RAGASA

RAGASA
Ep. 77. Flashback



Flashback


Satu orang lelaki sedang memandang laptop di depannya dengan serius. Lelaki itu terlihat sedang mencari sesuatu yang sangat penting. Sampai-sampai tak pernah mengalihkan pandangannya, dari benda di depannya itu.


“Caca Queensa Libertà, Sman Bhakti,”  gumam lelaki itu.


Lelaki itu tertawa “kita akan mulai sekarang, apa yang di alami Kakak gue, harus di alamin sama dia, apapun caranya, gue harus buat dia bernasib sama atau lebih, sama kayak apa yang di alamin Kakak gue sekarang!”


|•••|


Raga berdiri di gerbang Sman Bhakti, ini pertama kalinya lelaki itu bersekolah. Yang artinya, Raga akan melakukan mos, untuk menjadi siswa baru di Sman Bhakti ini.


Lelaki itu tidak berdiri sendiri, melainkan di temani oleh Alzam, temannya sejak dari sekolah dasar dulu. Alzam adalah orang yang akan membantu Raga, dalam menuntaskan dendamnya, terhadap Saka, Kakaknya Caca.


“Apa yang mau Lo lakuin?” Tanya Alzam, tanpa sedikit pun melirik Raga.


“Buat dia jatuh cinta sama gue, bahkan sejatuh-jatuhnya, setelah itu, gue akan lakuin apapun yang gue mau setelah gue dapatin dia, termasuk menjadikan dia kayak kakak gue sekarang, atau bahkan lebih!” Jawab Raga, Sembari tersenyum miring. 


Lelaki itu bahkan sudah merancangnya matang-matang untuk membalaskan dendam ini.


Bruk


Raga dan Alzam melirik ke samping, ketika mendengar seseorang terjatuh. Terlihatlah seseorang yang sedang mengusap-usap lututnya.


“Sakit banget loh!” Ringis perempuan yang terjatuh tadi.


Perempuan itu mendongak, menatap dua pria yang hanya melihatnya, tanpa berniat membantu.


“Gue jatuh Lo,” Kata perempuan itu, masih terduduk. Berharap dua pria tampan itu, membantunya berdiri.


Raga dan Alzam saling lirik, seolah mengatakan lewat mata mereka, bahwa perempuan yang baru saja terjatuh adalah orang yang mereka berdua cari.


Caca Queensa Libertà, perempuan itu yang baru saja terjatuh di sampingnya.


“Heloww? Gue jatuh nih, gak ada niatan buat Lo berdua bantu gue berdiri gitu?”  


“Terlihat seperti wanita lemah dan gampang jatuh cinta,” Batin Raga.


Raga mendekat lalu menjulurkan tangannya, membuat Caca membalas uluran tangan itu, dan bangun dari duduknya. Sebenarnya Caca bisa sendiri, hanya saja, terlihat sayang sekali, jika dua orang tampan di dekatnya ini di sia-siakan begitu saja.


Raga melirik tangan yang untuk pertama kalinya, melakukan skinsip dengan lawan jenis, selain keluarganya. Memang, Raga terlalu menutup diri terhadap perempuan yang menurutnya sangat merepotkan dan lebay, kecuali bunda dan kakaknya.


Raga memang sering di dekati teman-teman perempuannya, bahkan banyak sekali perempuan yang menembaknya secara terang-terangan, tetapi sampai sekarang, tak pernah ada yang sampai memikat hatinya.


“Makasih atas bantuannya tuan tampan, gue duluan ya, bye!” Caca berjalan menjauh dari Alzam dan Raga, tidak lupa tangannya yang melambai-lambai seiring semakin menjauhnya jarak mereka.


“Kita udah liat tersangkanya secara langsung, dan yang kita lakukan adalah, menjadikan dia teman, sebagai awalan.” Ucap Raga, sembari memandang tubuh Caca yang mulai kecil di penglihatannya.


“Dan Kayaknya, ini bakalan menjadi hal mudah bagi gue,”


|•••|


Baru saja Raga dan Alzam sampai di lapangan. Lapangan sudah ramai dengan suara riuh semua orang. Membuat Raga dan Alzam penasaran dan menembus orang-orang untuk berada di depan.


“Bangsat Lo! Berani-beraninya lawan yang lemah! Lawan gue ayok!” Terlihat Caca yang sedang menendang tubuh seorang pria yang sudah tersungkur di tanah.


“Kenapa diam? Bukannya Lo tadi tonjok-tonjokin teman gue? Kenapa sekarang gak tonjok gue juga?” .


Caca mengandeng bahu seorang pria yang baru saja di tonjok oleh orang yang sedang di tendangnya ini. 


Sebenarnya Caca tak kenal orang yang sedang di gandengnya ini, hanya saja ia tak suka ketika melihat orang yang berpakaian cupu itu tiba-tiba di tonjok dengan alasan yang tidak jelas.


Caca berjongkok, lalu mengambil dagu orang yang wajahnya sudah babak belur itu “Ganteng sih, tapi sayang, beraninya sama orang yang gak setara sama Lo!”


“Ada apaan ini!” Seru Kakak angkatan, menerobos keramaian.


Caca melepaskan cekalannya, lalu berdiri, dan menatap kakak angkatannya. “Urus orang itu, dia udah pukulin teman gue tanpa sebab,” Ucap Caca, lalu menggandeng teman barunya untuk keluar dari keramaian. Tanpa mendengarkan Kakak angkatan yang meneriaki namanya.


“Lo gak papa kan?” Tanya Caca, sembari mengecek setiap inci tubuh lelaki itu 


Caca mengangguk lalu mengulurkan tangannya, “Nama gue Caca, nama Lo?”


“Kenzo,” Balas lelaki itu, membalas uluran tangan Caca.


“Oke Kenzo, kita temenan sekarang!”


|•••|


“Lo Katanya bakal balapan sama juara bertahan disini,” Kata Dodi, membuat Raga mengangguk saja.


Dodi, Bima, Alzam dan Raga sudah berteman, keempat pria itu berteman saat awal pertemuan di mos, karena Dodi dan Bima sok kenal dan mengajak bicara Raga dan Alzam terlebih dahulu.


Bahkan, mereka berempat sudah membuat geng, bernama alverage, yang di ketuai oleh Raga, orang yang memberi usul, untuk membuat geng.


“Namanya siapa?” Tanya Raga.


Dodi menggeleng “Gue gak tahu, tapi yang pastinya Lo harus hati-hati. Kalo Lo mau menang di balapan hari ini,”


|•••|


Raga menghentikan motornya di garis finish. Bukan, bukan dirinya yang menang, seseorang telah mengalahkannya. Jarak mereka tidak begitu jauh, hanya saja, Raga kalah cepat, dari orang itu.


Terlihat orang yang telah mengalahkannya mendekat ke arah Raga, lalu berdiri di depan lelaki itu.


Orang itu membuka helmnya membuat Raga dkk, memelototkan matanya kaget.


“Hai, Lo ingat gue kan? Orang yang di bantu Lo waktu itu, pas gue jatuh di gerbang sekolah,” 


Sudah tahu siapa bukan? Itu jelas Caca.


Raga mengangguk, bagaimana lelaki itu tak ingat, Caca adalah sasaran balas dendamnya.


“Oh Iya, nama gue Caca Queensa Libertà, panggil Caca aja, Lo berempat namanya siapa?” Caca mengeluarkan tangannya.


Dodi dengan cepat membalas uluran tangan caca, takut kalah cepat oleh yang lainnya.


“Dodi Laksamana, panggil aja Dodi ganteng,” Ucap Dodi.


Caca tersenyum, lalu mengangguk, membuat giliran Bima yang berjabat tangan, “Bima Nagaswara Ayudya, panggil apa aja senyaman Lo,”


“Alzam.” Alzam berkata, tanpa sama sekali membalas uluran tangan Caca.


“Lo?” Caca menunjuk Raga, yang tak memperkenalkan dirinya.


“Raga,”


Caca mengangguk saja, dan langsung berasumsi, bahwa kedua lelaki yang hanya menyebutkan nama depannya saja, itu lelaki yang memang berbicara jika sedang keadaan penting saja, dalam artian calon es batu di hidup Caca. 


Sedangkan Dodi dan Bima, menurut Caca, kedua lelaki itu akan menyenangkan jika berteman dengan Caca, nampaknya mereka bertiga sefrekuensi jika di gabungkan.


“Gue ada satu penawaran, karena Lo udah kalahin gue balapan tadi,” Ucap Raga, membuat Caca menatap Raga berbinar.


“Penawaran? Kayaknya seru, penawarannya apa?” 


“Ambil motor gue, atau masuk geng baru kita. Namanya alverage, kayaknya lebih bagus dan bakalan berkembang, kalau Lo bergabung di geng ini,” Tawar Raga.


Caca melirik ke arah motor Raga, motor dirinya masih terbilang lebih bagus daripada kepunyaan Raga, buat apa Caca itu mengambil motor itu? Untuk di jual? Perempuan itu bahkan sudah kelebihan uang.


Masuk ke dalam anggota Alverage? Tampaknya tidak terlalu buruk, perempuan itu bisa memanfaatkan geng alverage untuk mencari siapa pembunuh kakaknya. 


“Oke, gue masuk geng kalian deh. Motor gue lebih bagus daripada Lo, jadi kenapa juga gue harus ngambil motor Lo,”


“Jadi sekarang kita temenan?” Tanya Caca dengan wajah berseri.


Pada dasarnya, niat buruk memang tidak akan pernah berjalan baik. Niat Caca awalnya ingin memanfaatkan alverage, tetapi pada akhirnya? Ketua alverage yang memang membunuh Kakaknya.