang?” 


“Mandi!” Balas Raga ketus.


Setelah Raga masuk ke dalam kamarnya. Caca dan Renita saling lirik sembari tertawa, membuat Raga marah dan kesal, memang membangkitkan mood kedua perempuan itu.


“Kok kamu kurusan sih? Sakit ya?” Ujar Renita, setelah menghentikan tawanya.


“Emangnya badan aku keliatan kecil banget ya bunda?” Tanya Caca.


Renita mengangguk “Iya, badan kamu kan udah kurus makin kurus aja,”


“Ini gara-gara udah lama gak makan masakan bunda, aku gak nafsu makan kalo terus-terusan makan di luar,”


Renita tertawa, lalu mengajak Caca berdiri “Bisa aja kamu. Yuk kita masak, kamu mau makan apa?”


“Apa aja yang penting masakan bunda,”


Kedua perempuan itu memasak, sambil bersenda gurau, tertawa, berghibah, intinya lebih banyak bergibahnya, daripada memaksanya. Berghibah tujuh puluh persen, memasak tiga puluh persen, kebanyakan perempuan memang seperti itu.


“Aku bingung Bunda, gimana ya caranya, supaya seorang Raga itu gak gengsi, padahal udah jelas-jelas dia emang ngungkapin perasaannya di rumah sakit, eh sekarang kok ngelak,” Kata Caca, sembari memotong daun bawang.


“Raga mah emang gitu, tapi aslinya sayang banget sama kamu. Bunda juga bingung, padahalkan kalo sayang tinggal bilang, iya gak sih?*


“Iya bunda.... kalo ada apa-apa sama aku, Raga itu udah kayak jadi garda terdepan sebagai perlindung. Tapi kalo di suruh ngungkapin perasaan aja, susuahnya minta ampun,”


“Ekhem,” Dehem Raga tiba-tiba. Membuat kedua perempuan itu diam, dan seolah-olah fokus pada pekerjaan masing-masing.


“Kenapa diam? Kenapa gak lanjut ngomongin aku nya lagi?” Kata Raga, sambil bersidekap dada.


Caca berbalik, sambil menyimpan pisaunya “Siapa yang ngomongin Lo sih? Kita lagi ngomongin, orang yang gengsi ngungkapin perasaan, iya gak bunda?”


Bunda Renita ikut berbalik dan mengangguk, “Benar tuh,  kita lagi ngomongin orang yang gengsi ngungkapin perasaan, bukan kamu,”


“Emang siapa yang gengsi ngungkapin perasaannya?” Tanya Raga.


Kedua perempuan itu mengedikan bahunya acuh “Yang ngerasa aja,” Serempak mereka berdua, lalu kembali melanjutkan memasaknya.


“Oh iya benar, yang ngerasa aja, Raga kan gak ngerasa, berati bukan ngomongin Raga,” Raga berjalan berjauh, sembari ikut menirukan gaya bicara Caca dan bundanya.